Part 5: Tidurlah Dengan Saya Malam Ini

969 Words
"Aku ingin menyampaikan kelanjutan proposal terkait kerja sama kita dengan Moeis Tower," lapor Nadin, kemudian duduk tenang di hadapan suaminya. Hawa panas mengambang di dalam ruangan itu, gairah yang masih tertinggal, keringat yang masih menempel. Farah gelisah, dia tidak tahu apakah Nadin menyadarinya? Wanita ini selalu bersikap bersahaja di luar. Sulit untuk membaca apa yang ada di dalam pikirannya. Adam berdeham, merasa perlu membersihkan tenggorokan. "Kamu sudah menerima jawaban. Gimana hasilnya?" "Mereka setuju, tapi masih ada beberapa kontrak yang perlu dibicarakan ulang. Mereka minta untuk dijadwalkan meeting." Nadin melirik ke arah Farah. "Kamu sudah menerima tanggalnya, Far?" "Sudah, baru saja," sahutnya luwes. "Ini kami sedang mendiskusikannya dan mencocokkan tanggal yang tepat." Kalau Nadin pandai menyembunyikan perasaan, maka Farah adalah peniru yang ulung. Dengan keanggunan setara gadis polos, dia pun menjawab santai. "Mengingat kolaborasi kita yang sebelumnya berjalan sukses," imbuh Adam. Membolak-balik dokumen yang Nadin sodorkan. "Aku nggak keberatan kalau ada beberapa kontrak yang dirubah asalkan masih memberi keuntungan untuk Hadiputra Corp," lanjutnya. Setiap kali di kantor, mereka selalu bersikap profesional. "Gimana baiknya saja Adam," sahut Nadin. "Aku yakin Farah bisa mengatur jadwal yang tepat di tengah kesibukan kamu." "Dia asisten terbaik yang bisa aku miliki. Masih ada lagi, Nadin?" Nadin kemudian berdiri, menarik beberapa lembar tisu yang berada di atas meja. Lalu mengulurkan itu ke suaminya. Adam mengernyit. "Selama ini, Farah belum pernah mengecewakan, kan? Tapi sepertinya dia mulai kurang teliti. Sebentar lagi kamu juga ada rapat RUPS. Jangan sampai petinggi-petinggi di sana melihat ini dan berspekulasi buruk tentang kamu." Nadin menunjuk noda di leher suaminya. "Bersihkan pakai ini, Adam." Mata keduanya membulat, sementara Adam panik mencari cermin, Farah justru sibuk menyeka noda lipstiknya yang tertinggal di leher sang atasan. Nadin sudah melenggang keluar dengan perasaan yang ditahan-tahan. Selama ini, bukan Nadin tidak tahu hubungan terlarang suaminya dengan Farah. Nadin hanya tidak ingin pikiran negatifnya berkembang. Karena dia sudah menganggap Farah seperti adik, menghormatinya sebagai karyawan. Jadi dia yakin, kalaupun Adam mendekati Farah, dengan hubungan baik mereka, Farah pasti menolak. Tapi sepertinya Nadin menilai Farah terlalu tinggi, karena Farah tidak memiliki rasa hormat yang sama untuk Nadin. "Nadin, sebentar..." Farah terburu-buru membuntutinya dan berhasil menjegal langkahnya di koridor. Matanya sudah memburam. "Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf." Suara Farah yang gemetar cukup untuk menarik perhatian karyawan lain. Nadin menarik Farah ke tempat yang lebih pribadi dan berbisik sabar. "Jangan drama, kamu tahu konsekuensi dari perbuatan bodoh. Staf di sini akan berpikir macam-macam, jadi jaga bicara kamu." "Aku nggak bermaksud untuk mengkhianati hubungan kita Nadin." "Nggak penting gimana maksud kamu. kalian sama-sama salah. Ada dua pilihan Farah, kamu mengundurkan diri. Atau dipecat secara tidak terhormat." Mata Farah melebar, mencengkeram tangan Nadin kuat-kuat namun Nadin menepisnya. "Jangan gini, kamu tahu betul kenapa Adam sampai berbuat nekat, dia capek, dia stres karena terus-terusan dituntut untuk punya anak. Dia nggak ada pilihan lain selain bercerai." "Kalau gitu ya sudah, apa yang dia tunggu? Kalian bisa bersama, gitu kan?" Farah menggeleng. "Nggak, dia nggak mau melakukan itu karena dia sayang sama kamu. Dia sengaja cari pelampiasan, tapi aku tahu hatinya cuma buat kamu Nadin. Dia cuma butuh ditenangkan." Lucu sekali, kalau memang dia sayang dengan Nadi harusnya Adam tidak sudi membiarkan Nadin tidur dengan pria lain. "Farah, jangan membela dia." "Tapi kamu tahu aku nggak akan bisa menggantikan posisi kamu, kan?" potong Farah bergetar. "Kalau memang Adam suka sama aku, dari awal dia pasti sudah menendang kamu, tapi nyatanya nggak, dia tetap mempertahankan pernikahan kalian. Karena dia cuma ingin anak dari kamu, meskipun itu mustahil." "Lebih baik jangan bicarakan itu di sini," sela Adam yang sudah berdiri di belakang mereka. Farah mulai terisak. Perempuan ini, dia sengaja berpura-pura terutama ketika ada Adam. Nadin mendengkus lelah. "Aku tunggu surat pengunduran diri kamu di meja." Dengan tangan gemetar Nadin berputar. Setengah mati dia berusaha melangkah elegan, kepala mendongak meskipun harga dirinya sudah babak belur. *** Lelah, letih, lesu. Nadin meneguk satu gelas soda, rasa hangat meledak di tenggorokannya. Sang pria di balik meja bartender yang melihat tersenyum miris, lalu menegur ramah. "Sis, itu nggak akan membuat kamu mabuk, cobalah yang lebih kuat." Namun Nadin menolak, dia di sini bukan untuk teler. Ada Joana yang menunggunya di rumah, Nadin tidak ingin memberikan pengaruh buruk untuk Joana, tapi dia sendiri tidak bisa tahan dengan perlakuan suaminya yang kelewat batas. Bertahun-tahun Nadin merasa kesepian, berharap pernikahan mereka akan berakhir manis. Nadin percaya kalau kebaikan bisa mengalahkan keburukan. Sebuah pemikiran yang naif. Pada akhirnya moralnya tidak berlaku untuk kehidupan. Jadi untuk apa dia masih bertahan? "Rigel," panggilnya ke bartender. "Oke, bawakan aku segelas brandy." Rigel menyeringai, kemudian dengan tangkas mengulurkan gelas sesuai keinginan Nadin. Namun baru akan meraihnya, sebuah tangan kokoh sudah lebih dulu menyambar gelas itu. "Hei!" serunya memprotes. Kael dengan cekatan menjauhkan minuman itu dari pemiliknya. "Kamu nggak seharusnya melakukan ini, Nadine." Tatapan pria itu masih sama, tajam, observatif seakan dia bisa membaca apa yang Nadin sembunyikan. Dan itu membuat Nadin gelisah, mulutnya membuka ingin mengatakan sesutau tapi tidak ada yang keluar selain. "Kamu?" "Kamu yang meminta saya datang ke sini, bukan?" Betul, Moeis Tower, tapi Nadin bahkan belum mengatakan detail lokasinya. Bagaimana pria ini bisa tahu? "Angga, saya—" "Jadi kamu ingin saya menemani kamu minum, setelah itu saya nggak perlu ganti rugi soal mobil kamu?" tanyanya, memindai kelab di hotel exclusive itu. Nadi menelan ludah. Tatapan pria itu kemudian berhenti tepat di matanya. "Benar begitu, Nadine?" Seumur hidup Nadin tidak pernah bertingkah, dia selalu menjaga marwah suaminya. Seumur hidup, dia selalu patuh, namun di mana kepatuhan itu membawa Nadin? Sebuah kehancuran. Jadi kini, bolehkah dia melupakan semua orang dan mementingkan dirinya sendiri? "Bukan," bisiknya lembut. Nadin memiringkan posisi duduknya di stool lalu menyentuh paha Angga. Pria itu menegang, tapi tidak menepisnya. "Saya ingin kamu tidur dengan saya malam ini." Sudut bibir Kael terangkat, kemudian balas berbisik. "Jangan main-main Nadine, mungkin kamu akan menyesal." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD