Part 6: Kamu Masih Perjaka?

1150 Words
"Semua orang pasti punya penyesalan dalam hidupnya, Angga. Tapi lebih baik aku menyesal karena pernah mencoba daripada menyesal karena nggak pernah mencobanya sama sekali." Wanita ini sangat berani, pikir Kael. Atau Nadin hanya berusaha menghibur diri? Dia menggandeng tangan Kael sepanjang koridor hotel. Tangan yang mungil dan kelihatan ringkih. Kael bisa meremukannya dalam sekali piting. Tapi alih-alih menolak, Kael bersikap patuh. Beberapa staf yang melintas membeliak, menyaksikan bos mereka ditenteng oleh wanita asing. "Tolong berikan kami kamar," pinta Nadin tanpa basa-basi. Dirga yang berada di balik meja resepsionis mendongak. "Pa-Pak?" sebutnya terkejut, matanya melotot. "Ke-kenapa Anda di sini?" Pria itu merapikan barang-barangnya, menduga Kael datang untuk sidak dadakan. Rahang Kael mengeras, mengerjapkan mata memberi kode. Mata Dirga semakin melebar ketika menoleh ke arah Nadin. Lalu kembali lagi ke wajah bosnya, dia buru-buru berdeham mengoreksi. "Oh, maaf Ibu, kira-kira butuh berapa kamar dan mau tipe yang seperti apa?" "Yang suite aja, satu kamar." Dibantu staf lain, Dirga bergegas memproses check in Nadin. Perempuan itu memicing curiga. "Kalian saling mengenal?" "Ah." Kael mendesah santai. "Kamu ingat dengan atasan saya kemarin?" Nadin mengangguk, menggumam terima kasih saat diberikan kartu akses. "Mikael Moies. Apa dia pemilik hotel ini, makanya kenapa kalian saling mengenal?" Senyum Kael melebar. "Benar." Nadin mengernyit. "Apa dia bakal marah kalau kamu malah berkeliaran?" "Kebetulan," sahutnya seraya mengangkat bahu ringan. "Jam kerja saya sudah selesai, jadi sekarang saya bebas." "Bagus, kalau gitu kamu tahu ke mana aku akan ajak kamu tiap kali kita bertemu." Nadin melirik kartunya. "Lantai 30 nomor 699, ikuti aku, Angga." Kael mempersilakan, membiarkan Nadin berjalan lebih dulu. Ketika menoleh ke arah Dirga, matanya berubah tajam. Jemarinya mengetuk meja dua kali memberi peringatan. "Simpan informasi ini baik-baik, jangan sampai ada yang tahu saya di mana dan dengan siapa. Paham?" Dirga mengangguk gugup. "Paham Pak." "Dan jangan ada yang menggangu selama saya belum keluar kamar. Paham?" "Ba-baik Pak." Kael menepuk bahu Dirga, meremasnya kuat hingga pria itu meringis. "Kalau sampai ada yang bocor berarti—" "Angga," tegur Nadin. Tidak menemukan pria itu di sampingnya, dia berputar. Kael menarik tangannya kembali, membuat Dirga sontak menghela napas lega. "Buruan, apa yang kamu lakukan di sana?" "Ingat kata-kata saya tadi." Kael memperingatkan sekali lagi sebelum berderap membuntuti Nadin. Dirga shock, rona merah masih menyebar di wajahnya karena gugup, namun dengan penasaran dia segera mengeluarkan ponsel kemudian mengambil beberapa gambar dari si bos dan sang pacar. "Siapa tahu nanti butuh," gumamnya. *** "Kita seharusnya nggak melakukan ini." Kael masih berusaha membujuk begitu mereka sudah tiba di kamar. Tapi Nadin justru mendesaknya ke dinding, perempuan itu berjinjit agar wajah mereka sejajar lalu berkata dengan nada lembut. "Kenapa? Kamu udah punya pacar? Tunangan? Atau udah menikah?" Sepengetahuan Nadin tidak ada cincin di jari manis Angga, jadi dia merasa aman. Dan benar saja, pria itu menggeleng. "Kalau gitu apa masalahnya?" Masalahnya mereka tidak saling mengenal, Kael bahkan tidak tahu di mana dia harus menaruh tangannya selagi Nadin berusaha memangkas jarak mereka. "Nadin," bisik Kael pelan, tangannya menyentuh pinggang ramping perempuan itu, mendorong lembut. "Kita orang asing, jadi secara teknis kita nggak mungkin melakukan hubungan fisik." Nadin menyembur, menahan tawa. "Bukannya kalian laki-laki bisa melakukannya tanpa perasaan?" Entah kenapa Kael merasa tersinggung. "Lagipula ini nggak gratis, selain aku akan membebaskan kamu dari biaya ganti rugi mobil. Aku juga akan kasih kamu uang, anggap aja kamu sedang bekerja." Aroma parfum Nadin yang manis melingkupi indera penciumannya, membuat Kael pening, dia menunduk, dan menyesal kerena wajah mereka sangat dekat. Kael hanya perlu membungkuk sedikit agar bibir mereka bersatu. "Berapa yang kamu tawarkan?" Nadin mengangkat bahu, memaksa tatapan Kael jatuh ke kulitnya yang pucat dari balik dress. "Terserah berapapun yang kamu mau. 50 juta atau 100 juta aku akan berikan kamu untuk sebulan." Sudut bibir Kael berkedut. Bukannya sombong tapi nominal itu bahkan hanya cukup untuk biaya bensin kendarannya seminggu. Kael berjalan menuju sofa dan duduk tenang di sana. "Hanya segitu?" Sialan. Pria ini sepertinya aji mumpung. Dengan sabar Nadin membuntutinya, duduk di samping Kael. "Oke, 200 juta. Itu penawaran bagus buat kamu." Sialan dia, sialan senyumnya yang songong, sialan badannya yang proporsional, sialan wajahnya yang good looking. Nadin merasa seperti Tante-tante. "300 juta, gimana?" tambahnya berani karena Kael diam saja. Harusnya uang segitu cukup untuk kebutuhan pria sederhana sepertinya. Tapi Kael hanya menatap Nadin, tampak tidak terkesan. "Sebutin aja kamu mau berapa?" Lama-lama Nadin mulai kesal. "Kamu tahu Nadin," bisik Kael lambat-lambat. "Harusnya kamu melakukan ini dengan orang yang kamu suka, bukannya malah mengajak pria random untuk tidur sama kamu." Pria macam apa yang menolak uang 300 juta? Nadin mendengkus. "Kalau aku bisa melakukannya dengan orang yang aku suka, jelas aku nggak bakal di sini." "Jadi saya hanya pelampiasan?" "Anggap ini sebagai simbiosis mutualisme. Kamu dapat banyak keuntungan." Nadin heran, apakah dia benar-benar burik sampai ditolak? Oke, di usianya yang menginjak kepala tiga, beberapa bagian tubuhnya memang mulai bergelambir, tapi secara keseluruhan Nadin tidak jelek-jelek amat. Nadin berdiri, mendadak ingin menatap wajahnya sendiri di cermin. Namun tangannya dicekal kuat oleh Kael. "Kamu mau ke mana?" tanyanya. "Kamar mandi, aku mau nelpon sekalian siap-siap, kalau kamu nggak mau, kamu bisa pergi. Aku akan cari pria lain untuk temenin aku malam ini." "Apa?" "Kamu hafal jalan keluarnya, kan?" Tunggu sebentar, Kael melompat bangkit, tatapannya bimbang. "Kamu akan cari pria lain untuk tidur sama kamu?" "Kamu nggak mau, ya sudah, nggak pa-pa, nggak usah dipaksa. Walaupun..." Nadin menggigit bibir, merasa sayang karena Angga sesuai tipenya. "Kita tetap pada perjanjian awal. Kamu nggak perlu bayar tagihan mobilnya, itu udah lunas." Brengsek. Bukan itu yang Kael cemaskan. Bisa-bisanya setelah menarik Kael ke kamar hotel, memintanya tidur bersama dan nyaris menciumnya sekarang Nadin ingin membuangnya begitu saja? "Oke," kata Kael, rahangnya mengatup rapat. "Saya akan melakukannya, kamu tunggu di sini, saya cari pengaman." "Nggak perlu," sela Nadin cepat. "Aku udah KB. Jadi semuanya pasti aman." Namun ada sesuatu dari tatapan Nadin yang membuat Kael ragu. Perlahan Nadin mendekat, jemarinya yang lentik merayap di d**a pria itu, kepalanya meneleng untuk menyatukan bibir mereka. Kael meremas pinggul Nadin supaya mundur. Nadin kelihatan jengah. "Apalagi?" tanyanya sewot. "Beri saya waktu untuk bersiap-siap." Nadin mendengkus. "Kamu masih perjaka?" Saat Kael melotot, Nadin berdecak maklum. "Ya sudah sana, aku paham ini pasti bikin kamu deg-degkan, santai aja, aku bakal ajarin kamu kalau nggak bisa." Kael menahan diri untuk tidak mengumpat. Ini jauh lebih hina dibandingkan dianggap sopir! Dengan murung dia berderap keluar, lorong hotel tampak sepi. Tepat saat itu ponselnya menyala, nama Angga terpampang di layar, Kael langsung menggeser tombol hijau. "Ya?" "Pak, saya sudah dapat semua informasi tentang perempuan pagi tadi. Nama gadisnya Nadine Latuhiyu, tapi sekarang dia sudah menikah dan menjadi Nadine Hadiputra, dia istri dari Adam Hadiputra Pak, pimpinan Hadiputra Corp. Mereka sudah menikah selama empat tahun, dan menurut gosip yang saya dengar, mereka belum memiliki keturunan, mereka sudah mencoba berbagai cara bahkan mengasuh anak sebagai pancingan, tapi sampai sekarang belum berhasil." Kael menyimak informasi tersebut, matanya menajam, menatap pintu yang tertutup rapat dalam diam. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD