"Angga?"
Nadin terbangun setelah merasakan sinar matahari dari balik jendela. Dia beringsut duduk membiarkan selimut merosot di dadanya, menyingkap pakaian yang masih utuh. Nadin mengerutkan kening. Menyapu kamar hotel yang kosong.
"Apa dia ninggalin aku?" pikir Nadin.
Semalam, Nadin terlalu gugup, sampai-sampai tangannya gemetar. Takut berduaan bersama pria lain di kamar. Dia berniat memejamkan mata sebentar selama Angga bersiap-siap, tapi ketakutan itu justru membuatnya ketiduran.
Saat memeriksa ponsel, ada banyak sekali pesan yang masuk. Terutama dari suaminya, juga dari Farah. Nadin mengabaikan semua itu dan langsung membaca pesan dari Rianti.
Rianti: Ibu ke mana? Kenapa nggak pulang? Ibu Triana datang ke rumah.
Nadin membeliak. Dia bergegas menarik cluth dan segera turun melakukan check out, meminta dipesankan taksi dan meluncur ke kediaman Hadiputra.
Di sana, mertuanya Triana sudah menunggu, tatapannya yang tajam menuding Joana tidak ramah. "Jadi setiap hari dia selalu bangun siang? Gimana dengan sekolahnya kalau gitu?"
"Biasanya selalu dianter sama Ibu Nadin, Bu." Riana menjawab tenang, dia membawa Joana yang basah ke arah toilet. Hidung Triana mengerut.
"Umur enam tahun masih ngompol? Menjijikan, apa dia nggak pernah diajarin toilet training di panti asuhan?"
Joana mengkeret di balik paha Rianti, wajahnya ketakutan, menggenggam erat dasternya. "Mama?" panggilnya.
"Mama benar-benar nggak paham kenapa kalian masih aja mempertahankan dia untuk diasuh di rumah ini. Sudah Mama bilang mitos semacam pancingan itu nggak bermanfaat. Lihat sekarang? Rumah keluarga Hadiputra justru terkontaminasi dengan anak yang nggak sopan seperti dia." Suara Triana menggelegar.
Mata Joana berkaca-kaca, dia menarik-narik daster Rianti untuk dibawa pergi. Tapi ART itu enggan beranjak. Sengaja membuat Joana takut.
"Apa kamu bahkan bisa ngomong?" cela Triana menatap Joana tajam.
Anak itu semakin gemetar.
"Sudahlah Mama." Adam menyela dengan tenang. "Joana masih anak-anak, jangan terlalu keras sama dia. Wajar kalau dia masih ngompol, mungkin dia kelelahan bermain kemarin. Nggak ada yang perlu dibesar-besarkan." Matanya kemudian melirik Rianti. "Mandikan Joana, Ri."
"Baik Pak." Barulah Rianti menyambar tangan Joana menuju ke toilet.
Mama mendengkus. "Nggak bisa, Mama bisa mati malu kalau sampai teman-teman Mama lihat cucu Mama seperti itu. Diajak ngomong nggak bisa, cium tangan nggak pernah. Dia cuma nempel sama Nadin. Dan sekarang di mana istri kamu?"
"Mama." Nadin tergopoh-gopoh masuk dari pintu depan. Mata Adam seketika memicing, memindai penampilan istrinya yang berantakan. "Ada apa Mama pagi-pagi datang kemari?" sambutnya mengecup punggung tangan beliau.
"Datang ke rumah anak sendiri sekarang harus ada alasan?" balas Mama sewot. "Kamu yang harusnya berkunjung, tapi kaian beralasan sibuk sampai Mama yang harus bolak-balik datang. Gimana Nadin kamu sudah coba periksa kandungan?"
Nadin bertukar pandang dengan Adam. Suaminya itu mengerut tidak senang. "Kami berdua normal, Mama."
"Terus kenapa sampai sekarang kamu belum juga mengandung?" bisik beliau, nada suaranya merendah, membawa Nadin untuk duduk di sofa. "Ini sudah bertahun-tahun Nadin. Semua orang mengharapkan penerus Hadiputra."
Nadin meremas tangan Mama. "Kami sedang usahakan, Ma."
"Jangan alasan usaha-usaha terus, Mama pusing banget, Mama sakit hati tiap dibilang salah satu dari kalian mandul. Mulai program dengan serius, kurangin kerjaan." Matanya menuding Adam. "Kamu juga Adam, kurangin perjalanan bisnis, jangan capek-capek, itu juga bisa berpengaruh ke kualitas s****a kamu."
Hidung Adam kembang kempis, dia menatap Nadin tajam. "Baik Ma."
"Mama percaya kamu Nadin," kata Mama lembut. Meremas tangan sang menantu. "Sampai saat ini, nggak ada apapun yang Mama minta sama kamu kecuali ini. Tolong, berikan kebahagiaan, lengkapi keluarga kami dengan anak kalian."
Nadin menelan ludah. Nyatanya Nadin bukan Tuhan, Nadin tidak bisa memberikan anak. Namun melihat mata Mama Triana yang berharap, tidak ada yang bisa Nadin katakan kecuali.
"Baik Mama, Nadin akan berusaha."
***
"Dari mana kamu semalam?"
Nadin memejamkan mata saat Adam mendorong pintu hingga terbuka, Joana yang sedang Nadin ikat rambutnya untuk ke sekolah ikut berjengit kaget.
"Bukan urusan kamu."
Adam mencibir. "Kesepakatan kita belum selesai Nadin, semalam teman aku menunggu di atas, tapi kamu sengaja menghilang. Kamu dengar sendiri apa yang Mama minta tadi. Kalau begini terus, kapan kamu bisa mengandung?"
Nadin tetap tenang menyempurnakan ikatan rambut Joana hingga tuntas. Lalu memindainya di depan cermin. "Cantik kan?" pujinya. Joana merona.
"Nadin." Adam mengeram rendah.
Tubuhnya yang mungil mungkin tidak ada apa-apanya dibanding Adam yang menjulang. Tapi Nadin menolak gentar. "Aku pasti akan melakukannya Adam, tapi bukan dengan Panji, atau siapapun pria yang kamu tunjuk. Aku akan memilih pasangan aku sendiri," bisiknya parau.
"Jangan becanda."
"Ini tentang aku Dam—"
"Siapa?" sambarnya, Nadin menahan diri untuk tidak mengumpat. "Anak itu juga akan menjadi anak aku Nadin, jadi aku perlu tahu dengan siapa kamu tidur."
Nadin menghela napas pendek, memastikan Joana tidak mendengar percakapan mereka. "Dia bekerja di Moeis Tower, sopir pribadi direktur di sana. Namanya Angga, belum menikah dan umurnya mungkin sama seperti kamu."
"Kamu yakin dia sehat?"
Mata Nadin berembun, dia sengaja menyemburkan fakta ini berharap Adam akan cemburu, tapi tidak ada apapun di wajah Adam selain datar.
"Pastikan dia nggak penyakitan Nadin, pastikan dia subur, aku tunggu kabar baik secepatnya." Dia berputar, merasa obrolan mereka sudah selesai. Tapi baru beberapa langkah, Adam kembali berbalik. "Ah..." katanya. "Soal Farah, dia nggak akan pergi ke mana-mana. Jangan libatkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Dan perusahaan masih membutuhkan dia."
Nadin berang. "Nggak bisa, dia udah melanggar kode etik perusahaan, kamu nggak bisa membela dia Adam!"
Namun tentu saja Adam tidak peduli, apapun yang sudah dia perintahkan, maka itulah keputusan finalnya. Nadin merasa dadanya sesak. Roknya terasa ditarik-tarik lembut, Nadin menunduk lalu menemukan Joana yang tersenyum lebar.
Hatinya seketika menghangat, dia meraih anak itu sambil menuntutnya turun. "Maaf, Mama semalam nggak pulang, Jo. Besok kita jalan-jalan ke kebun binatang, ya?"
Joana mengangguk patuh.
***
"Untuk F&B, restoran fine dining mendapat rating bagus Pak, tapi untuk okupansi restoran all-day dining ini masih rendah. Kami masih mencoba promosi yang optimal." Ibu Maya, Manager F&B memaparkan evaluasi mingguan hotel.
Kael mengusap atas bibirnya, memerhatikan power point dengan teliti. "Kita perlu strategi. Saya ingin konsep promosi yang elegan bukan sekadar diskon. Mungkin chef's table atau wine pairing night. Ajak anak-anak Gen-Z untuk tergerak sendiri ke Moeis Tower." Saat slide berganti, ponsel di atas meja menyala. Nama Nadin terpampang di layar. Kael meliriknya tanpa bergerak, membiarkan panggilan itu berhenti sendiri.
"Oke," katanya perlahan bangkit. "Maya, tolong kamu segera siapkan proposalnya, saya tunggu akhir minggu ini."
"Kalau Hadiputra gimana Pak?"
Ponsel Kael kembali menyala, nama Nadin masih berkedip-kedip menuntut.
"Mereka sudah mengajukan proposal ulang mengenai kerjasama. Mereka bisa memasok bahan makanan organik untuk restoran, penawaran ini bisa menguntungkan perusahaan."
Kael menimbang panggilan itu sejenak sebelum menggeser tombil hijau dan berkata pada Maya. "Urus itu nanti, saya harus pergi." Dia menempelkan ponsel di telinga seraya berderap meninggalkan ruang rapat. Suara Nadin terdengar menyapa di seberang sana.
"Kamu benar-benar keterlaluan, kenapa kamu ninggalin aku semalam?"
"Saya harus kerja pagi, Nadin."
"Ya seenggaknya kamu tinggalin pesan, atau apapun." Pria macam apa yang meninggalkan pasangannya di hotel? "Apa susahnya hubungin aku sebentar?"
"Sorry." Kael mengulurkan tangan meminta kunci mobil pada Angga yang sudah menunggu. Pria itu mengernyit.
"Bapak mau pulang sendiri?"
"Berikan saja," ucapnya tegas.
"Terus sekarang kamu di mana?" lanjut Nadin. "Ini udah pukul lima sore, harusnya kerjaan kamu udah selesai, kan?"
"Yah." Kael melompat masuk ke kursi pengemudi. Angga masih standby di balik pintu, menunduk sambil menunggu. "Apa yang kamu butuhkan Nadin?"
"Sesuai perjanjian kita semalam Angga, kalau gitu, jemput aku di kantor. Kamu udah tahu tempatnya, kan?"
"Oke."
Sambungan langsung diputus.
Angga segera mendekat seraya membungkuk saat melihat atasannya sudah menyimpan ponsel. "Pak?"
"Saya nggak mau diganggu di sisa hari ini, Ga. Kamu tolong atur semuanya."
"Baik Pak."
"Dan satu lagi, siapkan kamar private di atas." Mata Angga berkilat-kilat penasaran.
"Untuk siapa Pak?"
Kael memicing, Angga auto mingkem, kembali menunduk patuh. "Maaf, saya akan siapkan. Masalah Ibu Nadin kemarin Pak, apa beliau menghubungi Anda?"
Sepertinya Angga salah bertanya karena Kael semakin menatapnya tajam. Angga membuat gerakan seperti meritsleting bibir. "Maaf Pak Kael." Dengan salah tingkah dia mundur teratur membiarkan kendaraan sangar itu melintas.
Namun baru berbalik dua langkah, Kael memanggilnya. "Angga?"
Angga mengumpat dalam hati takut dipecat. "Ya Pak?" Tapi Kael hanya melepas jasnya lalu dioper keluar sekaligus membuka kemejanya. Angga semakin gelagapan ketika Kael hanya menyisakan kaos hitam polos, bahkan melepaskan jam tangan yang nominalnya mungkin setara gaji Angga setahun. "Gimana maksudnya ini, Pak?"
"Kamu simpan itu, saya akan bertemu Nadin, kalau saya menggunakan semua itu dia akan berpikir macam-macam."
"Ba-baik Pak."
"Bawa sini kacamata kamu."
"Yang ini, Pak?" Angga melepas kacamata berbingkai miliknya sendiri. "Tapi ini minus Pak, baru banget saya beli tadi."
"Iya, cepatlah, saya nggak ada waktu, tolong belikan kacamata yang sama besok selusin. Saya membutuhkannya."
"Siap Pak Kael."
Mobil kemudian melaju, meninggalkan Angga memeluk barang-barang pribadi sang atasan. Bingung dengan tingkah orang kaya yang di luar nalar. Bahkan bermain api dengan istri orang.
"Bukan urusan gue, bukan urusan gue," rutuk Angga dalam hati. "Tapi dia pakai identitas gue buat pacaran, aish!"
***