“Kamu barter apa sama Radiva sampe dia mau ke rumah?”
Erick yang baru saja duduk di kursi itu melihat ke arah Kenan. Lelaki tertua di keluarganya itu menatapnya dengan penasaran. Erick sudah menduga kakaknya akan bertanya langsung padanya. Mungkin itu karena Radiva yang langsung keluar pagi-pagi. Padahal Radiva bilang tidak ada kelas pagi hari ini.
“Gak ada. Aku cuman minta kak Diva pulang,” jawab Erick tidak sepenuhnya berbohong. Awalnya ia memang hanya meminta perempuan itu pulang saja. Tapi, masalah meminta biodata lengkap dengan orang yang Radiva inginkan, itu mungkin hanya keinginan Radiva. Dan bukan sistem barter seperti yang Kenan katakan.
“Yakin?” Tanya Kinan yang mulai curiga. Kakak kedua Erick menatap lelaki berseragam SMA itu dengan wajah penasaran. Menelan salivanya kasar, Erick lalu mengangguk pelan.
“Iya,” jawab Erick gugup.
“Kalian kenapa, sih? Kasian Erick sampe takut kaya gitu. Mungkin emang Diva mau pulang aja. Biasanya juga gitu, kan? Dia kalau mau pulang, ya pulang. Kalau gak mau ya gak pulang,” lerai Bunda yang berhasil membuat Kenan dan Kinan berhenti menatap Erick curiga. Wanita yang sibuk memakan sarapannya itu menatap anak-anaknya yang kini terlihat lebih pendiam daripada biasanya. “Masakan Bunda ada yang gak enak?”
“Hah?” Tanya mereka serentak.
“Itu, kalian daritadi diem aja.”
Semuanya kembali terdiam. Membuat senyum di bibir Bunda tertarik. “Radiva pulang, harusnya kalian seneng, kan?”
“Seneng, sih. Tapi Kak Diva gak sarapan sama kita. Pasti ke rumah juga cuman mau numpang tidur,” gumam Regan yang masih bisa didengar Bunda. Kenan yang mendengarnya juga langsung menyenggol kaki si bungsu. Matanya menatap tajam pada Regan yang kini mengaduh kesakitan.
“Gak papa. Dia masih mau pulang aja Bunda udah seneng,” ujar Bunda dengan senyum pahitnya. Kenan yang mendengarnya langsung merangkul wanita di sebelahnya dengan sayang.
“Gak mungkin Diva numpang tidur doang, Bunda. Dia tadi ada janji pagi-pagi. Makanya langsung berangkat.”
“Janji?” Beo Erick.
Kinan mengangguk pelan. “Iya, kayanya penting juga. Soalnya buru-buru.”
Bunda melirik pada Erick yang kini mengernyit dalam. Terlihat jika lelaki itu sangat bingung dengan ucapan Kinan. “Diva bilang sesuatu sama Adek? Kok keliatannya kaya bingung gitu?”
Erick yang baru saja ditanya langsung mengubah raut wajahnya menjadi seperti biasa. Tersenyum kecil, Erick tatap wanita yang ada di sebrang itu dengan tatapan lembut. “Gak. Aneh aja Kak Diva mau keluar pagi-pagi. Biasanya jam 12 baru bangun. Apalagi kalau di rumah.”
“Kakak juga baru tahu dia bisa bangun pagi. Biasanya belum terang sampe kepanasan, dia gak akan bangun.” Kinan mengangguk pelan, setuju dengan ucapan Erick.
“Oh, kalau bangun pagi. Tadi Megan ketuk kamar Kak Diva keras-keras. Sampe Kak Diva bilang anjingnya keras banget,” ucap Megan seraya menekan kata hewan yang baru saja ia ucapkan. Kenan yang mendengarnya tak bisa menahan tawa. “Mukanya juga kaya yang masih ngantuk. Terus Regan dateng. Meluk tiba-tiba terus aku sama Kak Diva jatoh. Kayanya gara-gara jatoh, Kak Diva jadi gak tidur lagi.”
“Jatuh?”
“Iya. Tapi gak kesakitan sama sekali, tuh. Mukanya biasa aja. ,” jawab Regan yang tidak ingin disalahkan. Bunda menatap Megan yang kini menatap Regan dengan sebal.
“Mana ada! Kayanya kesakitan juga!”
“Lain kali jangan ganggu Kakak kamu. Dia baru pulang tengah malem. Kecapekan juga kayanya. Kasian kalau tidurnya kurang.” Regan dan Megan yang merasa bersalah langsung menunduk. Kedua kakak beradik itu langsung meminta maaf pada Bunda yang dijawab dengan anggukan pelan.
Radiva yang memang menjadi anak tengah, jelas keberadaanya kadang tidak terlalu terlihat. Apalagi akhir-akhir ini gadis itu sangat jarang pulang ke rumah. Sekalipun dengan paksaan, Radiva pasti memiliki alasan-alaasan tertentu untuk menolak. Yang mana membuat Radiva mendapat perlakuan khusus setiap pulang ke rumah. Entah dari jam tidurnya yang tidak pernah diganggu dan dibiarkan. Atau tentang jadwal makananya yang tidak terlalu diperketat.
Belum lagi sosok Radiva yang keras dan tidak suka diatur, membuat Bunda membebaskan gadis itu. Bahkan mengikuti geng motor dan menjadi ketua di sana. Padahal sudah sangat jelas jika Bunda dan keluarga besar tidak suka dengan hal semacam itu. Tapi untuk Radiva, hal itu pengecualian. Yang mana justru membuat yang lain merasa dibedakan. Sosok Radiva yang dulu menjadi ancaman bagi Bunda itu kini menjadi orang yang sangat dilindungi.
“Kalian jelas tahu kenapa Bunda kaya gini sama Kakak kalian, kan? Bukan bermaksud mau membedakan Radiva, tapi Bunda terlalu banyak buat salah sama Radiva. Bunda cuman gak mau Radiva—“
“Kita paham kok, Bunda,” jawab mereka semua dengan serentak.
Kenan tersenyum. “Selama itu buat Bunda nyaman, kita gak masalah.”
“Tapi—“
“Kak Radiva juga udah mau pulang lagi. Kita gak merasa dibedain kok, Bunda.”
Zira, ibu dari kelima anak itu menatap haru. Tak menyangka jika selama ini anak-anaknya tumbuh dewasa dengan cepat.
“Ayo, cepet habisin sarapannya. Kalian mau telat? Liat tuh, udah jam setengah tujuh lebih juga!”
Erick yang mendengarnya bergegas melahap roti isi di tangannya dengan cepat. “Kenapa Kakak gak bilang dari tadi?!”
“Lah, kamu yang asik bengong.”
Erick berdecak sebal mendengarnya. Lelaki itu segera menghabiskan sarapannya begitupun dengan kedua adiknya yang langsung meminum s**u.
***
Sedangkan di lain tempat, Radiva kini tengah menghisap dalam rokok di tangannya. Dengan sebelah tangannya yang memegang stir mobil, Radiva lihat sekitar jalan yang mulai ramai. Beberapa dari mereka sibuk mengantar anaknya sekolah dan sebagian sibuk berangkat ke tempat kerja. Membuang rokoknya yang masih tersisa banyak, Radiva lalu ambil permen di saku jaketnya. Mengunyah satu setelah membuka bungkusnya, Radiva nyalakan radio di mobilnya. Menemani kekosongan di dalam mobil yang kini hanya berisi ia sendiri.
Baru akan memperbesar suara dari radio, seseorang meneleponnya. Membuat Radiva mendengkus dan menekan tombol hijau. Kebiasaan Radiva yang tidak melihat nama penelepon adalah hal yang sangat buruk. Karena kebiasaannya itu, terkadang Radiva tidak bisa mengontrol suaranya dengan baik. Begitupun dengan nada suaranya yang akan keluar begitu menerima telepon.
“Halo?”
“Radiva?! Kenapa gak bilang sama Oma kalau kamu pulang?!” Bentak Oma dengan keras. Radiva bahkan harus mengecilkan volume agar suara nenek satu itu tidak menggema di dalam mobilnya.
“Kenapa aku harus bilang?” Tanya Radiva santai.
“Emang cucu pinter! Oma baru aja dari apartemen kamu tahu, gak?! Oma kaget liat apartemen kamu kosong. Bersih lagi!”
Radiva mendengkus. “Emang biasanya juga kosong. Rapi juga,” jawab Radiva tenang.
“Bersih dari hongkong! Kamu masih ada di rumah sekarang?” Tanya Oma masih dengan suara cemprengnya. “Jangan bilang kamu mau pulang lagi? Oma ini lagi dijalan mau ke rumah kamu!”
Radiva memutar bola matanya malas. “Aku ada urusan sebentar. Aku juga gak akan cepet-cepet pulang. Ada yang harus aku lakuin di sekitar rumah Bunda.”
“Pasti lomba motor lagi, kan? Iya, kan?”
“Oma, aku lagi dijalan. Kalau emang gak penting, aku matiin teleponnya.”
“Jangan dulu, dong! Ada yang mau Oma tanyain sama kamu. Kamu kenapa, sih? Gak bisa apa teleponan tuh yang lama. Oma—“
“Aku beneran matiin teleponnya kalau Oma masih ngomongin hal gak penting!” Ancam Radiva yang sudah kesal dengan suara Omanya. Apa tidak bisa suara wanita itu sedikit lebih pelan?
“Iya, iya! Maaf, Oma gak akan basa-basi,” ujar Oma sebal. “Kenapa kamu pulang?”
“Hah?”
“Kenapa kamu pulang?” Tanya Oma lagi.
“Apa, sih. Kan Oma sendiri juga minta aku pulang. Gak usah tanya yang gak penting.” Radiva membelokkan stirnya ke arah café. Perempuan itu menatap parkiran yang terlihat sepi. Sepertinya pilihannya untuk datang ke tempat ini sebagai tempat pertemuan adalah hal yang bagus. Melihat bagaimana sedikitnya pengunjung saat pagi, setidaknya bisa membuat pembicaraannya nanti tidak terganggu.
“Kamu pulang karena nego sama Erick, kan?” Pertanyaan Oma berhasil membuat Radiva menginjak rem secara mendadak. Beruntungnya ia sudah ada di dalam tempat parkir café. “Kamu pasti minta data orang lagi dari Erick, kan? Data diri siapa yang kamu minta sekarang?”
Radiva menelan salivanya kasar.
“Aku gak minta data diri siapa-siapa!”
“Gak usah bohong! Mata-mata Oma udah kasih tahu semuanya. Siapa Dandi? Pacar kamu?”
Radiva mengulum bibirnya kecil. “Bukan.”
“Terus siapa? Bahan kamu juga?”
“Bahan apa, sih? Udah ah, aku mau masuk. Aku matiin teleponnya.”
“Radiva! Jawab Oma dulu! Diva! Jangan—“
Radiva segera mematikan panggilan dan memparkirkan mobilnya dengan benar. Menghela napas panjang, kedua tangan Radiva terangkat menyugar rambutnya ke belakang. Kenapa ia bisa lupa jika wanita tua satu itu selalu mengawasinya bahkan dari jarak jauh? Apa wanita itu juga tahu tentangnya yang akan membuat novel terbaru dengan bahan yang baru? Sial! Radiva tidak bisa hanya diam saja sekarang. Ia harus segera menyelesaikan masalah novelnya atau wanita tua kesayangannya itu mengetahui semuanya.
Radiva jadi ingat saat pertama kali ia membuat novel dengan Erick yang menjadi bahannya. Kala itu Radiva hanya mengambil sedikit kehidupan adiknya yang tertekan dengan keadaan sekitar. Ia juga hanya mengambil beberapa pengalaman tak menyenangkan Erick. Namun Oma mengetahuinya dan langsung memarahinya bahkan mencabut novel itu dari dunia percetakan. Wanita tua satu itu memarahi Radiva habis-habisan. Menasehati Radiva agar tidak mengambil pengalaman tidak menyenangkan orang lain untuk dijadikan bahan novelnya. Karena tidak semua orang senang dengan hal tersebut. Ditambah saat itu Erick yang belum paham hanya bisa pasrah.
Radiva bahkan masih ingat bagaimana wanita itu memarahinya.
Flashback.
“Kamu seharusnya tahu! Kalau kehidupan orang gak semudah itu kamu jadikan bahan penelitian kamu! Kenapa bukan kehidupan kamu sendiri yang kamu tulis? Kamu jelas gak mau orang lain tahu kehidupan kamu, kan?! Itu juga yang dirasain sama Erick. Gimana kalau ada orang yang sadar kalau itu ternyata kisah adik kamu sendiri? Dan gimana jadinya kalau orang itu malah mempergunakan tulisan kamu untuk hal-hal yang gak baik?!”
“Tapi Erick juga gak keberatan.”
“Itu karena dia gak ngerti apa yang kamu maksud. Sekarang, kamu tulis kehidupan kamu sendiri. Bisa?”
“Ya, kehidupan penulis jelas beda lagi. Cukup aku yang tahu. Kenapa orang lain harus tahu?”
Oma mengangguk marah. “Itu juga yang Erick pikirin sekarang. Kenapa orang lain harus tahu tentang masalah dia? Kenapa orang lain harus tahu kehidupan dia? Sekalipun bukan penulis, Erick juga punya hak untuk bicara kalau dia gak suka kehidupan dia kamu umbar dengan mudah.”
“Tapi Erick setuju, Oma. Dia gak marah sama aku.”
“Itu depan kamu. Di belakang kamu dia tahan nangis karena temen-temennya mulai tahu siapa Erick yang sebenarnya. Kamu sadar gak sih apa yang kamu lakuin berdampak sama kehidupan orang lain?! Intinya, Oma gak akan cabut tuntutan Oma tentang buku kamu!”
Radiva berdecak kesal. “Aku harus punya uang! Aku butuh uang, Oma.”
“Kalau kamu sebutuh itu, kenapa gak kamu jual aja cerita hidup kamu sendiri? Itu lebih gampang, kan?” Oma menatap Radiva dengan tajam. “Kalau sampai Oma lihat dan dapat informasi kalau kamu gunain kehidupan orang lain tanpa persetujuan yang jelas dari mereka, Oma bakal tutup semua akses penerbitan kamu. Sekalipun kamu sujud depan Oma.”
Flashback off.
“Mbak Radiva?”
Mengerjapkan matanya kecil, Radiva menarik napas panjang. Kepalanya menoleh pada perempuan yang sejak tadi mengetuk kaca mobilnya. Mencabut kunci dari mobil, Radiva lalu turun keluar. Wajah gadis itu sedikit pucat dengan kening yang berkeringat. Radiva merutuk dirinya sendiri yang justru merasa takut dengan ancaman Oma di saat-saat seperti ini. Lagipula, ancaman wanita itu tidak mungkin benar-benar terlaksana, kan? Oma jelas hanya menggertaknya saja.
“Dengan Mbak Radiva?” Radiva mengangguk sekali. Gadis itu menatap perempuan di depannya dengan seksama. “Oh, maaf jika Mbak tidak mengenali saya. Perkenalkan, saya—“
“Di meja berapa Pak Geri menunggu?” Potong Radiva cuek. Memasukkan tangannya ke dalam saku jaket, Radiva lihat ke dalam café yang hanya ada beberapa pengunjung.
“Di meja nomor 19, Mbak.”
“Oke.” Radiva berjalan cepat. Meninggalkan perempuan yang sejak tadi bersikap ramah padanya.
“Katanya baik. Dari mana baiknya coba,” gerutu perempuan itu seraya menghentakkan kakinya kesal.
“Lo ngomongin gue?” Sindir Radiva seraya menghentikan langkahnya. Membuat wanita di belakangnya itu ikut berhenti dan menunduk. Menghindar dari delikan tajam Radiva yang saat ini sedang menatapnya.
“Maaf, Mbak. Sa-saya tidak bermaksud—“
“Kunci mulut lo sebelum Tuhan yang ngunci,” sarkas Radiva. Gadis itu lalu kembali berjalan. Meninggalkan wanita itu lagi.
“Maafin Rena, ya Allah. Jangan kunci mulut Rena dulu. Rena masih mau ngomong,” lirih perempuan itu seraya mengangkat tangan berdoa pada Yang Maha Kuasa. Sedangkan Radiva yang mendenganya hanya menanggapi dengan gelengan kepala.