Detik demi detik berlalu. Begitupun dengan menit. Waktu terus berjalan, namun gadis yang sedang mengunyah permen itu belum juga menjawab pertanyaan dari lelaki di hadapannya. Bahkan sudah 10 menit berlalu. Namun keadaan masih sama. Tenang dan tidak ada yang bicara.
“Kapan?” Tanya lelaki itu meminta kepastian. Bukannya menjawab dengan benar dan bicara jelas, perempuan di depannya itu justru mengedik kecil. Memejamkan matanya untuk tetap bersabar, lelaki itu lalu mengambil kembali map yang berisikan kontrak kerja antar kedua belah pihak. “Kamu gak akan bisa dapat royalti yang memuaskan kalau kamu kaya gini, Radiva. Banyak pesaing kamu di dunia kepenulisan. Mau sampai kapan kamu gak serius?”
“Pak, saya nulis karena saya suka. Bukan cari uang doang,” jawab gadis itu dengan wajah datarnya.
“Saya tahu. Tapi kamu juga harus tahu, kalau potensi kamu besar. Apalagi sekarang nama kamu juga sudah terkenal. Tinggal cara kamu—“
“Selama Bapak masih bisa menunggu keputusan saya. Saya rasa hasil yang didapat juga tidak akan sia-sia.”
“Saya tahu. Saya jelas tahu itu. Tapi kapan?”
Radiva menarik napas panjang. “Menulis bukan hanya mengetik dan menghalu, Pak. Tapi membutuhkan proses panjang untuk memilih kata dan menentukan alur yang jelas. Kalau saya asal dalam hal itu, untuk apa saya menulis? Kalau saya bisa mengetik cepat sesuai dengan apa yang saya pikirkan, saya tidak akan menunda selama ini.”
Geri. Lelaki yang menjadi pemilik salah satu perusahaan penerbit itu menghela napas panjang. “Ya sudah. Kalau memang genre romansa terlalu sulit untuk kamu, saya minta genre lain yang sudah kamu tulis. Ada, kan?”
Radiva tersenyum miring. “Tentu. Saya akan mengirimnya malam ini.”
Geri berdecak sebal. Kalau saja bukan karena kepopuleran dan kecerdasan Radiva dalam hal membuat karya, tidak akan Geri menunggu bahkan diam di café selama ini. Apalagi dengan suasana yang sepi seperti sekarang. Pekerjaanya jelas bukan hanya bernegosiasi dengan Radiva, namun lelaki itu juga tidak mau kehilangan kesempatan untuk mengambil keuntungan yang mungkin akan datang lebih cepat padanya.
“Kalau begitu, saya tunggu kamu mengirimkan naskah terbaru. Jangan sampai lewat dari hari ini.” Geri bangkit. Lelaki itu menatap sebentar pada Radiva sebelum tersenyum kecil. Hal yang membuat Radiva mengangkat sebelah halisnya tak suka. “Jangan sampai lupa!”
Radiva tersenyum datar. “Iya, Pak.”
Geri mengangguk dan pergi. Lelaki itu benar-benar keluar dari café. Meninggalkan Radiva sendirian. Gadis yang saat ini duduk sendiri itu menghela napas panjang. Ia memang sudah tahu apa yang Geri inginkan. Ditambah dengan waktu yang sudah lewat dari tenggat. Jelas saja Geri terus meminta kepastian dari Radiva. Kalau saja data tentang Dandi lebih cepat Radiva dapatkan, mungkin tenggat waktu yang sudah ditentukan akan terlewati dengan mudah.
“Sendiri aja?”
Radiva mendongkak. Gadis itu mengernyit melihat siapa yang saat ini berdiri di sampingnya dengan nampan yang penuh. “Mata lo masih berfungsi, kan?”
Lelaki dengan kemeja merah tuanya itu tertawa kecil. “Boleh gue duduk di sini?” Tanya lelaki itu seraya menunjuk kursi yang sebelumnya ditempati Geri.
“Dilarang juga percuma,” ujar Radiva yang lagi-lagi dibalas dengan tawa dari lelaki itu.
“Boleh berarti ya..”
“Hmm,” gumam Radiva. Gadis itu menatap sebentar pada nampan lelaki di depanya sebelum menatap ponselnya yang bergetar. Ada nama Oma tertera di sana. Segera Radiva balikan ponselnya. Malas berdebat dengan wanita itu, Radiva memilih mengambil kopinya di atas meja dan mulai menyeruput kecil.
“Lo ada kelas siang?” Tanya lelaki itu sok akrab. Radiva mengangguk pelan. Malas menanggapi dengan suara. Apalagi jika lelaki itu sudah bertanya masalah kampus. Ujung-ujungnya pasti mengingatkan tentang makan siang yang belum selesai beberapa bulan lalu. Seolah tidak ada pembicaraan yang lebih bermutu.
Benar. Lelaki di depannya saat ini adalah Kemal. Radiva tidak curiga kenapa lelaki itu bisa ada di sini sepagi ini. Karena rumah lelaki itu hanya terhalang dua toko dari café ini. Bagaimana Radiva bsia tahu hal itu? Tentu saja karena lelaki itu yang memberitahu. Terlalu rajin bagi Radiva menyelidik tentang Kemal. Lelaki ini juga tidak begitu membantu untuknya. Untuk apa Radiva mencari tahu tentang Kemal, kan? Selain menjadi teman dekat Dandi, Radiva tidak tahu apapun tentang Kemal.
“Habis ketemu pacar? Kayanya cowok tadi lumayan deket sama lo,” ujar Kemal yang kembali berusaha membuka pembicaraan. Radiva yang memang malas pulang dan tidak tahu kemana untuk kabur, akhirnya memilih menatap Kemal dan meladeni lelaki itu.
“Bukan,” jawab Radiva dengan datar.
“Terus? Siapa lo? Kayanya lebih deket dari cowok yang suka deket sama lo.”
Cowok yang Kemal maksud adalah Viza. Lelaki yang menjadi teman satu angkatan Radiva itu memang selalu bersamanya. Entah karena Viza adalah anggota geng motornya atau karena lelaki itu sering satu kelas dengan Radiva, yang jelas hanya Viza yang lumayan dekat dengan Radiva di kampus. Sisanya hanya dekat sekilas. Seperti lelaki di depannya ini.
“Apa masalahnya sama lo?” Tanya Radiva seraya mengangkat halisnya sebelah. Jangan lupakan matanya yang kecil itu menatap tajam pada Kemal. Terkekeh pelan, Kemal mengambil tisu dia atas meja. Mengusap mulutnya sebentar, Kemal lalu menggeleng.
“Gak ada urusannya sama gue, sih. Tapi gue penasaran aja. Kok ada yang mau deket sama lo.”
“Lo sendiri? Gak sadar?” Sarkas Radiva. Alih-alih merasa takut dan malu, Kemal justru tertawa lepas. Seolah pertanyaan yang baru saja Radiva lontarkan tidak ada apa-apanya. Memang segila itu lelaki yang ada di depannya ini. Bukan sekali dua kali Radiva melihat tawa lebar Kemal saat bersamanya. Padahal tidak ada hal yang lucu dan tidak ada hal yang bisa ditertawakan. Entah bagaimana bisa bibir lelaki itu sangat mudah membentuk senyum.
“Lo asik,” jawab Kemal dengan senyum manisnya. Lesung pipi yang akhir-akhir ini Radiva lihat itu kembali muncul. “Gua suka gaya lo. Gak terikat. Bebas.”
“Lo kira gua anjing? Terikat-terikat.”
“Gak semua orang sebabas lo soalnya.” Kemal tersenyum lagi. Kali ini senyum aneh yang tidak pernah Radiva lihat dari sosok lelaki itu. Tapi Radiva terlalu malas menerka. Gadis itu menggoyangkan gelas kopinya yang sudah habis.
“Gua duluan,” pamitnya tiba-tiba. Yang mana jelas membuat Kemal ikut bangkit juga.
“Biar gue an—“
“Gua bawa mobil. Dan gua gak mau jadi alasan makanan lo dibuang percuma. Gua duluan.” Radiva menunjuk nampan Kemal yang masih tersisa setengah. Ada roti dan beberapa macam minuman. Entah bagaimana bisa lelaki itu membeli dan memakan semua yang ada di nampan.
Baru akan meninggalkan café, Kemal sudah lebih dulu menahan lengan Radiva. Membuat gadis itu menghela napas kesal dan menoleh. “Kenapa lagi?”
“Gue juga ada kelas siang. Bisa berangkat bareng?” Tanya Kemal.
“Gua gak sekosong itu sampe jemput lo kek orang gabut. Lepasin tangan gua.”
“Biar gue yang jemput lo. Gue gak keberatan—“
“Gua yang keberatan. Dah, gua balik.”
Kemal melepaskan tangannya pada lengan Radiva. Bibirnya membentuk senyum manis.
“Gue makin tertantang setiap lo tolak ajakan gue, Div.”
***
“Kelas hari ini selesai. Untuk minggu depan, saya mau kelompok selanjutnya lebih siap dan lebih menguasai materi. Selamat sore.”
Dandi menutup bukunya. Lelaki yang duduk di kursi terdepan itu merenggangkan tangannya ke atas seraya menguap lebar. Merasa lemas karena tidak tertidur semalaman, Dandi lalu berniat tidur beberapa saat di kelas sebelum pulang ke rumah. Memejamkan mata dengan perlahan, Dandi kemudian menenggelamkan kepalanya pada lipatan tangan. Perlahan, napasnya mulai teratur dan mimpi mulai masuk ke dalam pikirannya.
Sedangkan di depan pintu, gadis dengan hoodie hitamnya baru saja datang. Melihat keadaan kelas yang sudah sepi, kaki jenjang gadis itu masuk ke dalam. Matanya tak sengaja menangkap lelaki yang tengah ia cari sedang terlelap tenang. Kaos hitam dengan jeans panjangnya itu mempermudahnya mencari Dandi. Berjalan mendekat dengan perlahan, gadis itu lalu duduk di sebelah Dandi.
Tersenyum kecil, sebelah tangannya mulai menopang dagu. Melihat lelaki yang ada di sampingnya dengan seksama. Pemandangan indah yang tak akan Radiva sia-siakan. Punggung lebar yang tertutup kaos hitam itu terlihat menggoda. Ditambah dengan posisinya yang tengah menelengkup. Membuat bahunya terlihat semakin jelas. Teringat dengan tujuannya kemari, gadis itu lalu mengeluarkan laptop di dalam tasnya dan mulai mengetikkan sesuatu di sana.
Jari-jari tangannya begitu lihai mengetik di atas keyboard berwana hitam. Sesekali gadis itu menoleh pada Dandi yang masih terlelap dengan nyenyak. Senyum manisnya yang jarang terlihat itu kini tidak bisa dihilangkan. Apalagi saat melihat lelaki di sampingnya. Beberapa kali juga gadis itu tertawa kecil saat salah mengetikkan sesuatu di layar laptopnya.
20 menit berlalu.
Gadis itu masih sibuk mengetik dengan Dandi yang setia tertidur. Tidak ada suara yang terdengar selain suara ketikan dari jari-jari lentik gadis itu dan detingan jarum jam. Entah karena terlalu lelah atau memang suasana yang menenangkan di dalam kelas, membuat Dandi tidak terusik sama sekali. Begitupun dengan Radiva yang tidak terganggu.
“Coba aja lo mau terima dari awal, Dan. Gak akan gua datang diam-diam gini,” gumam Radiva seraya menekan tombol enter di keyboard sebelum mematikan laptopnya. Tugasnya sudah selesai untuk hari ini. Radiva sudah selesai dengan bahannya. Memasukkan kembali laptopnya pada tas, Radiva berniat untuk pergi.
Namun saat memakai tas dan bangkit untuk pergi, tangan Dandi tiba-tiba saja menahannya. Membuat Radiva terdiam kaku. Gadis itu bahkan menelan salivanya takut. Apa Dandi sejak tadi hanya berpura-pura tidur? Dan sejak tadi lelaki itu tahu apa yang dilakukannya?
Jantung Radiva berdegup kencang. Ini adalah pertama kalinya Dandi memegang tangannya. Radiva tidak tahu jantungnya berdetak sekencang ini karena takut atau hal lain. Yang pasti, wajahnya juga ikut terasa panas. Apalagi ketika Dandi membalikkan wajahnya menjadi menyamping dan melihat Radiva dengan mata yang sedikit terbuka. Radiva mencengkram pegangan tasnya.
“Ajeng, lo beneran mau batalin perjodohannya? Kenapa? Gua suka sama lo, Jeng. Gua sayang sama lo.”
Radiva terdiam. Tubuhnya kaku. Napasnya terasa berhenti. Cengkraman tangannya pada tas melemah. Sesaat Radiva lupa bagaimana caranya bernapas. Jantungnya yang semula berdetak kencang itu tiba-tiba saja terhenti berdetak beberapa detik sebelum akhirnya kembali bekerja dengan rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya.
“Jeng, lo juga pasti tahu, kan? Gua gak pernah suka sama yang lain. Lo jahat udah buat gua gak tidur semalaman gara-gara mikirin lo. Lo pasti cuman bercanda, kan?”
Tak tahan mendengar nama perempuan lain terucap dari bibir Dandi, Radiva mencoba melepaskan cekalan tangan Dandi. Namun lelaki itu justru menguatkan cekalan tangannya. Bahkan menarik tangan Radiva, sampai membuat gadis itu kembali duduk di tempat. Dandi mengangkat tangan Radiva dan memeluk lengan itu hangat.
“Gua udah janji sama lo, kan? Gua gak akan buat lo susah, Jeng. Apa semuanya karena cowok itu? Dia bahkan gak lebih baik dari gua, Jeng.”
“Iya, gua tahu. Lo yang terbaik, Dan,” ucap Radiva pada akhirnya. Gadis itu tersenyum pahit saat melihat Dandi juga tersenyum. Walau dengan mata yang masih tertutup, senyum lelaki itu tetap terlihat manis.
“Lo jangan kemana-mana, ya? Di sini sama gua. Selesai kuliah, gua bakal nikahin lo. Gua lebih baik dari dia, Jeng.”
Radiva mengangguk kaku. Sekalipun Dandi tidak akan melihatnya, Radiva tetap menjawab ucapan lelaki itu. Dadanya kian terasa sesak. Terutama saat lelaki itu memeluk erat tangan kirinya. Radiva mengulum bibirnya. Mengangkat tangannya yang lain untuk mengusap kepala Dandi, Radiva rasakan matanya yang semula hanya memanas, kini mengeluarkan air mata. Radiva gigit bibirnya agar isakan itu tidak keluar. Menarik napas panjang, Radiva semakin merasakan dadanya sesak.
“Jeng, gua sayang sama lo.”
Radiva menggigit bibirnya. Gadis itu juga memejamkan mata. Menarik napas dalam-dalam, Radiva semakin tak bisa menahan rasa sakit di dadanya. Melepaskan tangannya dari rambut tebal milik Dandi, Radiva pukul dadanya beberapa kali.
Kenapa rasanya sesak? Gua gak punya riwayat asma. Gua juga gak punya penyakit kronis. Ini kenapa, sih?
“Lo kenapa masih di sini?” Radiva buru-buru mengusap air matanya dan menoleh pada pintu kelas yang terbuka lebar. Di sana ada Kemal yang menatap Radiva dengan kening mengernyit. Mengubah arah pandangnya pada lelaki di samping Radiva, Kemal seketika mengepalkan tangannya juga mengeraskan rahang. Namun lelaki itu tahan kala Radiva menempelkan telunjuk pada bibir. Meminta Kemal agar tidak berisik.
Kemal mengangguk dan berjalan mendekat. Keningnya mengernyit saat melihat Radiva yang terlihat seperti sehabis menangis? Dari jarak yang lumayan jauh, Radiva memang terlihat biasa saja. Tapi setelah dilihat dari dekat, mata gadis itu membengkak dan masih ada sisa-sisa air mata yang menempel pada pipi kecil Radiva.
“Lo habis nangis?”