Nama lengkap, Dandi Chikal Januar. Lelaki kelahiran Denpasar, 31 Mei itu adalah putra satu-satunya dari pasangan Meka Agustin dan Reka Januar. Penerus keempat perusahaan Mell’s Food. Berumur 22 tahun dan memiliki catatan prestasi sebagai berikut.
Menjadi juara kelas sejak kelas 1 SD sampai dengan kelas 2 SMA. Anak rajin dan patuh sampai mempunyai gelar the good boy dikalangan remaja-remaja pada masanya. Tingkat kedisiplinan tinggi dan memiliki rasa hormat yang patut diacungi jempol. Mendapat beasiswa full di universitas ternama di Jakarta, namun tidak diambil karena suatu alasan. Menguasai 3 bahasa. Indonesia, Inggris, dan Prancis. Lelaki muda ini juga cukup ahli dalam bidang seni. Seperti menggambar dan membuat desain-desain tertentu.
Tidak hanya memiliki pencapaian yang luar biasa, Dandi juga ternyata sangat penurut. Lelaki itu sempat dikabarkan menerima perjodohan yang ayahnya sudah rencanakan sejak kecil. Perjodohan yang dilakukan dengan perempuan bernama Ajeng Gayatri itu nyatanya tidak terjadi. Sebab pihak perempuan menolak dan berencana menikah dengan lelaki pilihannya.
“Sialan! Lo sedih di percintaan, kenapa gua yang dapat karmanya?!”
Radiva membuang kertas di tangannya ke lantai. Rentetan kalimat yang ia terima dari Erick lima hari lalu itu benar-benar membuatnya geram. Padahal Radiva hanya meminta biodata biasa saja. Tapi si pintar Erick juga melampirkan hal tidak bermutu itu ke dalam map. Menggeram kesal, Radiva bangkit dari duduknya. Ia melangkah tak tentu arah. Berbalik kembali sebelum akhirnya duduk dengan gusar.
“Anjing! Kenapa gua yang kepikiran, sih?!” Kesal gadis itu seraya berdecak marah.
Radiva ambil kertas yang sempat ia lempar dan melipatnya menjadi dua bagian. Tangannya terangkat dan mengipasi wajah yang terasa panas juga memerah. Padahal ia sudah menyalakan pendingin ruangan sejak tadi.
“Kakak! Makan siang dulu kata Bunda!” Teriak seseorang dari luar. Radiva mendengkus namun tak urung bangkit. Kertas di tangannya kembali dibuang ke arah ranjang. Sebelum akhirnya turun ke bawah untuk makan siang sesuai perintah dari adiknya.
“Sini, Sayang. Duduk sini,” ajak Bunda seraya menarik kursi agar Radiva bisa duduk dengan mudah. Radiva mengangguk dan langsung duduk. Gadis yang masih kesal dengan apa yang ia baca tadi itu buru-buru mengambil piring yang Bunda sodorkan. Pikirannya masih berkecamuk tentang Dandi. Beberapa kali juga gadis itu berdecak.
“Kakak di sini?” Tanya Erick. Lelaki yang baru saja pulang sekolah itu menatap heran Radiva yang duduk dengan wajah marah. Mengedipkan matanya beberapa kali, Erick mengernyit tidak percaya. Kakak perempuannya itu benar-benar ada di sini dan sedang duduk? Di depan Bundanya?
“Kamu udah pulang? Les nanti jam berapa?” Tanya Bunda yang berhasil memecah lamunan Erick. Lelaki itu menunjuk Radiva seraya menatap sang bunda. Tersenyum manis, Bundanya justru mengangguk semangat. Seolah keberadaan Radiva yang duduk satu meja dengannya itu adalah hal yang paling membahagiakan dan bukan terjadi karena kebetulan. Erick menelan salivanya. Ingin menyadarkan sang kakak, tapi Erick tidak tega dengan raut wajah sang bunda.
Hidup dengan masalah yang selalu datang silih berganti, membuat Erick terkadang harus waspada pada hal-hal tertentu. Namun sepertinya kini ia tidak perlu merasa waspada. Anehnya, Erick juga merasa senang sang kakak mau duduk bersama di meja makan. Seteah 8 tahuan menyendiri dan memilih tinggal jauh dari keluarga, tentu saja Erick tidak mau hal-hal seperti ini hilang begitu saja. Walau ia sangat tahu apa yang saat ini ada di depannya hanya sebuah kemustahilan saat Radiva sadar. Pasti pikiran gadis itu sedang berada di tempat lain.
“Sini, ikut makan. Kamu gak laper?” Tanya Bunda dengan ramah. Erick mengangguk ragu. Lelaki itu kemudian berjalan mendekat dan duduk di sebelah Radiva. Menarik kursi, Erick bisa melihat wajah kesal sang kakak. Tangannya juga sejak tadi mengepal marah. Ternyata dugaannya benar, Radiva tidak sadar jika di depan mereka ada sang Bunda yang sejak tadi melihat.
Erick sangat hapal bagaimana sosok Radiva begitu melihat ibu mereka. Ditambah dengan gadis itu yang memiliki trauma cukup berat—yang sampai sekarang belum juga sembuh. Tremor bahkan sampai sesak napas Radiva rasakan begitu melihat ibu mereka. Dulu, Erick bahkan melihat dengan jelas bagaimana Radiva yang hampir pingsan hanya karena bertemu tidak sengaja dengan Bundanya di mall. Gadis itu seketika sesak napas sampai tidak bisa berdiri dengan benar.
Walau dulu separah itu, Radiva tetap berusaha berada di rumah dan selalu berusaha untuk mengunjungi Bunda. Yang mana berimbas pada kebiasaan gadis itu yang akan berdiam di kamar selama seharian penuh jika memang tidak ada kelas. Dan bila ada kelas, maka yang Radiva lakukan hanya menumpang tidur lalu berangkat sepagi mungkin agar terhindar dari kontak mata dengan Bunda.
Tapi sekarang? Gadis itu bahkan mau duduk dan makan dengan Bunda yang ada di depan mereka. Sebuah kemajuan yang Erick nantikan sampai saat ini. Melihat senyum Bundanya yang terus terpasang sejak Erick datang, menandakan jika wanita itu juga sudah tersenyum selama Radiva berada di ruang makan.
“Kak, minum dong,” ucap Erick seraya menunjuk satu gelas yang ada di samping Radiva. Dengan kesal, Radiva ambil gelas di sampingnya dan memberikannya pada Erick dengan cepat.
“Harusnya lo dijodohinnya sama gua aja! Gua dari keluarga kaya, kok! Perusahaan bapak lo juga bisa tambah maju kalau sama gua! Kenapa harus sama orang lain, sih?!” Gerutu Radiva seraya menyuapkan satu sendok penuh makan siangnya. Gadis itu mengunyah cepat dan menelannya.
“Kak, bisa keselek nanti,” ucap Erick memperingatkan. Radiva menolehkan kepalanya dan menatap Erick dengan tajam. Membuat Erick yang tidak tahu sebab Radiva menatapnya tajam itu hanya bisa menelan saliva dan menunduk takut.
“Kakak cantik kan, Rik?” Tanya Radiva tiba-tiba seraya mnegangkat kepala Erick agar mau melihat wajahnya dengan seksama.
“I-Iya. Cantik,” jawab Erick gugup. Antara takut dan bingung dengan pertanyaan aneh yang Radiva baru saja lontarkan.
“Kakak juga manis, kan?” Tanya Radiva lagi. Kali ini dengan wajah yang lebih menyeramkan. Kening yang mengernyit tajam dengan mata yang menatap Erick bak musuh.
“Iya. Ma-manis, juga.”
“Kok Dandi bisa gak suka sama Kakak?!” Tanya gadis itu frutasi.
“Ya?” Beo Erick dan Bunda bersamaan. Mendengar pertanyaan yang dilontarkan dengan suara keras jelas membuat Erick dan Bunda merasa bingung. Apalagi sekarang Radiva langsung bersandar lesu. Wajahnya juga berubah murung. Seakan apa yang sedang terjadi pada pikirannya itu benar-benar menyusahkan.
“Kakak emang gak berhijab! Gak imut atau lembut juga. Tapi Kakak kan kaya! Punya semuanya. Dia mau apa aja Kakak bisa beliin. Kakak juga punya hal yang dipunyain sama Ajeng! Ah, anjing! b**o banget, sih! Dandi pasti gak suka karena lo b**o!”
Erick dan Bunda saling memandang satu sama lain. Gerutuan yang keluar dari mulut Radiva itu benar-benar membingungkan. Sekalipun Erick tahu siapa yang Radiva maksud, tetap saja ia tidak mengerti kemana arah pembicaraan kakak keempatnya itu.
“Kamu ada masalah?” Tanya Bunda seraya mendekat. Radiva mendengkus dan menggelengkan kepalanya tegas sebelum menghabiskan air yang sebelumnya ia berikan pada Erick. Mendorong kursi dengan marah, Radiva lalu melenggang pergi ke kamar. Membuat Bunda dan Erick lagi-lagi hanya bisa menatap satu sama lain dan menggeleng tidak paham.
***
“Lo kesambet apaan, Div?”
Gadis yang memakai dress selututnya itu memeriksa kening Radiva dengan punggung tangannya. Berusaha memeriksa keadaan temannya yang datang setengah jam yang lalu. Merasa temannya baik-baik saja, Mocin lalu duduk di samping Radiva dan menatap bingung gadis di sampingnya.
“Lo gak kebentur apa-apa, kan, sebelum ke sini?” Tanya Mocin. Gadis itu menatap Radiva kembali. Mengecek anggota tubuh Radiva yang masih utuh.
“Lo mau bantu gua apa nggak?!” Tanya Radiva sarkas yang berhasil membaut Mocin berjengkit kaget.
“Ya tenang aja kenapa, sih?! Jantungan gua denger lo yang dari tadi teriak tiba-tiba mulu!”
“Lagian gak ada ngebantunya banget,” gumam Radiva dan mengambil satu batang rokok dari atas meja sebelum menyalakannya dan mengisap rokok itu cepat.
“Enak aja gak ada guna! Hidup lo tuh yang gak ada gunanya!” Sentak Mocin tidak terima. Radiva mendengkus. Gadis itu memainkan lidahnya pada gigi geraham. Mencoba membersihkan sisa makan siang yang ia makan dengan hati dongkol.
“Kenapa?” Tanya Uya yang baru saja datang dengan satu kaleng bir. Lelaki itu duduk di depan Radiva dan menatap teman sekaligus ketuanya dengan wajah bingung. Melihat Radiva yang tidak menjawab dan sibuk menggerutu sebal, Uya lalu menatap Mocin yang kini juga terlihat kesal.
“Kenapa?” Tanya Uya lagi. Kali ini pada Mocin yang sedang menatap marah pada Radiva.
“Nih, temen lo gila! Dari awal dateng bilangnya minta bantuan sampe minta jadwal full kuliahnya sampe semester depan. Tapi kagak bilang kenapa kaya gitu. Siapa yang kagak kaget coba? Otaknya yang kadang gak dipake sekarang mau dipasang ulang gitu? Ya gua jelas kaget,” jelas Mocin seraya memperagakan kekesalannya dengan mengangkat tinggi-tinggi kepalan tangannya. Berusaha untuk memecahkan kepala Radiva dengan kepalan tangan kecilnya. Namun dengan cepat Radiva tahan tangan Mocin dan menatap wajah gadis itu tajam.
“Itu lo tahu otak gue gak pernah dipake! Makanya bantuin gua buat pasang balik nih otak!”
Uya menggelengkan kepala melihat Mocin dan Radiva yang asik ribut dengan suara tinggi mereka. “Jadi, intinya lo mau fokus kuliah?” Tanya Uya yang langsung menangkap maksud Radiva.
“Emang Uya doang yang punya otak kalau lagi kaya gini,” ujar Radiva seraya menyindir Mocin yang tentu saja langsung tersulut.
“Sama-sama gak punya otak gak usah sok, Mbak!” Seru Mocin dengan tangan yang menoyor kecil kepala Radiva. Menatap galak pada Mocin sekali, Radiva lalu menatap Uya dengan serius. Berusaha tidak memperdulikan Mocin yang ingin menerjangnya kembali.
“Gimana? Bisa kan gua kejar semua kelas?” Tanya Radiva dengan wajah berbinarnya.
Uya mengedikan bahunya. “Gak tahu. Tergantung dosen lo. Gua kan gak pernah tinggal kelas kaya lo.”
Radiva mendengkus keras. Gadis itu meniup asap rokok dari mulutnya pada Mocin yang akan memukul tangannya. Mocin yang mendapat serangan mendadak dari asap rokok Radiva langsung menghindar dan bangkit guna menjauh.
“Emang temen laknat! Gue ada pemotretan abis ini!”
Radiva mencebik kasar. “Kek model ada pemotretan. Foto buat majalah dewasa?”
“Sialan! Ya nggaklah! Heh, temen lo yang ini tuh cantik tahu, gak?! Banyak agensi yang mau—“
“Dari pada ribut mulu, mending ke kamar. Ambil parfum terus semprot tuh baju lo semua. Mau ada pemotretan, kan?” Lerai Uya seraya mengusir Mocin. Lelaki itu mengibaskan tangannya agar Mocin segera pergi meninggalkanya dengan Radiva berdua.
Berdecak pelan seraya menatap marah pada Radiva, Mocin lalu pergi. Langkah kaki yang dihentakkan seolah memberitahu pada Radiva bahwa gadis itu benar-benar sedang marah.
“Tumben lo mau serius. Ada masalah di rumah lo? Kakak lo mau cepet-cepet pensiun?” Tanya Uya. Lelaki itu mengambil rokok baru dari meja dan mulai menyalakannya kala Radiva terdiam. Lelaki itu menutup mulutnya yang kini mengapit rokok dan mulai menyalakan pematik. Menjaga apinya agar membakar ujung rokok, Uya lalu menaruh kembali pematik berwarna ungu tua itu ke atas meja.
“Gua pengen jadi pinter, Ya,” aku Radiva pada akhirnya.
“Kan udah pinter. Lo bisa bikin novel aja udah jadi orang pinter, Div. Baru ngerasain insecure lo? Atau ada yang ngejek? Ya kali mental lo selembek itu, ah!”
Radiva menarik napas panjang dan mengangguk. “Insecure kayaknya gua sama tuh cewek,” jawab Radiva.
Uya menganga tak percaya. Lelaki yang umurnya hanya terpaut 3 tahun dari Radiva itu menatap Radiva dengan wajah yang tidak bisa lagi dikontrol. Mulut terbuka lebar dan mata yang membulat. Apa di depannya ini benar-benar sosok Radiva yang dikenalnya?
“Lo… se-serius?! Div, kalau bercanda lo kaya gini, gak ada bagusnya sama sekali loh, Div. sama sekali gak lucu!”
“Siapa yang ngelucu sih, anjir! Gua emang beneran ngerasa gak ada apa-apanya dibanding tuh cewek!”
“Siapa, sih?! Siapa yang buat lo jadi gini! Anjir, ngeri gua liatnya gila!” Uya merinding kecil. Mendengar Radiva yang mulai merasa seperti manusia, jelas membuat Uya tidak percaya sama sekali. Ditambah dengan kelakuan gadis itu yang sangat jauh berbeda dengan yang biasa Uya lihat. Bahaya! Radiva tidak mungkin sedang menyukai seorang lelaki, kan?
“Ajeng namanya. Ajeng Gayatri. Gua gak tahu dia siapa. Tapi anaknya lumayan cantik,” jawab Radiva.
“Secantik apa sih Ajeng?! Lo sampe kek begini.”
“Kalau dari foto sih, lumayan. Mau liat?” Tawar Radiva. Uya mengangguk semangat lalu mengambil ponsel Radiva kala gadis itu memberikan sebuah gambar.
“Masya Allah!” Pekik Uya heboh.
“Kenapa?”
“Ini sih bukan lumayan! Emang cantik, Div. Pantes kalau lo insecure.”
“Emang temen dakjal semua!”