Isi Hati Radiva - COB 12

1610 Words
Tiga hari berlalu sejak Radiva mendapat pengakuan bahwa Dandi tidak bisa membantunya dalam hal pembuatan novel. Tolong garis bawahi pembuatan novel. Lelaki itu tidak mau bekerja sama dengannya karena tidak suka dengan anak geng motor sepertinya. Dan tiga hari juga Radiva diam di apartemen dan tidak keluar rumah. Entah kebetulan macam apa, tapi jumat kemarin, kampusnya diliburkan karena akan ada festival besar yang dibuat oleh anak-anak dari jurusan seni. Dan sebagian ruangan dipakai untuk dijadikan museum buatan. Lalu sabtu dan minggu adalah hari di mana Radiva bisa meluangkan waktunya untuk diam. Setelah mendapat jawaban dari Dandi, semangat hidup Radiva seolah dipadamkan oleh air begitu saja. Tidak ada lagi cara agar Radiva bisa mengajak Dandi agar ikut andil dalam pembuatan novelnya. Dan saat mengingat malam itu, rasanya Radiva ingin memutar waktu saja. Flasback. “Lo gak suka anak geng motor?” Tanya Radiva memastikan. Dandi mengangguk pelan. “Gua gak tahu kalau selama ini lo deketin gue karena hal ini. Tapi perlu gua jelasin lagi sama lo. Kalau gue gak akan terima tawaran lo selama lo masih jadi anak geng motor.” “Apa masalahnya? Hubungannya sama pembuatan novel gua juga gak ada,” jawab Radiva yang mulai tersulut emosi. Gadis itu mendengkus pelan saat Dandi menghela napas panjang di sampingnya. “Dari awal lo deketin gue di tempat mie ayam itu juga karena ini?” Tanya Dandi. Radiva terdiam. Gadis itu melihat ke arah danau dan enggan menjawab pertanyaan dari Dandi. “Diem lo bisa jadi jawaban iya dari semua pertanyaan. Dan ungkapan lo di tukang bubur juga karena ini?” Radiva akhirnya mengangguk sekali. Dengan helaan napas kasarnya, Radiva tatap wajah Dandi yang sama sekali tidak menunjukkan kekecewaan. Tapi di sana terlihat sekali jika lelaki itu sangat tidak suka dengan pengakuan Radiva. “Mungkin gue masih bisa terima hal ini. Karena gue gak begitu paham dengan yang namanya percintaan. Tapi, gue gak tahu kalau itu orang lain. Apa yang lo lakuin memang gak salah sepenuhnya. Dan lo meminta izin dahulu dengan yang bersangkutan. Tapi dengan lo mainin perasaan dia dan jalanin hubungan palsu hanya karena novel, lo pikir semua orang mau?” Radiva mendongkak. Menatap wajah Dandi yang diterangi lampu jalan. Wajah tampan lelaki itu seolah sedang diberikan siluet indah. Membuat Radiva sempat teralihkan dari konsentrasinya. “Gak semua orang bisa pertahanin perasaan mereka hanya karena pekerjaan. Gimana kalau salah satu dari lo sama gua berfikir lebih dari pekerjaan?” “Iya itu lebih bagus, kan? Itu juga lebih baik.” Dandi terkekeh pelan. “Lebih baik? Kalau ternyata dua-duanya setuju. Kalau ternyata hanya sepihak? Terus ninggalin luka? Iya kalau ada pengganti, kalau gak ada? Siapa yang harus tanggung jawab? Sekalipun ada kontrak dan cap, perasaan gak bisa diikat.” Radiva terdiam. Merasa apa yang Dandi ucapkan benar adanya. Pemikirannya terlalu dangkal sampai berfikir dengan menjadikan orang lain kekasihnya dan berperan sebagai sepasang kekasih bisa membuatnya selesai. Namun ternyata ada banyak yang tidak ia pikirkan. Ada banyak hal yang tidak ia pertimbangkan. “Gue gak pernah berfikir sampe sana.” Dandi mengangguk pelan. “Berarti ini pertama kalinya lo buat genre romansa?” Tanya Dandi. Radiva mengangguk kecil. “Dan karena itu lo kesusahan sampe mau buat kontrak kaya di novel-novel?” Radiva menelan salivanya kasar. “Lebih tepatnya ini inisiatif gua aja. Gua gak mau terus dikejar buat cerita baru dengan genre itu. Makanya waktu liat lo di markas, gua langsung samperin lo.” “Kenapa harus gua? Kenapa gak yang lain aja? Di sana juga ada banyak yang beli.” Radiva menatap Dandi dengan tatapan lurus. Wajahnya sama sekali tidak berekpresi dan Dandi tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran Radiva saat ini. “Lo yang pertama gua lihat. Lo juga yang pertama buat gua gak bisa tidur. Lo yang buat gua tenang sampe rasanya jantung gua mau meledak setiap deket lo. Lo juga orang yang buat gua nangis dan ngerasa sesak cuman karena lo sebut nama cewek lain. Dan cuman lo yang buat gua bisa coba berhenti ngerokok dan berusaha untuk jadi anak pinter.” Radiva bisa melihat wajah Dandi yang terdiam kaku. Lelaki itu terlihat sekali terkejut dengan apa yang baru saja Radiva katakan. “Lo satu-satunya cowok yang buat gua kaya gini. Gua seneng ada di samping lo. Gua bahagia ada di dekat lo. Bahkan gua bela-belain lari dari kelas gua ke kelas lo. Yang mana lo jelas tahu sejauh apa itu, kan?” “Buat apa lo lakuin itu?” Tanya Dandi cepat. Radiva menggelengkan kepala pelan. “Gak tahu. Gua gak tahu kenapa gua lakuin itu. Gua gak tahu kenapa gua bisa seseneng itu deket lo. Bahkan setelah lo peluk tangan gua dan sebut nama cewek lain.” Dandi terhenyak. Lelaki yang ada di samping Radiva itu terkejut sesaat sebelum menatap Radiva dengan raut wajah khawatir. “Jadi cewek yang Kemal maksud itu… lo?” Radiva mengangguk. “Kalau jawaban lo berubah, lo bisa hubungi gue. Lo bisa tanya Kemal buat minta nomor gue. Gue pulang dulu. Lo juga pulang sana, makin malem makin dingin. Gak baik buat kesehatan lo.” Flasback off. “Diva! Lo dimana? Yuhuuu! Mocin cantik datang!” Radiva menghela napas panjang. Gadis yang sedang terbaring di ranjang itu segera bangkit dan keluar dari kamar. Membuka pintu kamar untuk memberitahu keberadaannya pada Mocin, Radiva lalu kembali masuk ke dalam. “Lo gak balik lagi?” Tanya Mocin seraya memasuki kamar Radiva. Gadis itu menaruh beberapa makanan ringan ke atas meja rias sebelum ikut bergabung di atas ranjang. “Gua udah bilang sama Bang Kenan kalau mau ke apart lagi,” jawab Radiva tanpa minat. “Oke. Gua takut lo gak bilang kaya biasanya.” Mocin mengeluarkan satu permen dari dalam tasnya dan mulai mengemut permen batangan itu setelah membuka bungkusnya terlebih dahulu. “Cin.” Mocin menatap Radiva dengan halis terangkat. “Kenapa?” “Lo sering pacaran, kan?” Mocin mengangguk pelan. “Menurut lo, apa yang harus gua lakuin buat dapetin Dandi lagi?” Mocin yang asik mengemut permennya itu langsung terdiam. Ia tatap wajah Radiva yang begitu mirip dengan Zombie. Dengan raut wajahnya yang sangat kentara lelah dan kantung mata yang semakin menghitam, sedikit membuat hati Mocin tersentil melihatnya. “Kenapa lo gak cari yang lain aja buat novel lo?” Tanya Mocin mengalihkan pembicaraan. Sejujurnya, Mocin sudah tahu kenapa Radiva sangat menginginkan lelaki itu dibandingkan yang lain. Padahal jika harus dibandingkan dengan Dandi, Radiva memiliki lebih banyak lelaki yang baik dan bermutu daripada Dandi. Dan Radiva juga tidak akan kesulitan dalam menulis novel jika mereka yang dijadikan pasangan oleh Radiva. “Kalau gua bilang karena gua gak mau gimana?” Tanya Radiva balik. “Alasannya?” “Sampe sekarang gua belum dapet jawaban dari pertanyaan itu.” Mocin menghela napas panjang. “Lo beneran suka sama dia, Radiva.” Mocin ambil tangan gadis itu. “Lo suka sama Dandi lebih dari orang yang sekedar suka karena dia cocok jadi salah satu pemain di novel lo. Lebih dari itu. Dan lo harus akuin itu. Semakin lo nyangkal dan ngerasa kalau itu cuman akal-akalan gua aja, lo gak akan pernah dapet jawabannya.” Memang seharusnya begitu. Radiva seharusnya tidak menyangkal itu sejak awal. Dan ia tidak ingin menyangkal itu. Namun setelah mendengar langsung apa yang Dandi katakan 3 hari lalu. Apa yang lelaki itu bicarakan dengannya 3 hari lalu, membuat Radiva diam-diam tersadar jika yang selama ini yang ia lakukan adalah hal bodoh. Yang selama ini ia korbankan adalah hal yang sia-sia. Semua yang dikatakannya dalam hati dan merasa bahwa itu benar-benar karena novel adalah hal yang salah. Radiva tidak mau mengingatnya lagi. Radiva tidak mau mencemaskannya lagi. Tapi hatinya terus bertolak dengan kenyataan itu. Hatinya terus menekan bahwa yang dikatakan Mocin benar adanya. Bahwa yang dilakukannya selama ini bukanlah hal yang sia-sia. Dan apa yang dikeluarkannya akan membuahkan hasil yang bahagia. “Gua gak bisa,” lirih Radiva. “Kenapa? Div, lo dari dulu keras sama diri lo sendiri. Dari dulu lo selalu biarin orang lain kerasin diri lo. Dari dulu lo selalu tahan apa yang lo rasain. Kenapa sekarang lo masih tahan juga? Semuanya ada waktu. Semuanya ada batas. Lo gak bisa tahan semuanya dan menumpuk jadi satu. Gak bisa, Div. Tubuh lo gak akan kuat.” Mocin ambil tangan sahabatnnya itu. Menggenggam dengan sepenuh hati, Mocin tatap wajah Radiva dengan senyum manisnya. “Coba lo liat mata gue sekarang. Lo ngomong sama hati lo. Apa yang sebenarnya lo butuhin?” Radiva menatap mata Mocin dalam. Gadis dengan mata sipitnya itu menatap dengan seksama kedua mata indah di depanya. Mocin memiliki mata yang bulat dengan kedua pipi yang berisi. Wajah cantik sahabatnya itu kadang membuat Radiva salah fokus. “Sekarang lo tanya sama diri lo sendiri. Tanya sama hati lo sendiri. Kenapa lo gak mau ambil orang lain? Kenapa lo sekeras kepala itu milih Dandi?” Radiva mengulang pertanyaan yang Mocin lontarkan dalam hati. Gadis itu masih menatap Mocin dengan wajah datarnya. Menarik napas panjang, Radiva pejamkan matanya sebentar sebelum kembali membukanya. “Dandi ganteng. Dia punya bahu lebar sama punggung tegap. Dia juga lebih tinggi dari gua. Dan yang paling penting, mukanya putih,” jawab Radiva segenap hati. Mocin yang mendengarnya melongo kecil. Perempuan itu mengedipkan matanya beberapa kali dan menatap wajah Radiva dengan tatapan tak percaya. “I-itu jawaban hati lo?” Tanya Mocin yang masih tak percaya. Memang hanya Radiva yang bisa megatakan semua itu. “Iya. Itu yang ada di hati gue. Gue bahkan gak ngolah kata-katanya dulu di dalem otak. Keluar ngalir aja.” Mocin mengangguk dengan tersenyum kaku. Mengemut kembali permennya, Mocin lalu bangkit dari atas kasur. Gadis itu memilih duduk di atas sofa seraya menggelengkan kepala. “Kok bisa gua temenan sama anak ini?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD