Pantang Menyerah - COB 13

1014 Words
“Dan, ada paket nih!” Dandi. Lelaki yang saat ini duduk di sofa dengan kucingnya itu melihat ke arah luar. Di mana sang ibu baru saja memanggilnya. Bangkit dari sofa, Dandi kernyitkan keningnya begitu melihat satu kotak berwarna coklat yang ibunya bawa. “Dari siapa, Bu?” Tanya Dandi seraya membuka kotak itu dengan cepat. “Mana Ibu tahu. Kamu pesen sesuatu emangnya?” Tanya sang ibu yang ikut bingung. “Gak. Dandi gak pesen apa-apa. Kurirnya tadi bilang apa sama Ibu?” “Katanya buat kamu. Udah gitu aja,” jawab wanita di depan Dandi seraya melenggang pergi. Dandi mengeluarkan benda persegi panjang yang ada di dalamnya dan mengernyit semakin dalam melihat tulisan yang tertera di atas benda itu. “Tumben beli novel. Suka baca sekarang?” Dandi spontan menolehkan kepala dan menatap terkejut ayahnya yang berdiri tepat di belakang Dandi. “Ayah ngapain gitu, sih?! Gak bisa apa sapa Dandi dulu?” Marah Dandi. Lelaki itu lalu membalik novel di tangannya. Ia tidak tahu siapa yang mengirimkan novel ini padanya. Dan lagi, Dandi tidak tahu kenapa novel yang saat ini ia pegang bergenre romansa. “Itu bukannya novel dewasa?” Dandi yang sejak tadi sibuk melihat-lihat cover novel di tangannya langsung mendongkak kala mendengar ucapan selanjutnya dari sang ayah. Pria yang asik memakan apel hijaunya itu menatap Dandi dengan halis terangkat. “Kamu suka sama kaya gitu? Pantes pengen cepet-cepet dinikahin,” ujar pria itu lalu pergi melenggang dengan senyum jahilnya. Dandi yang melihat itu jelas saja membulatkan mata tidak terima. “Ayah gak usah mikir yang macem-macem! Dandi aja gak tahu siapa yang kirim!” Teriak Dandi kesal. Ayah berbalik dan tersenyum semakin lebar. “Gak papa. Ayah tahu umur kamu udah dewasa. Gak papa. Sekalian edukasi. Gak usah malu,” serunya menjawab ucapan Dandi lalu tertawa seraya pergi dari ruang tamu. Meninggalkan Dandi yang kesal setengah mati. Lelaki itu segera membuka bungkus plastik novel tersebut dan mengambil kertas yang tersimpan di bagian cover depan. Semangat belajarnya. Gua yakin lo orangnya pinter. Jadi baca ini sebagai referensi sebelum terima kontrak kerja dari gue, ya! FIGHTING! Dandi rasa ia tahu siapa yang mengirim benda laknat ini ke rumahnya. Dengan tulisan absurd juga kata-kata yang dipakainya, membuat Dandi menggeram kesal. Apa gadis itu tidak sadar? Padahal sudah Dandi beri peringatan. Ia juga sudah menekankan pada gadis itu bahwa ia tidak akan menyetujui kontrak yang dimaksud. “Dari siapa?” Tanya Meka—ibunda Dandi. Wanita itu melihat novel yang dipegang anaknya sebelum menatap Dandi dengan raut terkejut. Dandi yang sadar jika ibunya juga mungkin berfikir sama seperti sang ayah, langsung menyimpan novel itu ke belakang tubuh dan pergi begitu saja. Membuat Meka mengedipkan matanya bingung. Menggaruk pipinya sebentar, Meka kedikan bahunya acuh. Ia tidak tahu kalau selama ini anaknya menyukai sesuatu yang panas. *** Memejamkan matanya setelah menutup pintu, Dandi genggam erat-erat benda laknat yang kini dipegangnya. Menghela napas kasar, Dandi ambil ponselnya yang kini bergetar di saku. Ada nomor tidak dikenal tertera di layar ponselnya. Dandi mengernyitkan kening. Siapa yang meneleponya? Dan kenapa memakai telepon biasa? Kalaupun itu teman-temannya, mereka pasti mengkonfirmasi nomor baru dahulu lewat pesan singkat. “Halo? Dengan siapa, ya?” Tanya Dandi ramah. Lelaki itu berjalan menuju kursi kepompong yang berada di dekat balkon kamarnya. Memasuki kursi itu perlahan, Dandi menatap kembali layar ponselnya karena belum ada jawaban selain suara bising. “Halo?” Panggil Dandi lagi. “Ah, maaf. Lo bener Dandi, kan?” Tanya perempuan di sebrang sana dengan suara kerasnya. Dandi semakin mengernyitkan keningnya. “Benar. Saya Dandi.” “Paketnya udah sampe sama lo, kan?” Tanya perempuan itu lagi. Yang mana membuat Dandi membulatkan mata seraya menganga kecil. “Jadi Anda yang mengirim novel ini kepada saya?!” Tanya Dandi marah. “Saya tidak butuh—“ “Gak usah marah-marah sama gua! Lo marahnya sama yang bersangkutan aja. Gua cuman mau konfirmasi itu aja. Dah, bye!” Dandi lihat layar ponselnya setelah perempuan itu memutuskan panggilan sepihak. Berdecak keras seraya melempar ponselnya ke arah ranjang, Dandi lihat kembali novel di tangannya. Perempuan itu bilang jika ia bisa marah pada yang bersangkutan. Berarti bukan perempuan itu yang mengirimkan novel ini padanya. Lalu siapa? “Mana judul sama covernya udah kek orang m***m lagi. Siapa yang ngirim sih? Radiva?” *** “Iya?” Mocin mengembalikan ponsel gadis di depannya sebelum duduk di atas kasur. Perempuan itu mengambil remote dan mengecilkan volume lagu yang sejak tadi Radiva nyalakan seperti orang kesetanan. “Paketnya udah nyampe,” kata Mocin mengulang ucapannya. Radiva mengangguk kecil lalu menatap Mocin dengan senyum lebarnya. “Makasih, Mocin!” Mocin mengangguk tak minat. Gadis itu mengambil jus jeruk di atas meja dan mulai menegak langsung dari botolnya. Melirik ke arah Radiva sebentar, Mocin menggelengkan kepala melihat gadis itu yang justru tersenyum semakin lebar dan terlihat sangat bahagia. “Tapi kayaknya dia gak suka sama novel itu deh, Div. Kenapa gak kasih novel yang lebih bagus, sih?” Radiva menggeleng. “Gak. Itu paling bagus.” “Itu udah termasuk novel e****s, anjing! Bukan lagi dewasa.” Radiva mengangguk. Masih dengan senyum lebarnya, Radiva lihat Mocin dengan wajah bahagia. “Gua juga tahu.” “Terus? Dia bisa jadi lebih jauh sama lo, dodol!” Radiva menghela napas. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Masih dengan senyum manisnya yang melebar, Radiva angkat tangannya dan mulai menulis abstrak pada udara. “Gua yakin malah hal sebaliknya yang bakal terjadi.” “Maksud lo?” Mocin menatap bingung pada Radiva yang kini menatap langit-langit. “Lo cukup liat aja nanti. Gua yakin dia bakal datengin gua sebentar lagi.” Mocin mendengkus kasar. “Kepedean lo emang belum berubah, ya?” Radiva tertawa kecil. “Bukan pede, Mocin. Kalau aja hari ini gua masuk kuliah, pasti dia datang.” Mocin yang baru sadar dan paham dengan maksud Radiva langsung menatap gadis itu dengan wajah terkejutnya. Bahkan bibirnya terbuka lebar. “Jangan bilang lo bakal tetep berusaha buat jadiin Dandi..” Radiva mengangguk. “Yap. Dan gua gak bakal lepasin mangsa gua semudah itu. So, lo bakal bantu gua, kan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD