Calon Imam - COB 14

2110 Words
“Div, masih banyak orang yang mau kok kerja sama lo. KenApa harus dia, sih? Lo emang gak sakit hati? Dia udah bilang yang nggak-nggak tentang lo, Div. jaga hati lo kenapa, sih?!” Radiva menatap malas Mocin yang kini duduk di sampingnya. “Bukannya lo sendiri yang minta gua buat liat isi hati gua?” “Ya tapi gak harus pake cara-cara aneh gini!” Radiva mengedikan bahunya acuh. Gadis itu mengambil minuman yang baru saja diberikan seorang barista. Menggoyangkan minumannya dengan perlahan, senyum Radiva mengembang kala mendengar helaan napas lelah dari Mocin. “Gua seneng kalau deket dia, Cin,” ujar Radiva tiba-tiba. Perempuan yang duduk di samping Mocin dengan gaya wartegnya—satu kaki naik ke atas bangku putar—itu tersenyum semakin lebar dengan mata yang melihat es batu di dalam gelasnya. “Lo juga seneng kalau deket gua, kan? Berarti lo juga suka sama gua. Tembak gua aja kenapa sih?” Tanya Mocin. Gadis itu melirik Radiva yang langsung menatapnya datar. Senyum yang awalnya mengembang juga menghilang entah kemana. Membuat Mocin tidak bisa menahan tawanya. “Bucin banget keknya lo sama Dandi.” Radiva kembali mengembangkan senyumnya. Mendengar namanya saja membuat Radiva merasa hidup. Seolah energi yang selama ini ia cari memang berada pada lelaki itu. “Gua udah sering ketemu banyak lelaki. Tapi gua gak pernah liat cowok yang gak liat gua sama sekali. Padahal jelas-jelas gua sering temuin dia sampe udah nyatain perasaan di pertemuan kedua. Tapi malah gak dijawab.” Radiva terkekeh begitu mengingat kejadian di tempat bubur. “Gua ngerasa tertantang buat dapetin dia. Hatinya juga lagi luka. Kayanya.” “Tahu dari mana lo hatinya lagi luka?” Tanya Mocin seraya mengernyitkan halisnya. “Nebak aja,” jawab Radiva. “Tapi, dia emang keliatan cowok baik-baik, sih. Rajin banget ke masjidnya. Mana mau sama lo yang begajulan, Div.” Radiva mengangkat tinggi-tinggi gelas minumannya sampai ke atas kepala Mocin. Yang mana langsung membuat Mocin menngkupkan kedua tangan meminta ampun. “Lagian, cari tipe yang sholeh gitu... Mana bisa dapetinnya cepet.” Radiva berdecih. Gadis itu menegak dengan cepat minuman di gelasnya sebelum menaruh kembali benda berbahan kaca itu ke atas meja. “Kalau gua gak dapet gimana, Cin?” “Paling depresi,” jawab Mocin santai. “Anjing! Gua serius!” Mocin mengedikan bahunya. “Ya mana gua tahu! Lo aja gak pernah pacaran sampe ngerasa pengen deketin cowok kaya sekarang.” “Seengaknya gitu, loh, pasti kebayang gimana jadinya,” gemas Radiva. “Mikirin tuh yang baik-baik. Jangan stuck sama kemungkinan buruk dulu. Yang ada hidup lo gak akan maju-maju.” Radiva berdecak keras. Gadis itu menjatuhkan kepalanya pada meja bar sebelum menatap Mocin dengan serius. “Dandi ganteng, Cin.” Mocin mengangguk. “Gua juga tahu. Kan gua yang bilang dia ganteng dari awal.” Radiva memberenggut kesal. Bibirnya maju ke depan. Merasa sebal dengan ucapan Mocin. “Dia baru gagal dijodohin,” ungkap Radiva seraya memainkan jarinya di atas meja bar. Gadis itu menarik napas panjang sebelum memejamkan mata sebentar. Tidak peduli dengan Mocin yang tersedak akibat ucapannya. “Hah? Siapa?!” “Dandi. Dari data yang dikasih sama Erick, dia dijodohin sama tetangganya. Ajeng namanya.” “Ajeng yang lo kasih liat sama Uya?” Tanya Mocin memastikan. Radiva mengangguk lesu. Gadis itu kembali menghela napas berat. “Uya aja bilang cantik. Gua kalah saingnya jauh, Cin.” Seujurnya, Mocin ingin sekali mengangguk dan mengakui apa yang Radiva katakan. Tapi melihat gadis itu yang sudah mabuk, membuat Mocin tidak tega melihatnya. Apalagi dengan wajah memelasnya yang sangat kentara. Memang hanya dengan mabuk saja Mocin bisa melihat sisi Radiva yang lain. Mulai dari ekspresi lain yang datang dan terlihat, sampai pada kata-kata yang mungkin tidak akan Radiva ingat nantinya. “Semua orang kan punya kelebihan masing-masing, Div. Lo juga cantik kok.” Mocin menyelipkan rambut Radiva yang menutupi wajah gadis itu. “Jangan ngerasa paling buruk. Lagian kan perjodohannya juga batal. Gak mungkin tetep nikah.” Radiva membuka matanya. Melihat Mocin dengan tatapan sayunya. Gadis itu lalu tersenyum kecil. “Gua harusnya gak khawatir, ya?” Mocin mengangguk. “Iyalah! Kan udah batal ini perjodohannya.” “Tapi, Cin.” “Hm?” “Dandinya cinta mati sama Ajeng.” Mocin terdiam beberapa saat. matanya juga berkedip beberapa kali. Mencoba memastikan apa yang Radiva katakan. “Itu perjodohan, kan?” “Iya.” Kepala Radiva mengangguk lemah. “Kok bisa cinta mati gitu?!” “Gua juga gak tahu. Makanya gua pesimis, Cin.” Mocin mengernyitkan keningnya. Gadis itu melihat ke arah samping di mana ponsel Radiva bergetar. Menandakan ada panggilan masuk. Menaruh gelasnya pada meja, Mocin lalu mengangkat panggilan tersebut. Karena tidak ada nama yang tertera, Mocin kira itu nomor seseorang yang hanya usil atau anggota geng yang memang tidak terlalu dekat dengan Radiva. Namun, begitu mendengar suara dari sebrang sana, mata Mocin membelalak. “Siapa?” Tanya Radiva seraya bangkit dan menarik ponselnya dari tangan Mocin. “Jangan lo—“ “Halo? Radiva di sini. Dengan siapa di sana?” Ucap Radiva melantur. Mocin yang mendengarnya hanya bisa menutup mata dan meringis kecil. “Jadi ini bener nomor lo?” Radiva mengernyit kasar. “Iya. Ini nomor Diva. Dengan siapa, ya?” Mocin menepuk keningnya. Radiva ketika mabuk memang bisa jadi bahaya besar. Gadis yang biasanya langsung mematikan telepon tidak dikenal itu kini malah bertanya dengan nada sopan. “Gua Dandi.” Radiva membulatkan bibirnya dan menatap Mocin dengan terkejut. Sedangkan Mocin yang mendapat tatapan itu hanya bisa menangkupkan kedua tangannya meminta maaf. “Gua kan udah bilang jangan diambil. Lo—“ “Kok lo gak kasih tahu kalau yang nelepon calon imam gue?!” Pekik Radiva seraya menunjuk Mocin dengan jari telunjuknya. “Hah?!” “Iya?” Suara Mocin yang terkejut dan suara Dandi yang bingung beradu. Radiva mengepalkan tangannya dan menjitak kepala Mocin dengan cukup keras. “Lo harusnya bilang sama gue! Ini calon imam lo telepon, Div. Gitu harusnya! Gimana, sih!” Mocin melongo. Gadis itu tidak tahu harus berkata apa dan menjawab dengan kalimat apa setelah mendengar ucapan Radiva. “Iya, calon imam. Ada apa?” Tanya Radiva pada Dandi yang masih tersambung di seberang sana. “Calon imam? Gua gak paham apa yang lo maksud. Gua telepon lo cuman mau tanya masalah nov—“ “Kok gak paham maksud Diva, sih? Kan udah dikasih tahu. Dandi itu calon—“ Mocin yang sadar jika Radiva sudah tidak waras itu segera mengambil ponsel dari tangan Radiva dan mematikan panggilan secara sepihak. “Mocin! Kenapa di matiin?!” Marah Radiva seraya berusaha mengambil ponselnya kembali. Namun akibat mabuk yang saat ini mulai menjalar ke seluruh sistem otaknya, Radiva jadi tidak bisa mengambil ponsel itu dengan benar. Wajah Mocin saja terlihat samar-samar di matanya. “Lo harus balik. Gak bener kalau di sini lama-lama!” “Mocin, balikin hape gue!” “Nanti. Udah ayo, balik!” *** Sedangkan di rumah, Dandi menatap ponselnya dengan kening mengernyit. Lelaki dengan kaos hitamnya itu mengedikan bahunya pelan. Menatap novel di tangannya dengan rasa penasaran, Dandi kemudian melempar barang itu sejauh yang ia bisa. Yang mana berakhir menimbulkan suara keras. “Itu kenapa, Dan?!” Teriak Meka dari luar. Dandi yang mendengarnya hanya bisa meringis kecil. Lelaki itu memilih tidak menjawab dan berbaring di kasur. Membuat Meka harus mendatangi kamar sang putra dan menatap anaknya dengan bingung. “Itu apa tadi? Kenapa suara keras banget? Kamu jatuh?” Tanya Meka yang penasaran. Dandi menyengir kecil. “Bukan apa-apa, Bu. Itu tadi buku jatoh,” jawab Dandi seraya menunjuk novel di ujung kamar yang sudah tidak lagi berbentuk. Meka—sang ibu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Wanita itu mengambil kembali buku yang berada tak jauh darinya dan hendak menyimpannya kembali ke atas meja belajar Dandi yang berada di dekat pintu kamar. “Jangan ditaruh di situ!” Larang Dandi seraya bangkit dari kasurnya. Meka menggantungkan tangannya dan menatap Dandi dengan halis terangkat. “Kenapa?” “Haram! Itu barang haram, Ibu!” Meka mengernyit dan kembali menatap novel di tangannya. Wanita itu juga membaca judul novel yang tertera begitu besar di bagian depan. “Loh, ini kan novel yang dikirim tadi siang, kan? Kok kamu lempar? Jelek tulisannya?” “Gak tahu. Dandi belum baca.” Dandi mengambil kembali buku itu dan menyembunyikannya ke belakang tubuh. “Belum dibaca?” Beo Meka. “Ah, maksudnya gak akan Dandi baca,” ralat Dandi. Lelaki itu merutuk dalam hati. Bisa-bisanya ia mengatakan belum?! “Oh, ya udah. Baca aja. Gak papa.” “Gak! Haram!” Bantah Dandi dan memasukkan novel itu ke dalam tong sampah yang ada di kamarnya. “Haram kenapa? Kayanya dalam ceritanya gak seburuk itu. Ibu tadi baca sinopsi—“ “Dandi ada tugas. Ibu bisa keluar?” Potong Dandi cepat seraya mengusir sang ibu halus. Tangannya mendorong bahu wanita itu lembut agar cepat-cepat keluar dari kamarnya. “Tugas apa? Kamu daritadi tiduran di kasur, kan?” “Tadi mau istirahat dulu. Sekarang udah gak capek lagi. Dandi mau kerjain tugas dulu, ya.” Meka menatap sang putra dengan tawa kecil. “Oh, oke. Ibu paham. Gak akan Ibu ganggu,” jawab Meka dan berjalan keluar sendiri. Dandi menghela napas lega dan akan menutup pintu kamar kembali. Namun baru akan merapatkan pintunya, Meka kembali berbalik dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi pada Dandi seraya tersenyum jahil. “Semangat!” Ujar wanita itu lalu mnegedip dan pergi. Dandi yang melihatnya hanya bisa melongo kecil. Sebenarnya ada apa dengan Ibunya? Apa yang sedang dipikirkan wanita itu? Dandi menggelengkan kepalanya enggan berfikir macam-macam. Menatap kembali buku novel di tempat sampah, Dandi goyangkan kakinya. “Apa gua ambil aja, ya?” Tersadar dengan pikiran sesatnya, Dandi segera memukul kepala dengan tangan dan kembali berjalan menuju kasur. Memang terkadang pikiran tempat terkotor yang tidak bisa dihindari. Dandi mengambil ponselnya yang kembali bergetar. Menandakan ada seseorang yang sedang meneleponnya. Melihat nama Kemal tertera di sana, Dandi segera mengangkatnya. Lelaki itu duduk di ranjang seraya menatap langit malam yang terlihat dari kaca kamarnya. “Kenapa?” “Bener nomornya?” Tanya lelaki itu penasaran. Dandi yang tahu kemana arah pembicaraan Kemal lantas mengangguk. “Bener, kok. Thank’s, Kem.” “Yoi! Gimana? Bener juga Radiva yang kirim tuh novel?” Dandi langsung terdiam. Teringat ucapan Radiva yang memanggilnya calon imam, sedikit membuat hati Dandi tidak nyaman. Apalagi saat gadis itu berdebat dengan perempuan yang entah siapa dan memanggilnya dengan sebutan yang sama. Degup jantung Dandi yang semula normal entah kenapa sekarang terasa menggila. Telinga kanan dan kirinya terasa sedikit panas. Menarik kaos hitamnya ke depan sedikit, Dandi lalu mengipasi wajahnya dengan tangan. “Gak tahu. Dia gak ngomong,” jawab Dandi seraya melihat ke arah kaca yang berada tepat di depannya. Lelaki itu bisa melihat dengan jelas wajahnya yang kini memerah. Belum lagi degup jantungnya yang masih menggila. “Lah? Tumben. Biasanya dia to the point. Oke deh, kalau gitu. Gua tutup.” “Yo! Sekali lagi thank’s, Kem.” Panggilan terputus. Dandi menatap ponselnya sebentar sebelum mengusap wajah dengan gusar. Ada apa dengannya? Tidak bisanya Dandi merasa seperti ini. “Gara-gara novel pasti,” gumamnya seraya menjawab pertanyaan yang berputar di kepalanya. Lelaki itu mengambil bantal dan menutup wajahnya yang semakin terasa panas. Matanya terpejam. Mencoba menenangkan kembali degup jantungnya yang kian menggila. “Calon Imam!” “Astagfirullah!” Dandi membuka bantalnya dan menatap langit-langit kamar. Kenapa malah suara gadis itu yang terngiang di kepala Dandi? “Bahaya!” Ujarnya sebelum mengambil ponsel untuk mendengarkan ayat-ayat suci Al-Quran dari sana. Baru akan membuka satu aplikasi Al-Quran digital, sebuah pesan masuk. Lelaki itu segera menekan pesan tersebut dan membaca kata perkata dengan baik. Radiva : Gimana? Udah dibaca novelnya? Udah tahu kan gimana genre romansa? Mata Dandi membulat. Ternyata benar! Gadis ini yang mengirimkan novel padanya. “Emang gak waras! Kalau cewek lain pasti udah mewek sampe gak mau angkat telepon,” lirih lelaki itu dan membuang bantal ke tengah ranjang. Tangannya dengan cepat membalas pesan gadis itu. Me : Gue gak butuh buku itu. Lusa gua balikin. Menekan tanda kirim di ponselnya, Dandi lalu berbaring. Lelaki itu tidur menyamping. Matanya terus menatap ponselnya. Berharap Radiva akan segera membalasnya dan mengirimkan kata-kata aneh padanya. Seperti.. Radiva : Ngapain dibalikin? Belajar yang bener. Biar novel gua laku! Radiva : Tidur sana! Begadang gak bagus buat kesehatan lo. Kalau lo sakit, gak bisa gua liat muka lo di kampus nanti. Dandi menelan salivanya dan mengulum bibir. Menahan senyumnya yang ingin keluar saat itu juga. “Ngapain dibalikin? Ya, ngapain juga gua belajar dari kaya gituan! Tanpa buku itu juga gua udah bisa!” Gerutunya dan melempar ponsel itu ke tengah ranjang. “Emang cewek aneh!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD