Persetujuan tanpa Persiapan

2110 Words
“Gua denger dari Kemal, katanya lo deket sama anak bisnis. Siapa? Tumben banget lo mau deketin anak bisnis. Anak sana kan kebanyakan dari kalangan atas.” Dandi mendongkak. Menaruh kembali sumpit yang sempat ia pegang ke atas meja, Dandi lalu mengambil gelas yang baru saja Dodi—salah satu temannya berikan. Tersenyum dan berterima kasih, Dandi lalu kembali mengambil sumpitnya. Mulai menggulung mie ayam yang ia pesan beberapa menit yang lalu, Dandi lalu terdiam saat tidak terdengar suara dari teman-temannya. Seraya memasukkan bulatan mie ayam yang digulungnya ke dalam mulut, Dandi lihat teman-temannya yang kini menatap dengan penasaran. Menghela napas panjang, Dandi lalu menggeleng. “Gua gak deket sama siapa-siapa,” jawabnya yang jutsru mendapat sorakan keras dari para temannya. “Mana ada gak deket!” Seru Ukky. Lelaki dengan jas berwarna hijau, yang mana sama dengan jas Dandi itu mengaduk jus alpukatnya dengan acak. “Lo pasti mau diem-diem kaya waktu sama Ajeng itu, kan?” “Iya, pasti. Kenapa harus diumpetin, sih? Anak bisnis cantik-cantik juga. Udah beruang, cantik, pinter lagi. Masa lo umpetin mulu?” Timpal Dodi. Lelaki yang meiliki t**i lalat di dekat mata itu menatap Dandi dengan tatapan menggoda. “Gua emang gak deket sama siapa-siapa. Kemal aja yang heboh sendiri,” ucap Dandi. Kembali menyuapkan mie ayam ke dalam mulutnya, Dandi lalu mendongkak kala seseorang menepuk bahunya. Lelaki itu lantas menoleh dan membulatkan mata melihat siapa yang berdiri di sampingnya dengan jaket geng motor yang melekat. Dengan mulut penuh dan bibir yang berantakan karena kuah mie ayam menempel, Dandi tatap gadis itu dengan mata membelalak terkejut. Tak jauh berbeda dengan Dandi, kedua teman lelaki itu juga menatap terkejut pada gadis yang bersedekap seraya menaikkan halis pada Dandi. “Kata lo gak deket, anjir!” Pekik Ukky seraya menggebrak meja cukup keras. “Ada yang mau lo omongin?” Tanya gadis itu dingin. Dandi segera mengunyah cepat dan mengambil minumnya. Matanya beberapa kali melihat ke arah teman-temannya yang kini menatapnya dengan tatapan meminta penjelasan. Dandi menelan sisa makanan di mulutnya dengan susah payah. Melihat mie ayamnya yang masih tersisa lumayan banyak, segera Dandi ambil kertas di dalam tasnya secara acak sebelum menutup mangkuknya dengan kertas tadi. “Gua titip mie. Jangan sampe ada yang makan,” ujar Dandi lalu bangkit dan menarik tangan gadis itu untuk pergi bersamanya. Namun, baru sampai pada gerbang kantin, gadis itu sudah lebih dulu menghentak tangan Dandi dan kembali bersedekap. Jalan yang sangat pas untuk teman-teman melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dandi berdecak keras. Lelaki itu menatap pada meja teman-temannya yang kini tengah menatapnya dan juga gadis di depannya ini dengan tatapan curiga. “Kenapa harus pergi? Di sini aja,” ucap gadis itu seraya menatap Dandi dengan wajah datarnya. “Gak bisa,” decak Dandi kesal. Menjauhkan wajahnya dari Dandi beberapa senti, gadis itu lalu ikut melihat ke arah pandang Dandi. Di mana teman-teman lelaki itu masih melihat ke arahnya. “Lo takut temen-temen lo tahu gua kasih novel—“ Dandi segera membekap mulut gadis di depannya. Matanya menatap tajam gadis itu. Menggelengkan kepala secara tegas pada gadis itu, Dandi lalu menyuruhnya berjalan dengan gerakan kepalanya. Alih-alih menurut, gadis di depannya ini justru tersenyum. Dandi tahu itu karena ujung matanya yang tertarik ke samping. Dan pipi gadis itu yang masih tersentuh oleh tangan Dandi melebar. Melepaskan tangan Dandi dari mulutnya, gadis itu lalu mengangkat halis sebelah. “Kenapa?” “Lo gak bisa apa nurut doang?” Kesal Dandi. Lelaki itu menatap gemas pada Radiva yang masih diam di tempat. Belum lagi orang-orang mulai melihat ke arah mereka dan berbisik. Benar. Gadis itu adalah Radiva. Dan bagaimana teman-temannya bisa tahu jika Radiva anak bisnis, karena jas berwarna merah tua yang gadis itu sampirkan di lengannya. Membuat identitas gadis itu terlihat dengan jelas. Memiliki warna jas yang berbeda dengan anak jurusan DKV tentu saja membuat orang-orang penasaran. Belum lagi, jarak anatara kedua jurusan itu tidak main-main. Yang mana sangat tepat untuk membuatnya menjadi pembicaraan hangat dikalangan yang lain. “Kan cuman ngomong. Kenapa harus di tempat lain? Gua juga capek dari kelas langsung ke sini.” Radiva menunjuk keluar. Membuat Dandi menggeram tertahan. Menarik napas panjang, Dandi lalu menunjuk pada taman jurusan yang berada tepat di depan kantin. “Ngomong di sana aja bisa, kan?” “Gak mau. Gua juga laper,” tolak Radiva sengaja. Gadis itu mengembangkan senyumnya kala melihat Dandi yang menyugar rambut dengan frustasi. Terlihat sekali jika lelaki itu cukup memiliki nama baik di kalangan teman-temannya. Dengan wajah yang tampan dan kelakuan yang sempurna, siapa yang enggan berada di dekat lelaki itu, kan? Dan tentu saja jika melihat Dandi berduaan dengan perempuan yang bahkan berbeda jurusan, akan menjadi topik yang sangat menakjubkan, bukan? “Lo bisa pesen makannya nanti aja. Gua gak akan lama,” desah Dandi yang sudah frutasi. “Masalahnya apa sih kalau di kan—“ Ucapan Radiva terhenti bersamaan dengan tubuhnya yang ditarik Dandi agar mendekat. Menubruk d**a bidang Dandi yang terasa keras. “Eh, maaf. Kena kuahnya, ya?” Tanya seseorang dari belakang Radiva. Dandi melihat ke arah punggung Radiva yang baik-baik saja. Tidak basah dan tidak ada bau apa-apa. “Gak. Lain kali jangan lari-lari. Lebih hati-hati juga,” jawab Dandi seraya tersenyum kecil. Radiva yang mendengarnya langsung mendongkak. Melihat wajah tampan lelaki itu dari bawah ternyata sama saja. Dan jangan lupakan senyum manis lelaki itu yang terlihat dengan jelas. Membuat Radiva memajukan bibirnya kesal. Menarik tangannya yang tidak Dandi pegang agar terangkat ke atas, Radiva lalu menutup mulut Dandi yang masih tersenyum. Membuat Dandi juga perempuan yang hampir menabrak gadis itu melihat ke arah Radiva. Dandi menunduk. Mengernyitkan keningnya saat Radiva melihatnya dengan wajah yang semakin dibuat merajuk. Bibir tebalnya maju ke depan dengan pipi yang mengembang sempurna. “Jangan senyum sama orang!” Larang Radiva seraya menatap tajam Dandi. Perempuan di belakang Radiva lantas memundurkan tubuhnya dan menatap Dandi dengan bersalah. “Sekali lagi maaf,” ujar perempuan itu dan kembali berjalan. Meninggalkan Dandi yang kini mengernyit bingung dengan Radiva yang menatap kesal lelaki itu. Posisi mereka juga belum berubah. Radiva yang ada dipelukan lelaki itu dan bersandar pada d**a Dandi. Membuat beberapa orang langsung bersorak keras karena keduanya belum juga berubah posisi sampai beberapa detik setelahnya. Sadar jika posisinya terlalu dekat dengan Radiva, Dandi lalu melepaskan tangannya dari pinggang gadis itu juga tangan Radiva. Begitu juga dengan Radiva yang sudah melepaskan bekapanya pada mulut Dandi. “Jangan pacaran di kantin, woy!” Sorak Ukky seraya menatap jahil Dandi yang kini menatap lelaki itu tajam. “Lo harus ikut gua.” “Gak! Gua lap—“ “Gak akan gua bantu satu kata pun kalau lo masih di sini!” Ancam Dandi. Radiva lalu tersenyum senang dan mengangguk. “Oke. Mau dimana?” *** Dan di sinilah keduanya berada. Di parkiran fakultas DKV. Di mana vespa hitam menjadi tempat duduk Radiva dengan Dandi yang berdiri di hadapannya. Radiva menyeringai kala lelaki itu menyuruhnya bangkit dari atas motor. Namun, bukannya menurut, Radiva justru duduk semakin nyaman. “Lo turun dulu,” titah Dandi yang sudah lelah dengan kelakuan gadis di depannya. “Vespa lo nyaman. Apalagi orangnya. Iya, kan?” Radiva mengelus pelan stang motor vespa yang ada di depannya. Radiva tidak melihat Dandi yang kini berdehem dan membuang wajah ke samping. Kaki lelaki itu juga bergerak gelisah mednengar ucapan Radiva. “Ada yang mau gua ambil di bagasinya. Awas dulu,” ujar Dandi. Lelaki itu menarik tangan Radiva dan membantu gadis itu untuk bangkit. Radiva berdecak kesal namun tak urung turun. Membuat Dandi menghela napas lega. Lelaki itu mengambil sesuatu dari dalam bagasi jok motornya dan memberikannya apda Radiva. “Apaan?” Tanya Radiva pada Dandi seraya mengangkat benda di tangannya. “Novel lo. Udah gua balikin, kan? Lo bisa pulang,” usir Dandi. Radiva yang mendengarnya hendak protes. Namun Dandi sudah lebih dulu mengangkat jari telunjuknya. “Dan jangan kirim barang-barang gak berguna lagi.” “Ini berguna! Gak berguna di mananya, sih?!” “Berguna kata lo?” Tanya Dandi yang diangguki dengan semangat oleh Radiva. “Iya. Lo kan jadi bisa—“ “Bisa gila kalau gua baca itu sampe akhir!” Potong Dandi seraya menatap wajah Radiva tajam. Lelaki itu menyugar rambutnya ke belakang dan menghela napas panjang. “Itu yang lo namain genre romansa?!” Radiva tersenyum miring. “Jadi lo udah baca?” Tanya Radiva seraya mengangkat novel di tangannya yang terbungkus rapi dengan kertas. “Menurut lo?!” Radiva tertawa kecil. Tawa lepas yang tidak sengaja keluar. Membuat Dandi yang awalnya kesal itu terdiam. Ujung bibirnya ikut tertarik kala Radiva kembali tertawa. “Bagus kan isinya? Ini bisa jadi pedoman yang paling baik.” Radiva membuka kertas yang membungkus novel itu dengan perlahan. “Di mana pedomannya?!” “Ini buku paling laris di toko buku tahu, gak? Gua aja sampe diliatin sama mbaknya pas bayar dikasir. Senyum lagi si mbaknya,” jawab Radiva santai. “Itu karena lo—“ Radiva mengangkat halisnya. Menunggu ucapan Dandi yang tiba-tiba saja berhenti. “Lo baca aja isinya sendiri!” Radiva menganggukkan kepalanya pelan. Mengangkat novel itu ke wajah Dandi sebelum membuka lembar pertama. Yang mana jelas langsung membuat Dandi membelalak dan menutup kembali novel yang baru akan Radiva baca itu. “Awas tangan lo. Katanya gua suruh baca.” “Lo udah gila, hah?! Mau baca itu di sini?!” “Ya terus di mana? Lagian kalau menurut gua ini berguna, gua balikin sama lo.” Dandi mengusap wajahnya kasar. Sudah tidak tahu harus memberitahu Radiva dengan cara apa. “Ini semua isinya pedoman b******a!” Bisik Dandi seraya menarik kembali buku yang Radiva pegang. “Ha—Hah? Apa? Ini buku tentang apa?” Tanya Radiva yang berpura-pura tidak tahu. Dengan raut wajah terkejutnya, gadis itu menatap Dandi sesaat lalu menatap buku di tangan lelaki itu dengan horor. “Ini buku tentang bercin—“ “Oh, gua udah tahu,” potong Radiva. Gadis itu maju selangkah. Memperkikis jarak diantara keduanya yang memang sudah tipis. Karena Dandi yang sempat berbisik padanya, membuat lelaki itu mau tak mau mendekat. “Emang apa salahnya kalau ini buku pedoman itu? Sama-sama genre romansa, kan?” “Bukanlah!” Jawab Dandi tegas. Lelaki itu memundurkan langkahnya. Bersamaan dengan langkah Radiva yang mendekat. Tubuh jangkungnya membentur tembok pembatas dibelakang, menimbulkan senyum miring Radiva terbit. Tangan kecil gadis itu terangkat dan mengurung Dandi yang kini tampak menahan jarak di antara keduanya dengan menempelkan kepalanya pada tembok. Wajah tegang Dandi sangat terlihat jelas. Bagaimana leher lelaki itu yang terus berusaha menjauh dan rahangnya yang mengeras. Tangan lelaki itu juga mengepal di sisi tubuhnya. Radiva bisa melihat karena sempat menunduk. Berjinjit kecil agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah Dandi. Mata kecil Radiva menatap tajam wajah Dandi yang terus menjauh dan berusaha melihat ke arah lain. “I-itu bukan romansa. Itu… malah masuk ke e*****a,” cicit Dandi seraya menahan tangannya agar tidak bergerak dengan sendirinya. Dan tanpa bisa dicegah, otaknya tiba-tiba saja mengingat kembali bagaimana paragraf-paragraf yang ia baca semalam. “Oh, itu lebih bagus, kan? Jadi waktu prakteknya gak ka—“ “Di tubuh lo ada berapa banyak setannya, sih?” Tanya Dandi seraya mendorong tubuh kecil Radiva agar menjauh. Napas lelaki itu memberat dengan wajah yang merah padam. Sialan! Kenapa malah tulisan yang tidak ingin ia ingat yang muncul di kepalanya?! “Banyak. Gak kehitung.” Dandi mengedikan bahunya. Lelaki itu juga mengusap tangannya yang mulai merinding. Kakinya bergoyang gelisah. Radiva yang melihatnya mengernyitkan kening bingung. Gadis itu sengaja memegang tangan Dandi yang mana langsung ditepis kuat oleh sang empunya. “Gak usah pegang!” Radiva mengernyit semakin dalam sebelum akhirnya tertawa lepas. Gadis itu kembali melihat wajah Dandi sebelum akhirnya kembali tertawa dengan keras. “Gak ada yang lucu! Gak usah ketawa!” Kesal Dandi seraya menutup wajah Radiva yang masih tertawa dengan novel di tangannya. Alih-alih menurut, Radiva justru semakin terbahak keras. Gadis itu bahkan sampai memegang lutut saking lemasnya tertawa sekeras dan selepas itu. “Radiva diem!” Malu Dandi. “Oke, oke.” Radiva mencoba menghentikan tawanya dan mengatur napas. Walau sesekali masih tertawa kecil, Radiva tetap mencoba untuk tidak tertawa selepas tadi. “Udah. Gua mau balik lagi ke kantin.” Dandi menaruh novelnya di atas jok motor. Berniat meninggalkan Radiva dengan wajahnya yang memerah malu. Sungguh, Dandi tidak tahu jika ia bisa merasakan malu yang tidak berujung seperti sekarang. Berlalu pergi, langkah Dandi terhenti saat tangannya dicekal. “Lo mau kemana?” “Ya ke kantin! Gua kan udah bilang!” “Bukan pergi karena malu, kan?” “Diva!” Radiva menarik napasnya panjang. Gadis itu menahan tawanya dengan menutup mulut sebelum menghela napas perlahan. “Lo sama sekali belum pernah baca kaya gituan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD