Ibarat Langit dan Bumi - COB 16

2107 Words
Tangan putih milik Radiva terangkat. Menyimpan novel di tangannya ke dalam rak buku. Bibirnya tertarik membentuk senyum setelah melihat judul yang tertulis di bagian samping buku. Tawa kecilnya juga ikut keluar. Mengingat bagaimana sosok Dandi yang menggemaskan tadi siang. “Senyum bae kek orang gila,” celetuk Viza. Lelaki yang asik memainkan ponselnya di sofa itu melirik sedikit pada Radiva yang mendelik tajam. “Jangan diganggu kenapa, sih! Usil banget kalau liat orang lagi bahagia!” Marah Mocin. Perempuan yang saat ini tertidur di atas kasur itu terkekeh begitu melihat Radiva yang tampak tidak minat. “Ada kenangan manis sama Dandi, ya? Cerah banget muka lo abis dari kampus.” Radiva menghela napas dan mengangguk mengiyakan. Gadis itu menatap Mocin sesaat sebelum ikut berbaring di atas kasur berseprai abu. “Kayaknya gua gak perlu berubah.” “Hah?” Radiva tidur menyamping. Melihat wajah Mocin yang asik menatap ponsel. “Kayanya gua lebih baik dari pada si Ajeng-Ajeng itu.” “Lo lebih buruk, Div. Itu kenyataan,” ucap Uya santai. Lelaki 24 tahun itu tertawa keras kala Radiva melemparnya dengan bantal. “Tapi kok sama Dandi jadinya? Gua liat kalau di kampus, yang sering datengin lo kan Kemal, Div.” Viza mengambil satu bungkus rokok di atas meja dan mulai membukanya kala Radiva menyodorkan satu buah korek. “Kemal juga kayanya gak baik-baik banget. Agak sedikit nakal. Mending sama dia aja. Jadi gak ada rumor gak enak.” “Emang semenjak deket sama Dandi, ada rumor gak bener, Za?” Tanya Mocin penasaran. “Bukan cuman rumor aja. Gua yang baru keluar dari kelas aja, anak-anak udah nanyain tentang lo sama Dandi. Emang lo ngapain di kampus, sih? Sampe heboh anak jurusan sebelah.” “Lah, yang heboh sebelah. Bukan anak jurusan lo.” Uya menggelengkan kepala. Lelaki yang memiliki tingkat kewarasan lebih dari yang lain itu menatap Radiva yang masih diam dan datar. Seolah apa yang dikatakan Viza tidak ada pengaruhnya sama sekali bagi gadis itu. “Biasa. Tetangga lebih aktif soal berita daripada keluarga.” “Heboh gimana?” Gadis dengan rambut coklatnya itu terduduk di atas kasur. Menatap Viza yang kini berbalik dan menghadap ke arahnya. “Gua gak tahu siapa yang sebarin, tapi mereka bilang Diva yang dideketin sama Dandi. Bukan sebaliknya,” jawab Viza. Lelaki itu menghisap rokok di tangannya dan menatap Radiva yang sama sekali tidak berminat mendengar. “Ada lagi yang bilang kalau Radiva gak cocok sama ustadz.” “Siapa yang ustadz?” Tanya Uya seraya menatap Viza dengan bingung. “Ya si Dandi. Kan dia baik banget. Anaknya rajin, sampe gak ada celah buat salah. Heran banget ada manusia kek dia.” Radiva menoleh. Tampaknya gadis itu sedikit tertarik dengan pembicaraan yang sejak tadi Viza katakan. “Ada, itu buktinya Dandi hidup.” Viza mendelilk kecil. Lelaki dengan kemeja berwarna merah itu menatap temannya yang kini tampak tersenyum. Entah apa yang sedang dipikrkan sang ketua, yang pasti, Viza yakin itu bukanlah hal yang baik. Mengingat otak Radiva lebih banyak berfikir negatif dari pada positif. “Za, Ya,” panggil Radiva pada Viza dan Uya setelah terdiam beberapa saat dan berfikir. “Apa?” “Lo berdua pasti pernah nonton video dewasa atau paling nggak baca novelnya, kan?” Uya dan Viza yang duduk berdampingan itu langsung saling tatap seraya mengangguk bersamaan. Kedua lelaki itu lantas menatap kembali pada Radiva yang kini menghela napas seraya bangkit dari atas kasur. Gadis itu berjalan menuju lemari buku yang letaknya tak jauh dari kasur dan sofa. Mengambil kembali novel yang sebelumnya disimpan di sana seraya memutar kecil bagian belakangnya. “Kenapa emang?” Tanya Uya yang penasaran dengan pertanyaan yang Radiva lontarkan. Selain cukup aneh, Radiva juga ternyata se-acak itu memberikan pertanyaan. “Tapi kok Dandi bisa ya, baru pertama kali baca novel dewasa?” Viza yang mendengarnya langsung menggeram kesal. “Lo jangan samain anak badung sama ahli surga, dong! Jangankan baca novel dewasa, bisa jadi dia gak pernah pacaran.” “Kok lo tahu?!” Syok gadis itu. Mata kecilnya membelalak pada Viza yang kini juga menatapnya dengan terkejut. “Serius lo?! Dia gak pernah pacaran?!” Radiva mengangguk cepat. “Iya! Dia baru bilang tadi siang waktu kasih ini novel!” Flashback. “Emangnya kenapa kalau gua baru baca itu pertama kali?” Radiva terdiam. Gadis yang tadi sedang menahan tawanya itu mendadak diam dan menatap Dandi dengan tatapan tidak percaya. Wajahnya yang semula berseri dan menunjukkan kebahagiaan juga kini tampak terdiam dengan mata membebelak. Syok dengan apa yang Dandi katakan. Tidak percaya sekaligus merasa bingung. “Ada orang yang masih belum pernah baca kaya ginian?! Dan di umur lo yang udah 22 tahun?!” Tanya Radiva yang masih tidak percaya dengan ucapan Dandi. “Menurut lo? Kalau gua udah baca, reaksi gua gak akan seberlebihan itu, kan?” “Ta—tapi bisa aja, kan lo cuman kaget bohongan.” Radiva menggelengkan kepalanya tak percaya. Sebenarnya seberapa banyak malaikat yang berkumpul menjaga Dandi? Dan seberapa banyak setan yang ada di tubuhnya sendiri? Kenapa rasanya ia dan Dandi memang ditakdirkan tidak bersama? Sudah berbeda prinsip, kini masalah agama saja seperti air dan minyak. “Kaget bohongan dari hongkong! Liat lo aja gua ke inget bagian di bab 2,” cicit Dandi seraya membuang wajahnya ke samping. Bab 2 yang dimaksud Dandi jelas adalah bab yang berada pada novel yang Radiva pegang. “Kalau bukan karena gak enak sama lo dan setan yang nempel di otak gua, gak akan gua baca novel itu.” “Apa yang salah, sih? Segede lo aja udah banyak yang buat dosa lebih dari itu.” “Gua bukan mereka. Dan kalau lo mau cari yang kaya mereka, gak usah deketin gua. Hidup gua jadi gak tenang gara-gara novel yang lo kasih.” Radiva mengernyitkan keningnya bingung. “Apa yang buat lo gak tenang? Kalau hidup yang hidup aja.” Dandi menaikkan halisnya. Lelaki itu bersedekap dan menatap Radiva dengan tatapan jengkel. “Gua udah lakuin dosa yang bisa jadi kecanduan kalau gua gak berhentiin itu semalam. Gua bahkan masih ingat apa yang gua baca. Dan gua masih tahu dengan jelas gimana gua lakuin dosa itu. Lo masih bilang kalau hidup ya hidup aja?!” Radiva menatap novel di tangannya dengan bingung. Gadis itu lalu menatap Dandi dengan halis terangkat sebelah. “Jangan bilang lo jadi gak bisa deketin cewek karena novel ini? Dan kenapa lo tadi pukul tangan gua karena lo inget bagian di bab novel ini?!” Dengan malu, Dandi mengangguk. Rasanya ia ingin tenggelam saja ke samudra yang sangat dalam. Takut jika nanti Rdaiva meledeknya dan menyorakinya seperti teman-temannya yang lain saat tahu jika ia akan dijodohkan daripada menikah dengan seorang pacar. Namun, alih-alih menyoraki dan meledek Dandi, sosok gadis di sampingnya ini justru menatap Dandi dengan kagum. Matanya yang kecil itu melebar dan melihat Dandi dengan wajah bahagianya. Seolah apa yang baru saja ia ketahui adalah hal yang paling baik dari berita apapun. “Kok lo bisa sehebat itu, sih?!” Takjub Radiva. Gadis itu menutup mulutnya melihat Dandi yang kini ada di depannya dan sedang membuang wajah ke samping. “Lo bisa tahan dari nafsu setan selama ini? Apa sih rahasianya? Pantes hidup lo rasanya tenang banget. Beda banget sama hidup gua.” Dandi perlahan kembali menatap Radiva yang tersenyum bangga. Gadis itu tidak meledeknya dan menyorakinya hanya karena ia yang tidak tahu hal-hal semacam itu. Kenapa dengan perempuan ini? Jangan bilang karena Dandi adalah targetnya, gadis itu jadi melakukan hal yang tidak seperti orang pada umumnya? Atau memang itu kepribadian Radiva yang sebenarnya? “Hidup lo gak tenang karena lo jauh dari Tuhan,” jawab Dandi. Lelaki itu melirik jam tangannya sebelum kembali menatap Radiva. “Gua harus balik lagi ke kantin sekarang. Lo bawa itu novel, gua gak mau buat dosa yang lebih lagi.” “Sebentar! Satu pertanyaan lagi. Habis itu lo bisa ke kantin.” “Apaan?” “Lo belum pernah pacaran?” Dandi menelan salivanya. Lelaki itu menarik napas panjang sebelum akhirnya menganggukkan kepala pelan. “Iya.” Flashback off. “Kehidupan lo sama dia udah beda jauh, Div. Lo yakin masih mau deket sama dia?” Tanya Uya. Lelaki itu menatap Radiva dengan serius. Bukan tanpa sebab Uya mengatakan hal ini. Tapi melihat sang ketua yang begitu serius dengan hubungan yang katanya hanya untuk novel itu, membuatnya sedikit gelisah. Baru akan menginjak langkah awal saja, sudah banyak rumor tidak mengenakan. Bagaimana jika nantinya kedua manusia itu benar-benar melakukan kontrak sesuai dengan yang dikatakan Radiva. “Kalau diibaratin, lo sama Dandi itu..” “Ibarat langit dan bumi, kan?” Tambah Radiva. Melanjutkan ucapan Uya yang menggantung. “Gua tahu. Tapi gua gak akan lepasin dia gitu aja.” “Kenapa lo gak fokus sama kesembuhan mental lo aja, sih?” Tanya Mocin yang ikut merasa tidak tenang. “Firasat gua gak enak setiap lo deket sama dia, Div.” Radiva menolehkan kepala ke arah Mocin. Gadis itu menatap Mocin dengan kening mnegernyit. Ia tidak pernah tahu apa yang sebenarnya Mocin pikirkan tentangnya dan Dandi. “Jangan bilang, lo gak suka gua deket sama tuh cowok, karena lo juga suka sama dia?” Tanya Radiva tidak suka. “Mana ada! Gua emang bilang dia ganteng, tapi gak suka, ya! Gua gak mau hidup gua jadi boring.” Radiva menatap Mocin dengan halis terangkat. Mencoba memastikan apa yang dikatakan Mocin. Namun melihat ekspresi jijik yang Mocin tunjukan, sedikit membuat Radiva percaya. Mengangguk kecil, Radiva kembali berjalan menuju ranjang. “Gua bakal coba deket selama 3 bulan. Kalau emang selama itu ada yang aneh sama gua, lo bertiga bisa paksa gua lepas dia.” Duduk di pinggir ranjang, Radiva menghela napas. Matanya menatap kecil pada novel sebelum akhirnya melempar barang itu ke tempat sampah. Entah bagaimana bisa, suasana hatinya tiba-tiba saja berubah menjadi kesal. “Gua mau beli makan di luar. Kalau emang ada yang mau nitip, telepon gua aja,” pamitnya. Raut wajah Radiva berubah. Gadis itu pasti merasa kesal. Mocin, Uya dan Viza yang melihatnya jelas merasa menyesal sudah berkata demikian. Tapi apa yang dikatakan mereka jelas untuk menjaga Radiva merasakan sakit hati. Melihat bagaimana sosok Radiva yang sudah mulai terbuka terhadap mereka dengan baik, membuat mereka berfikir bahwa Radiva perlahan sembuh. Dan melihat bagaimana gadis itu yang sudah lebih ceria dan mudah tersenyum, jelas membuat Mocin dan yang lain berharap Radiva sembuh dengan cepat. Mocin. Atau gadis dengan nama lengkap Monika Chintya itu adalah perempuan pertama yang menjadi teman Radiva saat SMP. Awalnya Mocin dan Radiva bertemu karena tidak sengaja sama-sama terpergok sedang merokok di belakang sekolah. Keduanya tidak langsung berteman. Radiva yang dingin dan Mocin yang sangat nyentrik jelas tidak bisa disatukan. Setelah mendapat hukuman yang sama, keduanya tidak lagi bertemu sampai study tour kelas 3. Mocin yang saat itu memang sedang dalam masa krisis keuangan, tidak ikut dengan alasan sakit. Namun siapa sangka, Radiva—perempuan yang sama-sama dihukum bersamanya itu mendatangi rumahnya dan memberikan tiket juga name tag gadis itu pada Mocin. “Lo gantiin gua ikut study tour.” Adalah kalimat yang Mocin dengar sebelum akhirnya Radiva yang pergi dengan motor maticnya. Pertemuan kedua yang tidak pernah Mocin duga akan menjadi awal di mana ia berteman dengan Radiva. Karena setelahnya, gadis itu sering mendatangi rumah Mocin hanya untuk ikut makan siang atau tidur di sofa depan rumahnya. Dan setiap Mocin menanyakan kenapa gadis itu datang ke rumahnya, maka jawaban yang Mocin dapatkan adalah kalimat yang sama saat pertemuan keduanya. “Lo punya hutang budi study tour.” Dan setelah hari itu, kemanapun Mocin pergi, maka Radiva akan ikut dengan alasan mengantar. Awalnya Mocin tidak tahu kenapa Radiva hidup seperti gelandangan. Datang ke sekolah, merokok, makan siang di rumahnya, pergi main atau balapan lalu tidur di sofa depan. Begitu terus keseharian gadis itu sampai wanita paruh baya mendatanginya. Wanita yang kerap kali disebut Oma oleh Radiva. Memakai mobil keluaran terbaru, Oma mendatangi rumah Mocin saat dini hari. Wanita yang memakai jas bewarna merah tua itu memberikan sejumlah uang pada Mocin asal tidak menerima Radiva kembali ke rumahnya. Namun karena Mocin yang kala itu berfikir jika Radiva akan dijual, tidak menerima sejumlah uang yang diberikan Oma dan memilih mengusir wanita itu dari rumahnya. Begitupun dengan orang tuanya yang memang sudah merasa nyaman dengan kehadiran Radiva. Sampai ketika Mocin dan Radiva menginjak kelas 2 SMA, dimana mereka bertemu dengan Uya dan Viza, saat itulah Mocin tahu jika Radiva bukanlah anak biasa. Gadis itu penerus perusahaan terbesar di kotanya. Dan saat itu juga Mocin tahu jika yang menjemput Radiva kala itu adalah nenek gadis itu. “Div,” panggil Mocin. Radiva yang baru membuka pintu terdiam. Tidak membalikkan badan, gadis itu hanya menjawab dengan gumaman kecil. “Hati-hati.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD