Makan Siang - COB 5

1849 Words
Radiva tersenyum miring melihat lelaki di sebrangnya yang kini tampak menghindari tatapan matanya. Senyumnya semakin lebar kala lelaki itu dengan sengaja membuang wajah saat mata mereka tak sengaja bertemu. “Gak akan dimakan?” Tanya Kemal. Lelaki yang besikukuh makan bersama Radiva itu menunjuk piring Radiva yang masih penuh. “Lo kurang? Ambil,” jawab Radiva acuh. Gadis itu memilih kembali melihat ke arah lelaki di samping Kemal. Setelah acara jatuh di tangga tadi, Radiva yang memang tidak mau melewatkan kesempatan emasnya akhirnya menyetujui keinginan lelaki itu. Makan bersama. Dengan catatan dilakukan saat siang dan dengan Dandi. Benar. Lelaki yang sempat memanggil Kemal itu adalah Dandi. Entah kebetulan macam apa yang Radiva dapatkan, tapi ia benar-benar merasa beruntung dikeluarkan dari kampus sebelumnya dan pindah kemari. “Jurusan mana?” Tanya Radiva yang jelas bertanya pada Dandi. “Jurusan DKV, Div,” jawab Kemal. Lelaki itu menatap Radiva dengan senyum hangat. Menaikkan halisnya sebelah, Radiva tatap Kemal dengan wajah sebalnya. “Gua gak tanya lo.” “Oh, oke. Gua kira lo tanya gua.” “Gak ada gunanya juga,” gumam Radiva. Netranya yang kecil memicing kala melihat Dandi yang masih menunduk dan sibuk makan. “Gak akan lo jawab?” Tanya Radiva lagi. Gadis itu mengulurkan tangannya dan mengambil gelas berisikan jus jambu sebelum memberikannya pada Dandi. “Eh?” “Lo gak akan jawab? Gua tanya lo tadi.” Dandi menelan salivanya dan menggelengkan kepala. “Saya gak dengar kamu tanya apa.” Radiva terkekeh pelan. Telapak tangannya terbuka dan menopang dagu. Melihat dengan jelas bagaimana wajah Dandi yang tampak malu-malu. Dengan tampang yang cukup memikat hati, Dandi sepertinya bukan tipe yang akan bicara duluan. Ah, Radiva jadi ingat bagaimana Dandi yang langsung pergi pagi tadi. Bahkan belum menghabiskan buburnya. “Apa jawaban lo tadi pagi?” Tanya Radiva jahil. “Hah? Yang mana?” “Yang tadi pagi. Lo single, kan? Gak akan terima tawaran gue?” Dandi spontan mendongkak dan menatap Radiva dengan wajah terkejutnya. Lelaki itu tiba-tiba saja berdiri dan mengambil tas panjangnya yang ada di samping meja sebelum bangkit. “Saya harus pergi duluan. Kem, lo nanti ambil tugasnya sendiri. Gue balik duluan.” Radiva yang mendengar itu juga ikut bangkit. Namun baru akan pergi, tangannya sudah dicekal oleh Kemal. Lelaki yang sejak tadi duduk di depan Radiva itu mengusung senyum. Meminta Radiva kembali duduk di depannya. “Udah, kan? Lo juga udah makan. Hutang gue—“ “Sebelum makan lo abis, gua anggap hutang lo masih ada.” Radiva mengernyitkan keningnya tidak terima. Kemal yang melihat itu hanya mengedikan bahunya acuh. Ia tidak peduli jika Radiva mungkin akan kesal padanya. Tapi acara kali ini tidak akan sia-sia. Kemal sudah menyiapkan semuanya dengan baik. “Lo tuh maunya apa, sih?” “Gue cuman minta lo makan,” ujar Kemal dan menunjuk piring Radiva yang masih penuh. Lelaki itu tersenyum manis kala Radiva menatapnya galak dan berdecak. “Ayo, duduk lagi.” Radiva hanya bisa mneghela napas dan duduk. Melihat jam di dinding, Radiva berdecak saat jam kelas berikutnya masih tersisa satu jam. Kedua matanya melihat ke arah Kemal yang tampak bahagia dan senang. Berbeda sekali dengan dirinya yang sudah menunjukkan kekesalan dan rasa tidak nyaman sejak tadi. Kalau saja tidak ada Dandi, tidak mau Radiva duduk di kantin dan makan bersama dengan Kemal. Ia saja tidak tahu siapa Kemal sebenarnya. Hanya tiga kali bertemu. Itupun dengan pertemuan hari ini. Dan bagaimana Kemal tahu dirinya berkuliah di sini? “Lo penguntit?” Tanya Radiva yang jelas langsung dijawab dengan gelengan pelan oleh Kemal. “Kalau gua nguntit, dari dulu udah bikin dramanya. Ngapain baru sekarang?” Benar juga. Radiva mengambil sendok di atas meja dan mulai memakan hidangan yang ada di depannya. “Lo kenal sama Dandi?” Tanya Kemal berusaha membuka obrolan. Radiva hanya mengangguk pelan. “Kenal di mana?” “Penting buat lo?” Kemal terkekeh pelan. “Gak, sih. Tapi ya, aneh aja. Kenapa bisa kenal sama dia. Seinget gue, jurusan DKV sama jurusan bisnis kan jauh banget." “Itu lo sadar. Ngapain masih nemuin gue?” Tanya Radiva yang berhasil membaut Kemal bungkam. “Ya… karena lo masih punya hutang sama gue.” “Hutang?” “Iya. Tapi sekarang udah lunas dan gak ada hutang apapun.” Radiva mengangguk pelan sebelum bangkit. “Hutang gue udah gak ada. Dan lo yang bilang itu sendiri. Jadi, jangan coba-coba cari gue.” *** 3 Bulan Kemudian. Tiga jam berlalu begitu cepat. Gadis dengan motor merahnya itu menghela napas begitu garis finish sudah berhasil ia capai. Dengan napas yang sedikit terengah dan rasa lega di hati, Radiva hentikan laju motornya di dekat kumpulan orang-orang. Membuka helm dengan cepat, Radiva bsia melihat bagaimana wajah teman-temannya yang saat ini sedang bersorak bahagia. “Gila! Gua deg-degan parah!” “Gak akan kalah kalau Diva yang turun, Ya.” Radiva tersenyum kecil. Gadis itu menoleh begitu mendengar suara motor lain dan berhenti di sampingnya. Motor hitam yang tadi sempat berlomba bersamanya hanya karena uang dua belas juta rupiah. Radiva mengernyit kala lelaki itu tidak membuka helmnya dan masih memasang kaca hitam di helm tersebut. Sedikit membuat Radiva penasaran dengan sosok yang ada di balik helm tersebut. “Selamat,” ujarnya seraya mengulurkan tangan. Radiva mengangkat halisnya kecil sebelum mengangguk. Menghilangkan rasa penasarannya, Radiva lihat teman-temannya yang mulai berkumpul. “Pesta gak, Div?!” Tanya Uya dengan semangat. “Pesta dong!” Jawab yang lain tak kalah semangat. “Markas kosong? Markas kosong?” Seru Viza dengan suara lantangnya. “Aman! Ayo, dah!” Radiva menggeleng seraya mengangkat tangan. Meminta agar teman-temannya diam dan tidak mempeributkan masalah itu di arena balap. Selain menghormati geng lain, ia juga tidak ingin membuat keributan yang berujung pada perselisihan. Karena sudah jelas perjanjian sebelum bertanding tadi. Tidak akan membuat keributan sekecil apapun. Dan sebagai ketua, Radiva jelas harus bisa menenangkan yang lainnya. “Kenapa, Div?” Mocin menatapa Radiva dengan kening mengernyit. Gadis dengan hoodie hitam milik Radiva itu mendekat kala lambaian tangan dari Radiva terlihat. “Kalau kalian emang mau pesta, minta Mocin yang atur. Gua harus balik,” Ucap Radiva seraya mengeluarkan satu amplop besar dari salam saku jaketnya dan memberikannya pada Mocin. “Itu uang ada di situ semua. Kalau kurang, lo telepon gua aja.” Mocin menahan tangan Radiva begitu helm yang sempat gadis itu lepas akan kembali dipakai. “Lo mau kemana?” “Balik.” “Ke mana?!” Tanya Mocin yang kesal dengan jawaban ambigu dari Radiva. “Menurut lo kemana kalau gua balik?” Tanya Radiva seraya menyeringai kecil. Mocin berdecak pelan. Gadis itu kemudian mengambil satu kotak s**u dari dalam tasnya sebelum memberikannya pada Radiva. “Mampir dulu ke rumah makan. Jangan sampe perut lo kosong. Gak lupa, kan kalau sebentar lagi mau UTS di kampus?” Radiva mengangguk kecil. Tangannya terangkat dan mengacak rambut Mocin dengan gemas. “Lo sendiri cepetan kelarin skripsi. Kerja yang bener!” “Gua udah jadi selebgram, ya. Maaf, maaf aja nih.” Radiva terkekeh seraya menggelengkan kepalanya pelan. “Kalau gitu, gua balik dulu.” “Lo beneran mau balik sekarang?” Tanya Mocin yang merasa janggal dengan ucapan pamit Radiva. “Iya. Gua harus tepatin janji gue sama Erick.” Dan setelahnya, Radiva melaju kencang membelah jalanan. Gadis yang baru saja memutari jalanan karena perlombaan gila itu, kini kembali membuat bising jalan dengan kendaraan roda duanya. Berwarna merah menyala dengan sisi-sisi lain berwarna hitam. Knalpot yang dibuat sedikit tinggi menimbulkan suara bising yang cukup nyaring. Apalagi ditempat yang sepi. Sudah malam, kendaraan jarang berlalu lalang, suara motor Radiva semakin mendominasi. Merasa jika jalanan sudah cukup lenggang, Radiva memilih untuk mencari jalan lain yang sedikit ramai. Setidaknya itu akan sedikit membuatnya lebih lega dan tidak merasa sendiri. Membelokkan stir ke dalam sebuah gang perumahan, Radiva lihat sekeliling yang masih dipenuhi beberapa remaja yang menongkrong. Senyum Radiva tertarik kecil. Merasa senang karena ada yang menemaninya di jalan, Radiva sampai lupa untuk menurunkan kecepatan motornya. Begitu berbelok ke dalam gang lain untuk menembus jalanan baru, Radiva tidak sengaja melewati genangan air yang cukup dalam. Membuat motornya sedikit terguncang dengan cipratan air yang mengenai seseorang. “Sialan! Lo kalau bawa motor yang bener, dong!” Teriak lelaki yang baru saja terkena cipratan genangan air. Merasa bersalah, Radiva turun dari motornya dan berjalan menghampiri lelaki tadi. “Maaf, Mas. Saya gak tahu kalau—“ Radiva menghentikan ucapannya saat merasa kenal dengan orang yang baru saja ia kotori itu. “Dandi?” Lelaki yang sedang membersihkan kaos hitamnya itu mendongkak begitu namanya disebut. Dengan wajah bingungnya, Dandi, nama dari lelaki itu menatap Radiva dengan teliti. Karena masih memakai helm, wajah Radiva tidak bisa terlihat dengan jelas. Hanya bagian matanya saja yang terlihat dengan sedikit bagian hidung. “Lo kenal gue?” Tanya Dandi seraya menunjuk tubuhnya sendiri. Radiva tersenyum. Seolah berada di film, Radiva dengan sengaja memperlambat gerakannya ketika membuka helm. Rambutnya yang memang baru saja di warnai 3 hari lalu terurai dengan lembut ke bawah. Dengan senyum mansinya, Radiva peluk helm kesayangannya itu di antara pinggang dan lengan. Membuatnya tampak keren di mata Dandi. Begitu pikir Radiva. Namun dugaannya salah saat melihat Dandi yang biasa saja. Alih-alih merasa takjub dengan aksi Radiva tadi, Dandi justru terlihat tidak minat. Bagaimana halis Dandi yang terangkat sebelah dengan wajah malasnya itu terlihat, sedikit menyentil jiwa ketua geng Radiva di dalam sana. “Menurut lo bagus kaya gitu?” Tanya Dandi sarkas. Lelaki itu menatap motor Radiva dengan tatapan tajam. “Apanya? Gua lagi gak nunjukin kalau gua bagus atau—“ “Apa fungsi lo naekin knalpot kaya gitu?” “Hah?” Radiva menoleh ke belakang melihat telunjuk Dandi yang kini terarah pada knalpot motornya. Knalpot buatan Viza dan Uya yang selalu bisa menemani Radiva itu ditunjuk sarkas oleh Dandi. “Bagus menurut lo kaya gitu? Malem-malem keluar pake motor berisik, dandanan kaya preman, menurut lo itu semua bagus?” Tanya Dandi seraya menatap lekat Radiva yang kini ada di depannya. Radiva menjauhkan wajahnya sedikit. Ia tatap Dandi dengan seksama. Lelaki itu benar Dandi yang ia kenal, kan? Terakhir kali Radiva bertemu itu adalah 3 bulan yang lalu. Saat ia terpaksa mengiyakan ajakan makan siang bersama dengan Kemal. Kenapa lelaki itu berubah drastis dalam 3 bulan? Apa ada yang Radiva lewatkan? “Lo bener Dandi, kan?” “Menurut lo?” Hah? Lo? Beneran Dandi nih orang? Tanya Radiva pada dirinya sendiri. Mendengar nada bicara Dandi yang berubah dan juga ucapannya yang tidak lagi formal, sedikit membuat Radiva senang. Cukup ada kemajuan semenjak ia tidak berada di dekat lelaki itu. “Lo lagi marah sama orang?” Tanya Radiva dengan tangan yang bersedekap. “Darimana lo tahu?” Radiva mengangguk pelan. Ia tahu kenapa Dandi berbicara santai dengannya. Tampaknya lelaki itu sedang kesal dengan seseorang namun tidak bisa mengatakannya pada orang tersebut. Radiva paham perasaan itu. Karena itu adalah kebiasaaan sehari-harinya. “Gak papa. Gua tahu perasaan itu. Semoga, setelah lo ngomong sama gua sekarang, perasaan lo jadi lebih baik. Sekali lagi gua minta maaf karena gak sengaja kotorin baju lo.” Radiva menepuk bahu Dandi sekali lalu pergi meninggalkan lelaki itu yang terdiam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD