“Gimana kabar kamu?”
Adalah kalimat yang Radiva ucapkan begitu melihat adik lelakinya duduk di kursi seraya menaruh satu nampan berisikan minuman. Gadis itu melihat dengan baik wajah Erick. Tidak ada yang berubah. Wajah adiknya itu memang selalu tampan dan berbeda dengan yang lain. Memiliki wajah yang sangat mirip dengan sang ayah, membuat siapapun jelas mudah terpikat dengan Erick.
“Baik. Kakak gimana? Udah keluar ide buat cerita baru?”
Radiva terkekeh pelan sebelum akhirnya mengangguk pelan dan menatap ke arah kaca café di sampingnya. “Punya banyak waktu?”
“Lumayan. Anak-anak juga pada istirahat. Sekarang kan waktunya isoma. Kakak sendiri?”
“Gak. Masih ada kelas siang.”
“Terus, kenapa masih nyempetin datang ke sini?” Tanya Erick. Lelaki itu mengambil cup minuman miliknya sebelum menatap Radiva dengan kening mengernyit.
“Sebenarnya ada kelas dari pagi. Tapi bolos.”
“Lagi?”
Radiva mengedikan bahunya acuh. Membuat lelaki di depannya itu mendengkus pelan. “Kakak gak bisa bolos terus-terusan! Kakak udah 21 tahun. Masa harus—“
“Selama bukan uang Kakak, kenapa harus cepet-cepet lulus?” Tanya Radiva dengan enteng.
“Cari uang itu gak gampang loh, Kak. Masih mau main-main?”
Radiva terkekeh pelan. Gadis itu mengambil kopi miliknya dan mulai menatap Erick dengan serius. Matanya yang tajam itu sama persis seperti yang Erick miliki. Melihat dan menatap bersama, Erick merasa ada yang salah dengan yang biasa ia lihat.
“Gimana kabar Bunda? Masih sakit?”
Erick terdiam sebentar. Lelaki yang memiliki jabatan sebagai ketua osis itu menatap kakaknya dengan wajah bingung. Tidak tahu harus mengatakan apa sebagai jawaban. Ia bisa saja jujur pada Radiva, namun hal itu mungkin akan membuat keadaan semakin memburuk. Tapi, berbohong pun percuma. Gadis itu pasti mengetahui kebohongannya.
“Anggap aja gak ada masalah. Ngomong aja kaya biasa,” ucap Radiva lagi yang mengerti dengan raut wajah Erick sekarang.
“Bunda makin parah. Kemarin sempet dirawat. Tapi udah pulang lagi.”
“Kok cepet?”
“Kemarin Abang Ken bilang udah bujuk Kakak buat pulang. Tapi Kakak gak mau. Terus Abang bilang sama Kak Kinan. Bunda gak sengaja denger. Dia—“
“Udah. Gak usah dilanjut. Kakak udah tahu,” Potong Radiva. “Gimana? Kamu masih susah di rumah?”
Erick tersenyum dan menggeleng. “Gak. Bunda udah baik. Dia udah gak setakut dulu. Dan… aku juga.. sekarang udah…”
Radiva mengangkat halisnya. Gadis itu menatap penasaran Erick yang kini tengah tersenyum malu. “Apa? Punya pacar?”
Erick mengangguk malu. “Iya.”
Radiva terkekeh pelan. Tangan kecil gadis itu terangkat dan mengelus kepala Erick dengan lembut. Melihat adik lelakinya yang selama ini kesulitan dan terlihat sangat pendiam berubah menjadi seceria dan semalu ini, jelas membuat Radiva ikut bahagia. Kakak mana yang tidak senang melihat adiknya bahagia setelah melewati masa sulit yang panjang?
“Siapa? Teman sekelas?”
Erick menggeleng pelan. “Adik kelas.”
“Wah?! Kamu suka yang muda?”
“Udah pacaran dari 2 tahun yang lalu sebenernya, Kak.”
Mata Radiva membulat. “Hah?”
“Aku takut kalau Kakak marah aku pacaran. Jadi gak bilang apa-apa sama Kakak.”
“Oh, mau main kaya gitu?!”
Erick mengangkat tangannya dan menggeleng takut. “Gak gitu maksudnya. Aku—aku takut Kakak bilang sama Abang sama yang lain. Aku gak mau—“
Tawa Radiva mengudara. Membuat Erick yang sejak tadi menahan malu itu semakin malu. Wajah lelaki itu bahkan memerah. Radiva yang melihatnya hanya bisa tertawa. Memang Erick sangat manis di saat-saat seperti ini. Walau dengan hati yang sedikit kesal melihat adiknya tidak bercerita tentang keadaan di rumah, Radiva tetap senang melihat Erick yang baik-baik saja.
“Mau masuk—“
“Kak,” panggil Erick yang berhasil membuat Radiva berhenti bicara.
“Hm?”
“Kapan pulang?” Tanya Erick. Pertanyaan yang berhasil membuat Radiva langsung berubah. Wajah gadis itu juga terlihat sangat kesal dan marah. Matanya yang memang tajam semakin menajam begitu kalimat terlarang keluar dari bibir Erick. Seharusnya Erick tidak membahas itu sekarang. Tapi ia sendiri tidak tahu kapan harus berbicara lagi dengan Radiva. Kakaknya ini bisa menjadi buronan yang tidak bisa dicari. Dan tiba-tiba saja datang menemui.
Senyum dan tawa yang awalnya menghias wajah Radiva saja seketika hilang dan redup begitu Erick mengucapkan kalimat terlarang itu.
“Kamu mau Kakak pulang?” Tanya Radiva balik. Erick menelan sallivanya kasar. Takut salah menjawab. Sebenarnya, Erick bisa saja mengatakan jika ia memang ingin sang kakak pulang kembali ke rumah. Tapi, ia sendiri tidak setega itu untuk membiarkan Radiva terluka di rumah mereka nantinya.
“Kalau Kakak gak mau—“
“Kamu mau Kakak pulang atau nggak?” Tanya Radiva cepat. Nada suaranya yang tegas mengingatkan Erick pada mendiang ayahnya yang tidak bisa diganggu gugat ketika bertanya. Dan jawaban yang dikeluarkan harus sama juga jelas.
“Ma—mau,” cicit Erick kecil. Suaranya terasa diredup begitu melihat Radiva yang ada di depannya tampak semakin menakutkan.
Radiva menganggukan kepalanya pelan. “Oke. Kalau novel Kakak yang baru selesai dan terbit. Kakak pulang.”
Erick mendongkak. Menatap wajah sang kakak dengan tatapan tidak percaya. mulut lelaki itu bahkan terbuka lebar. “Beneran?”
“Iya. Tapi, kamu harus lakuin satu hal buat Kakak.”
“Aku bakal lakuin apa aja. Kakak bisa kasih tahu sama aku. Nanti aku—“
Radiva terkekeh pelan. Gadis itu mengusap kepala Erick dan bangkit. Mengeluarkan dompetnya, Radiva lalu memberikan Erick satu foto. “Kamu punya temen yang pinter cari identitas, kan?”
“Iya. Ada. Kenapa? Jangan bilang..”
“Yap. Kamu cari tahu dia dengan biodata yang sempurna. Kakak tunggu secepatnya. Semakin cepat kamu dapet informasi tentang dia, semakin cepet juga Kakak pulang.”
“Siap! Erick bakal secepetnya cari informasi tentang dia.”
Radiva tersenyum lebar. Tangannya kembali terangkat guna mengacak rambut sang adik gemas. “Kalau gitu, Kakak pulang dulu. Nanti Kakak transfer uang kopinya.”
Erick tersenyum dan mengangguk. Lelaki itu melambai kecil pada Radiva yang berjalan menjauh. Tubuh jangkung sang kakak yang mengenakan hoodie masih terlihat dengan jelas oleh Erick.
“Aku janji bisa buat Kakak cepet pulang. Dengan cara apapun.”
***
Menghela napas panjang, tangan putih yang sedang memegang satu batang rokok itu terangkat. Memasukkan rokok yang ada di tangannya ke dalam mulut sebelum menghisap asapnya dengan cepat. Membuat rongga mulutnya dipenuhi dengan asap menenangkan.
“Keluarin yang cepet. Asap rokok bisa buat gigi sama mulut lo hancur.”
Radiva menolehkan kepala. Membuang asap rokok seperti yang dikatakan, Radiva lalu mengambil satu kopi yang disodorkan teman satu kelasnya. Mata Radiva yang memang kecil menyipit saat sinar matahari menyorot ke arah wajahnya dengan terik.
“Kelas tadi, lo beneran masuk? Gua kira lo bolos sampe sore.”
“Ada berapa kelas lagi?” Tanya Radiva yang enggan membahas jam kuliah sebelumnya. Melihat rokok yang tersisa sebesar kelingking, Radiva segera membuangnya dan berjalan menyusuri koridor kampus.
“Ada satu kayanya. Kan hari ini cuman 4 kelas. Lo bolos 2 kelas. Ngulang lagi pasti.”
“Mau jadi mahasiswa abadi. Ya, kan Div?” Goda lelaki yang baru saja datang dengan jas marunnya. Radiva hanya mengedik tidak peduli. Ia tidak berminat mengulang kembali. Tapi, jika memang begitu harusnya, Radiva tidak bisa melakukan apa-apa selain melakukannya.
“Oh iya, Div. Tadi ada yang datang terus nanyain lo. Lelaki. Tinggi kurus. Rambutnya warna coklat. Lo kenal?”
Radiva mengangkat sebelah halisnya. Merasa tidak asing dengan ciri-ciri yang disebutkan Nina—teman satu kelasnya yang entah kenapa bisa dekat dengan Radiva sejak seminggu kemarin. Karena terlalu sibuk mengingat siapa yang sedang disebutkan oleh Nina, Radiva sampai tidak sadar jika di depannya ada tangga. Melangkah pelan, Radiva tersentak begitu merasakan pijakan kakinya kosong.
Merasakan tubuhnya yang akan limbung, Radiva dengan cepat membuang kopi di tangannya dan mulai melindungi kepalanya dengan tangan. Beberapa detik berlalu. Radiva tidak merasakan nyeri apapun. Ia juga tidak merasakan rasa sakit di sekitar tubuhnya. Hanya ada satu tembok yang seolah menjaganya agar tidak jatuh.
“Buka matanya, Mbak. Gak jadi jatohnya,” bisik seseorang dari belakang Radiva. Mengdipkan matanya kecil, Radiva lalu menoleh. Dan saat itu juga Radiva melihat dengan jelas sosok yang ia pikir sebagai tembok tadi. Wajah putih dengan hidung mancung kecil dan mata besarnya itu menatap ke arah Radiva dengan geli. Bibirnya yang hanya berjarak 3 senti dari wajah Radiva tersenyum miring. Membuat Radiva mengangkat halisnya. Beberapa detik Radiva lihat kembali wajah lelaki itu. Tak lupa rambutnya yang berwarna coklat lurus.
“Div,” panggil Nina seraya mengulurkan tangannya. Membantu Radiva untuk bangkit.
Merapikan sedikit bajunya, Radiva lalu tatap kembali lelaki di bawahnya. Karena Radiva berada di tangga paling atas, gadis itu jadi bisa melihat perawakan lelaki yang ada di tangga ke 4 dari Radiva.
“Mbak yang nabrak saya, kan?” Tanya lelaki itu seolah akrab dengan Radiva.
“Lo yang sempet nanyain gue ke dia?” Tanya Radiva balik seraya menunjuk Nina yang ada di sebelahnya. Sedangkan Nina yang ditunjuk mengangguk pelan.
“Iya, Div. Dia yang nanyain lo tadi,” ucap Nina saat melihat lelaki di depan Radiva baik-baik.
“Kenapa? Mau ambil uang lo?” Tanya Radiva datar. Gadis itu memutar bola matanya malas melihat lelaki di depannya yang malah tertawa kecil.
“Kayanya lo juga bukan jurusan sini. Dari jurusan mana? DKV?” Tanya Viza. Lelaki yang berada di sebelah Radiva itu menatap tak suka pada sosok yang masih terkekeh pelan.
“Saya udah kasih tahu sama Mbak. Saya gak perlu uang. Saya cuman minta Mbak makan malam bareng aja,” jawab lelaki itu dengan nadanya yang lembut. Radiva menyeringai kecil. Wajahnya berubah menjadi menyebalkan. Menarik napas panjang, Radiva angkat tangannya dan menoyor kening lelaki di depan sana dengan keras.
“Otak lo isinya batu apa gimana?”
“Isinya—“ Ucapan lelaki itu terhenti begitu mendengar suara yang memanggil namanya beserta dengan langkah kaki cepat dari bawah tangga.
“Kemal! Lo di mana sih, anjir?! Ngapain ke gedung sini. Yang lain udah kumpul nungguin..”
Radiva mengangkat halisnya begitu suara lain terdengar dari belakang lelaki di depannya. Merasa kenal dengan suara tersebut, Radiva tarik senyumnya. Gadis yang awalnya terlihat menyeramkan dan menjengkelkan dalam satu waktu itu langsung berubah. Senyum mengerikannya beberapa detik lalu berubah menjadi senyum manis. Lesung pipi di bagian kanannya saja sampai terlihat. Membuat lelaki di depan Radiva terpana beberapa saat melihat senyum indah gadis itu.
“Dandi? Lo kuliah di sin—“
“Gu.. gua tunggu di kantin, Mal. Gua duluan!”
Radiva mengernyitkan keningnya. Ada apa dengan lelaki itu? Tidak mungkin Dandi menghindarinya karena permintaannya tadi pagi, kan?