bc

Janda tapi Gadis

book_age18+
5
FOLLOW
1K
READ
contract marriage
family
HE
forced
friends to lovers
arranged marriage
arrogant
heir/heiress
blue collar
drama
bxg
single daddy
lies
assistant
like
intro-logo
Blurb

“Kalau kamu batalkan pernikahan ini demi karirmu di Paris, aku akan nikahi wanita ini di hadapan semua tamu esok lusa!” Agni syok mendengar itu. Demi menyelamatkan harga diri keluarga dari kehancuran akibat calon istrinya yang kabur, Arion nekat menarik Agni menjadi pengantin pengganti. Bagi dunia dan ibu mertua yang membencinya, Agni hanyalah pembantu berstatus janda muda penarik sial. Namun di balik ikatan pernikahan transaksi ini, Agni menyimpan sebuah rahasia besar, ia sebenarnya masih seorang gadis murni. Mampukah Agni bertahan di tengah intimidasi neraka rumah tangga, saat es di hati Arion perlahan mulai mencair?

chap-preview
Free preview
1. Agni
“Kamu yakin anak ini bisa dipercaya, Mas? Lihat saja dandanan dan mukanya. Janda muda begini mana ada yang beneran mau kerja jadi pembantu!” “Maya, jaga bicaramu. Jangan sembarangan menilai orang hanya dari status sosialnya,” potong Pak Surya dengan nada tenang namun tegas. “Mas kan tahu sendiri statusnya! Apalagi di sini ada Arion! Mau ditaruh di mana muka kita kalau sampai Arion digoda sama perempuan bekas seperti dia?” Maya berkacak pinggang, matanya menatap Agni dengan tatapan selidik yang penuh prasangka. “Maaf, Ibu. Saya ke sini benar-benar hanya ingin mencari pekerjaan yang halal. Saya janji tidak akan membuat keributan atau mengganggu siapa pun di rumah ini,” ucap Agni lirih. Suaranya halus, bergetar menahan gejolak rasa malu yang menghantam dadanya. “Alasan! Semua perempuan model kamu kalau minta kerjaan bilangnya begitu! Begitu sudah masuk rumah, mulai merayu majikan laki-laki. Saya sudah hafal tabiat perempuan seperti kamu!” sembur Maya tanpa belas kasihan. “Cukup, Maya!” bentak Pak Surya. “Saya yang membawa Agni ke sini. Pekerjaan di rumah ini sangat banyak, kasihan Bi Sumi yang sudah makin tua. Agni akan membantu tugas-tugas berat di sini.” “Tapi tidak harus janda muda kan, Mas? Kenapa tidak cari calon ART lain saja?” cecar Maya tak mau kalah. “Karena saya tahu Agni orangnya seperti apa. Kamu tahu sendiri ayahku dulu ditolong oleh almarhum ayah Agni. Apa kamu mau saya jadi orang yang ingkar janji dan tidak tahu berbalas budi?” tegas Pak Surya. Maya mendengus kasar, memalingkan wajahnya dengan napas memburu. “Terserah Mas Surya saja! Tapi ingat ya, kalau sampai ada barang mahal di rumah ini yang hilang, atau kalau sampai dia bikin ulah, detik itu juga aku sendiri yang akan tendang dia keluar!” Agni menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya. Ia mengangguk perlahan. “Terima kasih, Bapak... Terima kasih, Ibu. Saya akan bekerja sebaik mungkin dan mematuhi semua aturan di rumah ini.” “Nanti Bi Sumi yang akan antar kamu ke kamar belakang dan menjelaskan tugas-tugasmu,” kata Pak Surya seraya menatap Agni dengan pandangan teduh penuh keprihatinan. “Baik, Pak. Terima kasih banyak,” sahut Agni pelan. Di balik penampilannya yang sederhana dan kepasrahannya menghadapi tuduhan kejam Maya, Agni menyimpan sebuah rahasia besar yang rapat-rapat ia kunci di dalam hatinya. Agni memang seorang janda. Namun kenyataan pahit yang sebenarnya terjadi malam itu sangat berbeda. “Neng Agni, mari Bibi antar ke kamar belakang,” sapa Bi Sumi pelan, menepuk pundak Agni dengan lembut seolah memberi kekuatan. “Iya, Bi. Terima kasih,” jawab Agni tersenyum tipis. “Neng Agni, Bu Maya itu memang ketus, tapi hatinya tidak sepenuhnya jahat. Yang penting Neng Agni kerja yang rapi dan jangan pernah membantah kalau Beliau sedang emosi, ya,” bisik Bi Sumi mewanti-wanti. “Iya, Bi. Agni paham kok. Agni ke sini cuma mau kerja cari uang buat pengobatan Ibu,” balas Agni penuh tekad. "Satu lagi yang penting. Ruangan di ujung lorong lantai dua itu milik Mas Arion, anak tunggal keluarga ini. Dia sangat dingin. Jangan pernah menyentuh atau menggeser barang di meja kerjanya kalau tidak mau kena masalah besar." Agni mengangguk paham. “Baik, Bi. Saya akan ingat-ingat pesan Bibi.” “Nah, sekarang tolong bantu Bibi antarkan segelas kopi hitam panas ini ke lantai dua. Mas Arion baru saja pulang dari kantor dan biasanya langsung mengurung diri di ruang kerja,” kata Bi Sumi seraya menyerahkan cangkir porselen hitam di atas nampan. Agni menerima nampan itu dengan hati-hati. “Baik, Bi. Agni naik ke atas dulu.” Agni menaiki tangga marmer menuju lantai dua. Suasana lantai atas sangat hening, hanya terdengar detak jarum jam dinding besar di sudut ruangan. Aroma wangi terapi kayu cendana samar-samar tercium di sepanjang lorong. Lantas Agni berhenti tepat di depan pintu kayu jati berukir yang sedikit terbuka di ujung lorong kanan. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan rasa gugupnya, lalu mengetuk pintu pelan. Tok... tok... tok... “Permisi, Pak. Saya mengantarkan kopi,” ucap Agni lirih dari luar. Tidak ada jawaban dari dalam. Karena pintunya renggang, Agni memberanikan diri melangkah masuk satu titik. Ruangan kerja itu sangat luas dan bernuansa gelap. Pria bertubuh jangkung itu sedang berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota malam hari. “Taruh saja di meja,” suara berat, dalam, dan terkesan dingin tiba-tiba bergema tanpa pria itu menoleh sedikit pun. “Baik, Pak,” bisik Agni cemas. Dengan tangan sedikit bergetar, ia meletakkan cangkir kopi panas itu tepat di atas coaster kulit di sudut meja. Namun, saat Agni hendak menarik tangannya kembali, lengannya yang tak sengaja menyenggol tumpukan berkas penting membuat salah satu map tebal meluncur jatuh dan menebarkan lembaran dokumen di atas karpet mahal. BRAK! “Maaf, Pak! Maafkan saya! Saya tidak sengaja!” Agni langsung berlutut di lantai, jemarinya dengan cepat memunguti lembaran-lembaran kertas itu dengan d**a bergemuruh takut. Detik itu juga, langkah kaki yang berat dan dominan mendekatinya. Pria itu berbalik. Arion kini berdiri tepat di hadapan Agni yang sedang berlutut. Arion menunduk, menatap Agni dengan pandangan mata elang yang begitu tajam, dingin, dan menusuk. Jarak mereka begitu dekat. Kemudian Arion berlutut menyamakan tingginya dengan Agni. Tangan Arion yang dingin mendadak mencengkeram dagu Agni, memaksa gadis itu mendongak dan menatap langsung ke dalam manik matanya yang tak berekspresi. “Perempuan baru yang ibuku sebut janda kampung itu... ternyata kamu?” bisik Arion dingin tepat di depan wajah Agni.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Tentang Cinta Kita

read
230.6K
bc

Simpanan Se(x) Dosenku

read
46.9K
bc

Happier Then Ever

read
98.6K
bc

NIKAH??? BOHONGAN???!!!

read
3.2K
bc

HASRAT MEMBARA KAKAK SEPUPU

read
95.8K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1K
bc

BINAL [Menggoda Sopir Pribadiku]

read
9.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook