“Lepaskan saya, Pak...” Agni memohon dengan suara bergetar. Matanya terpaku pada manik mata hitam Arion yang dingin.
Arion meneliti wajah Agni dengan cermat. “Kamu tahu konsekuensi kalau merusak dokumen di meja ini?”
“Saya tidak sengaja, Pak. Saya janji akan merapikannya,” jawab Agni cepat.
Arion melepaskan dagu Agni lalu berdiri tegak. “Rapikan sekarang!”
“Baik, Pak.”
Dengan jemari gemetar, Agni memunguti kertas-kertas di atas karpet dan menyusunnya rapi di tepi meja.
“Sudah selesai, Pak,” kata Agni. “Saya permisi ke bawah.”
“Tunggu. Siapa yang menyuruhmu mengantar kopi ini?”
“Bi Sumi, Pak.”
“Lain kali, jangan naik ke lantai dua kalau tidak saya panggil.”
“Baik, Pak.” Agni membungkuk kecil lalu bergegas keluar. Ia bersandar sejenak di dinding lorong, mencoba menguasai tubuhnya yang gemetar.
“Neng Agni?” Bi Sumi muncul di ujung tangga. “Gimana? Mas Arion tidak marah, kan?”
“Tidak kok, Bi. Cuma, Pak Arion minta saya tidak naik ke lantai dua lagi.”
Bi Sumi menghela napas lega. “Alhamdulillah. Mas Arion memang begitu, Neng. Orangnya tertutup sekali.”
“Yuk turun, Bu Maya sudah nunggu di ruang makan.”
Agni mengikuti di belakang Bi Sumi. Baru saja menapak di anak tangga terakhir, suara lengkingan Maya terdengar dari area dapur.
“Bi Sumi! Mana pembantu baru itu?”
“Saya di sini, Bu,” jawab Agni cepat.
Maya berkacak pinggang di depan meja makan yang dipenuhi piring kotor. “Cuci semua piring ini sampai bersih. Ingat, ini piring mahal!"
“Baik, Bu.”
“Dan satu lagi, kamar mandi tamu di belakang juga belum dibersihkan. Selesaikan semuanya malam ini!”
“Bukannya itu tugas besok pagi, Bu?” potong Bi Sumi pelan.
“Bi Sumi mau ngatur saya?!” potong Maya keras. “Saya bayar dia buat kerja, bukan buat leha-leha!”
Agni memegang lengan Bi Sumi. “Tidak apa-apa, Bi. Saya kerjakan sekarang.”
“Bagus kalau tahu diri,” cetus Maya dingin sebelum melenggang pergi.
***
Pukul sebelas malam. Rumah megah itu sudah sepi. Tangan Agni perih terkena air dingin. Saat menyelesaikan tugas di dapur, seorang wanita bergaun merah ketat melangkah masuk. Wanita itu adalah Clara, tunangan Arion.
“Kamu siapa?” tanya Clara sinis.
“Saya pembantu baru di sini, Mbak,” jawab Agni sopan
“Mana Arion?”
“Pak Arion ada di ruang kerjanya di lantai dua, Mbak.”
Clara memutar bola matanya. “Bikin minuman satu. Antar ke ruangan Arion sekarang.”
“Tapi, Mbak. Pak Arion melarang saya naik ke lantai dua.”
Mata Clara melotot tajam. “Kamu membantah perintah saya? Saya calon istri Arion! Cepat buatkan atau saya bikin kamu dipecat malam ini!”
Agni tak punya pilihan. “Baik, Mbak.”
Agni membuat minuman lalu menaiki tangga. Ia mengetuk pintu ruang kerja Arion pelan.
Tok... tok... tok...
“Pak Arion, ini minuman pesanan Mbak Clara,” panggil Agni dari luar.
Tak ada jawaban. Suara pecahan barang mendadak terdengar nyaring dari dalam.
PRANG!
“Arion! Jangan egois!” teriak suara Clara dari dalam.
“Keluar dari ruanganku, Clara!” bentak suara Arion.
Dari celah pintu yang terbuka, Agni melihat Clara memegang lengan Arion dengan paksa. Sebuah vas bunga kaca sudah hancur di lantai.
“Aku cuma minta kamu tunda tanggal pernikahan kita! Kenapa kamu se-emosi ini?!” teriak Clara marah.
“Pernikahan bukan permainan, Clara!” sahut Arion tegas.
“Ini tawaran kerja terbesar dalam karirku di Paris, Arion! Kamu bisa mengerti sedikit tidak sih?”
“Selalu karirmu yang utama. Lalu di mana posisiku?”
“Kita bisa nikah bulan depan! Apa bedanya sih?”
“Bedanya, persiapan keluarga kita sudah seratus persen!”
Mata Arion mendadak menangkap sosok Agni di balik pintu. Arion melepaskan cengkeraman Clara lalu menarik pintu hingga terbuka lebar.
Agni tersentak. “Pak Arion. Maaf, saya—”
Arion mendadak menarik pergelangan tangan Agni hingga nampan di tangannya jatuh dan pecah.
PRANG!
“Pak Arion!” jerit Agni kaget.
Arion menatap Clara dengan pandangan membeku. “Kalau kamu batalkan pernikahan ini demi karirmu di Paris, aku akan nikahi wanita ini di hadapan semua tamu undanganmu esok lusa.”
Ruangan mendadak hening.
Clara menatap Arion dan Agni bergantian dengan wajah tak percaya. “Kamu... kamu bercanda, kan?”
“Aku tidak pernah bercanda,” sahut Arion datar.
“Dia cuma pembantu, Arion!” teriak Clara histeris.
Agni panik luar biasa, berusaha melepaskan diri. “Pak Arion, lepas. Tolong jangan bawa-bawa saya.”
Arion tak menghiraukan Agni. Cengkeramannya justru semakin erat. “Keputusanku sudah bulat, Clara. Pergi ke Paris malam ini, atau berdiri di sampingku di meja akad lusa.”
“Kamu gila, Arion! Kamu benar-benar gila!” jerit Clara lalu berbalik dan pergi menuruni tangga.
Agni berdiri gemetaran. “Pak, lepaskan tangan saya,” pinta Agni lirih. Air mata menggantung di pelupuk matanya.
Arion akhirnya melepaskan pergelangan tangan Agni lalu berbalik. “Bersihkan pecahan ini.”
“Pak Arion, maksud ucapan Bapak tadi apa?” tanya Agni berani. “Saya ke sini cuma mau kerja, Pak. Saya bukan alat untuk gertak calon istri Bapak!”
Arion berbalik pelan. Tatapan matanya lurus menembus manik mata Agni. “Siapa bilang aku cuma menggertak?”
Agni membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat Arion melangkah mendekat hingga Agni terpojok di tepi kusen pintu.
“Bapak, bercanda, kan?”
Arion menatap Agni dari atas ke bawah dengan wajah datar. “Besok lusa, gaun pengantin Clara akan dipasang di tubuhmu. Bersiaplah.”