“Pak Arion! Bapak sudah gila!” Agni memekik pelan. Matanya membelalak tak percaya menatap pria dingin di depannya.
Arion tak bergeming. “Aku tidak suka mengulang ucapan.”
“Tapi saya ini cuma pembantu, Pak!”
“Lantas?”
“Bapak tidak bisa sewenang-wenang begini!” Agni menekan dadanya yang sesak.
“Tentu bisa. Ini rumahku.”
“Tapi saya tidak mau!” tegas Agni.
Arion maju satu langkah. “Ingat posisimu, Agni,” bisiknya menakutkan.
“Posisi saya pembantu. Bukan calon istri Bapak!”
“Kamu ke sini cari uang untuk obat ibumu, bukan?”
Agni membeku. Kata-kata Arion tepat mengenai titik terlemahnya.
“Maksud Bapak apa?”
“Ikuti perintahku lusa. Ibram akan mentransfer seratus juta untuk pengobatan ibumu besok pagi.”
Agni menggeleng cepat. “Saya tidak mau menjual diri saya, Pak!”
“Ini transaksi bisnis,” potong Arion tegas.
“Tapi status saya janda! Ibu Bapak sangat membenci saya!”
“Itu urusanku.” Arion berbalik menuju meja kerjanya. “Keluar. Bersihkan pecahan cangkir itu.”
Dengan air mata menetes, Agni berlutut dan memunguti pecahan keramik di lantai.
Malam itu ia tidak bisa tidur sama sekali di kamar ART yang sempit. Jika menolak dan kabur, dari mana uang untuk operasi ibunya?
Namun jika menerima, ia tahu neraka sedang menunggunya.
***
Pagi harinya, suasana rumah terasa mencekam. Maya mengamuk di ruang tamu sejak pukul tujuh pagi.
“Mas Surya! Kenapa Arion diam saja?! Clara juga tidak bisa dihubungi!” jerit Maya histeris.
Pak Surya memegang pelipisnya. “Tenang dulu, Maya.”
“Besok acara akad nikah! Undangan sudah tersebar!”
Agni berjalan membawa nampan berisi teh hangat. “Permisi, Pak. Ini tehnya.”
Maya mendelik tajam. “Kenapa kamu masih di sini?! Mana Bi Sumi?”
“Bi Sumi sedang ke pasar, Bu,” jawab Agni menunduk.
“Cepat kembali ke dapur! Jangan menampakkan mukamu di ruang tamu saat kami sedang kumpul!” bentak Maya.
“Baik, Bu.” Agni berbalik cepat.
Namun sebelum Agni mencapai dapur, Arion turun dari lantai dua mengenakan setelan jas hitam rapi.
“Arion!” panggil Maya cepat. “Clara ke mana? Kenapa belum datang untuk fitting gaun?”
Arion berhenti di tangga terakhir. “Clara tidak akan datang. Dia terbang ke Paris tadi malam.”
PRANG!
Cangkir teh di meja terdorong tangan Maya hingga tumpah. Wajahnya pucat pasi. “P-Paris?!”
“Dia mengejar peragaan busana di sana,” sahut Arion datar.
“Gila! Perempuan itu benar-benar gila!” amuk Pak Surya seraya berdiri.
“Pernikahan kalian besok pagi!”
“Lalu bagaimana dengan tamu undangan kita, Mas?! Muka keluarga kita mau ditaruh di mana?!” Maya menangis histeris.
Arion menatap ibunya membeku. “Pernikahan akan tetap berlangsung besok.”
“Maksudmu? Clara akan pulang?”
“Tidak.”
“Lalu siapa pengantin wanitanya?!” cecar Maya bingung.
Arion melangkah mendekati lorong dapur dan meraih pergelangan tangan Agni, lalu menariknya ke tengah ruang tamu.
“Arion! Kenapa kamu pegang-pegang pembantu itu?!” bentak Maya kaget.
Arion bersuara lantang. “Dia yang akan menggantikan Clara besok pagi.”
“APA?!” Jeritan Maya menggema.
“Kamu mau menikahi janda kembang pembantu rumah ini?!”
“Arion, jangan bercanda,” tegur Pak Surya dengan suara berat.
Agni panik dan berusaha menarik tangannya dari cengkeraman besi Arion. “Pak Arion, tolong lepaskan.”
Arion menatap ibunya tanpa kedipan. “Ayah dan Ibu mau reputasi keluarga ini hancur besok? Atau mau pernikahan tetap berjalan?”
“Tapi tidak dengan pembantu ini, Arion! Dia ini janda bekas!” amuk Maya.
“Media tidak akan tahu masa lalunya kalau Ibu diam,” balas Arion, dingin.
“Kalau begitu batalkan saja acaranya. Biar semua orang tahu keluarga kita dipermalukan oleh Clara.”
Pak Surya mengusap wajahnya kasar. Ditinggal pengantin wanita di hari H akan menghancurkan saham perusahaannya.
Pak Surya memandang Agni dengan tatapan rumit, lalu menatap putranya. “Kamu yakin dengan keputusanmu, Arion?”
“Saya yakin,” jawab Arion pendek.
“Pak Surya, tolong. Saya tidak mau, Pak,” potong Agni nekat.
Arion menoleh pada Agni. “Uang transferan untuk ibumu sudah masuk jam delapan pagi tadi,” bisik Arion pelan.
Dada Agni bergemuruh hebat.
***
Keesokan harinya, di kamar rias hotel bintang lima, Agni duduk mengenakan gaun pengantin putih mewah milik Clara yang diperbaiki ukurannya.
Perancang busana menggeleng kagum. “Ajaib. Gaun ini malah jauh lebih anggun di tubuh Mbak Agni daripada Mbak Clara.”
Agni menatap bayangannya dengan tatapan kosong. Tiba-tiba pintu kamar rias terbuka. Maya masuk dengan wajah merah padam.
“Keluar semuanya!” perintah Maya galak. Setelah para perias keluar, Maya melangkah cepat.
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Agni. Agni tersentak memegangi pipinya yang perih.
“Dengarkan saya baik-baik, janda gatal!” bisik Maya penuh kebencian.
“Jangan senang dulu bisa pakai gaun ini dan menikah dengan anak saya!”
Agni menahan air matanya. “Bu, Saya tidak pernah minta pernikahan ini—”
“Halah! Jangan pura-pura polos!” potong Maya tajam.
“Pernikahan ini cuma akting untuk menyelamatkan muka keluarga saya di depan media dan tamu VIP besok! Setelah acara selesai, saya sendiri yang akan membuat hidupmu di rumah itu seperti neraka!”
Maya mendekatkan wajahnya mengancam. “Kamu tetaplah seorang pembantu di mata saya! Paham kamu?!”
“Paham, Bu...” jawab Agni pelan.
Maya mendengus jijik lalu melangkah pergi.
Agni menyandarkan tubuhnya di kursi. Air matanya menetes merusak bedak di pipinya, merasa sangat tertekan dan sendirian.