“Hapus air matamu. Penghulu sudah menunggu di luar.”
Suara Arion memecah kesunyian kamar rias. Pria itu berdiri di ambang pintu dengan beskap putih yang sangat gagah. Wajahnya datar, tak tersentuh emosi.
Agni mengusap sudut matanya cepat-cepat. “Pak Arion...” bisiknya serak.
“Jangan membuat drama di depan media. Jalankan saja peranmu,” potong Arion tegas.
Jemari dingin Arion menyentuh pipi kiri Agni yang kemerahan akibat tamparan Maya. “Bedaki lagi. Kita keluar sekarang.”
Agni mengangguk pasrah. Ia merapikan riasannya dengan cepat.
Arion mengulurkan siku lengannya. “Gandeng tangan saya.”
Lantas Agni menatap ukuran tangan Arion ragu, kemudian menyelipkan jemarinya yang gemetar di siku lengan Arion.
Mereka menyusuri karpet merah menuju meja akad. Di ujung sana, Surya dan Maya duduk dengan raut wajah kaku.
Penghulu membenarkan letak mikrofonnya. “Apakah para saksi dan kedua mempelai sudah siap?”
“Siap,” jawab Arion pendek.
Penghulu berjabat tangan erat dengan Arion. Agni menahan napasnya, dadanya berdebar kencang seolah ingin meledak.
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Arion Pratama bin Surya Pratama, dengan Agni Kirana binti Darmo, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan logam mulia seratus gram dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Agni Kirana binti Darmo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!” ucap Arion mantap.
“Sah?”
“SAH!”
Detik itu juga, status Agni resmi berubah menjadi istri sah Arion Pratama.
“Silakan mempelai wanita mencium tangan suaminya,” ucap penghulu ramah.
Agni meraih tangan kanan Arion dengan jemari gemetar, lalu mencium punggung tangannya.
Setelah prosesi singkat mencium tangan suami dan dihujani kilatan kamera wartawan, acara resepsi yang melelahkan pun dimulai. Agni harus berdiri berjam-jam mengumbar senyum palsu.
“Siapa wanita itu, Maya? Bukankah Arion harusnya menikah dengan Clara?” bisik seorang wanita bergaun mewah saat bersalaman.
Maya tersenyum kaku. “Ah, Clara pergi untuk karirnya di luar negeri. Agni ini putri dari kolega lama Mas Surya.”
Agni hanya menunduk pelan, menahan rasa malu atas kebohongan mertuanya.
“Terima kasih untuk hari ini,” bisik Arion tiba-tiba dengan suara datar. Hanya mereka berdua yang mendengar.
Agni menoleh kaget. “Pak?”
“Kamu cukup penurut. Uang seratus juta sudah bisa dipakai ibumu besok pagi untuk DP operasi rumah sakit.”
Agni menelan ludah dengan susah payah. “Terima kasih, Pak Arion. Saya pasti akan bayar uang itu—”
“Tidak perlu. Itu gajimu untuk menjadi istriku di depan publik.”
Agni bungkam. Hatinya terasa tercubit perih. Ia sadar betul statusnya di mata pria ini hanyalah bagian dari sebuah kesepakatan dingin.
Pukul sepuluh malam, mereka tiba di rumah besar keluarga Surya.
Maya menyambut di ruang tengah. “Arion, kamu mandi dan istirahatlah di kamarmu.”
Lalu pandangannya beralih dingin pada Agni. “Kamu, lepas gaun itu! Ganti baju pembantumu dan bersihkan dapur!”
“Malam ini juga, Bu?” tanya Agni tersentak.
“Kamu pikir kamu beneran nyonya di rumah ini? Di rumah ini, kamu tetap pembantu!” bentak Maya tajam.
“Ibu,” potong Arion dingin. “Agni tidur di kamarku mulai malam ini.”
Mata Maya membelalak lebar. “Apa?! Dia tidak boleh tidur di kamarku!”
“Dia istriku. Apa kata orang luar kalau dia tidur di kamar belakang?” tekan Arion tajam.
Maya mengepalkan tangan. "Terserah kamu! Tapi ingat Agni, jangan pernah bermimpi kamu bisa menguasai anak saya!”
Lalu Maya mengentakkan kakinya dan melangkah pergi menuju kamarnya.
Agni mengekor di belakang Arion menuju kamar utama di lantai dua. Kamar itu sangat luas, bersih, dan beraroma maskulin. Agni berdiri canggung di dekat pintu, menggenggam erat ujung gaun pengantinnya.
Arion melepaskan jasnya dan melangkah ke sudut kamar. Ia menuangkan minuman beralkohol ke dalam gelas kaca.
GLUK... GLUK...
Arion meminumnya dalam sekali teguk, lalu menuangkannya lagi.
“Mas Arion... Jangan minum terlalu banyak,” tegur Agni hati-hati.
Arion tak peduli. Matanya yang biasa dingin kini memerah dan sayu. “Kenapa, Clara?” gumamnya frustrasi.
Pria itu mencengkeram botol lalu melempar gelas kosong ke dinding.
PRANG!
“Mas Arion!” jerit Agni kaget.
Arion jatuh terduduk di tepi ranjang. Ia menenggelamkan wajahnya di sela-sela rambutnya. “Kurang apa aku buat kamu, Clara?!” erangnya menahan kehancuran harga diri karena dicampakkan di hari pernikahan.
Agni berlutut pelan di hadapan Arion. “Mas Arion... Sudah ya, jangan minum lagi.”
Agni berusaha mengambil botol alkohol itu, namun gerakan tersebut membuat Arion mendongak. Mata merahnya menatap Agni dengan pandangan tak fokus.
Tiba-tiba, Arion mencengkeram kedua bahu Agni dengan kuat.
“Aww... Mas, sakit!” rintih Agni.
Arion menarik tubuh Agni hingga gadis itu terperosok ke dalam pelukannya di atas ranjang. Bau alkohol menyengat tajam.
“Kenapa kamu tega tinggalkan aku, Clara?” bisik Arion serak di ceruk leher Agni.
Agni panik bukan main. Ia mendorong d**a bidang pria itu. “Mas Arion, sadar Mas! Saya Agni! Saya bukan Mbak Clara!” teriaknya putus asa.