5. Pagi Pengantin Baru

957 Words
“Mas Arion! Lepaskan saya, Mas! Saya Agni, bukan Mbak Clara!” Agni berteriak pasrah. Kedua tangannya sekuat tenaga menahan d**a bidang pria itu agar tidak makin menindihnya. Namun, Arion yang terpengaruh alkohol sama sekali tidak mendengar teriakan Agni. Pria itu justru makin menenggelamkan wajahnya di leher Agni, mendekapnya dengan sangat erat. “Jangan pergi, Clara... Jangan tinggalkan aku...” gumam Arion parau. Agni tertegun sejenak. Di balik sikap angkuh dan dingin yang selama ini ditampilkan Arion, ternyata ada luka mendalam yang sedang menghancurkan pria itu. “Mas... Sadar, Mas. Saya Agni,” bisik Agni pelan. Napas memburu Arion perlahan-lahan mulai berangsur teratur. Pengaruh alkohol yang sangat kuat membuat kesadaran Arion perlahan menguap sepenuhnya. Tubuh pria itu mendadak lemas, dan kepalanya terkulai berat di bahu kiri Agni. Arion tertidur lelap. Agni menghela napas panjang yang tertahan sejak tadi. Jantungnya masih berdegup kencang. Dengan sangat hati-hati, Agni menggeser tubuh Arion yang berat ke sisi ranjang. Ia menyelimuti pria itu hingga sebatas d**a, lalu memilih turun dari ranjang. Agni berjalan pelan menuju sofa panjang di sudut kamar. Ia berbaring di sana dengan menyelimuti tubuhnya menggunakan jas beskap milik Arion yang tergeletak. Malam itu, Agni tertidur dalam kelelahan fisik dan mental yang luar biasa. Sinar matahari pagi yang menembus jendela kamar membuat Arion terbangun dengan kepala yang amat pening. “Ssst... Aarrgh,” rintih Arion seraya memegangi pelipisnya. Pria itu mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, menatap sekeliling kamar dengan pandangan samar. Ingatannya membentur bayangan saat ia menenggak beberapa gelas alkohol dan keributannya dengan Clara. Lalu, pandangan mata Arion terhenti pada sosok Agni yang tertidur meringkuk di atas sofa dengan jas miliknya. Seketika itu juga, rasa jengkel dan dingin kembali menguasai pikirannya. Arion beranjak dari ranjang dan melangkah kasar menghampiri sofa. Pria itu menendang pelan kaki sofa hingga Agni tersentak bangun. “Bangun,” perintah Arion. Suaranya datar dan dingin. Agni membuka matanya kaget. Ia langsung terduduk dan merapikan rambutnya yang agak berantakan. “Mas Arion? Sudah bangun?” tanya Agni gugup. Arion menatap Agni dari atas ke bawah tanpa sedikit pun rasa simpati. “Rapikan kamar ini. Baju-bajumu pindahkan ke lemari kecil di sudut,” kata Arion dingin seraya melepas kemejanya yang kusut. Agni menelan ludah. “Baik, Mas.” “Satu hal lagi,” potong Arion tegas. Pria itu menatap Agni dengan mata elangnya yang tajam. “Jangan berpikir pernikahan semalam mengubah statusmu di hadapanku. Di kamar ini kita asing, di luar kita cuma berpura-pura.” Kata-kata itu bagaikan tamparan dingin. Agni menundukkan kepala. “Saya mengerti, Mas.” Arion tak memedulikannya lagi. Pria itu langsung menyambar handuk dan melangkah masuk ke kamar mandi tanpa menoleh sedikit pun. Melihat Arion sudah di dalam kamar mandi, Agni bergegas merapikan tempat tidur dan sofa. Setelah selesai, ia melangkah keluar kamar dengan hati ganjal, menuruni tangga menuju dapur untuk memulai harinya. Baru saja kakinya memijak lantai bawah, Maya sudah berdiri di dekat ruang makan dengan tangan bersedekap. “Heh, pembantu!” panggil Bu Maya tajam. Agni menghentikan langkahnya dan membungkuk sopan. “Iya, Bu?” “Kamu pikir karena kamu sudah sah secara hukum jadi istrinya Arion, kamu bisa bersantai?” sinis Maya. “Mulai pagi ini, semua tugas rumah tangga tetap kamu yang pegang! Dari cuci piring, menyapu, mengepel, sampai menyiapkan masakan Arion!” “Tapi Bu,” Bi Sumi yang sedang mengusap meja makan memberanikan diri menyela. “Mbak Agni kan sekarang sudah jadi—” “Diam kamu, Bi Sumi!” potong Maya galak. “Jangan ikut campur urusan keluarga saya! Mau kamu saya pecat sekalian?!” Bi Sumi seketika menunduk ketakutan dan membisu. Maya kembali menatap Agni dengan penuh ancaman. “Paham kamu, Agni? Di dalam rumah ini, kamu tetaplah pembantu!” Agni menghela napas pasrah dalam hati. Demi uang pengobatan ibunya di kampung, ia harus menelan bulat-bulat semua penghinaan ini. “Paham, Bu. Saya akan kerjakan semuanya,” jawab Agni lirih. “Cepat ke gudang belakang! Bersihkan tempat itu dari debu dan rapikan kardus-kardus bekas di sana!” perintah Maya kejam seraya melenggang pergi. Agni menatap Bi Sumi dengan senyum kaku. “Tidak apa-apa, Bi. Saya kerjakan sekarang.” Agni melangkah menuju bangunan gudang di area belakang rumah. Udara di dalam gudang terasa sangat pengap dan bertabur debu tebal. Hanya ada satu bola lampu temaram yang menerangi ruangan besar yang berantakan itu. Agni mulai mengangkat kardus-kardus tebal satu per satu, menggesernya ke sudut ruangan. Tangannya yang halus perlahan memerah dan kotor oleh debu. Napasnya terengah-engah menahan berat. Setelah sejam lebih bekerja keras, Agni berusaha menggeser sebuah lemari kayu tua yang sangat tinggi di pojok ruangan agar bisa menyapu sarang laba-laba di belakangnya. “Bismillah...” gumam Agni seraya mendorong badan lemari kayu tebal itu. Namun, kayu bagian bawah lemari yang sudah lapuk dimakan rayap mendadak patah. KRAK! Lemari tua yang sangat berat itu miring cepat dan roboh tepat ke arah Agni. “Aahh!” jerit Agni histeris. BRAK! Suara benturan keras menggema nyaring. Lemari tua itu menimpa tubuh Agni, menekan kakinya dan menguncinya di lantai dingin gudang. Embusan angin dari luar membuat pintu gudang terhempas menutup keras, merusakkan sakelar hingga lampu tunggal di sana padam seketika. Kegelapan total melingkupi gudang. Agni merintih kesakitan, kakinya tertindih beban berat dan tidak bisa digerakkan sama sekali. “Tolong... Tolong saya...” bisik Agni lemah. Suaranya habis, tertahan rasa sakit yang luar biasa di dadanya. Sementara itu, di kamar utama lantai dua, Arion baru saja selesai berpakaian rapi, siap untuk berangkat ke kantor. Namun, langkah Arion terhenti saat mendengar suara dentuman keras yang samar-samar terdengar dari arah area belakang rumah. Arion mengerutkan keningnya. Pria itu melirik jam di tangannya. Ia tersadar sejak ia selesai mandi tadi, wanita bernama Agni itu belum juga kembali ke kamar. Arion menghela napas gusar, melangkah keluar kamar seraya bergumam dingin. “Ke mana wanita itu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD