6. Pingsan

926 Words
“Ke mana wanita itu?” Arion bergumam dingin seraya menuruni satu per satu anak tangga. Jas hitamnya terpakai rapi, namun wajahnya tampak gusar karena jalannya terhambat oleh keberadaan Agni yang menghilang. Di area tangga bawah, Bi Sumi sedang sibuk mengelap pegangan tangga dengan wajah cemas. “Bi Sumi,” panggil Arion pendek. Langkah kakinya terhenti. Bi Sumi tersentak kaget, langsung membungkuk dalam-dalam. “Eh, Mas Arion. Ada apa, Mas?” “Mana wanita itu?” tanya Arion tanpa basa-basi. “Maksud Mas Arion, Neng Agni?” “Siapa lagi?” sahut Arion dingin. “Suruh dia naik ke atas. Jas cadanganku belum disiapkan.” Bi Sumi menelan ludah, tampak ragu dan takut untuk menjawab. Matanya melirik gelisah ke arah ruang tengah, takut Maya mendengarnya. “Neng Agni... Neng Agni sedang di belakang, Mas,” jawab Bi Sumi pelan. Arion mengerutkan keningnya. “Belakang? Sedang apa dia di sana?” “Disuruh Bu Maya membersihkan gudang tua, Mas,” bisik Bi Sumi jujur. “Dari tadi belum keluar. Padahal tadi Bibi sempat dengar ada suara barang jatuh dari arah sana.” Arion diam sejenak. Matanya memicing tajam. “Suara jatuh?” “Iya, Mas. Keras sekali suaranya. Bibi mau menyusul tapi dilarang Bu Maya.” Belum sempat Bi Sumi menyelesaikan ucapannya, langkah kaki Maya terdengar mendekat dari arah ruang tamu sambil membawa cangkir teh. “Arion! Sudah rapi anak Ibu,” puji Bu Maya dengan senyum mengembang. “Kamu mau berangkat kantor sekarang? Mau Ibu buatkan sarapan dulu?” Arion tidak membalas senyuman ibunya. Pria itu menatap ibunya datar. “Ibu menyuruh Agni ke gudang belakang?” tanya Arion langsung. Raut wajah Maya berubah kaku seketika, namun ia cepat-cepat menutupi kekesalannya. “Oh, itu. Iya, Ibu suruh dia beres-beres. Biar dia ada kerjanya dan tidak leha-leha di kamar kamu!” “Gudang itu belum pernah dibersihkan lima tahun, Bu. Barang-barang di sana berat dan lapuk,” potong Arion tegas. “Ya lalu kenapa?! Dia kan pembantu di sini!” bentak Maya tak mau kalah. “Lagipula statusnya cuma orang kampung, tidak usah kamu manjakan!” “Ibu,” potong Arion dengan nada rendah yang menekan. “Kalau media atau rekan bisnis Ayah tahu dia terluka di rumah ini sehari setelah pernikahan, nama baik keluarga kita yang hancur.” Maya bungkam seketika. Bibirnya merapat karena tak bisa membantah argumen Arion. Tanpa memedulikan ibunya lagi, Arion membalikkan badan dan melangkah lebar menuju pintu belakang yang mengarah ke area gudang. Udara di halaman belakang terasa sangat pengap. Arion berjalan dengan langkah mantap mendekati bangunan gudang kecil yang terpisah dari bangunan utama. Pintu kayu gudang itu tertutup rapat. Dari celah bawah pintu, tak ada sedikit pun cahaya yang terpancar. Arion mengetuk pintu kayu itu dengan buku jarinya. Tok... tok... tok... “Agni,” panggil Arion. Tidak ada sahutan dari dalam. Arion mengerutkan keningnya lebih dalam. Ia mengetuk pintu itu lebih keras. “Agni! Kamu di dalam?" Tetap tidak ada jawaban. Arion meraih gagang pintu dan memutarnya. Pintu itu ternyata tersangkut dari dalam karena engselnya yang aus saat terhempas tadi. Arion mendorong pintu itu dengan bahunya. BRAK! Pintu kayu tua itu terbuka kasar, menimbulkan decitan keras yang memecah kesunyian. Kegelapan dan aroma debu pengap langsung menyengat hidung Arion. Arion menyalakan lampu kilat dari ponsel di tangannya. Cahaya putih menyapu ke sekeliling ruangan yang berantakan. Di pojok kanan ruangan, sebuah lemari kayu tua yang sangat besar dan tebal tergeletak miring di lantai. Dan di bawahnya.... “Agni!” Arion melangkah cepat, mengabaikan debu tebal yang mengotori sepatu mahal dan celana kainnya. Ia berlutut di samping lemari tua tersebut. Cahaya ponselnya mengarah ke wajah Agni. Wajah cantik polos itu tampak pucat pasi. Pelipisnya mengucurkan darah segar yang mengalir ke kulit pipinya. “Agni! Bangun!” panggil Arion seraya menepuk pelan pipi Agni yang dingin. Mata Agni mengerjap sangat pelan. Ia membuka matanya sedikit, menatap bayangan Arion yang samar di balik kegelapan. “Mas Arion?” bisik Agni sangat lemah. Suaranya hampir tenggelam. “Kamu bisa dengar suaraku?” tanya Arion pendek. Tangannya menyusur ke bawah, memeriksa posisi lemari yang menindih kaki dan pinggang Agni. “Sakit... Kakiku... tertindih...” rintih Agni lirih. Air mata menetes di sudut matanya yang sayu. Rahang Arion mengetat keras. Pria itu menyandarkan ponselnya di atas kardus dekat sana, lalu menyusupkan kedua tangannya ke bawah badan lemari kayu yang sangat berat itu. “Tahan sebentar,” perintah Arion tegas. Dengan sekuat tenaga, Arion mengangkat lemari kayu tebal itu. Otot-otot di tangannya mengencang keras saat ia berhasil menahan beban berat lemari dari tubuh Agni. “Geser tubuhmu! Cepat!” bentak Arion menahan napasnya yang memburu. Agni mencoba menggeser kakinya yang kebas dan sakit luar biasa. Dengan sisa tenaganya, ia menarik tubuhnya keluar dari kolong lemari. BRAK! Arion melepaskan lemari itu hingga menghantam lantai kembali. Pria itu terengah-engah, mengusap peluh di dahinya. Tanpa membuang waktu, Arion berlutut dan meraih tubuh lemas Agni. Ia menyusupkan satu tangannya di bawah lutut Agni dan satu tangannya lagi di balik punggung Agni, lalu menggendong wanita itu secara bridal style. “Aahh...” rintih Agni spontan seraya memegangi kemeja Arion karena rasa sakit di kakinya. Aroma wangi woody mahal milik Arion kembali menyeruak di indra penciuman Agni, bercampur dengan bau darah dan debu di pakaian Agni yang kotor. Arion berjalan cepat keluar dari gudang pengap itu, membawa Agni dalam dekapannya menuju rumah utama. Namun, baru saja Arion menginjakkan kakinya di halaman belakang menuju pintu dapur, tubuh Agni mendadak terkulai pasrah di pelukannya. Kepala Agni terkulai berat di bahu Arion, dan darah dari pelipisnya menetes menodai kemeja putih Arion! “Agni?! Agni, bangun!” panggil Arion panik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD