“Agni! Bangun!”
Arion memanggil panik, namun tidak ada jawaban. Kepala Agni terkulai lemas di bahunya, sementara darah dari pelipis gadis itu menetes perlahan menodai kemeja putih milik Arion.
Tanpa membuang waktu, Arion melangkah lebar menerobos masuk melalui pintu belakang dapur.
Di area meja makan, Maya dan Bi Sumi terperanjat kaget saat melihat Arion masuk dengan napas memburu sambil menggendong Agni yang tak sadarkan diri.
“Ya Tuhan! Neng Agni!” jerit Bi Sumi panik seraya menutupi mulutnya.
Maya membelalakkan matanya tak percaya. “Arion! Kamu mau bawa pembantu kotor itu ke mana?! Baju mahalmu jadi ketumpahan darah dan debu begitu!”
Arion menghentikan langkahnya sejenak. Matanya menatap ibunya dengan tatapan nyalang yang begitu dingin, tajam, dan penuh peringatan.
“Jangan halangi aku, Bu,” ucap Arion pendek namun begitu menakutkan.
“Arion! Kamu mau melawan Ibu cuma demi perempuan kampung ini?!” bentakMaya tak terima.
“Ibu mau media melihat berita anak Ibu menganiaya istrinya sehari setelah nikah?” tembak Arion dingin tanpa menoleh sedikit pun.
Mendengar itu membuat Maya bungkam seketika. Napasnya naik turun menahan kekalahan yang memuakkan.
Arion terus melangkah lebar menaiki tangga menuju kamar utama di lantai dua. Ia mendobrak pintu kamar dengan kakinya, lalu membaringkan tubuh Agni secara perlahan di atas ranjang king size miliknya yang putih bersih.
Sprei mahal itu langsung ternoda oleh bercak debu dan darah dari pakaian Agni.
Arion bergegas mengambil kotak P3K dari lemari. Ia duduk di tepi ranjang, tepat di samping Agni yang masih pingsan.
Dengan tangan yang terampil namun dingin, Arion mulai membersihkan luka di pelipis Agni menggunakan kapas beralkohol.
Sentuhan dingin alkohol membuat Agni meringis pelan dalam pingsannya. “Ssshh...”
“Tahan,” gumam Arion pelan, meski ia tahu Agni belum sepenuhnya sadar. Tatapannya fokus menempelkan plester di pelipis Agni.
Arion lalu memegang pergelangan kaki Agni yang membiru akibat tertindih lemari. Rasa sakit itu membuat kelopak mata Agni perlahan bergerak dan terbuka.
“Aawww...” rintih Agni kesakitan seraya membuka matanya yang sayu.
“Kamu sudah sadar?” tanya Arion pendek.
Agni menatap sekeliling kamar mewah Arion dengan pandangan kabur. “Mas Arion? Saya di mana?”
“Di kamarku,” jawab Arion datar. “Kakimu terkilir parah. Aku harus panggil dokter pribadi keluarga ke sini.”
Arion hendak berdiri menuju meja kerja untuk mengambil ponselnya, namun jemari mungil Agni yang gemetar mendadak meraih dan menggenggam ujung lengan kemeja Arion.
Langkah Arion terhenti. Pria itu menoleh pelan, menatap tangannya yang ditahan oleh Agni.
“Ada apa lagi?” tanya Arion datar.
Agni menatap Arion dengan mata berair, menahan rasa takut dan kesakitan yang membuncah.
“Mas Arion... Tolong jangan tinggalkan saya sendiri di rumah ini,” bisik Agni lirih dan serak.
Arion menatap genggaman tangan Agni sejenak. Rahangnya mengetat kaku.
“Aku cuma menelepon dokter,” jawab Arion dingin seraya menarik tangannya perlahan.
Arion berjalan menuju meja kerja dan menekan nomor dokter pribadi keluarga. Setelah berbicara singkat, Arion kembali melangkah menghampiri tepi ranjang.
“Dokter Hendra akan sampai sepuluh menit lagi,” kata Arion.
Sepuluh menit kemudian, Dokter Hendra datang didampingi Bi Sumi.
Setelah memeriksa dan membebat pergelangan kaki Agni dengan perban rapi, Dokter Hendra menyerahkan beberapa resep obat pereda nyeri.
“Mbak Agni harus istirahat total selama tiga hari, ya. Jangan dipakai berjalan berat dulu,” pesan Dokter Hendra ramah.
“Baik, Dokter. Terima kasih banyak,” sahut Agni sopan.
Arion mengantar Dokter Hendra sampai depan pintu kamar, lalu menyerahkan resep obat itu pada Bi Sumi.
“Minta sopir tebus obat ini sekarang. Setelah itu bawakan bubur untuk Agni,” perintah Arion.
“Baik, Mas Arion,” jawab Bi Sumi cepat seraya bergegas turun.
Setelah Bi Sumi dan dokter pergi, Arion melirik jam tangan mewahnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
“Aku berangkat ke kantor sekarang,” kata Arion seraya mengambil jas kerjanya yang baru dari lemari.
“Hati-hati di jalan, Mas,” bisik Agni lembut dari atas ranjang.
Arion tidak membalas ucapan Agni. Ia hanya menatap Agni sekilas dengan pandangan dingin yang sulit diartikan, lalu melangkah keluar kamar dan mengunci pintu dari luar demi keamanan Agni dari ancaman ibunya.
Suasana rumah besar itu terasa sangat sepi setelah kepergian Arion ke kantor.
Agni berbaring sendirian di atas ranjang empuk Arion. Tubuhnya terasa sangat lelah dan nyeri di sekujur persendiannya mulai terasa hebat.
Satu jam berlalu. Pintu kamar yang terkunci mendadak berbunyi kasar dari luar.
KLAK... KLAK...
Seseorang sedang mencoba membuka paksa gagang pintu dengan kunci cadangan.
Agni tersentak kaget. Ia berusaha duduk tegak di atas ranjang dengan jantung berdebar kencang.
Pintu kamar terbuka lebar.
Maya berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam menahan amarah. Di tangannya, wanita paruh baya itu memegang sebuah kunci duplikat dan seember air dingin berbusa.
Agni membelalakkan matanya ketakutan. “I-Ibu? Ada apa, Bu?”
Bu Maya melangkah masuk dengan senyum penuh kemurkaan dan rasa dendam.
“Kamu pikir kalau Arion mengunci kamar ini, kamu bisa selamat dari saya, perempuan gatal?!” bentak Maya kejam.
“Ibu... Kaki saya sedang sakit, Bu,” mohon Agni dengan suara bergetar.
Maya menyeringai dingin seraya mengangkat ember berisi air sabun di tangannya.
“Sakit?! Bagus kalau begitu! Biar kamu makin sadar diri siapa dirimu di rumah ini!”
Sebelum Agni sempat berteriak memanggil bantuan, Maya mendadak menyiramkan seluruh air dingin berbusa itu tepat ke arah tubuh Agni dan ranjang utama Arion
BYURRR!