8. Khawatir?

1059 Words
BYURRR! Air sabun yang sangat dingin menghantam tubuh Agni dan membasahi separuh ranjang utama milik Arion. Agni menjerit tertahan. “Aah!” Ia terbatuk-batuk kecil, memegangi dadanya yang sesak karena kaget dan rasa dingin yang langsung menusuk kulitnya. Gaun tipis yang dikenakannya basah kuyup, menempel ketat di tubuhnya yang menggigil. Maya melempar ember plastik kosong itu ke lantai hingga menimbulkan suara dentuman nyaring. BRAK! “Bagaimana? Segar, kan?!” bentak Maya tanpa belas kasihan. “Ibu... Kenapa Ibu tega sekali pada saya?” Agni mengusap wajahnya yang penuh dengan busa sabun. Suaranya bergetar hebat. “Tega kamu bilang?!” Maya melangkah mendekat, mencengkeram dagu Agni dengan kuat hingga gadis itu terpaksa mendongak. “Kamu yang tidak tahu diri! Berani-beraninya kamu membuat Arion melawan ibunya sendiri!” “Saya tidak pernah menyuruh Mas Arion melawan Ibu,” bisik Agni. Air mata bercampur air sabun menetes di pipinya. “Halah! Jangan pura-pura polos!” sembur Maya. “Perempuan kampung seperti kamu ini memang penuh dengan tipu daya! Di depan Arion kamu berakting jadi korban, di belakang dia kamu mau menguasai rumah ini, kan?!” “Demi Tuhan, Bu. Saya Cuma mau kerja di sini,” ratap Agni, tubuhnya menggigil kedinginan. “Cukup!” potong Maya tajam. Lantas Maya menghempaskan wajah Agni hingga gadis itu tersungkur di atas kasur yang basah. “Mulai sekarang, tidak ada yang boleh membantumu di rumah ini! Bi Sumi juga sudah saya peringatkan!” Agni menahan rintihan kesakitan saat pergelangan kakinya yang terkilir kembali berdenyut hebat. “Sekarang ganti bajumu dan bersihkan air ini!” perintah Maya sadis. “Kalau sampai Arion melihat sprei ini basah saat pulang nanti, saya pastikan kamu yang dituduh sengaja merusaknya!” “Tapi kaki saya sakit sekali, Bu. Tolong berikan saya waktu sebentar,” mohon Agni sambil memegang pergelangan kakinya. “Jangan manja! Kaki terkilir saja dijadikan alasan!” bentak Maya. “Dua puluh menit! Waktumu Cuma dua puluh menit untuk membereskan semua ini sebelum saya kunci lagi kamu dari luar!” “Baik, Bu. Baik, saya kerjakan.” suara Agni memelan, menyerah pada kekejaman mertua pimpinannya itu. Maya berbalik dan melangkah keluar kamar seraya membanting pintu kayu itu kembali. BRAK! Agni terbaring di atas ranjang yang basah dan dingin. Tubuhnya menggigil hebat. Nyeri di kakinya kian parah, dan kini kepalanya mulai terasa pening memutar. Dengan sisa tenaganya, Agni berusaha bergeser ke tepi ranjang. Ia merangkak pelan menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya yang basah kuyup. Setiap inci pergerakannya menimbulkan rasa sakit yang luar biasa di pergelangan kakinya. “Ibu... Agni kesakitan,” bisik Agni lirih seraya memeluk dirinya sendiri di lantai kamar mandi. Sementara itu, di gedung pencakar langit pusat kota, Arion sedang memimpin rapat penting bersama para direksi perusahaan. Namun, fokus Arion mendadak terganggu. Pria itu terus-menerus melirik ponsel mewahnya yang tergeletak di atas meja rapat. Bukan karena rindu atau cemas secara emosional, melainkan rasa gusar bayangan reputasi rumahnya yang bisa berantakan jika Ibunya terus-terusan berulah. “Pak Arion? Bagaimana menurut Anda mengenai proposal investasi ini?” tanya salah satu direksi. Arion tersentak pelan, mengembalikan pandangan dinginnya. “Tunda dulu. Saya ada urusan mendadak.” “Tapi Pak, ini keputusan krusial untuk proyek kuartal depan,” potong salah satu komisaris dengan nada ragu. “Apakah kalimat saya kurang jelas?” tegas Arion dengan nada berat yang seketika membungkam seluruh ruangan. “Lanjutkan diskusi tanpa saya. Buat laporan tertulisnya sore ini.” Arion langsung menutup laptopnya, berdiri dari kursi utama, dan melangkah keluar dari ruang rapat tanpa memedulikan tatapan heran dari para petinggi perusahaan. Asisten pribadinya, Ibram, bergegas mengekor di belakangnya. “Pak Arion, jadwal Anda masih ada pertemuan dengan mitra dari Singapura pukul satu siang nanti.” “Batalkan atau undur besok,” jawab Arion pendek dan tegas. “Baik, Pak. Apakah ada masalah darurat di kantor cabang?” tanya Ibram cemas. Arion menghentikan langkahnya tepat di depan pintu lift pribadi. “Tidak. Aku harus memastikan tidak ada kekacauan di rumah.” “Apakah Ibu Maya menelepon lagi, Pak?” pancing Ibram hati-hati. “Ibuki tidak perlu menelepon untuk membuat masalah, Ibram. Kamu tahu persis tabiatnya,” balas Arion dingin saat pintu lift terbuka. “Siapkan mobil sekarang.” “Siap, Pak. Saya ikut mendampingi?” “Tidak perlu. Kamu tetap di sini dan ambil alih berkas rapat tadi.” Ibram mengerutkan keningnya kaget, namun tidak berani bertanya lebih lanjut melihat garis rahang bosnya yang mengetat kaku. Dua puluh menit kemudian, mobil mewah Arion melaju kencang memasuki halaman rumah utama keluarga Surya. Ban mobil menderit halus di atas lantai granit pelataran depan. Arion melangkah masuk melewati pintu depan. Suasana rumah terasa sangat sunyi. Bi Sumi yang sedang mengelap vas bunga di ruang tengah mendadak panik saat melihat kepulangan Arion yang jauh lebih cepat dari biasanya. “M-Mas Arion? Kok sudah pulang?” tanya Bi Sumi gugup. Tangannya gemetaran memegang kain lap. Arion menghentikan langkahnya di dekat tangga. Tangannya yang memegang jas kerja mengencang. “Mana Ibu?” tanya Arion datar. “Ibu... Ibu sedang pergi Arisan di luar, Mas,” jawab Bi Sumi terbata-bata. Arion menatap Bi Sumi dengan mata elangnya yang tajam. Ia menangkap raut ketakutan yang tidak biasa dari wajah pelayan tuanya itu. “Ada apa, Bi?” cecar Arion rendah. “Tidak ada apa-apa, Mas.” “Jangan berbohong pada saya, Bi Sumi,” potong Arion dengan nada mengintimidasi. “Suara Bibi gemetar. Kenapa?” “S-saya Cuma kaget Mas Arion pulang jam segini,” elak Bi Sumi sembari menunduk semakin dalam. “Di mana Agni?” tanya Arion langsung ke intinya. “Mbak Agni... ada di atas, Mas. Sedang istirahat.” “Istirahat? Atau dilarang keluar kamar oleh Ibu?” cecer Arion lagi. Bi Sumi makin meremas kain lapnya, bingung harus menjawab apa. “Nganu, Mas... Nyonya Besar tadi—” “Cukup. Saya lihat sendiri.” Arion tidak percaya. Ia berbalik dan melangkah lebar menaiki tangga marmer menuju kamar utama di lantai dua. Suara langkah kakinya bergema tegas di lorong yang sunyi. Saat Arion meraih gagang pintu kamarnya, ia mendapati pintu itu tidak lagi terkunci dari luar. Arion mendorong pintu tersebut. Ceklek... Aroma lembap dan bau sabun menyengat langsung menyambut indra penciumannya. Arion membeku di ambang pintu saat melihat kondisi kamarnya yang berantakan. Seprei putih mahal di ranjangnya basah kuyup dan dipenuhi busa, sementara di lantai dekat kamar mandi, sosok Agni tergeletak pingsan dengan tubuh menggigil hebat dan wajah seputih kertas. “Agni!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD