9. Kemarahan Arion

802 Words
Arion berhamburan mendekat, menjatuhkan jas kerjanya begitu saja di lantai. Ia berlutut di samping Agni, mengangkat kepala gadis itu ke pangkuannya. “Agni! Buka matamu!” panggil Arion seraya menepuk pelan pipi Agni yang terasa begitu dingin bak es. Agni hanya melenguh halus, matanya terpejam rapat. Tubuhnya bergetar tanpa henti. “Bi Sumi! Ke sini sekarang!” teriak Arion meluapkan kemarahannya yang mulai menyulut. Bi Sumi berlari terengah-engah dari arah tangga dan menghentikan langkahnya di ambang pintu, menutup mulutnya kaget. “Ya Allah, Mbak Agni!” “Apa yang terjadi di sini, Bi?! Kenapa kamar ini basah begini?!” bentak Arion dengan mata menyalang tajam. Bi Sumi menangis ketakutan. “Nyonya Besar, Mas. Nyonya tadi menyiram Mbak Agni pakai air sabun dingin. Nyonya juga melarang saya membantu.” “Ibu melakukannya lagi?!” Arion menggeram rendah, rahangnya mengeras hebat. “Iya, Mas. Mbak Agni tadi kesakitan karena kakinya terkilir, tapi Nyonya malah menyuruhnya membersihkan seprei itu sendirian,” bisik Bi Sumi penuh rasa bersalah. Arion menarik napas panjang, berusaha menahan amarah yang nyaris meledak. Ia merengkuh tubuh Agni yang basah kuyup ke dalam pelukannya, merasai betapa ringkih dan dinginnya tubuh wanita itu. “Siapkan mobil sekarang. Kita ke rumah sakit,” perintah Arion tegas. “Baik, Mas. Baik, saya panggilkan Pak Sopir sekarang!” Bi Sumi bergegas balik kanan dan berlari cepat ke bawah. Arion memandangi wajah pucat Agni yang dihiasi sisa busa sabun di sekitar dahinya. Ia menyapu lembut busa itu dengan jemarinya. “Kenapa kamu tidak pernah melawan, Agni? Kenapa kamu selalu diam saja dijadikan seperti ini?” bisik Arion pelan, suara dinginnya menyelip sedikit rasa bersalah yang tak biasa. Agni meracau pelan dalam pingsannya, “Dingin... Mas Arion... maafkan Agni...” Arion melepaskan kemeja kerjanya yang masih kering, melingkarkannya ke tubuh Agni untuk mengurangi rasa dingin yang merayap. Ia menggendong Agni secara bridal style dan melangkah lebar keluar kamar. Saat Arion menuruni tangga, pintu depan terbuka. Maya baru saja melangkah masuk dengan senyum lebar setelah selesai arisan. Namun senyum itu seketika sirna begitu melihat putranya menggendong Agni yang pingsan. “Arion?! Kamu kok sudah pulang? Dan kenapa kamu menggendong perempuan itu?!” seru Maya kaget. Arion menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir. Matanya menatap ibunya penuh dengan kedinginan yang mengerikan. “Ibu sudah keterlaluan,” kata Arion rendah namun penuh penekanan. “Apa maksudmu, Arion? Ibu tidak melakukan apa-apa! Perempuan kampung itu cuma berpura-pura pingsan untuk mencari perhatianmu!” elak Maya tajam. “Cukup, Bu!” potong Arion tegas, membuat Maya terperanjat. “Aku tahu semua yang Ibu lakukan. Menyiramnya dengan air sabun? Apakah ini pantas dilakukan oleh seorang wanita terhormat?” “Arion! Kamu berani membentak Ibu demi perempuan murahan seperti dia?!” Maya menunjuk wajah Agni penuh kebencian. “Aku bukan membentak Ibu! Kalau Ibu masih melakukan Agni seperti itu,” ancam Arion dingin tanpa ragu sedikit pun. “Kamu membela dia daripada ibumu sendiri?!” jerit Maya tidak percaya. “Aku membela kebenaran dan batas kemanusiaan, Bu,” balas Arion datar. “Pak Joko, buka pintunya!” Tanpa memedulikan teriakan histeris ibunya yang memanggil namanya, Arion terus melangkah keluar rumah menuju mobil yang sudah siap. Ia mendudukkan Agni di kursi belakang dengan perlahan, lalu ikut masuk dan menutup pintu rapat-rapat. “Ke rumah sakit terdekat. Cepat,” perintah Arion pada sopir. Mobil meluncur deras meninggalkan kediaman keluarga Surya, membawa Agni yang masih tak sadarkan diri di dalam dekapan hangat Arion. Sepuluh menit kemudian, mobil berhenti tepat di depan IGD Rumah Sakit. Arion langsung menggendong Agni keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam ruang perawatan medis. “Dokter! Tangani dia sekarang!” panggil Arion datar namun tegas, membuat beberapa perawat bergegas mendorong brakar ke arahnya. Arion meletakkan tubuh Agni di atas ranjang dorong tersebut. Tim medis dengan cepat membawa Agni masuk ke dalam ruang pemeriksaan intensif. Pintu ruang IGD tertutup rapat. Arion berdiri mematung di luar ruangan. Ia mengusap tangannya yang kotor terkena sisa air sabun, lalu merapikan posisi jam tangan mewahnya. Satu jam berlalu. Arion berdiri bersedekap di koridor rumah sakit yang dingin. Pintu IGD akhirnya terbuka. Seorang dokter pria melangkah keluar seraya melepas sarung tangan medisnya. Arion menghampiri dokter tersebut. “Bagaimana kondisinya, Dok?” “Apakah Anda suaminya?” tanya Dokter itu memastikan. “Iya,” sahut Arion singkat tanpa penjelasan lebih lanjut. Dokter itu menghela napas panjang dan menatap Arion dengan pandangan serius. “Istri Anda mengalami demam tinggi dan infeksi pada lukanya yang basah. Selain itu, pergelangan kakinya yang terkilir mengalami pembengkakan parah karena dipaksa bergerak.” Arion menyilangkan dadanya. “Berapa lama dia harus dirawat?” “Pasien perlu dirawat inap dua atau tiga hari sampai demamnya turun total dan kondisinya stabil,” jelas Dokter. Arion mengangguk pelan tanpa raut cemas yang berlebihan. “Pindahkan dia ke kamar perawatan VIP.” “Baik, Pak. Kami akan atur kepindahannya.” Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD