Dua jam kemudian, Agni sudah dipindahkan ke kamar perawatan VIP. Cairan infus menetes pelan mengalir ke pembuluh darah di tangannya.
Arion berdiri di dekat jendela kamar VIP, menatap layar ponselnya yang terus bergetar. Nama Ibu tertera di sana.
Arion menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel di telinganya.
“Arion! Kamu di mana?! Kenapa rumah berantakan dan kamu membawa pembantu itu pergi tanpa izin Ibu?!” jerit Bu Maya marah dari seberang telepon.
Arion menatap keluar jendela kaca dengan pandangan dingin.
“Ibu menyiram kamar utamaku sampai basah kuyup,” ucap Arion tenang namun menusuk.
“Ibu cuma memberi dia pelajaran! Dia itu janda penarik sial yang membuat kamu melawan Ibu!”
“Tindakan Ibu bikin urusan tambah panjang,” potong Arion tegas.
“Saya sudah bawa Agni ke rumah sakit. Kalau media tahu dia masuk rumah sakit dalam kondisi penuh bekas siraman air sabun, nama baik keluarga kita yang hancur.”
“Arion! Kenapa kamu malah mikirin dia?!” amuk Bu Maya histeris.
“Saya memikirkan reputasi keluarga kita, Bu,” sahut Arion dingin. “Jangan datang ke rumah sakit ini. Biarkan dia sembuh dulu supaya bisa kembali kerja.”
Tanpa menunggu balasan ibunya, Arion mematikan telepon secara sepihak.
Ia berbalik dan menatap Agni yang masih terbaring lemah di ranjang dengan mata setengah terbuka.
Agni menatap Arion dengan pandangan serba salah dan takut. “Mas Arion... Maaf saya membuat kamar Mas kotor dan merepotkan begini.”
Arion berjalan mendekati tepi ranjang, berdiri menjulang menatap Agni tanpa senyum sedikit pun.
“Cepat sembuh,” kata Arion pendek. “Saya tidak punya waktu untuk mengurus drama rumah tangga seperti ini setiap hari.”
Agni menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kata-kata dingin Arion menegaskan kembali batas tebal di antara mereka.
Tok... Tok... Tok...
Tiba-tiba, pintu kamar VIP diketuk dari luar. Seorang perawat masuk membawa dokumen medis.
“Maaf Pak Arion, ini resep obat dan laporan kondisi pasien yang perlu Anda tanda tangani.”
Arion menerima pulpen dan dokumen itu. Ia pun dengan cepat membubuhkan tanda tangan di atas kertas dokumen medis yang disodorkan oleh perawat.
“Terima kasih, Pak Arion. Jika butuh bantuan, silakan tekan tombol di samping ranjang,” kata perawat itu seraya membungkuk sopan dan melangkah keluar dari kamar.
Pintu kamar VIP kembali tertutup rapat.
“Kenapa belum tidur?” tanya Arion datar tanpa ekspresi, memperhatikan Agni.
“Saya... saya takut merepotkan Mas Arion terlalu lama di sini,” kata Agni serba salah seraya berusaha sedikit menggeser tubuhnya yang kaku.
“Mas Arion bisa kembali ke rumah. Saya tidak apa-apa sendiri di sini.”
“Jangan banyak bergerak. Dokter bilang kakimu bisa makin parah kalau dipaksa,” tegur Arion tegas tanpa nada manis sedikit pun.
Agni menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Maafkan saya, Mas. Sprei kamar Mas Arion jadi kotor gara-gara saya. Biaya rumah sakit ini juga pasti sangat mahal.”
Arion menyilangkan kedua tangannya di d**a. Ia menatap Agni dengan pandangan menelisik yang sangat dingin.
“Ibu yang menyiram kamu dengan air sabun, kan?” tanya Arion langsung tanpa basa-basi.
Agni tersentak. Bibirnya merapat kaku. Ia menunduk semakin dalam, ragu untuk menjawab karena takut memicu pertengkaran hebat antara Arion dan Maya.
“Jawab, Agni,” tekan Arion rendah namun penuh penekanan.
“Ibu... Ibu cuma emosi, Mas. Ibu tidak sengaja,” bisik Agni mencoba membela mertuanya meski tubuhnya sendiri yang menjadi korban kekejaman wanita itu.
Arion terkekeh sinis. “Tidak sengaja membawa seember air sabun ke kamar utama?”
Agni diam tak berani membalas. Kepasrahan wanita di hadapannya ini membuat Arion merasa heran dan jengkel.
“Jangan pura-pura jadi pahlawan,” kata Arion ketus. “Aku tidak suka ada orang yang merusak barang-barang di kamarku, siapa pun orangnya.”
“Baik, Mas... Maafkan saya,” sahut Agni pasrah.
“Tidurlah. Jangan membuat suaramu makin habis karena bicara terus,” kata Arion dingin.
“Mas Arion tidak pulang?” tanya Agni ragu-ragu.
“Aku tidak punya pilihan,” sahut Arion ketus tanpa menoleh.
“Kalau aku pulang sekarang dan membiarkanmu sendirian, Ibu pasti akan mengirim orang untuk membawamu kembali ke rumah dan menyuruhmu bekerja lagi. Itu cuma akan membuat kondisimu makin parah dan urusan medis ini jadi perhatian media.”
Agni tertegun mendengar penjelasan Arion. Walaupun kata-kata pria itu selalu terdengar tajam, pedas, dan berlapis gengsi, ada kenyataan pahit bahwa Arion memang sedang melindunginya dari tindakan nekat Maya di rumah.
“Terima kasih, Mas Arion,” bisik Agni sangat pelan.
Arion tidak membalas ucapan terima kasih itu. Pria itu berjalan menuju sofa panjang di sudut kamar, mengambil laptop mewahnya dari dalam tas kerja, lalu duduk.
Jari-jari Arion menari di atas keyboard laptop, memecah kesunyian kamar VIP. Suara ketukan tombol beradu dengan denting mesin pemantau detak jantung di samping ranjang Agni. Pria itu menyibukkan diri dengan laporan keuangan, berusaha mengabaikan wanita di hadapannya.
Di ranjang, Agni mencoba menggeser tubuhnya. Nyeri tajam mendadak menjalar di kakinya. Ia menggigit bibir bawah agar tak meringis. Hawa dingin AC membuat tubuhnya yang memar menggigil halus.
Arion melirik dari balik layar. Melihat Agni kedinginan, ia bangkit mengambil selimut tebal tambahan di lemari, lalu menyelimuti Agni hingga batas d**a. Tangannya sempat tak sengaja bersentuhan dengan jemari Agni yang dingin.
Agni terperanjat menatap Arion dari jarak dekat. "Terima kasih, Mas," cicitnya pelan.
"Jangan berpikiran aneh-aneh," cetus Arion dingin seraya berbalik. "Kalau kamu makin sakit, media akan menyalahkan keluargaku."
Suasana kembali hening. Beberapa saat kemudian, ponsel Arion bergetar hebat. Sebuah pesan masuk dari sekretarisnya, melampirkan beberapa foto dan dokumen digital.
Arion membuka pesan itu. Seketika rahangnya mengeras kaku.