11. Sesak Napas

820 Words
Malam semakin larut. Suasana kamar VIP terasa sangat sunyi dan dingin. Agni akhirnya tertidur kembali akibat efek obat pereda nyeri dan penurun panas yang diberikan oleh dokter. Helaan napasnya terdengar halus dan teratur. Arion duduk di sofa dengan laptop terbuka di pangkuannya. Jemarinya menari cepat di atas keyboard, menyelesaikan beberapa berkas laporan keuangan perusahaan yang tertunda akibat kepulangannya yang mendadak tadi siang. Namun, fokus Arion berulang kali terganggu. Setiap kali mendengar helaan napas Agni yang sedikit berat atau gerakan kecil dari ranjang, pandangan Arion secara refleks bergulir menatap wanita itu. Arion menghela napas panjang seraya memijit pelipisnya yang terasa pening. Pria angkuh itu merasa frustrasi dengan situasi rumah tangganya yang sangat rumit. Pernikahan impulsif ini benar-benar mengacaukan ritme kerjanya yang biasanya sempurna. Tiba-tiba, ponsel pribadi milik Arion yang tergeletak di meja bergetar nyaring. Nama Ibunya kembali berkedip terang di layarnya. Arion meraih ponsel tersebut, melirik Agni yang masih tertidur, lalu berjalan cepat menuju balkon luar kamar VIP agar suaranya tidak membangunkan Agni. Arion menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel di telinganya. “Ada apa lagi, Bu?” tanya Arion langsung dengan suara rendah dan dingin. “Arion! Kamu di mana sekarang?! Kenapa kamu belum pulang juga?!” jerit Maya marah dari seberang telepon. “Kamu beneran menunggui pembantu gatal itu di rumah sakit?!” “Saya sedang mengurus urusan yang Ibu perbuat tadi siang,” sahut Arion tegas. “Arion! Ibu ini ibumu! Kenapa kamu malah mempermalukan Ibu dengan membela wanita kampungan itu?!” amuk Maya histeris. “Bu-“ ucapan Arion langsung dipotong seketika. “Suruh dia pulang sekarang! Kalau perlu suruh dia tidur di kamar belakang, tidak usah sok manja di rumah sakit!” omel Maya dengan suara melengking. Arion memejamkan matanya rapat-rapat, menahan gejolak emosi di dadanya yang membara. “Ibu menyiram kamar utama saya sampai basah kuyup,” ucap Arion menekankan setiap kata. “Tapi wanita kampung itu-“ “Bu, tolong sekali saja dengarkan saya,” potong Arion, nada suaranya dengan dingin. “Kalau media tahu istri sah saya dirawat karena demam tinggi akibat disiram air sabun di dalam rumah sendiri, nama baik keluarga kita yang hancur, Bu. Apakah Ibu mau saham perusahaan kita anjlok besok pagi?” Mendengar itu membuat Maya bungkam seketika di seberang telepon. Gertakan Arion mengenai saham dan nama baik keluarga selalu menjadi satu-satunya cara untuk membungkam kesombongan ibunya. “Tapi kamu tidak perlu sampai menunggui dia di sana, Arion,” kata Maya dengan nada yang sedikit melunak namun tetap sarat kebencian. “Saya di sini memastikan dia cepat sembuh dan tidak ada wartawan yang mengendus keberadaannya,” kata Arion dingin. “Ibu jangan nekat untuk datang ke rumah sakit ini. Biarkan dia ditangani dokter dan memulihkan di sini,” tekan Arion, mengingatkan ibunya. “Arion, dengar kata Ibu—” Tanpa membiarkan ibunya menyelesaikan kalimatnya, Arion mematikan sambungan telepon secara sepihak. Pria itu menyandarkan kedua tangannya di pembatas balkon, mengembuskan napas kasar ke udara malam yang dingin. Arion kembali menggeser pintu kaca balkon dan melangkah masuk ke dalam kamar. Ia tertegun saat melihat Agni sudah terbangun dari tidurnya. Wanita itu tampak memegangi dadanya yang membusung cepat, napasnya tersengal-sengal, dan wajahnya dipenuhi peluh dingin. “Agni? Ada apa?” tanya Arion seraya melangkah cepat menghampiri ranjang. “Mas... Mas Arion...” rintih Agni dengan suara terputus-putus. Tangannya gemetar hebat meremas sprei. “d**a saya... sesak sekali, Mas...” Arion mengerutkan keningnya panik. Pria yang biasanya selalu tenang dan teratur itu mendadak kehilangan kendali saat melihat kondisi Agni yang makin memburuk. Arion menekan tombol panggilan darurat di samping ranjang secara bertubi-tubi. “Kamu tahan dulu. Dokter sedang ke sini,” kata Arion tegas seraya meraih bahu Agni untuk membantunya duduk agar bisa bernapas lebih mudah. Agni mencengkeram lengan kemeja Arion dengan sangat kuat, mencari pegangan di tengah rasa sakit yang menghimpit dadanya. “Sakit, Mas... Susah bernapas...” bisik Agni dengan mata berair. Pintu kamar VIP mendadak terbuka kasar dari luar. Dokter Hendra dan dua orang perawat berlari masuk membawa peralatan medis emergency. “Pak Arion, tolong mundur sebentar!” perintah Dokter Hendra cepat. Arion terpaksa melepaskan cengkeraman tangan Agni dan melangkah mundur satu langkah. Matanya menatap tajam ke arah tim medis yang sibuk memasangkan masker oksigen ke wajah Agni dan memeriksa tekanan darahnya yang mendadak drop. Di tengah kekacauan medis tersebut, ponsel Arion yang ada di sakunya kembali bergetar pelan. Sebuah notifikasi email masuk dari asisten pribadinya, Ibram. Arion merogoh ponselnya dan membuka pesan email tersebut. Lampu layarnya menampilkan sebuah lampiran dokumen resmi berupa hasil verifikasi berkas pernikahan masa lalu Agni di Pengadilan Agama yang baru saja diselesaikan oleh tim hukum perusahaan. “Pak, sudah lihat foto yang saya kirimkan?” isi pesan dari Ibram, sekretarisnya. Lantas Arion membuka pesan itu. Mata Arion membeku kaku saat melihat foto dan membaca catatan keputusan pengadilan yang tertera di layar. “Status Perceraian Sah secara hukum. Pernikahan sebelumnya dinyatakan gugur atau batal demi hukum karena pihak pria kabur di malam setelah akad nikah.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD