“Pria itu kabur di malam akad nikah,” batin Arion mencerna informasi tersebut.
Fakta bahwa mantan suami Agni melarikan diri membuat pikiran Arion kacau seketika. Kendati Arion tahu pasti status hukum Agni adalah janda, ada desiran aneh dan tanda tanya besar yang mendadak mengusik benaknya.
“Pak Arion, kondisi Mbak Agni sudah kembali stabil,” suara Dokter Hendra memecah lamunan Arion.
Arion refleks memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Ia menguasai raut wajahnya kembali menjadi dingin dan datar.
“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Arion pelan.
“Hanya kecemasan akut yang memicu sesak napas, ditambah efek keringat dingin akibat demamnya,” jelas Dokter Hendra seraya melepas sarung tangan medis.
“Tapi pakaian dan tubuhnya sangat basah oleh keringat. Sebaiknya dibersihkan dan diganti bajunya agar demamnya tidak naik lagi.”
Arion melirik dua perawat di samping Dokter Hendra. “Tolong perawat saja yang ganti.”
“Maaf Pak Arion, perawat kami harus segera menangani pasien darurat di IGD,” jawab Dokter Hendra serba salah.
“Bapak bisa membantunya pelan-pelan di kamar mandi. Mbak Agni sudah bisa duduk, hanya belum boleh menumpu beban di kakinya.”
Dokter Hendra dan tim medis membungkuk sopan lalu pamit meninggalkan kamar.
Arion menarik napas panjang. Matanya bergeser menatap Agni yang kini duduk bersandar di kepala ranjang dengan masker oksigen yang sudah dilepas. Pakaian rumah sakit tipis yang dikenakan wanita itu tampak agak basah kuyup oleh keringat dingin, menempel rapat di lekuk tubuh bagian atasnya.
Agni menundukkan kepala, memegangi jemarinya yang gemetar. “Mas Arion, tidak perlu dibantu. Saya bisa bersihkan diri sendiri.”
“Jangan membantah,” sahut Arion singkat dan tegas. “Kakimu terkilir parah. Kamu mau jatuh di kamar mandi dan bikin urusan makin panjang?”
“Tapi Mas—”
Tanpa menunggu bantahan lagi, Arion melangkah mendekati ranjang. Ia menyusupkan satu tangannya di bawah lutut Agni dan tangan lainnya di balik punggung wanita itu, lalu mengangkat tubuh lemas Agni ke dalam dekapannya.
Agni tersentak kaget. Secara refleks, kedua tangan mungilnya melingkar di leher Arion untuk mencari pegangan.
Aroma wangi woody khas milik Arion langsung menyeruak memenuhi indra penciuman Agni, sementara Arion sendiri bisa merasakan kehangatan dan kelembutan tubuh Agni yang begitu dekat di dadanya.
Arion membawa Agni masuk ke dalam kamar mandi yang luas dan bersih. Ia mendudukkan Agni di atas kursi mandi khusus yang terbuat dari bahan sintetis.
“Saya... saya bisa sendiri, Mas,” bisik Agni dengan wajah memerah padam. Ia tidak berani menatap mata Arion.
Arion mengambil handuk kecil dan menyalakannya kran air hangat di wastafel. Pria itu memeras handuk basah tersebut, lalu berlutut di samping kursi Agni.
“Diamlah,” kata Arion datar.
Arion mengulurkan tangannya, mengusap lembut pelipis dan dahi Agni yang basah oleh keringat. Gerakan Arion yang terkesan canggung namun telaten membuat d**a Agni berdesir hebat.
Arion melanjutkan usapan handuk hangat itu ke leher jenjang Agni. Saat jemari dan kain hangat itu menyusur turun ke area tulang selangka, napas Arion mendadak tertahan.
Baju tipis yang basah kuyup itu menempel ketat, mencetak jelas bentuk dan kemolekan tubuh Agni yang selama ini tersembunyi di balik pakaian longgar ART-nya. Kulit Agni tampak begitu halus, mulus, dan putih bersih di bawah pendar lampu kamar mandi yang temaram.
“Wanita ini,” desis Arion dalam hati.
Jantung Arion berdegup kencang secara tidak wajar. Sebagai pria dewasa, pemandangan di depannya benar-benar menguji pertahanan dirinya. Tatapan mata Arion yang biasanya tajam dan dingin perlahan menggelap, dipenuhi gejolak gairah.
Agni meremas ujung bajunya, menyadari arah tatapan Arion. Wajahnya membara panas.
“Mas Arion?” panggil Agni lirih, suaranya bergetar malu.
Suara halus Agni menyentak kesadaran Arion. Pria itu dengan cepat memalingkan wajahnya ke samping, menetralkan napasnya yang sempat memburu.
“Buka kancing bajumu,” perintah Arion dengan suara yang mendadak agak serak.
“A-Apa, Mas?” Agni membelalak kaget.
“Baju belakangmu basah kuyup,” ujar Arion mencoba terdengar seolah tak terpengaruh.
Arion meraih baju ganti bersih yang disiapkan perawat. “Ganti bajumu. Saya balik badan dan cuma bantu pegang bahumu supaya tidak jatuh.”
Agni menelan saliva dengan susah payah. Dengan jemari gemetar, ia memutar tubuhnya sedikit dan membelakangi Arion. Jemari Agni perlahan melepaskan kancing baju rumah sakitnya dari belakang.
Kain tipis itu merosot turun, mengekspos punggung mulus Agni yang tampak begitu indah tanpa cacat.
Arion yang bertugas memegangi bahu Agni dari belakang merasakan kulit halus itu di bawah telapak tangannya. Sentuhan fisik yang begitu minim itu justru mengalirkan desiran aneh yang membakar gairah di dalam darahnya.
Ibu jari Arion secara tak sengaja mengusap garis punggung Agni saat membantu menahan kainnya.
Agni menahan napasnya, tubuhnya merinding hebat. “M-Mas...”
“Cepat pakai baju bersihnya,” bisik Arion tepat di dekat telinga Agni.
Embusan napas hangat Arion menyapu kulit leher Agni, membuat gadis itu makin tak berdaya.
Arion sendiri harus mengepalkan tangan satunya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan dorongan liar di dalam dirinya untuk tidak merengkuh tubuh molek Agni dari belakang. Pria angkuh yang biasanya selalu rasional itu kini harus bertarung hebat melawan gairahnya sendiri.
Dengan susah payah dan napas yang tertahan, Agni akhirnya berhasil menyusupkan kedua tangannya ke dalam baju ganti yang baru.
Setelah baju bersih terpasang rapi, Arion langsung berdiri tegak. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir bayangan kemolekan tubuh Agni yang sempat terpampang jelas di depan matanya.
“Sudah?” tanya Arion, kembali memasang topeng dinginnya meski matanya masih menyiratkan sisa gairah yang belum padam.
“Sudah, Mas. Terima kasih,” jawab Agni pelan seraya menunduk dalam.
Tanpa berucap kata lagi, Arion kembali merengkuh tubuh Agni ke dalam dekapan hangatnya. Kali ini, sentuhan tubuh mereka terasa jauh lebih intens dan canggung dari sebelumnya. Arion bisa merasakan detak jantung Agni yang berpacu cepat di dadanya, sama cepatnya dengan detak jantungnya sendiri.
Arion membawa Agni keluar dari kamar mandi dan merebahkannya secara perlahan di atas ranjang. Ia menyelimuti tubuh Agni hingga sebatas d**a.
Arion berdiri di samping ranjang, menatap Agni dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Tidur,” kata Arion pendek. Suaranya masih terdengar agak serak.
“Mas Arion tidak apa-apa?” tanya Agni ragu, menyadari perubahan sikap dan suara Arion yang tak biasa.
“Aku tidak apa-apa,” sahut Arion ketus seraya membalikkan badan, menghindari tatapan mata Agni yang polos. “Jangan banyak bertanya dan cepat tidur.”
Arion berjalan cepat menuju sofa panjang. Ia mendudukkan dirinya di sana, bersandar dengan memejamkan mata rapat-rapat. Pria itu memijat pangkal hidungnya yang berdenyut.
Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, bayangan lekuk tubuh Agni, kulit mulusnya yang hangat, serta aroma tubuh gadis itu seolah enggan pergi dan terus membakar pikirannya.
Arion melirik ke arah ranjang. Agni tampak sudah memiringkan tubuhnya dan memejamkan mata, membelakangi Arion.
Arion merogoh ponselnya kembali, memandangi layar yang masih menampilkan catatan Pengadilan Agama tentang status pernikahan masa lalu Agni.
“Dia janda... tapi kenapa rasanya seperti ini?” gumam Arion dalam hati, diliputi rasa penasaran dan gairah yang kini mulai mengusik dinding es di hatinya.