Suasana kamar VIP kembali diselimuti keheningan yang mencekam. Hanya detak jarum jam dinding dan desis halus pendingin udara yang terdengar di ruangan itu.
Arion masih mematung di sisi ranjang. Pandangannya tidak lepas dari sosok Agni yang terbaring miring membelakanginya.
Bayangan garis punggung yang mulus dan kehangatan tubuh Agni saat berada di dekapannya tadi masih membakar ingatan Arion.
Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat, berusaha keras membendung gejolak asing yang mendadak menguasai dirinya.
“Dia cuma wanita yang dinikahi karena keadaan. Jangan bodoh, Arion,” batin Arion menegaskan pada dirinya sendiri.
Arion berbalik dan melangkah kaku menuju sofa panjang. Ia mendudukkan tubuhnya, lalu menyandarkan kepala pada sandaran sofa yang dingin.
“Mas Arion...” suara lirih Agni memecah kesunyian.
Arion tidak membuka matanya. “Kenapa belum tidur?”
“Mas Arion tidak pulang ke rumah saja?” tanya Agni ragu. “Kasihan Mas Arion harus tidur di sofa kaku itu.”
“Jangan mengaturku,” sahut Arion dingin tanpa mengubah posisinya. “Tidur saja. Jangan banyak bicara.”
Agni mengembuskan napas pelan. “Saya cuma tidak mau makin merepotkan Mas Arion.”
“Kalau tidak mau merepotkan, cepatlah sembuh,” potong Arion tegas. “Aku tidak punya waktu menunggumu di sini setiap hari.”
Agni menarik selimutnya sedikit lebih tinggi, menutup separuh wajahnya. “Baik, Mas. Maafkan saya.”
Arion perlahan membuka matanya. Ia menatap langit-langit kamar VIP yang remang-remang. Kalimat pasrah dari Agni selalu berhasil menyentil perasaan gengsinya, namun Arion memilih memendamnya rapat-rapat.
Pagi harinya, sinar matahari tipis menembus celah gorden kamar perawatan.
Agni terbangun saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Ia mendapati Arion sudah rapi dengan kemeja putih bersih, meski tanpa jas kerjanya.
“Mas Arion sudah bangun?” sapa Agni pelan seraya berusaha duduk tegak.
Arion tidak membalas sapaan itu. Pria itu berjalan mendekati meja, mengambil jam tangan mewahnya lalu mengenakannya dengan telaten.
“Garis memar di kakimu sudah memudar?” tanya Arion datar.
“Sudah agak mendingan, Mas. Tidak terasa seperti kemarin,” jawab Agni jujur.
Tok... Tok... Tok...
Pintu kamar mendadak diketuk dua kali dari luar.
Asisten pribadi Arion, melangkah masuk membawa sebuah tas dokumen dan kantong kertas berisi sarapan.
“Selamat pagi, Pak Arion. Selamat pagi, Mbak Agni,” sapa Ibram sopan seraya membungkuk kecil.
“Pagi, Mas Ibram,” balas Agni ramah.
Arion menerima tas dokumen dari Ibram. “Bagaimana kondisi di kantor?”
“Semua rapat pagi ini sudah saya jadwal ulang untuk siang nanti, Pak,” jelas Ibram. “Namun...”
Ibram menghentikan kalimatnya, melirik Agni sekilas dengan raut ragu.
“Bicara saja,” perintah Arion pendek.
“Bu Maya menanyakan keberadaan Anda lagi pagi ini, Pak,” bisik Ibram pelan. “Beliau marah besar karena Anda tidak pulang ke rumah semalaman.”
Mata Arion memicing tajam. “Biarkan saja. Katakan padanya aku ada urusan bisnis mendadak.”
“Baik, Pak Arion,” sahut Ibram mengangguk patuh.
Agni yang mendengar percakapan itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rasa bersalah kembali menggerogoti hatinya.
“Mas Arion... kalau Ibu makin marah, lebih baik saya pulang saja ke rumah,” bisik Agni cemas. “Saya bisa merawat kaki saya di kamar ART.”
Arion memalingkan wajahnya menatap Agni dengan pandangan menusuk.
“Kamu pikir Ibu akan membiarkanmu istirahat di kamar ART?” tanya Arion sinis.
Agni terdiam, tak mampu membalas.
“Tetap di sini sampai dokter mengizinkanmu pulang,” tekan Arion tak terbantah. “Aku tidak mau mengurus masalah baru kalau kondisimu makin parah di rumah.”
“Tapi, Mas—”
“Ibram, siapkan mobil. Kita ke kantor sekarang,” potong Arion tanpa memberi ruang debat.
“Baik, Pak,” jawab Ibram cepat seraya membuka pintu kamar.
Arion menyambar jas kerjanya di atas sofa, lalu melangkah menuju pintu. Namun, sebelum menyeberangi ambang pintu, langkahnya terhenti sejenak.
Tanpa menoleh ke arah Agni, Arion bersuara datar. “Makan sarapanmu. Jangan biarkan obat itu diminum dengan perut kosong.”
Agni terpaku menatap punggung tegap Arion yang perlahan menghilang di balik pintu yang tertutup.
Siang harinya di kediaman mewah keluarga Surya, suasana terasa sangat tegang.
Maya berdiri di ruang tamu dengan napas memburu. Di hadapannya, Bi Sumi menunduk ketakutan seraya memegang kain lap yang gemetar.
“Jadi Arion beneran tidak pulang dari kemarin?!” bentak Maya dengan suara melengking.
“M-Mas Arion bilang ada urusan pekerjaan, Bu,” jawab Bi Sumi terbata-bata.
“Bohong!” teriak Maya seraya menggebrak meja kayu di dekatnya.
BRAK!
“Anak itu pasti menunggui perempuan kampung itu di rumah sakit!”
“Bu, kasihan Neng Agni kakinya sedang sakit parah...” Bi Sumi memberanikan diri membela.
“Diam kamu, Bi Sumi!” potong Maya galak. “Kamu itu dibayar oleh keluarga ini untuk kerja, bukan untuk membela pembantu gatal itu!”
Maya berjalan bolak-balik dengan langkah gusar. Wajahnya yang dipoles riasan mahal tampak mengeras penuh rasa dendam.
“Perempuan itu benar-benar sudah pelet anakku!” gumam Maya dengan mata melotot. “Baru sehari menikah saja sudah bikin Arion berani membentak ibunya sendiri!”
Lantas Maya melangkah cepat ke arah meja telepon rumah, meraih gagang telepon lalu menekan tombol sambungan ke pengacara pribadinya.
“Halo, Pak Gunawan!” seru Maya tanpa basa-basi begitu telepon terhubung. “Saya mau kamu urus surat perjanjian pra-nikah dan pembagian harta untuk Arion sekarang juga!”
Dari seberang telepon, suara pengacara terdengar ragu. “Tapi Bu Maya, bukankah pernikahan Pak Arion dan Mbak Agni sudah sah secara hukum kemarin?”
“Saya tidak peduli!” bentak Maya dengan kejam.
“Saya mau kamu buatkan draf surat yang menyatakan perempuan gatal itu tidak berhak dapat satu rupiah pun dari harta keluarga Surya! Biar dia tahu diri dan cepat angkat kaki dari rumah ini!”