“Saya tidak peduli!” bentak Bu Maya kejam ke gagang telepon.
“Saya mau kamu buatkan draf surat yang menyatakan perempuan kampung yang gatal itu tidak berhak dapat satu rupiah pun dari harta keluarga Surya!"
Bu Maya menarik napasnya kasar. "Saya ingin kamu buatkan drafnya sekarang juga, Gunawan!”
Pengacara Gunawan terdiam sejenak di seberang telepon. “Baik, Bu Maya. Saya akan siapkan drafnya, tapi surat itu tetap butuh tanda tangan dari Pak Arion dan Mbak Agni agar sah.”
“Urusan itu biar saya yang paksa mereka!” seru Bu Maya seraya menutup telepon secara sepihak.
Bu Maya melempar gagang telepon ke tempatnya dengan napas memburu. Matanya menyapu ruang tamu yang megah itu dengan penuh rasa murka.
Bi Sumi yang berdiri di dekat pintu dapur hanya bisa mengurut d**a, mendoakan keselamatan Agni.
***
Sementara itu, di kamar VIP rumah sakit, suasana begitu tenang.
Agni baru saja selesai menyantap bubur halus yang dibawakan oleh perawat. Rasa hangat makanan itu sedikit mengembalikan tenaganya.
Seorang perawat muda masuk membawa nampan berisi obat-obatan dan segelas air putih.
“Mbak Agni, waktunya minum obat penurun panas dan pereda nyeri ya,” sapa perawat itu ramah.
“Terima kasih, Suster,” sahut Agni lembut seraya menerima obat tersebut.
Agni meminum obatnya satu per satu. Tenggorokannya yang tadi kering kini terasa jauh lebih nyaman.
“Mbak Agni beruntung sekali punya suami seperti Pak Arion,” puji perawat itu seraya merapikan nampan.
Agni tersentak kaget. Wajahnya memerah tipis. “Eh? Kenapa begitu, Suster?”
“Kemarin malam Pak Arion menunggui Mbak di sini semalaman,” jelas perawat itu tersenyum.
“Bahkan waktu Mbak sesak napas, beliau kelihatan sangat panik.”
Mendengar itu membuat Agni menunduk pelan, meremas selimutnya.
"Mas Arion panik?" batin Agni tak percaya.
Di mata Agni, Arion adalah pria angkuh yang bertindak semaunya karena tanggung jawab dan gengsi menjaga nama baik keluarga.
“Beliau Cuma kasihan pada saya, Suster,” bisik Agni pelan.
“Kasihan atau tidak, perhatiannya nyata kok, Mbak,” sahut perawat itu ramah sebelum pamit keluar dari kamar.
Agni terdiam menatap pintu yang tertutup. Pengakuan perawat tadi menghangatkan sudut hatinya yang dingin, meski ia tahu batas di antara mereka sangatlah tebal.
***
Di gedung pencakar langit pusat kota, Arion sedang duduk di balik meja kerja mewahnya.
Beberapa berkas laporan keuangan menumpuk di hadapannya, namun pikiran Arion tidak sepenuhnya fokus pada angka-angka tersebut.
Bayangan saat ia memegang bahu Agni di kamar mandi rumah sakit tadi malam terus terbayang. Rasa hangat kulit mulus Agni seolah masih tertinggal di ujung jemarinya.
Arion mengepalkan tangannya di atas meja, mengusir bayangan itu dengan gusar.
"Pikirkan pekerjaanmu, Arion," batin Arion, menasehati diri sendiri.
Pintu ruang kerjanya diketuk pelan. Ibram melangkah masuk dengan wajah cemas.
“Pak Arion, maaf mengganggu,” kata Ibram sopan.
Arion menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran. “Ada apa, Ibram?”
“Pengacara keluarga Anda, Pak Gunawan, baru saja menghubungi saya,” lapor Ibram ragu.
Alis tebal Arion bertaut kaku. “Pak Gunawan? Ada masalah apa memangnya?”
“Bu Maya meminta beliau membuat draf surat perjanjian lepas harta untuk Mbak Agni, Pak,” bisik Ibram hati-hati.
Arion tertawa sinis. “Ibu benar-benar tidak ada kapoknya.”
“Apakah saya perlu membatalkan draf tersebut, Pak?” tanya Ibram menantikan perintah.
Arion bergeming sejenak. Manik matanya menatap tajam ke arah jendela kaca yang menampilkan pemandangan kota.
“Biarkan Pak Gunawan membuatnya,” kata Arion dingin.
Mendengar itu membuat Ibram terkejut. “Bapak setuju dengan surat itu?”
“Aku tidak peduli soal harta itu,” jawab Arion datar. “Tapi aku ingin lihat seberapa jauh Ibu mau bermain-main dengan masalah ini.”
“Baik, Pak Arion. Saya mengerti,” sahut Ibram mengangguk.
“Bagaimana kondisi Agni di rumah sakit?” tanya Arion mendadak, pura-pura kasual.
Ibram tersenyum tipis. “Perawat melaporkan demam Mbak Agni sudah turun total, Pak. Pergelangan kakinya juga sudah bisa digerakkan pelan.”
Arion mengangguk singkat tanpa ekspresi. “Baguslah. Biar dia tidak menyusahkan lagi.”
***
Malam harinya, Arion kembali ke rumah sakit setelah menyelesaikan semua urusan kantornya.
Ia membuka pintu kamar VIP dengan pelan, mendapati lampu kamar sudah diturunkan intensitasnya. Ternyata Agni tampak sedang berbaring miring, memandangi jendela luar.
“Kenapa belum tidur?” tegur Arion pendek seraya melepaskan jas kerjanya.
Agni terperanjat kaget, langsung berbalik menatap Arion.
“Mas Arion... balik lagi?” tanya Agni polos.
“Ini kamar yang kubayar,” sahut Arion ketus seraya menaruh jasnya di punggung sofa. “Tentu saja aku ke sini.”
Agni menundukkan kepala. “Saya pikir Mas Arion langsung pulang ke rumah.”
Arion berjalan mendekati tepi ranjang, berdiri menjulang menatap Agni.
“Bagaimana kakimu?” tanya Arion datar.
“Sudah tidak terlalu sakit, Mas. Dokter bilang besok atau lusa mungkin sudah boleh pulang,” jawab Agni jujur.
Arion menatap wajah Agni yang kini sudah mulai kembali berwarna. Rona merah tipis di pipi gadis itu membuatnya tampak manis.
“Baguslah,” kata Arion singkat.
Tiba-tiba, ponsel pribadi milik Agni yang ada di atas meja berdering nyaring.
Agni refleks meraih ponsel murahnya. Namun saat melihat nama pemanggil yang tertera di layar, wajah Agni mendadak pucat pasi.
Nama yang tertera di sana adalah nomor tidak dikenal, namun deretan angkanya sangat dihafal oleh Agni.
Arion menyadari perubahan raut wajah Agni yang mendadak ketakutan.
“Siapa yang menelpon malam-malam begini?” tanya Arion memicingkan matanya curiga.
“S-saya tidak tahu, Mas... Nomor baru,” jawab Agni terbata-bata dengan jemari yang gemetar hebat.
“Angkat,” perintah Arion dingin dan penuh penekanan. “Atau biar aku yang angkat.”