Tangan Agni makin gemetar hebat. Ia menatap layar ponsel murahnya yang terus bergetar nyaring, menolak untuk menekan tombol hijau.
Arion melangkah maju satu langkah. Matanya menatap Agni dengan kilatan penuh selidik.
“Kenapa tidak diangkat?” tegur Arion pendek. Suaranya rendah dan menekan.
“I-Ini nomor baru, Mas. M-mungkin salah sambung,” dalih Agni serba salah.
“Kalau salah sambung, matikan. Jangan dibiarkan berdering terus,” kata Arion dingin.
Agni menghela napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya yang berpacu kencang. Dengan jemari gemetar, ia akhirnya menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
“Ha-Halo?” bisik Agni pelan.
Dari balik telepon, suara wanita paruh baya yang melengking dengan nada ketus langsung menyambar tanpa basa-basi.
“Heh, Agni! Akhirnya diangkat juga teleponku! Kamu pikir kamu siapa, sampai tidak mau mengangkat telepon dari Bibimu sendiri?!”
Agni memejamkan matanya rapat-rapat. Suara Bibi Tina selaku adik dari almarhum ayahnya yang menjaga ibunya di kampung langsung membuat dadanya sesak.
“Bibi Tina...” cicit Agni lirih. “Ada apa, Bi? Ibu baik-baik saja, kan?”
Arion yang berdiri tepat di samping ranjang menyilangkan kedua tangannya di d**a. Alis tebalnya bertaut kaku saat mendengar nama yang diucapkan Agni.
“Ibumu baik-baik saja gundulmu?!” bentak Bibi Tina kasar di seberang telepon. “Uang perawatan ibumu untuk minggu ini mana?! Rumah sakit kampung sudah menagih!”
“T-tapi Bi... kan seluruh biaya pengobatan Ibu sudah ditransfer lunas kemarin,” sahut Agni terbata-bata.
“Halah! Itu kan buat rumah sakit! Buat makan Bibi yang menjaga ibumu di sini mana?! Biaya transportasi sama beli obat tambahan juga butuh uang!” kilah Bibi Tina dengan nada tinggi.
“Tapi, Bi...”
“Jangan pelit kamu ya! Minta lagi sama suamimu yang kaya itu!”
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Agni. Ia merasa sangat malu dan tidak enak hati pada Arion.
“Bibi... jangan minta-minta lagi. Saya tidak enak sama Mas Arion,” bisik Agni menahan tangis.
“Enak saja bicara! Kalau besok kamu tidak transfer dua juta, Bibi tinggalkan ibumu sendirian di rumah sakit! Biar kamu tahu rasa!” teriak Bibi Tina kejam.
TUT... TUT... TUT...
Sambungan telepon diputus secara sepihak dari bibinya itu.
Agni perlahan menurunkan ponselnya dari telinga. Tubuhnya gemetar hebat, dan tangis pelannya akhirnya pecah di dalam kamar perawatan yang sunyi.
Arion menatap Agni dengan pandangan datar. Suara lengkingan telepon tadi cukup keras hingga Arion bisa mendengar setiap kata ancaman wanita itu.
“Dia bibimu?” tanya Arion dingin.
Agni menyapu air matanya dengan ujung lengan bajunya. “I-iya, Mas.”
“Dia sedang memerasmu?”
“M-maafkan keluarga saya, Mas Arion... Saya tidak tahu Bibi akan meminta uang,” bisik Agni dengan bibir gemetar.
“Bukannya seluruh biaya rumah sakit ibumu sudah kutransfer lunas waktu kita nikah?” potong Arion ketus.
“Sudah, Mas. Biaya rumah sakit memang sudah selesai. Tapi Bibi Tina minta uang pegangan pribadi,” terang Agni jujur sambil menunduk dalam.
Arion terkekeh sinis, menyandarkan tubuhnya di dinding dekat ranjang.
“Kamu terlalu lemah,” kata Arion tanpa tedeng aling-aling. “Wanita itu sengaja memanfaatkannya karena tahu kamu mudah ditakut-takuti.”
“Saya cuma tidak mau Ibu ditelantarkan di kampung, Mas.”
Arion menatap kepala Agni yang tertunduk lelah. Rasa jengkel melihat kepolosan Agni bercampur dengan gengsi tinggi Arion yang tidak suka ada orang luar yang mengacak-acak urusannya.
Lantas Arion merogoh ponsel mewahnya dari dalam saku celana, lalu mengetikkan sebuah pesan singkat dengan cepat.
“Aku sudah suruh Ibram mengirim orang kepercayaan untuk mengurus kebutuhan ibumu secara langsung di kampung,” kata Arion datar seraya mengantongi ponselnya kembali.
“Bibimu tidak akan bisa menyentuh uang itu lagi.”
Agni mendongak kaget, menatap Arion dengan mata berair. “Mas Arion... kenapa Mas mau membantu lagi?”
Arion memalingkan wajahnya, memasang kembali topeng dinginnya.
“Aku cuma tidak mau ponselmu berdering terus dan mengganggu waktuku di sini,” jawab Arion ketus dan penuh gengsi. “Tidurlah.”
Agni menelan saliva, mengangguk pelan. “Terima kasih banyak, Mas Arion.”
***
Keesokan harinya, Dokter Hendra akhirnya menyatakan kondisi kaki dan demam Agni sudah membaik, sehingga Agni diizinkan pulang ke rumah.
Siang hari, mobil mewah Arion berhenti di halaman depan kediaman keluarga Surya.
Arion turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Agni. Mereka melangkah masuk melewati pintu utama. Agni berjalan perlahan dengan sedikit tertatih menumpu pada lengan Arion.
Namun, baru saja mereka menginjakkan kaki di ruang tamu utama, suasana rumah mendadak sangat tegang dan mencekam.
Maya sudah berdiri di tengah ruangan bersama seorang pria berjas hitam yang membawa sebuah map dokumen tebal.
“Bagus ya, akhirnya pulang juga!” puji Bu Maya dengan senyum sinis yang menyeramkan.
Arion menghentikan langkahnya, menatap ibunya datar. “Ada apa ini, Bu?”
Bu Maya memberi isyarat pada pria berjas di sampingnya. Pria itu menyodorkan selembar dokumen resmi dan sebuah pulpen ke arah Agni.
“Tanda tangani surat ini sekarang, Agni!” perintah Bu Maya sadis dan menekan.
Agni menatap dokumen itu dengan bingung. “S-surat apa ini, Bu?”
Bu Maya tersenyum kejam. “Itu Surat Perjanjian Pelepasan Harta! Surat yang menyatakan kamu tidak berhak mendapatkan satu rupiah pun dari kekayaan Arion atau keluarga Surya jika kamu diceraikan!”
Agni terpaku kaku. Matanya beralih menatap Arion yang berdiri di sampingnya dengan wajah membeku tanpa kata.