Teror Mawar Merah.

1024 Words
​Lantai lima Rumah Sakit Medika Internasional biasanya adalah zona tenang yang didominasi oleh suara ritmis mesin EKG dan langkah kaki perawat yang terburu namun terukur. Namun, bagi Arini, ketenangan itu hanyalah fatamorgana yang menyembunyikan badai di dalam dadanya. Pagi itu, ia duduk di balik meja konsulnya dengan punggung tegak kaku, seolah-olah jika ia melonggarkan posturnya sedikit saja, seluruh pertahanannya akan runtuh berkeping-keping. Jas putih yang ia kenakan terasa lebih berat dari biasanya, seolah membawa sisa-sisa dosa dari Mansion Adiguna yang masih menempel di pori-pori kulitnya. ​Ponselnya yang diletakkan telungkup di atas meja kayu ek itu terus-menerus bergetar. Getaran itu pendek, tajam, dan gigih—sebuah manifestasi digital dari sosok pria yang mengirimnya. Arini tidak perlu melihat layar untuk mengetahui siapa yang menghubunginya. Nama "Elvano Adiguna" seolah sudah terpahat di balik kelopak matanya setiap kali ia berkedip. Satu panggilan, dua panggilan, hingga panggilan kesepuluh diabaikan dengan jemari yang mencengkeram pulpen hingga buku-bukunya memutih. Arini mencoba fokus pada rekam medis pasien di hadapannya, seorang pria tua dengan aritmia ringan, namun barisan kata-kata medis itu hanya tampak seperti coretan tanpa makna. ​"Dokter Arini? Anda baik-baik saja?" suara Maya memecah keheningan ruangan. ​Arini tersentak, sedikit terlalu keras untuk ukuran seorang dokter kardiologi yang biasanya sangat tenang. "Ya, Suster. Saya hanya ... sedikit kurang tidur karena badai semalam. Ada apa?" ​"Pasien berikutnya sudah siap di ruang pemeriksaan, Dok. Dan ... anu, ada kurir yang terus-menerus menanyakan keberadaan Anda di lobi depan," ucap Maya dengan nada ragu, matanya melirik pada ponsel Arini yang kembali bergetar hebat. ​"Katakan saya sedang dalam tindakan medis. Saya tidak bisa diganggu oleh siapa pun," sahut Arini cepat, nada bicaranya dingin dan final. ​Ia mematikan ponselnya sepenuhnya. Kegelapan pada layar ponsel itu memberikan rasa aman yang semu. Arini mengira dengan memutus akses komunikasi, ia bisa menghapus keberadaan Elvano dari dunianya. Ia salah besar. Elvano bukanlah pria yang akan mundur hanya karena panggilannya diabaikan. Pria itu adalah tipe predator yang akan mengubah strategi begitu mangsanya mencoba bersembunyi. ​Satu jam berlalu dalam ketegangan yang menyesakkan. Arini baru saja selesai melakukan prosedur echocardiography pada pasien terakhirnya ketika ia mencium aroma yang sangat kuat dan menusuk indra penciumannya. Itu bukan aroma disinfektan atau obat-obatan. Itu adalah aroma mawar merah yang sangat segar, begitu intens hingga memenuhi koridor poli jantung yang biasanya steril. Arini mengerutkan kening, perasaannya mulai tidak enak. ​Begitu ia melangkah keluar dari ruang pemeriksaan menuju meja perawat, ia membeku di tempat. Pusat perhatian seluruh staf rumah sakit dan pasien yang sedang mengantre tertuju pada satu titik. Di depan meja resepsionis poli jantung, berdiri sebuah rangkaian bunga mawar merah yang luar biasa besar—mungkin terdiri dari ratusan tangkai—yang disusun sedemikian rupa hingga menyerupai menara merah yang membara. Tingginya hampir mencapai bahu orang dewasa, dan mawar-mawar itu adalah kualitas terbaik dengan kelopak yang masih berembun, memancarkan kemewahan yang sangat kontras dengan lingkungan rumah sakit yang fungsional. ​"Dokter Arini!" Maya menghampirinya dengan wajah yang antara takjub dan bingung. "Ini baru saja tiba. Pengirimnya bersikeras agar bunga ini diletakkan di sini, tepat di depan poli Anda, agar Anda bisa langsung melihatnya." ​Wajah Arini seketika memucat, lalu berubah menjadi merah padam karena malu dan marah yang meledak-ledak. Ini adalah penghinaan secara halus. Elvano sedang memamerkan kekuasaannya, menandai wilayahnya di depan umum, dan membuat Arini menjadi bahan gunjingan seluruh rumah sakit. Ia bisa mendengar bisik-bisik dari para perawat di kejauhan, bahkan beberapa pasien terlihat mengambil foto rangkaian bunga raksasa itu. ​"Siapa pengirimnya?" tanya Arini, suaranya bergetar menahan amarah. ​"Ada kartunya di sana, Dok," Maya menunjuk ke arah sebuah amplop hitam kecil yang terselip di antara ribuan kelopak mawar itu. ​Arini melangkah maju, tangannya gemetar saat menarik amplop itu. Ia tidak peduli lagi dengan tatapan orang-orang. Ia ingin segera menghancurkan apa pun yang dikirim oleh pria gila itu. Dengan gerakan kasar, ia merobek amplop hitam tersebut dan mengeluarkan secarik kartu berbahan linen mahal di dalamnya. Hanya ada satu kalimat pendek yang ditulis dengan tinta emas, namun maknanya sanggup membuat lutut Arini lemas sekejap. ​“Kemeja putihmu masih ada di ranjangku, Arini. Jangan biarkan mawar ini layu sebelum kamu kembali untuk mengambil sisa dirimu yang tertinggal.” — E.A. ​Dunia Arini seolah berputar. Kalimat itu sangat ambigu, namun bagi siapa pun yang memiliki pikiran liar, itu adalah pengakuan tentang apa yang terjadi semalam. Elvano dengan sengaja menggunakan diksi yang bisa memicu fitnah, menyeret nama baik Arini ke dalam lumpur gairah yang pria itu ciptakan. "Kemeja putih", "ranjangku", "sisa dirimu yang tertinggal"—kata-kata itu adalah peluru yang ditembakkan tepat ke jantung reputasi profesional Arini. ​"Singkirkan ini sekarang juga!" perintah Arini, suaranya meninggi, membuat beberapa orang di lobi tersentak. ​"T-tapi Dok, ini sangat cantik dan mahal—" ​"Saya tidak peduli! Buang ke tempat sampah atau berikan pada siapa pun yang mau! Saya tidak ingin melihat satu kelopak pun dari bunga ini di depan poli saya!" Arini berteriak, kehilangan kendali yang selama ini ia jaga dengan susah payah. ​Ia berbalik dan masuk ke dalam ruangannya, membanting pintu dengan keras hingga suaranya bergema di seluruh koridor. Ia menyandarkan punggungnya di pintu, napasnya tersengal-sengal. Air mata kemarahan mulai menggenang di matanya. Elvano benar-benar sudah gila. Pria itu tidak hanya ingin memilikinya secara fisik, tapi dia ingin menghancurkan dunianya, mengisolasinya dari lingkungan profesionalnya, dan membuatnya tidak punya pilihan selain kembali padanya. ​Arini meremas kartu ucapan itu hingga hancur di tangannya. Ia merasa sangat berdosa. Berdosa karena telah membiarkan pria itu menyentuhnya, berdosa karena sempat menikmati sentuhan itu, dan kini ia harus menanggung konsekuensi dari kelemahannya. Bayangan sprei putih yang ternoda darah kesuciannya semalam terus berkelebat di benaknya, membuat rasa mual naik ke tenggorokan. ​"Kamu pikir kamu bisa membeliku dengan mawar ini, Elvano?" bisik Arini pada kegelapan ruangannya. "Kamu salah besar. Aku lebih baik hancur daripada menjadi tawanan dalam sangkar emasmu." ​Namun, di dalam hatinya, Arini tahu bahwa ini hanyalah awal dari teror yang sesungguhnya. Mawar itu bukan sekadar hadiah, itu adalah pesan deklarasi perang. Elvano murka karena Arini melarikan diri, dan pria itu sedang menunjukkan bahwa tidak ada tempat bersembunyi yang cukup aman bagi siapa pun yang sudah ia klaim sebagai miliknya. ​ ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD