Sisa-sisa badai semalam masih meninggalkan jejak berupa rintik gerimis yang membasuh kaca jendela, namun suasana di dalam kamar tamu Mansion Adiguna terasa jauh lebih mencekam bagi Arini. Saat kesadarannya perlahan terkumpul, hal pertama yang ia rasakan adalah beban berat yang melingkar posesif di pinggangnya. Lengan kokoh Elvano masih di sana, mengunci tubuh mungil Arini dalam dekapan yang seolah tidak membiarkan oksigen sekalipun lewat di antara mereka. Di bawah selimut sutra yang sama, Arini bisa merasakan panas tubuh pria itu yang masih merambat ke kulitnya yang polos.
Arini menoleh perlahan, mendapati wajah Elvano yang tampak sangat tenang dalam tidurnya. Tidak ada lagi gurat otoritas atau tatapan predator yang mengintimidasi; yang ada hanyalah seorang pria yang tampak puas setelah mengklaim apa yang diinginkannya. Namun, pandangan Arini seketika jatuh pada noda merah yang mengering di atas sprei putih sutra di bawah mereka. Jantungnya mencelos. Rasa perih yang tersisa di pangkal pahanya seolah menjadi saksi bisu atas penyerahan diri yang paling fatal dalam hidupnya. Ia telah memberikan segalanya—kehormatan yang ia jaga dengan taruhan nyawa selama hampir tiga puluh tahun—kepada pria yang baru saja mengenalnya.
Rasa berdosa menghantamnya seperti gelombang tsunami. Bagaimana bisa seorang dokter yang dikenal dingin dan rasional sepertinya, luruh hanya dalam satu malam karena tarikan magnetis yang primitif? Arini menggigit bibir bawahnya, menahan isak tangis yang nyaris pecah. Ia tahu ia harus pergi. Ia tidak akan sanggup menatap mata elang itu saat matahari benar-benar terbit. Dengan gerakan yang sangat lambat dan hati-hati, Arini mulai menggeser lengan besar Elvano dari pinggangnya. Setiap inci pergerakan terasa seperti perjudian nyawa. Ia menahan napas saat Elvano melenguh kecil dalam tidurnya, namun untungnya, pria itu hanya mengubah posisi kepala dan kembali terlelap karena kelelahan setelah pergulatan intens semalam.
Arini segera turun dari ranjang, kakinya terasa gemetar saat menyentuh lantai marmer yang dingin. Ia memunguti pakaian kerjanya yang terserak di lantai—kemeja dan celana bahan yang kini tampak kusut, sekusut perasaannya. Ia tidak lagi melirik ke arah kemeja putih milik Elvano yang tadi malam sempat membungkus tubuhnya; kain itu kini terasa seperti simbol pengkhianatan terhadap prinsip hidupnya sendiri. Setelah berpakaian dengan cepat dan seadanya, Arini menyambar tas medisnya. Ia menyempatkan diri mencuci wajah di wastafel, mencoba menghapus rona kemerahan yang masih tertinggal di pipi dan lehernya, meski ia tahu ia tidak akan pernah bisa menghapus memori tentang sentuhan bibir Elvano di sana.
Mansion itu masih sangat sunyi saat Arini mengendap keluar dari kamar tamu. Cahaya fajar yang kelabu mulai merayapi koridor, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang mengintimidasi. Ia menuruni tangga melingkar dengan langkah seringan mungkin, jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit di d**a. Namun, saat ia sampai di lobi bawah, langkahnya terhenti. Seorang pelayan wanita tua yang sedang memegang kemoceng berdiri di dekat pintu masuk ruang makan. Mata mereka bertemu sejenak. Pelayan itu tidak bertanya, namun tatapannya yang penuh arti seolah sudah memahami apa yang terjadi di lantai atas semalam. Arini hanya menundukkan kepala, mempercepat langkahnya melewati pelayan itu tanpa sepatah kata pun, dan langsung merangsek keluar menuju pintu utama yang untungnya sudah tidak terkunci.
Udara pagi yang dingin dan lembap menyambutnya di teras. Arini berlari menuju mobil city car putihnya yang terparkir menyendiri di antara deretan mobil mewah keluarga Adiguna. Tangannya gemetar saat memasukkan kunci ke lubang starter. Begitu mesin menyala, ia langsung memacu mobilnya keluar dari gerbang besi tinggi yang terbuka secara otomatis. Ia mengemudi dengan sisa-sisa tenaga yang ada, menembus jalanan Jakarta yang masih sepi namun sudah mulai basah oleh gerimis subuh. Pikirannya kalut. Ia merasa seperti seorang kriminal yang baru saja melarikan diri dari tempat kejadian perkara.
Sesampainya di apartemennya yang sepi, Arini langsung mengunci pintu rapat-rapat dan merosot ke lantai di balik pintu. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah. Ia menangis tersedu-sedu, meratapi hilangnya benteng pertahanan yang ia banggakan selama ini. Ia merasa sangat kotor, merasa telah mengkhianati martabatnya sebagai seorang wanita yang berprinsip. Namun, di tengah isak tangis dan penyesalannya, ada sebuah sudut kecil di hatinya yang berdenyut aneh. Sebuah getaran yang membuatnya merasa lebih hidup daripada biasanya. Ia benci menyadarinya, namun sentuhan Elvano semalam telah membangkitkan sesuatu yang selama ini mati di dalam dirinya.
Arini segera bangkit dan menuju kamar mandi. Ia menyalakan shower dengan air dingin maksimal, berharap rasa dingin yang menusuk tulang itu bisa membekukan kembali hatinya yang mulai mencair. Di bawah kucuran air, ia menggosok kulitnya dengan kasar, mencoba menghapus aroma sandalwood yang seolah telah menyerap hingga ke pori-porinya. Namun, setiap kali ia memejamkan mata, ia kembali merasakan bagaimana bibir Elvano menjelajahi setiap inci tubuhnya, bagaimana pria itu membisikkan kata-kata posesif yang membuatnya tidak berdaya.
"b******k ... Elvano, kamu benar-benar b******k," umpatnya lirih di tengah suara gemericik air.
Setelah mandi, Arini membungkus tubuhnya dengan handuk dan duduk di tepi tempat tidurnya sendiri. Ia menatap pantulan dirinya di cermin rias. Matanya sembab, namun ada cahaya lain di sana—sebuah binar yang tidak pernah ada sebelumnya. Ia meraba bibirnya yang terasa sedikit bengkak, dan secara tidak sadar, sebuah senyum tipis yang getir muncul di wajahnya. Ia merasa berdosa, sangat berdosa, namun hati kecilnya berbisik bahwa malam tadi adalah malam di mana ia akhirnya merasa menjadi seorang wanita seutuhnya. Ia merasa bingung dengan dualitas perasaannya; antara ingin membenci Elvano sedalam mungkin atau ingin kembali ke dalam pelukan posesif pria itu.
Namun, Arini segera menggelengkan kepala dengan kuat. Tidak. Ia tidak boleh terjebak lebih jauh. Elvano adalah pria yang berbahaya, seorang predator yang hanya menginginkan penaklukan. Bagi Elvano, ia mungkin hanyalah sebuah trofi yang akhirnya berhasil didapatkan. Arini tidak ingin menjadi sekadar koleksi. Ia harus kembali menjadi Arini yang dikenal sebagai "Ice Queen". Ia harus menganggap malam tadi sebagai sebuah kesalahan fatal yang dipicu oleh badai dan hormon, sebuah anomali yang tidak boleh terulang lagi.
Ia mulai bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Ia mengenakan setelan kerjanya yang paling formal, memulas wajahnya dengan makeup yang lebih tebal untuk menyembunyikan sisa-sisa tangisnya, dan memasang kacamata bingkai tipisnya sebagai tameng terakhir. Ia harus terlihat profesional. Ia harus menunjukkan pada dunia—dan pada Elvano—bahwa ia masih memegang kendali atas hidupnya. Meskipun di balik jas putih yang bersih itu, tubuhnya masih menyimpan memori tentang bagaimana rasanya hancur dalam gairah di tangan seorang pria yang kini mungkin sedang terbangun dan menyadari bahwa mangsanya telah kabur dari sarangnya.
Pelarian pagi ini hanyalah awal dari perang batin yang jauh lebih besar bagi Arini. Ia tahu Elvano tidak akan tinggal diam. Pria itu sudah mendapatkan "haknya", dan Arini sangat mengenal tipe pria seperti Elvano; sekali mereka menandai wilayahnya, mereka tidak akan pernah membiarkan siapapun pergi begitu saja. Sambil menarik napas panjang dan menatap bayangannya untuk terakhir kali, Arini melangkah keluar apartemen dengan satu tekad: ia akan mengabaikan pria itu, mengubur malam pertama yang penuh gairah itu sedalam mungkin, dan kembali menjadi dokter yang hanya peduli pada detak jantung pasiennya, bukan detak jantungnya sendiri yang kini tak beraturan setiap kali nama Elvano terlintas di benaknya.