Bab 8. Mengaku

1053 Words
"Argh, kepala gue!" Vivian terbangun dengan kondisi kepala yang hampir pecah. Terasa begitu berdenyut seperti baru saja dihantam oleh palu besar. Belum lagi bias cahaya yang masuk dari celah jendela membuat wanita itu semakin mengumpat kasar akan paginya yang begitu buruk. “Di! Ambilin gue obat pusing!” teriak Vivian tanpa membuka mata. Dia meremas rambutnya, berharap jika dengan hal itu bisa mengurangi rasa sakit. Akan tetapi, tidak berefek apa pun. “Sial! Kayaknya gue terlalu banyak minum semalam,” keluh bibirnya yang berwarna pucat. Dilihat dari gelagatnya, Vivian seperti lupa akan kejadian tadi malam. Nyatanya, dia bersikap biasa saja. “Di!” Dina!” Lagi, bibir itu kembali berseru keras memanggil asisten rumah tangga. Tiba-tiba bunyi pintu dibuka terdengar, dibarengi dengan langkah seorang pria tampan yang membawa satu nampan berisi makanan dan obat, serta segelas air putih di tangan. "Kamu sudah bangun?" tanyanya, lalu duduk di tepi ranjang. Melihat dengan senyum kecil di bibir. Vivian langsung terdiam. Tangan yang tadi digunakan untuk meremas rambutnya sendiri, tiba-tiba berhenti. Dia membuka mata, melihat dengan kernyitan di dahi kala menyadari jika orang yang baru masuk ke kamarnya bukanlah asisten rumah mereka. "Wait! Putih?" Wanita itu terlihat begitu terkejut ketika melihat sendiri warna selimut yang kini tengah menutupi bagian bawahnya. "Bukannya bedcover gue itu warna merah? Dan sejak kapan bau ruangan gue jadi kek laki begini?" Horor. Vivian langsung mencengkram selimut yang menutupi bagian kakinya. Dia merasa jika dirinya berada di tempat yang salah. Namun, wanita yang penampilan hari ini cukup mengenaskan tersebut juga takut jika tebakannya benar. “Jangan bilang,” gumamnya mulai ketakutan. Dia tak berani melihat ke arah suara tadi berasal. "Bangunlah! Aku sudah menyiapkan bubur, serta obat pengar di atas meja." Suara berat itu kembali terdengar dan jelas ini bukanlah mimpi, atau hanya ilusi. Vivian segera menurunkan tangannya yang sedari tadi berada di depan wajah. "Maaf, aku gak bisa nemenin kamu lebih lama. Ada meeting dengan klien jam sembilan nanti." Vivian menepis tangan pria asing itu yang dengan berani mengusap rambutnya. Namun, iris itu langsung membelalak saat melihat proporsi wajah dan tubuh pria di depannya mirip artis yang selama ini menjadi idola kaum hawa. Tanpa sadar, emosi yang tadi sempat menguasai diri langsung lebur bak lilin yang meleleh terkena panas. Mulut Vivian juga membuka setengah dengan mata membola. Lengan itu langsung terangkat ke atas, menunjuk tepat ke arah pria di depannya. "L-lo siapa?" tanya Vivian refleks. Dia segera memberi jarak agar pria asing itu tidak bisa mendengar suara detak jantungnya yang tiba-tiba bertalu begitu cepat. Pria berahang tegas itu tersenyum. Tangannya yang tadi sempat ditepis oleh Vivian kini kembali dimasukkan ke dalam saku celana, satunya lagi diletakkan di atas ranjang. Iris gelap tersebut memandang wanita di depannya penuh perhatian. "Sepertinya Nona Via ini sedikit pelupa," kikiknya geli. Vivian langsung mendongak. Melihat dengan jelas bagaimana lesung pipi itu menyembul dalam di wajahnya. "Apa lelaki boleh semanis ini ketika tertawa?" "Eoh, apa yang kamu katakan?" Arsyad segera mendekat, tetapi Vivian justru semakin mundur hingga tanpa sadar tubuhnya kini sudah berada di tepi ranjang. Mundur sedikit lagi dipastikan jika tubuhnya akan jatuh ke lantai. “Menjauhlah. Jangan dekat-dekat!” Vivian memalingkan wajahnya ke arah lain. Menutupi rona merah yang tiba-tiba muncul kala jarak di antara mereka begitu dekat. Arsyad mengangguk kecil. Namun, dengan sengaja dia justru semakin mendekatkan wajah mereka. Tatapannya begitu dalam seolah wanita di hadapannya adalah titisan bidadari yang tidak boleh dilewatkan barang sedetik. "Ah, iya. Perkenalkan, nama saya Arsyad,” ujarnya lugas. Vivian mengacuhkan uluran tangan besar itu. Fantasinya terlalu sulit dihentikan, apalagi saat melihat otot lengan pria tersebut yang menyembul. Menegaskan jika gym adalah tempat favorit yang sering didatangi. "Maaf, Tu-an. Apa kita saling mengenal? Dan, kenapa aku bisa ada di sini? Apa kamu menculikku?" Entah pikiran dari mana membuat Vivian bertanya hal tersebut. "Kalaupun gue emang benar diculik oleh pria setampan ini, gue ikhlas. Lahir batin malah." Kembali lesung pipi itu muncul sehingga membuat hati wanita di depannya ngereog. Batinnya pun bersuara. "Ini laki demen banget apa, yah, bikin diabetes? Tapi, Vi. Ingat, tidak selamanya lelaki modelan begini setia. Yang kayak kemaren aja udah berani main serong. Apalagi modelan kayak dia!" Tangan Arsyad dilambaikan di depan wajah Vivian. “Hei, kok, malah diam? Ah, jangan bilang kamu terpeso–” “Siapa yang terpesona?” Vivian ngegas. Namun, saat menyadari tingkahnya yang seperti remaja bertemu idolanya, dia lalu berdehem. Memalingkan wajah ke arah lain asal bukan pria di hadapannya. “Orang tadi gue lagi … ah, pokoknya gue mau pulang.” Tidak menemukan alasan yang tepat membuatnya mengalihkan pembicaraan. Arsyad terlihat tidak setuju. “Tapi, kamu belum makan,” ujarnya kemudian. Vivian dengan segala egonya yang setinggi langit segera menggeleng walau dalam hati ingin menetap di sini lebih lama. Namun, dia ini adalah seorang artis papan atas. Akan menjadi sebuah skandal besar jika kepergok keluar dari rumah seorang pria. “G-gue ada janji, ya, seperti itu. Jadi, gue harus pergi sekarang juga.” Vivian merutuk kegugupannya yang tiba-tiba melanda. Dia ini adalah dewi di negerinya. Wanita yang memenangkan banyak award di setiap ajang perhargaan. Jadi, mana mungkin gugup hanya karena seorang lelaki. Gara-gara skandal kemarin saja, nama Vivian menjadi trending topik selama beberapa minggu dan untuk memulihkan pun harus penuh perjuangan. Namun, untuk sementara waktu memang dia mencoba menjauh dari hiruk pikuk dunia gemerlap ini. “Baiklah, kalau begitu biar aku antar.” “Jangan! Eh, maksudnya gak usah.” Vivian segera meralat ucapannya yang terlihat seperti gadis yang akan diambil kesuciannya oleh si pria tampan. Tiba-tiba kilasan malam penuh melodi merdu itu melintas cepat, layaknya kereta ekspres. “Eh, apa itu tadi?” tanyanya pada diri sendiri. “Kamu kenapa, Via? Apa kepalamu masih sakit? Sudah, lebih baik kamu istirahat di sini saja. Aku janji gak akan lama di kantor. Setelah rapat selesai aku akan pulang dan menemani kamu,” ucap Arsyad penuh dengan kecemasan. Hal itu tentu saja membuat Vivian dibuat kebingungan. Ada hubungan apa dia dan pria asing ini? Kenapa pria itu seolah menganggapnya seorang yang penting hingga mau meluangkan waktu hanya untuk menemani orang asing seperti dirinya. “Sebenarnya kamu siapa?” tanya Vivian yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya. Arsyad menghela napas. Pasrah dan berserah pria itu lakukan. “Sebenarnya, kamu itu yang sudah mengambil keperjakaanku,” jelasnya, sambil memalingkan wajah ke arah lain. Malu. “Apa?” Vivian terkejut bukan main.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD