Bab 7. Dia lagi

1067 Words
“Mana Vivi? Bukankah tadi dia datang ke sini?" Andrew baru selesai meeting dengan klien segera bertanya kepada Neo. Mata mengedar ke arah sekitar, tetapi orang yang dicari sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. "Ada, kok, Bang. Tadi, gue sendiri yang nganterin dia ke sono," sahut Neo santai masih, sambil membuatkan tequila untuk pelanggannya. “Lo mau ngerjain gue apa gimana?” Andrew melempar kertas nota yang ada di atas meja dan langsung ditangkis oleh sang bartender. “Eh, atau jangan-jangan yang tadi diusir sama Leo dan Missa itu Nona Vivi?" Neo menatap bosnya dengan pandangan tidak enak. “Maksud lo?” “Iya, tadi ada dua pelanggan yang membuat keributan, kemudian Missa dan Leo membawanya keluar,” jelasnya meringis penuh penyesalan. "Emang ada keributan tadi? Terus, kenapa gak ada yang ngasih tahu gue, Bege?” Pria itu pun mendengkus kesal. Langkahnya segera dipercepat menuju dua bodyguard yang berjaga di depan pintu utama. "Leo, di mana teman saya? Ah, maksudnya perempuan yang tadi kalian usir." Leo dan Missa saling bertatapan satu sama lain, mereka bertanya lewat tatapan mata. "Maksudnya, Tuan?" Andrew merotasikan kedua bola matanya jengah. Dia mengambil ponsel, lalu mencari foto sahabat baiknya yang disimpan dalam folder bernama Sotel, atau Sohib Kentel. Sekarang terpampanglah wajah cantik Vivian yang tengah bersama sang pemilik bar. "Ah, jadi dia ini Nona Vivi?" tanya Missa yang memang jarang sekali melihat infotainment. Jangankan untuk menonton tv, bisa istirahat dengan nyaman di dalam rumah saja sudah bersyukur. "Menurut lo?" tanya Andrew dengan mata melotot. "Bukankah gue udah bilang ke elo, Le. Jangan pernah melakukan apapun kepada Nona Vivi! Ah, atau kalian ini sudah bosan bekerja di sini? Seperti itu?" Leo dan Missa sama-sama menggeleng. "Maafkan kami, Tuan! Kami mengaku salah. Tolong, jangan pecat kami!" Dua pria tersebut terlihat ketakutan. Mereka segera meminta maaf kepada Tuan Andrew atas kesalahannya hari ini. Andrew mendengkus. "Sudahlah. Kalian ini hanya membuang waktu gue doang. Lebih baik cepat cari Vivi. Jangan kembali sebelum elo-elo pada nemuin temen gue! Atau, kalian gue pecat hari ini juga!" "Siap, Tuan!" Leo dan Missa langsung lari terbirit-b***t menuju lift, berharap jika benda kotak besi tersebut segera membawanya turun ke lantai bawah dalam hitungan detik. Namun, sangat disayangkan karena mereka sudah mencari ke mana-mana, tapi Vivian ditemukan. Sementara itu, Vivian dan juga Claudi baru saja keluar dari sebuah minimarket terdekat. Kondisi mereka pun sudah dalam keadaan cukup normal. Hanya saja, pakaian yang terlihat begitu seksi itu cukup banyak mengundang tatapan m***m dari para kaum Adam. "Kita duduk situ dulu, Vi. Sekalian gue mau balik ke dalam buat beli minum," kata Claudi. Dia jelas tahu, kalau Vivian masih teler sampai-sampai di dalam toilet tadi muntah. "Eoh. Tolong beliin gue air mineral, ya, Clau!" Setengah sadar, Vivian meminta Claudi untuk membelikannya minum. "Apa lo lihat-lihat? Mau gue colok dua biji lo?" Sadis, tapi tetap cantik. Claudi menatap tajam mereka yang melihat ke arahnya dan si teman baru. Mereka langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, gugup dan malu kini tengah melanda. Ternyata ketiga pemuda itu salah memilih lawan. Sadis dan sepertinya akan sangat sulit ditaklukkan. “Maaf, Mbak,” ujarnya ketakutan dan pergi meninggalkan parkiran. Bapak-bapak ojol bahkan tadi terlihat salah tingkah saat tertangkap basah tengah menatap si duo seksi hingga dirinya hampir terjatuh di tangga ketika akan masuk ke dalam minimarket. "Heran gue sama mereka. Kayak nggak pernah gitu liat cewek cantik dan seksi seperti kita." Claudi terlihat misuh-misuh saat merasa jika orang-orang masih melihatnya dengan tatapan begitu mendamba kepada mereka. Sedang Vivian sendiri tidak terlalu ambil pusing akan pandangan dari orang-orang yang ada di luar sana. Dia justru sibuk melemaskan otot-otot lehernya yang terasa kaku. Pusing dan mual juga menjadi masalahnya kali ini. s**t! "Kenapa lo diem aja? Jangan bilang elo mau muntah lagi?" tanya Claudi horor saat melihat Vivian yang sedang membekap mulutnya sendiri. "Tahan, woi!" Teriakan Claudi membuat beberapa orang menatap ke arah mereka lagi. Namun, tidak ada yang berani mendekat. Mereka hanya curi-curi pandang saja. "Dasar manusia gak berguna. Emang dipikir kita lagi syuting film apa? Bukannya nolongin, malah ngeliatin," dumel Claudi. “Are you ok, Via?” Seorang lelaki tampan tiba-tiba saja membantu Vivian memegang rambut wanita itu ke belakang. Tangan satunya lagi memijat bagian tengkuk dengan lembut. Dia bahkan tidak jijik dan tetap berada di sisi wanita tersebut dengan setia. "Maaf, Anda siapa? Apa mengenal teman saya?" Claudi segera menarik lengan pria asing tersebut. Dia tentu tidka akan begitu mudah mempercayakan nasib temannya kepada orang asing. Ya, walaupun dia dan Vivian ini baru saling mengenal, tetapi sifat mereka yang klop membutanya tak sungkan untuk mengakui Vivian Wheeler sebagai bestie. "Saya Arsyad. Teman dari Via, ah, maksudnya Vivian," jelasnya tanpa melepaskan pegangannya di rambut wanita di depannya. "Kamu minum dulu, yah!" lanjutnya tertuju kepada Vivian yang baru selesai memuntahkan semua isi di dalam perut. Vivian sendiri tidak terlalu memusingkan siapa lelaki yang kini tengah membantunya untuk duduk di kursi. Kepala, serta perutnya benar-benar tidak tertolong. "Clau, bisa tolong belikan gue obat pengar. Asli, perut gue berasa kayak lagi diaduk-aduk di dalam," ujarnya, sambil memegang perut, serta menutup mulut saat rasa mual itu kembali datang. "Biar saya saja!" Arsyad segera berdiri dan membiarkan Claudi memegang tubuh Vivian. Dia masuk ke dalam mini market itu, mencari di mana obat pengar dijual. Setelah itu, dia kembali keluar, sambil menenteng satu botol air mineral di tangan untuk diberikan kepada wanita tersebut. Claudi sendiri kini tengah memperhatikan sikap Arsyad yang begitu perhatian dna peduli dengan bestienya. Ada rasa penasaran, tetapi dia merasa jika ini bukanlah waktu yang tepat untuk menginterogasi di saat Vivian sendiri masih dalam keadaaan hangover. Dia berdecak kala menyadari jika teman barunya ini tidak begitu jago dalam minum alkohol. Tanganya disilangkan di depan d**a, lalu setelah itu berkata kepada Arsyad dan Vivian. "Sebaiknya saya mengantarkan Vivian pulang dan sekali lagi terima kasih atas kebaikan dari Tuan Arsyad karena sudah membantu teman saya!" Wanita itu segera membungkuk sopan kemudian berniat merangkul Vivi, tetapi pria itu menahan. "Biar saya saja, Mbak. Anda tidak perlu takut karena saya tidak akan berniat buruk kepada Via." Arsyad segera menjelaskan saat melihat keengganan Claudi melepaskan temannya pulang bersama dia. "Ini kartu nama saya. Silakan hubungi saya jika terjadi sesuatu dengan Via nanti." Claudi terkejut sata melihat kartu nama berwarna gold dalam genggamannya. Dia mendongak, melihat betapa perhatiannya pria itu kepada Vivian. "Gue gak nyangka jika Vivi bisa kenal sama orang seperti Arsyad." Senyumnya langsung mengembang saat melihat Vivian melambaikan tangan dari jendela mobil pria tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD