Bab 6. Bestie Baru

1026 Words
“Ppft!” Vivian menahan diri untuk tak menyemburkan tawanya. Wajah perempuan di hadapannya terlihat seperti badut, apalagi dengan maskara, serta warna merah di hidungnya semakin membuat wanita tersebut terlihat menggelikan. "Tahan, Vi! Lo gak boleh kelepasan," batinnya. “M-muka elo kenapa? Ketumpahan terigu? Kok, kayak badut?" tanyanya tidak bisa ditahan. Salahkan saja bibirnya yang terlalu gatal jika harus tetap diam. Padahal, di depan ada hal yang menggelikan dan patut untuk ditertawakan. "Apa kata lo? Badut? Yakh, mau mati elo!" Wanita itu tentu saja tersinggung. Bagaimana tidak, dia sudah dandan cantik hari ini demi bisa menggaet pujaan hatinya. Namun, takdir justru berkehendak lain. Bukannya bertemu calon pangeran, dia justru bertemu wanita gila yang menganggap penampilannya seperti badut. Memang, ya, di setiap ada niat, pasti ada saja halangan yang merintangi. Vivian menyeringai. Dia menepis kasar tangan Claudi di lengannya. Pandangan wanita itu tiba-tiba sedikit buram saat pusing melanda kepalanya. "Kalau gue gak mau, lo mau apa?" tanya wanita itu balik. Claudi yang merasa disepelekan menggeram kesal. Dia ini adalah seorang desainer dari pemilik brand ternama–Miulan. Lantas, apakah pantas seorang kaya raya seperti dirinya disepelekan? Tentu tidak. Bagi wanita berusia 30 tahun itu, ini adalah sebuah penghinaan. Claudi yang tidak terima langsung mendorong tubuh Vivian hingga tubuh wanita itu jatuh lagi. “Yakh! Sebenarnya lo punya masalah apa, sih, sama gue? Kenapa berani sekali nyentuh tubuh gue?” Vivian bangun, lalu dengan cepat mendorong balik wanita itu. Claudi memandang penuh benci di antara minimnya cahaya di dalam ruangan. Yang ada justru warna-warni keluar dari lampu di atas langit-langit sehingga tidak membantu sama sekali. "Elo duluan yang nabrak gue. Jadi, Gak usah berlagak bego, deh!" Lagi-lagi Claudi mendorong tubuh Vivian hingga menyebabkan tubuh itu jatuh terjerembab di atas dance floor. Semua orang yang tadinya sibuk menari pun sontak berhenti. Mereka saling berbisik dan melihat ke arah dua orang wanita yang tengah saling jambak di lantai. Bukannya melerai, mereka justru sibuk menyoraki hingga membuat tempat tersebut semakin panas. Beberapa pegawai klub pun segera berusaha memisahkan. Namun, kedua wanita itu seolah sulit sekali dipisahkan hingga datanglah dua pria berbadan kekar menarik tubuh Vivian dan Claudi. Teriakan, bahkan umpatan sudah keluar dari mulut dua wanita di sana. Kondisi keduanya bahkan sudah tidak berbentuk lagi. Rambut acak-acakan, bekas cakaran di lengan, dan juga pipi pun menghiasi kulit putih mereka yang mulus. “Berhenti, Nona! Sebaiknya kalian segera pergi dari tempat ini sebelum kami memanggil pihak keamanan dan menjebloskan kalian ke dalam penjara karena sudah mengganggu pelanggan lain!” Seorang pengawal berbadan besar segera menarik tubuh Vivian yang begitu enteng ketika diangkat dari atas tubuh wanita yang bernama Claudi. “Gak mau!” teriak Vivian dan Claudi secara bersamaan. Dua pengawal berbadan besar itu pun saling melirik satu sama lain dan memberi kode untuk membawa pergi dua wanita gila itu keluar bar. Jika tidak, mereka yang akan ditendang bos karena tidak becus bekerja. “Yakh! Mau di bawa ke mana gue? Lepas! Dasar bekicot! Lepasin gue!” Vivian terus saja meronta minta dilepaskan, tetapi usaha itu sepertinya sia-sia. Pria itu terus saja menyeret tubuhnya keluar gedung dan saat tiba di pintu mereka tak segan mendorong hingga jatuh ke atas jalanan. "Dasar b******k!" Vivian dan Claudi kini memandang sengit dua pengawal yang sudah membuat mereka berdua seperti barang menjijikan yang dibuang ke tempat sampah. “Ini semua gara-gara elo!” Claudi berteriak kesal ke arah Vivian. “Kok, gue? Jelas-jelas yang mulai duluan itu elo. Kenapa jadi elo yang nyolot ke gue?" “Woi, Nona. Ini semua gak akan pernah terjadi jika elo gak dorong gue duluan. Jadi mending ngaku aja, deh!” “Njir! Mimpi apa gue semalem sampai harus ketemu nenek lampir modelan kayak elo!" umpat Claudi kesal. Dia lalu menatap remeh penampilan Vivian. "Padahal gue penginnya itu ketemu pangeran kaya raya, lah, ngapa malah jadi ketemu setan.” “Ngomong apa lo? Nenek lampir? Gue? Hah. Gak salah, tuh? Sekarang mari kita lihat siapa yang sebenarnya jelmaan nenek lampir di sini!” Vivian segera menarik tangan Claudi ke depan sebuah kaca toko yang sudah tutup yang dapat memantulkan wajah mereka sekarang. “What?” Itu bukan teriakan Claudi, atau tukang cireng yang baru saja lewat, melainkan suara Vivian. “Lah, ngapa muka dan penampilan gue kayak gini? Yakh! Ini semua gara-gara elo! Njir, muka gue!” lanjutnya, sembari memegang kulit wajah, serta helai rambut yang sudah seperti sarang burung di atas pohon. Claudi tersenyum sinis. Dia sebenarnya juga miris saat melihat penampilannya yang 11 12 dengan Vivian. Kekesalan yang tadi sempat bersarang di dalam hatinya kini justru berubah menjadi rasa geli. Bukan karena ada yang menggelitiknya, melainkan saat melihat penampilan mereka yang begitu jauh dari kata cantik. Mungkin jika ada orang yang lewat dan mengatainya dengan sebutan gembel, dia tak akan mengelak. Dia menatap malas akan sikap yang terlalu lebay dari wanita yang ada di sampingnya. Claudi menebak jika usia dari mereka tidak jauh berbeda. Bukan apa, melainkan ini hanya feeling saja dari sesama perempuan. “Woi, gak usah lebay, deh! Mending kita pergi ke toilet buat ngerapihin ini penampilan, sebelum ada polisi yang mengira kita ini gelandangan miskin dan membawa kita ke kantor polisi!” “Lo ngomong sama gue?” Vivian menyeringai sinis, sambil menyilangkan kedua tangan di depan d**a. “Gak. Gue ngomong sama rumput yang bergoyang. Terserah elo, deh, kalau masih mau di sini. Gue mau pergi aja. Bye!” Claudi yang muak dengan sikap Vivian yang masih saja betah mengajaknya perang, memilih untuk meninggalkannya mencari tempat supaya bisa berbenah diri. Bisa hancur reputasinya jika sampai ada kenalan yang melihat kondisi dia sekarang. “Lah, kok, malah gue ditinggal?" Vivian celingukan seorang diri. Dia melihat awas jika sewaktu-waktu ada paparazi, atau netizen yang menangkap basah dirinya dalam keadaan mengenaskan seperti sekarang. "Yakh, tungguin gue!” Pertengkaran yang sempat membuat mereka berdua ditendang dari bar, justru membuat dua wanita tersebut menjadi akrab. Vivian dan Claudi malah sibuk tertawa geli hingga membuat beberapa pejalan kaki--yang tidak sengaja berpapasan-- menoleh aneh pada mereka. Beruntung tidak ada yang mengenali mereka. Jadi, karir dua wanita cantik itu masih aman. "Sepertinya dunia ini sudah mulai krisis orang waras! Miris gue liatnya," cibir si pejalan kaki, lalu menggelengkan kepala
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD