Tangan Vivian masih berada di depan bibir, lebih tepatnya masker. Perbuatan pria asing tadi begitu membekas di dalam ingatan sehingga membuatnya ingin menempeleng orang tersebut. Bagaimana tidak, kenal saja enggak, malah main nyosor seperti bebek di sungai.
"Aish, bikin mood gue makin ancur aja, deh. Lagian itu laki siapa, sih? Ganteng, sih, ganteng. Tapi, gak gini juga kali. Woi, ini hati eneng gimana jadinya? Situ enak main tinggal kabur setelah membuat hati Eneng berdesir, kek, pasir." Saking frustasinya, Vivian menjadi mengoceh tidak jelas di depan pintu masuk Bar Paradise.
"Ah, persetan dengan makhluk bercelana itu,” dengkus Vivian, “mending gue having fun, sambil minum di dalam.” Senyum wanita itu seketika mengembang lebar kala mengingat niatan dia datang ke tempat di mana sahabat baiknya mengelola club malam.
“Kajja, Vi! Let's party for the night!" seru Vivian penuh semangat. Kakinya lalu melangkah dengan riang masuk ke dalam bar. Lampu temaram langsung menyapa netranya, belum lagi aroma alkohol, serta suara musik yang disetel begitu kencang menyambut kedatangan Vivian Wheeler.
Saat menginjakkan kakinya di dalam, pandangan wanita cantik dan seksi itu langsung mengedar ke segala penjuru. Mencari di mana pemilik bar tersebut. Namun, selama mata memandang tidak terlihat batang hidung si teman. “Katanya dia mau nyambut gue. Nyatanya, preet!” cibir Vivian kesal.
"Permisi, Mba. Apa Andrew ada di dalam?" tanya Vivian, sambil melepaskan masker yang sedari tadi menutupi bagian wajahnya. Hal tersebut tentu membuat si pegawai terperanjat karena bisa melihat langsung artis yang wajahnya wara-wiri di layar tv.
Perempuan berseragam itu sedikit gugup saat dengan bodohnya menunjuk ke atas di mana orang yang ingin ditemui oleh Vivian Wheeler berada di lantai dua. Ola, nama pegawai tersebut hanya bisa berdiri gugup.
Vivian pun mengangguk. "Terima kasih,” balasnya, sambil tersenyum manis. Dia tahu jika perempuan di hadapannya tengah dilanda gugup. Jadi, sebisa mungkin bersikap jika tidak tahu menahu akan perasaan penggemarnya itu.
"Lagian, siapa, sih, yang tidak kenal dirinya? Aish, maafkan jiwa sombong gue ini yang suka keluar tanpa tahu kondisi!" batinnya penuh bangga.
Kakinya yang putih dan mulus itu melangkah menaiki tangga satu per satu. Mengabaikan mata para lelaki hidung belang yang seolah ingin menariknya, masuk ke dalam kamar. "Cih! Apa mereka tidak pernah melihat wanita cantik," cibirnya sinis.
“Hai, Cantik. Apa kamu datang sendirian?”
“Singkirkan tangan Anda dari wajah saya!” sentak Vivian ketus saat seorang lelaki dengan berani menyentuh wajahnya.
"Ouch, manis sekali nona satu ini," kata pria itu dengan tersenyum penuh damba. Dia tidak marah, tapi lebih ke kagum. Namun, temannya yang merasa malu, langsung menarik pria tersebut.
Vivian mencibir kelakuan pria mabuk tersebut. Setelah itu, ia pun kembali melangkahkan kakinya ke lantai atas untuk bertemu dengan sahabatnya. Akan tetapi, tidak ada juga. "Ke mana lagi itu orang? Apa dia gak tau, kalau gue ini paling benci mencari? Ckckck!"
Terlalu bosan menunggu Andrew Gosepa muncul, Vivian memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Dia lantas memilih untuk duduk di depan meja bartender yang memang sudah mengenalnya karena beberapa kali bertemu. Neo, adalah orang kepercayaan si pemilik Bar Paradise.
"Sendirian saja, Nona?" Sebuah gelas kaca berisi es batu dan juga vodka diletakkan di depan Vivian. Pria ini memang sangat tahu apa yang dibutuhkan oleh pelanggannya tanpa perlu menyebutkan.
"Lo gak ada Eve, atau apa gitu?" tanya Vivian. Diputarnya gelas seloki itu, sambil mencium aroma vodka yang menguar dari sana. Setelah itu, di minumnya sedikit dan membiarkan rasa itu berada di atas langit-langit mulut hingga beberapa detik.
“Aroma yang selalu sama,” ujar Vivian dengan senyum mengembang tipis setelah membuang napasnya lewat hidung.
"Apa Nona Vivi ingin mabuk hari ini?" Neo bertanya, sembari dengan cekatan mengelap gelas-gelas yang ada di depannya.
Vivian menjentikkan jarinya penuh semangat. "Elo emang tau banget apa yang gue mau, Neo." Senyumnya mengembang lebar.
"Tapi, Tuan Andrew sudah berpesan kepada kami untuk tidak membiarkan Nona Vivi menenggak minuman itu. Walaupun hanya setetes," ujar Neo penuh sesal.
"Si Kuda Nil itu menyebalkan sekali. Memang apa salahnya, sih, kalau gue minum Eve? Ayolah, Neo! Please!" Vivi terus membujuk si bartender dengan raut wajah memelas. Berharap dengan hal itu, ia bisa mencicipi minuman berkadar alkohol paling tinggi hari ini.
"Maaf, Nona. Saya masih butuh uang untuk makan."
Vivi mencebikkan bibirnya kesal. Dia menghela napas pendek, lalu kembali menenggak minuman tersebut dalam satu kali teguk. Bibirnya diusap kasar kemudian menatap Neo dengan mata memicing.
"Kalian ini memang menyebalkan," cibir Vivi, lalu tangannya menuangkan satu botol Vodka ke dalam gelasnya lagi hingga isi di dalamnya habis.
"Nona, apa Anda baik-baik saja? Aish. Mana Tuan Andrew belum ke sini juga lagi. Terus bagaimana ini?" Neo ingin membantu, tetapi wanita itu justru tetap tidka menggubrisnya. Bingung dan serba salah.
Tiba-tiba, Vivian berdiri. Tersenyum dengan begitu lebar. Namun, karena dirinya mabuk membuat wanita itu limbung.
"Hati-hati, Nona!"
"Gue gak mabuk. Gue gak mabuk." Vivi menolak bantuan Neo yang hendak memapahnya. Dia bahkan tidak peduli tubuhnya yang terus menabrak beberapa pengunjung saat akan menuju dance floor.
"Nona, sebaiknya Anda menunggu Tuan Andrew bersama saya saja di sana!" Neo terus berusaha untuk meraih tubuh Vivian, memintanya untuk tetap tinggal. Akan tetapi, wanita cantik dan seksi itu begitu acuh dan terus meliuk-liukkan tubuhnya bersama dengan para pengunjung lain.
Merasa tidak digubris, Neo pun akhirnya menyerah, apalagi beberapa orang sudah duduk menunggu di tempat ia bekerja. Bimbang. Akan tetapi, dia lebih takut jika posisi tetapnya sebagai bartender lepas begitu saja.
Akhirnya, dengan sangat terpaksa Neo meninggalkan Vivian bersama lautan manusia yang haus akan hiburan.
Sementara itu, Vivian terus berjoget. Dia tidak peduli akan sekitar. Belum lagi saat ingatan akan suara Iqbal yang tengah bersenggama dengan wanita sialan beberapa minggu lalu berkelebat seperti rekaman kaset yang rusak, membuat perasaan wanita itu semakin kesal.
"Dasar manusia sampah! Bisanya cuma mikirin ranjang doang. Sebaiknya orang-orang semacam kalian itu, hidupnya bukan di bumi. Tapi, di tempat pembuangan sampah. Dasar, Kecoa Buntung! Manusia gak beradab!" Umpatan itu terus terlontar dari bibir Vivian yang kini masih sibuk menari di atas dance floor.
Tubuh seksi yang dibalut dress mini dengan bagian punggung terbuka hingga pinggul itu mampu membuat setiap kaum adam merasa gerah dan ingin menyentuhnya.
"Auch!" Vivian mengaduh kesakitan saat tubuhnya terjatuh di atas lantai karena dorongan dari orang lain di belakangnya.
“Yakh! Apa Anda ini tidak bisa melihat?”
“Apa? Kok, malah jadi situ yang nyolot. Harusnya, ‘kan saya!" seru orang tersebut tak mau kalah.