“Windy, ada apa?” Irfan yang sedang menunggu di ruang tunggu depan rumah sakit segera menghampiri Windy yang tengah berjalan cepat. Irfan melihat Windy berkali-kali menyeka wajahnya yang berlinang air mata. “Bang, ayo cepat kita pergi dari sini.” Windy menoleh sejenak lalu segera beranjak meninggalkan rumah sakit itu. Wanita itu segera melangkah menuju mobil Irfan. Irfan membuka mobilnya dari kejauhan, sementara Windy segera masuk ke dalam mobil itu. Wanita itu tidak mampu lagi menahan air matanya yang sudah meledak keluar. Windy menumpu keningnya pada dashboard mobil Irfan. Irfan masuk ke dalam mobil, ia prihatin melihat keadaan Windy. Namun Irfan membiarkan Windy melepaskan segala kegelisahan hatinya, pria itu tidak ingin menganggu. Irfan segera menghidupkan mesin mobil itu dan mening

