Di hari Jumat, David datang berkunjung lebih cepat dari biasanya, jadwal kuliahnya penuh sampai menjelang senja nanti. Itu membuat Milena agak kecewa. Waktunya bersama lelaki itu akan berkurang, dan hal paling buruk akan dirasakannya sepanjang sisa hari ini: rindu yang amat sangat. Kehangatan tangan David masih terpatrit jelas diingatannya, bahkan ia masih bisa merasakannya hinggat detik ini. "Apa aku sebaiknya membolos saja?" tanyanya pada Milena yang sedang menyeruput coklat hangatnya. David terlihat menimbang-nimbang pikiran itu. "Tidak!" seru Milena, David terkejut mendengarnya. "Kau tahu? Aku tak ingin jadi batu sandunganmu. Jika itu penting, kau harus pergi! Kelas atau apalah itu—aku tak tahu, hadirilah! Masih ada hari esok." suaranya melembut. David terbahak. "Sejak kapan peri pe

