05.FIRST KISS

1637 Words
Pagi ini,dengan sangat rajin Sandra sudah duduk manis di perpustakaan dengan sejumlah buku di mejanya,sebelum masuk kelas,dia ada tugas merangkum materi mata kuliah falsafah kefarmasian. karna Anya mengirim pesan kepada Marvel untuk menyusul mereka disana, dia pun menghampiri kedua gadis cantik itu. "Hai..."sapa Marvel seraya duduk dibangku hadapan mereka. "Hmm..." jawab Sandra singkat tanpa mengalihkan tatapannya ke arah Marvel, "nanti malem kalian ada acara nggak?"tanya Marvel kemudian. "Enggak ,kenapa memang?"tanya Anya penasaran "Steve ngundang kita ke pesta ulang tahunnya nih,kalian bisa kan datang?"tanya Marvel setelah menatap Anya dan Sandra secara bergantian. "Gimana San?bisa nggak lo?"tanya Anya mengarah pada Sandra yang tampak fokus pada bukunya. "Oh..tenang aja,gue always free.Maklum jomblowati ", sambil mengibaskan rambutnya kebelakang,sementara Anya dan marvel saling tersenyum melihat tingkah Sandra yang kelewat narsis. "Jomblo kok bangga!"sahut Anya mendesis. "Patut dibanggakan lah,itu artinya gue pilih pilih dalam menyeleksi laki laki,nggak sasimo"sambil menepuk d**a sombong, "Apa tu sasimo?"tanya Marvel. "Aduh ..kolot banget,sasimo itu sana sini mau " jawab Sandra yang kemudian diangguki oleh laki laki itu. "Yakin lo nggak sasimo?"Anya mencibir. "Ya,nggak lah,bukan gue banget itu" "Kalau abis ngincer si A, terus tiba tiba ngincer si B karna lebih ganteng,apa itu bukan sasimo?". "Ck,beda konsep dong.Itu namanya sedang memasuki tahap penyeleksian.Jadi siapa yang bebet bobotnya lebih bagus,nah dia yang pantes di terusin". "Apa kata lo deh,emang elo paling bener". Marvel terkekeh pelan mendengar perdebatan sengit kedua gadis itu. **** Mereka datang bertiga bersama ke kediaman Steve. Tampak dari luar ,pesta yang di adakan cukup meriah. Rumah besar Steve, disulap menyerupai club malam.Suara bising yang memekakkan telinga memenuhi seisi ruangan . Anya terheran heran ,bagaimana bisa orang tuanya mengijinkan Steve merubah rumahnya menjadi seperti ini?. Apa seperti ini suatu kebiasaan orang bule ?. Entahlah,yang Anya tau saat ini adalah menikmati pestanya. Marvel membimbing Anya dan Sandra masuk kedalam untuk bertemu dengan Steve. Setelah memberi selamat ulang tahun dan hadiah kepada tuan rumah,kini mereka bertiga bergerak menikmati hidangan yang disuguhkan. Steve juga menyediakan whisky bagi yang ingin minum,laki laki itu benar benar totalitas sekali dalam merayakan malam pertambahan usia nya.Luar biasa. Suara gelak tawa berbaur dengan suara DJ yang memutar piringan memainkan musik,disko dimulai dibawah gemerlap lampu yang temaram.Bola lingkaran diatas kepala mereka juga turut serta membuat pesta semakin antusias. Marvel dan Sandra sudah asyik mengikuti alunan musik ,sementara Anya masih setia duduk di sofa memperhatikan kegiatan mereka berdua dari jauh. Tiba tiba,Anya mulai tidak nyaman oleh tindakan laki laki yang menghampirinya ,pria itu sedikit terhuyung karna pengaruh alkohol. Sentuhan sensual laki laki itu membuat Anya berusaha menghindar,namun lagi laki laki itu semakin gencar menggoda Anya Tiba tiba seseorang berkemeja putih datang. Suara pukulan terdengar begitu seseorang itu menghantam keras rahang pria yang mendekati Anya. "aaaaa..."semua berteriak histeris menyaksikan kejadian itu,tak terkecuali Anya. Laki laki mabuk itu sudah tak berdaya karna pengaruh alkohol kini semakin terkapar akibat pukulan Gaza. Kalau bukan karna Anya yang menghalanginya,mungkin laki laki itu sudah meregang nyawa akibat pukulan membabi buta. Tatapan mata Gaza berkabut,akibat amarah yang membuncah,tak perduli orang orang sekitarnya kini tengah memperhatikannya. "Kenapa om memukulnya?"teriak Anya tak terima. "Dia melecehkan kamu,Anya.Kenapa kamu diam saja diperlakukan seperti itu?hah?" dadanya naik turun menunjukkan emosi yang meletup. "Harusnya tidak perlu memukul!bahkan aku tidak apa apa?kenapa om bertindak seperti ini?"teriaknya lagi. Sandra maupun Marvel hanya terdiam menyaksikan apa yang dilihatnya sekarang. "San,kita pergi sekarang ,sebelum nanti kamu jadi sasaran amukan om kamu"Marvel menggandeng tangan Sandra keluar dari sana,menghindari perdebatan yang terjadi antara Anya dan Gaza. Sandra hanya menuruti Marvel,benar yang Marvel bilang,alangkah baiknya Sandra tidak menunjukkan batang hidungnya saat ini. "Ayo, pergi!"pinta Gaza "Lepas!aku nggak akan pergi!"Anya menepis tangan Gaza. "Kenapa keras kepala,sih?". "Memangnya kenapa kalau aku keras kepala?tidak perlu om semarah itu,karna kita nggak ada hubungan apapun!"Sahut Anya. "Tapi,disini kamu nggak aman,Anya!" "Aman atau tidaknya itu bukan urusan ,om.Oh,apa om mulai suka sama aku,makanya peduli,iya?"alisnya naik sebelah. "Nggak!"sekian kalinya Anya mendengar satu kata menyakitkan dari mulu Gaza,hati nya seperti tertancap panah yang tak kasat mata.Dia tersenyum getir "Kalau nggak suka buat apa memaksaku pergi,biarkan aku disini!ingat om,jangan memberi harapan yang nyatanya itu kosong". Gaza menggenggam tangannya kuat kuat hingga buku buku jarinya memutih ,sedetik kemudian Gaza menarik paksa Anya pergi dari tempat itu,tindakan Gaza membuat Anya tersentak,kakinya terseok seok mengikuti langkah lebar pria itu. "Masuk!" Gaza membukakan pintu untuk Anya,Anya pun masuk ke dalam tanpa protes,untuk pertama kalinya Anya marah kepada pujaan hatinya itu. Selama diperjalanan,mereka hanya diam ,Anya sedari tadi yang diliputi rasa penasaran akan berakhir dimana mobil ini pun enggan bertanya. Setelah menempuh perjalanan cukup jauh ,mobil pun berhenti di pelabuhan Tanjung Perak. Semilir angin berhembus saat kaca mobil terbuka,suara gelombang ombak terdengar memekikkan telinga. Anya menikmati angin malam yang menyejukkan . "Anya?" Suara berat itu menyadarkan Anya yang mulai terbuai oleh sentuhan angin yang menerpa setiap inci kulitnya. "Kamu menyukainya?"sambungnya,Anya pun mengangguk tanpa berminat menyahut. "Aku membawa mu kesini,karna ada sesuatu yang mau aku bicarakan,sebelumnya aku minta maaf atas perdebatan kita tadi" "Tentang apa?"tanya Anya singkat. "Tentang kita" jawab Gaza,sorot matanya semakin dalam menatap iris coklat Anya. "Kita?"ulang Anya,Gaza mengangguk, "kenapa dengan kita?aku rasa nggak ada yang perlu dibicarakan!" "sebelum menjawab,aku mau nanya,kenapa kamu sangat marah tadi?padahal aku berusaha melindungi kamu,laki laki itu mabuk"ucapan Gaza yang lembut,membuat Anya merasa ini bukan sebuah kenyataan melain kan mimpi. "Lebih baik tidak,karna aku nggak mau terus terusan terjebak dengan perasaanku"tukas Anya. "Aku nggak suka kamu menghindari aku,kenapa kamu selalu berusaha menghindar kalau bertemu?" "Aku?"Anya menunjuk dirinya,Gaza mengangguk. "Aku,ekhem..."Anya menyadarkan diri yang sempat terpesona dengan tatap teduh Gaza "kan sudah kubilang,aku sedang berusaha melupakan perasaan ini,bukankah ini yang om tunggu,menginginkan aku bersikap seperti ini"sambungnya. "Itu dulu!tapi sekarang aku ingin kamu selalu disisi ku!" "Om...are you okay?"tanya Anya memastikan karna pembicaraan Gaza sejak tadi sudah melantur baginya. "Iya,aku baik baik saja"namun tubuhnya semakin maju,menghimpit tubuh ramping Anya tersudut terbentur pintu mobil. "O-om?bisa tolong jangan seperti ini?aku nggak nyaman" "Jadi bagaimana posisi yang nyaman ?apakah begini?"Gaza menarik pinggang Anya ,membuat Anya terpekik,jantungnya semakin berdebar kuat karna merasa sedekat ini dengan Gaza. "Aku nggak suka kamu menghindari aku,Anya!"sambungnya dengan suara serak,Anya mengatur nafas yang sejak tadi terasa sesak karna perlakuan Gaza yang tak biasa ini. "Ke-kenapa?" "Karna ,aku ..." tatapan Gaza beralih pada bibir basah Anya yang menggoda. Cup. Anya memejamkan matanya saat bibirnya dikecup oleh Gaza,Anya mendorong tubuh Gaza menjauh dari dirinya. "O-om kenapa melakukan ini?Stop, om!tolong ,jangan lagi!aku sudah berusaha mati matian untuk melepas perasaan yang aku miliki,sekarang aku sadar ini mustahil untuk om menerima keberadaan ku seperti yang dulu dulu,karna bagi om, aku hanya gadis kecil dan tidak akan pernah menganggap ku wanita...emmpth" Benda kenyal itu menempel kembali pada bibirnya,tubuhnya bergetar saat merasakan sensasi aneh yang menjalar menimbulkan hawa panas dalam dirinya,karna ini bukan hanya kecupan seperti tadi,namun sebuah kuluman yang lembut dan semakin dalam. "Bisa tolong berhenti bicara?"tanya Gaza setelah menyudahi ciumannya,sementara Anya mengambil nafas sebanyak banyaknya. "Kamu nggak pernah tanya gimana perasaan aku buat kamu sekarang" "Aku punya debaran jantung yang sama sepertimu saat kita bertemu,coba kamu rasakan ini!" Gaza menuntun tangan Anya memegang dadanya,benar! d**a Gaza berdebar kencang sama dengan dirinya. Anya segera menarik kembali tangannya,perasaannya sangat gugup sekarang,entah bagaimana kelanjutannya setelah ini. "Aku mau ,kamu jadi pacarku!" "Pacar?"ulang Anya memastikan. "Bukan lebih,tepatnya istriku"Gaza mencium lembut punggung tangan Anya,Benar benar Anya sedang berada di udara sekarang,melayang bebas tanpa hambatan. "Ke-kenapa ?" "Karna aku memilihmu!" Anya memeluk erat Gaza,dia tidak menyangka perasaannya dibalas oleh pria itu setelah bertahun tahun lamanya. sementara Gaza berulang kali meminta maaf pada Anya dalam hatinya ,karna telah membohongi gadis itu **** Sandra mencari sosok Gaza yang belum menampakkan batang hidungnya sejak tadi,padahal dia harus segera pergi atau dia akan terlambat menghadiri pesta Steve,akhirnya terbesit ide untuk menulis sesuatu di kertas dan ditempelkan ke lemari pendingin. karna mengirim pesan kepada Gaza adalah hal yang percuma,dia tipe laki laki yg jarang membuka pesan,karna biasanya Sandra akan langsung menelponnya jika membutuh kan om nya itu. Tapi kali ini, dirinya sedang naas,karna nomor Gaza tidak bisa di hubungi. Setelah selesai menulis sesuatu,akhirnya Sandra pergi,dengan mobil jemputan Marvel. Tiga puluh menit kemudian , Gaza melempar tas jinjingnya ke sofa dan melonggarkan dasinya,tak lupa melipat lengan kemejanya sampai siku.Wajahnya tampak kelelahan hari ini. Saat akan mengisi kekeringan kerongkongannya,dia membaca pesan dari Sandra. Tentu saja Gaza mengerti pesta seperti apa yang orang bule adakan.Gaza melirik jam dinding yang kini sudah menunjukkan pukul sebelas malam,benar bukan?pesta ulang tahun ini pasti bukan pesta biasa pikir Gaza. Dia meraih kunci mobil nya,tanpa berganti pakaian terlebih dahulu.Pikirannya hanya berpusat pada keponakan nya itu,Gaza terlampau khawatir bagaimana jika Sandra tidak aman?. Tujuan Gaza berubah,begitu melihat Anya yang butuh pertolongan didalam sana. Dia menghampiri nya dengan d**a bergemuruh. Meski tidak memiliki perasaan apapun pada gadis seumuran keponakannya itu,namun dia sudah berjanji pada Roni untuk menjaga Anya seperti dia menjaga Sandra. Pria itu melayangkan pukulannya bertubi tubi kepada lawannya yang sudah tidak berdaya kemudian menyeret paksa gadis itu keluar dari sana,setelah serangkaian perdebatan kecil terjadi. . . . Sejak kejadian malam itu,Anya sering gugup bila bertemu dengan Gaza ,berbeda dengan Gaza yang tampak santai meski pernah dua kali mencium bibir Anya. "Lo kenapa kayak abis ketemu hantu gitu,sih?" tanya Sandra saat Anya mengatur nafasnya setelah berlari dari lantai bawah menuju kamar Sandra. "Minum..minum" pinta Anya terbata bata. "Mau minum?"Anya mengangguk,Sandra melempar botol mineral ke arah Anya,dengan cepat gadis itu meneguk nya hingga tandas . "Lo sakit?muka nya pucet". "Enggak,gue baik baik aja"Anya menepis tangan Sandra yang ingin memegang keningnya. "Lo aneh,sejak habis pergi sama om Gaza kemarin" tatapan Sandra penuh selidik, "masa sih?perasaan lo aja kali,gue biasa aja!"Anya mengelak. "Jangan bohong!gue tau lo bohong!"membuat Anya tak berkutik. "Ayo ,cerita!" pinta Sandra sambil bersidekap d**a. "Apa nya yang harus gue ceritain,coba ?" "Katanya lo abis ditembak ama om gue?jadi,ceritain dong!jangan durhaka ya lo ama gue dengan merahasiakan semuanya"padahal Sandra hanya bicara asal,dan yang mengejutkan Anya malah mengakuinya. Astaga...apa itu artinya Gaza mulai membuka hati untuk Anya?sejak kapan?. Dan yang membuat Sandra hampir jatuh kejengkang,ketika Anya bercerita jika Gaza melamar Anya untuk menjadi istrinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD