01.CINTA PERTAMA,ANYA
Delapan tahun silam
"Sandra, Sandra, Main yuk!" teriak bocah kurus ,hitam dan dekil yang diperkirakan usia sembilan tahun,tepat di depan gerbang rumah Sandra,sahabatnya.
Teriakan itu membuat Gaza, om dari Sandra merasa terganggu dan lekas menghampiri Anya yang masih berdiri di sana.
"Nggak ada Sandra lagi pergi. Sana pulang gih, bobok siang!" usir Gaza secara halus.
"Kalau nggak ada Sandra, aku main sama om aja gimana?" Anya mengedipkan matanya genit, membuat bulu mata itu terlihat sangat lucu.
Gaza memijit pangkal hidungnya, sudah tidak heran jika dirinya kerap di goda oleh bocah ingusan yang menjadi tetangga nya itu.
"Sorry, nggak tertarik main sama bocah, udah sana pulang!"
Anya mengubah ekspresi wajahnya menjadi garang, sebelum pergi tak lupa dia berteriak mengatai Gaza.
"Aku doain moga besok besok om jatuh cinta sama aku." Mendengar ucapan itu, Gaza jadi bergidik ngeri membayangkannya.
Ini serius, aku disumpahi bocah dekil ingusan?
Sekarang,
SMA N 1 SURABAYA.
"Anya..." Sandra menghambur kepelukan sahabatnya dengan diiringi raut wajah bahagia nya.
"Ada apa lagi?" tanya Anya sambil menyobek bungkus permen karet, lalu mengunyah permen berwarna pink itu.
Sandra memperhatikan bungkusan yang telah di robek tersebut teronggok dalam tempat sampah.
"An, lo tau Raka kan?" tanya Sandra dengan mata berbinar.
"Nggak tau gue,nggak penting," jawab Anya acuh sambil terus melangkahkan kaki menuju kelas mereka.
"Ck, heran. Semua nggak penting kata lo, terus apa yang menurut lo penting?"
Anya mengembangkan senyumnya kemudian menatap Sandra begitu intens.
"ya, om Gaza dong, siapa lagi emang?" sahutnya excited.
Sandra memutar bola matanya jengah, Anya masih sama seperti delapan tahun lalu. Masih saja terobsesi dengan Gaza. Padahal sudah berulang kali di tolak, tapi Anya masih saja nggak punya kapok. Sandra sampai tidak habis pikir sama jalan pikiran Anya.
"Ya..ya..terserah lo dah ,ya. Sekarang lo kudu dengerin gue. Ini penting banget buat lo tahu. Gue jadian loh sama Raka," umbar Sandra sembari berbinar.
Senyap.
Anya tak merespon membuatnya langsung berdecak sebal.
"Kenapa sih gitu amat? Respon kek, minimal kasih ucapan selamat," cetusnya kesal.
"Besok deh, gue ngadain syukuran. Mau pakai tenda apa enggak?" canda Anya, membuat Sandra semakin menekuk wajahnya kedalam.
Anya tertawa terpingkal pingkal sambil memegang perut ketika melihat wajah masam sang sahabat.
"Kalau bisa ngundang ustadz aja sekalia," seloroh Sandra sambil meninggalkan Anya yang masih tertawa lebar.
****
Sandra tampak bingung akan memulai dari mana untuk menjelaskan kabar buruk ini.
Sejak tadi dia gelisah sambil menopang pipinya diatas meja.
"Kenapa lo kuyu banget?
"Baru juga kemarin jadian, terus pasang wajah sumringah. Sekarang udah galau aja, putus? Masa sih udah putus?Cepetan amat." sambung Anya, kemudian gadis itu terkekeh geli.
"Ini bukan masalah gue. Tapi, masalah om Gaza."
Derai tawa memudar seketika, raut wajah Anya tak kalah serius menatap Sandra yang menatapnya dengan sorot tajam.
"Ada apa sama om Gaza ,San?" Kontan saja Sandra menghela nafas panjang.
"Sorry, kalau ini bakal nyakitin lo, tapi lo wajib tau, An." Sandra menjeda kalimatnya
"Bagaimana ih ngomong! Ada apa Jangan bikin gue makin penasaran deh."
"Weekend besok, om Gaza tunangan sama pacarnya." Mendengar itu, tubuh Anya serasa lemas dalam waktu sekejap mata.
apa benar yang dikatakan Sandra? Jika benar, apakah dia harus berhenti berjuang sekarang?
"lo nggak apa apa kan?" tanya Sandra merasa tidak enak dengan perubahan ekspresi yang tercetak jelas di wajah cantik Anya.
"Gue berubah pikiran San. Kayaknya gue mantap ikut mama, papa pindah ke Bali" alih alih menjawab pertanyaan Sandra, dia mencoba memberi Sandra pemahaman bahwa dia tidak akan tetap tinggal disini.
.
.
.
Pesta pertunangan di selenggarakan sangat meriah, mengundang bahagia diantara kedua keluarga. Wajah tampan Gaza tampak berseri hari ini memancarkan aura gembira, berbeda dengan Sandra yang berada di antara orang orang di pesta itu.
Gadis cantik itu tampak murung mengingat sahabatnya yang bersedih atas kabar ini, kabar bahagia yang seharusnya hadir justru memperburuk perasaan sahabatnya, Anya.
Sementara disisi lain, Anya duduk meringkuk memeluk kedua lututnya dilantai balkon, atensinya menatap penuh ke arah rumah Sandra yang nampak sepi, tatapannya penuh kekosongan.
Tentu saja, ingatannya kembali pada kejadian delapan tahun silam, saat pertama kali kedatangan Gaza ke rumah Sandra lalu mampu membuat Anya kecil terpesona dengan ketampanan om sahabatnya itu.
Awalnya, dia tidak pernah menyangka bahwa rasa suka yang dia miliki saat kecil berlanjut sampai saat ini, sampai saat usianya menginjak tujuh belas tahun.
"Sayang." Tangan lembut milik seorang wanita bergerak mengelus pucuk rambut lurus sepunggung .
Anya enggan mengalihkan tatapannya dari rumah Sandra demi menoleh pada wanita disampingnya.
"Kamu pasti sedih ya karna bakal pindah?" tebak ibunya.
Anya menggeleng, bibirnya tak mampu mengatakan sepatah katapun karna perasaan yang dia rasakan saat ini bercampur aduk dalam hatinya.
"Terus kenapa ngelamun, hmm?" Anya menoleh kearah ibunya yang tersenyum tipis. Dia merentangkan tangan kemudian memeluk ibunya erat dengan tetap bungkam, lidahnya mendadak kelu saat akan mengutarakan sesuatu.
"Ya udah, kalau kamu nggak mau cerita, mama nggak akan maksa. Ya udah, mama keluar dulu. Kamu istirahat, ya!" Pinta Emi, lalu melangkah keluar dari kamar, menutup pintu perlahan agar tidak menimbulkan suara.
Setitik air mata jatuh dari kelopak mata indahnya, kenyataan pahit baru saja datang melingkupi perasaan hingga terasa menayat hati, membuatnya tak mampu membendung air mata itu lebih lama.
.
.
.
Sore harinya, Anya sudah berdiri menatap pintu rumah Sandra yang tertutup rapat.
Kalau bukan karna sesuatu yang memaksanya datang, Anya tidak akan datang kesini.
Dengan segenap hati, dia berusaha untuk kuat ketika diharuskan bertemu dengan Gaza.
Padahal sejak pesta itu, dia berjanji untuk berhenti datang kesini dan tidak lagi mengganggu laki laki itu seperti yang dilakukan sebelumnya.
'haisshh..kenapa begini sih' gumam Anya sambil memegang dadanya yang berdebar kencang.
Gadis itu mengetuk pintu, sebelum itu terjadu, dia sudah menghembuskan nafas berkali kali untuk mengurangi rasa gugup karena kemungkinan akan bertemu langsung dengan Gaza, tak lama kemudian pintu berderit saat seseorang membukanya.
Anya mematung melihat siapa yang membukakan pintu untuknya.
Debaran jantungnya seakan berdetak berkali kali lipat lebih kencang dari sebelumnya.
"Boleh masuk, om?" tanya Anya, setelah sepersekian detik mematung disana.
Gaza mengernyitkan dahi sejenak, sejak kapan Anya bertanya boleh masuk atau tidak? Bukannya selama ini dia seringkali nyelonong seenak jidat seperti rumah ini adalah miliknya?
"Silahkan! Sandra ada dikamar nya," jawab Gaza tanpa tunjukkan ekspres apapun
"Makasih," ujar Anya sambil mengayunkan kaki nya ke kamar Sandra.
Gaza menatap punggung Anya hingga menghilang dibalik pilar.
"Kenapa dengan gadis itu? Aneh," pikirnya heran.
Anya melempar tas nya kearah Sandra , Sandra terjingkat saat sesuatu yang keras mengenai wajahnya.
"Eh, kurang ajar banget, lempar lempar tas sembarangan!" omel Sandra sambil membenahi maskernya yang sempat retak akibat kena timpukan.
"Mana dompet gue, katanya lo temuin?" Tanpa basa basi Anya mengulurkan telapak tangannya sambil menggoyangkan kelima jemarinya kerahasiaan Sandra.
"Nih!" Sandra melempar dompet panjang berwarna peach kearah Anya.
"By the way, pas lo masuk tadi ketemu om Gaza nggak?" tanya Sandra iseng. Tentu saja dia hanya ingin tahu seberapa bisa Anya menghindari Gaza sesuai intuisi hatinya.
"ketemu, emang kenapa?" jawab Anya santai, sejurus kemudian dia melompat ke ranjang empuk berukuran king size lalu memposisikan tubuhnya terlentang sambil memainkan ponsel.
"Gimana reaksi lo?" Sandra yang dirundung penasaran beralih posisi duduk di tepi ranjang dekat Anya, jujur saja Sandra tidak percaya jika Anya tahan untuk tidak menggoda Gaza ketika mereka berdua bertemu.
"Biasa aja."
"Yakin, biasa aja?" kedua mata Sandra memicing mencari celah kebohongan.
"Terus gue harus gimana kalau nggak biasa aja? Kejang kejang gitu?"
"Ya enggak sih, maksudnya tuh, kali aja langsung minta kawinin kayak omongan lo biasanya."
"Itu dulu ya, sekarang udah enggak. Gue nggak mau kali jadi pelakor, gila aja lo!"
Jawab Anya sewot, Sandra menanggapinya dengan tertawa terbahak bahak.
"Baru juga tunangan, belom nikah. Perjuangkan sebelum janur kuning melengkung, say," ucap Sandra menepuk d**a Anya provokatif.
"Emang setan lo ya beraninya mempengaruhi hati bersih gue."
Sandra kembali tertawa sampai akhirnya dirinya terbatuk akibat tersedak.
"Duh, tenggorokan gue. Tolong ambilin gue minum dong! Gatel nih."
"Manja, ambil sana sendiri. Masa tamu di suruh suruh," sahut Anya apatis.
"Tamu katanya? Tamu nggak ada kali modelan kayak lo. Ayo dong, ambilin! Nolong orang pahalanya gede loh," rengeknya sembari memperlihatkan puppy eyes membuat bola mata Anya berputar.
"Ck, iya iya, dimana?" tanya Anya.senantiasa bangkit dari posisinya diikuti rasa malas.
"Di dapurlah, masa di pasar!" Anya mendelik kearah Sandra sembari tercengang. Dapur? Tapi ada Gaza.
"Harus gitu ya gue turun ke dapur?" bibirnya mencebik.
"Kenapa? nggak berani ya lo. Takut kan ketemu om gue? Katanya tadi biasa aja tadi, sekarang apa? Gugup?" Sandra meremehkan Anya sembari beretorika.
"Eh enggak ya, enak aja. Siapa bilang?"Anya menyangkal meski dalam hati meringis.
"Ya udah kalau berani mah, sok atuh turun!" titah Sandra sambil tersenyum miring.
Sambil berdecak sebal akhirnya Anya melangkah keluar dari kamar lalu menuruni satu persatu anak tangga, tak lupa mulutnya menggerutu panjang lebar hingga tak sadari langkah kakinya tiba tiba berhenti ketika melihat Gaza sedang makan diruang makan.
Anya menelan salivanya kasar melihat Gaza disana.
Plis Anya, jangan centil lagi! Dia punya orang sekarang. Monolognya dalam hati.
"Permisi,om!"
Gaza yang sedang menikmati sereal di meja makan kontan melirik sekilas kearah Anya tanpa bersuara apa apa.
"Ah..om, selamat ya atas pertunangannya. Semoga selalu bahagia," ucap Anya senantiasa mengulurkan tangan. Akan tetapi, hal itu justru tidak di sambut baik oleh Gaza, Anya menarik kembali tangannya yang berada di udara dengan raut kecewa.
"Makasih," jawab Gaza singkat terkesan malas.
"Oiya, besok aku pindah ke Bali." Anya memberinya informasi.
"Oh.."
"Oh, doang om?"
"Terus aku harus bilang apa? Jangan pergi?" ekspresinya tetap datar dan dingin kemudian berdecih.
"Jangan lagi terus berharap pada hal yang tidak pasti!"sambung Gaza kemudian meninggalkan meja makan.
"Iya, om nggak usah khawatir. Aku bakal belajar move on, kok" Anya terlihat kesal langsung melipir meninggalkan meja makan yang terlebih dahulu kosong karena Gaza telah pergi ke tempat lain.
Tubuhnya limbung saat kini berada dikamar Sandra, benar benar pria tidak peka.
Apa dia tidak pernah berpikir bagaimana perasaan Anya yang selama ini sangatlah besar untuk nya?
Apakah pria itu tidak mencoba sedikit saja melihat dirinya sebagai seorang wanita bukan sebagai anak ingusan?
Lututnya lemas bersamaan dengan luruhnya tubuh Anya ke lantai, dia bersimpuh membuat Sandra menatap Anya penuh tanda tanya.
"Om Gaza nggak akan pernah melihat gue dan perasaan ini ,Sandra, gue hancur. Gue sedih," ucapnya sambil terisak menutup wajah cantiknya dengan kedua tangannya.
Sandra merengkuh tubuh Anya, bisa itu bergetar diiringi oleh isak tangis yang semakin kuat.