Badung, Bali
Pagi yang cerah, Anya menggeliat ketika bangun dari tidur nyenyaknya semalam.
Ekor matanya mengitari seluruh sudut kamar yang kini berbeda dari kamar sebelumnya.
'Hah' Anya menghela nafas, tangan kanannya bergerak memijit pelipis yang sedikit berdenyut karna terlalu lelah akibat semalam.
Sedangkan punggung dan kepalanya bersandar pada ranjang tempat tidur sambil memejamkan mata sejenak.
Tak lama setelahnya, kemudian dia melirik jam dinding yang kini sudah menunjukkan pukul enam, dia baru ingat bahwa dia harus ke sekolah baru hari ini. Tentu tidak boleh terlambat karena kesan pertama itu penting sekali bukan?
****
Anya menapakkan kaki jenjang di halaman sekolah tempat dirinya menimba ilmu.
Dari sudut tatap matanya, semuanya masih terasa asing dimatanya. Mulai dari gedung sekolah, teman teman, bahkan gurunya sekalipun.
Huft, sekali lagi, dia menarik nafas lalu menghembuskan perlahan.
Sejurus kemuidan, dia berjalan lurus menyusuri koridor mengekori wali kelasnya yang baru saja menghampiri.
Hari ini aakah momentum dimana dia akan memperkenalkan diri sebagai murid baru dan akan mendapatkan teman baru pula.
"Silahkan, perkenalkan diri kepada teman teman barumu!" titah Mrs.Dessy dengan ramah setelah dirinya berada didepan kelas.
Dia mengangguk mengikuti instruksi gurunya.
"Hai, namaku Anya Gracia Mariska, panggil aja Anya. Salam kenal buat kalian semua," ucapnya diiringi senyuman manis juga menawan.
Mereka pun menjawab serempak,"salam kenal juga".
Setelah memperkenalkan diri, Anya diminta duduk disebelah Marvel karna hanya sebelah Marvel lah terdapat bangku kosong
Selama ini, laki laki itu tidak berminat menerima teman sebangku.
Dia lebih nyaman duduk sendiri. Akan tetapi, rupanya keberadaan Anya tidak membuat marvel menolak gadis itu untuk duduk disisinya.
Di sekolah, Marvel merupakan laki laki populer. Tapi sayang, dia sangat terkenal dengan sifat dingin dan introvert , membuat para perempuan sulit mendekati laki laki itu, tapi meski begitu hal tersebut tak mengurangi pesonanya di mata para siswi seantero sekolah.
"Hai, aku Marvel." Marvel mengukir senyuman di bibirnya untuk pertama kalinya dia tunjukan kepada gadis yang duduk disampingnya nya. Tentu saja peristiwa langka ini membuat seisi kelas tercengang. Dengan senang hati Anya menerima uluran tangan laki laki itu.
Setelah empat jam melalui mata pelajaran, kini bel istirahat berbunyi.
"Kita ke kantin, yuk! Setelah makan, nanti aku ajak kamu keliling sekolah, mau kan?" Ajak Marvel dengan ramah, untuk pertama kalinya dia mengakrabkan diri dengan seorang perempuan dan itu hanya Anya.
Keakraban mereka tentu membuat seluruh pasang mata melihat aneh kearah dua orang yang berjalan beriringan. Mereka saling berbisik, ada pula yang terang terangan merasa patah hati karna si tampan mereka kini sudah menemukan gadis yang membuatnya nyaman.
Padahal dimata mereka, Marvel tipikal laki laki yang sulit di sentuh, tapi entah mengapa pada Anya laki laki itu justru mudah membaur. Suatu hal yang sulit dipercaya.jika diuraikan melalui kata kata.
.
.
.
Seiring berjalannya waktu, tak terasa Anya telah lima bulan menetap di Bali, pertemanannya bersama Marvel pun terjalin semakin dekat dan kian akrab.
Kesibukannya di sekolah baru, sedikit mengalihkan hati Anya dari pria yang pernah ada dan menguasai hatinya selama ini.
Tak penat, Anya selalu berusaha mengikis rasa yang dia miliki meski pada akhirnya rasa itu sulit pergi dan selalu kembali.
Sebenarnya, dia sudah terlalu lelah terus berperang dengan rasa yang bersemayam dalam dihatinya sejak dulu.
Walau terlihat tegar, nyatanya Anya belum bisa sepenuhnya meninggalkan Gaza, hatinya masih tertinggal disana meski raganya menjauh . Dia sampai pusing sendiri, bagaimana caranya melupakan laki laki itu sepenuhnya?
Meski banyak waktu telah dia gunakan mencoba,tapi selalu saja sia sia. Seandainya bisa mengubur perasaan itu sedalam mungkin, pasti Anya telah melakukannya sejak dulu. Tidak perlu dirinya serepot ini dengan perasaan dan cinta.
****
Hari ini, Marvel mengajak Anya datang ketempat tinggalnya yang berada di kuta, letaknya tidak jauh dari kediamannya Anya.
Beberapa waktu lalu, Marvel sudah berjanji akan mengerjakan tugas kelompok dirumahnya tentu saja bersama Anya. Di kelas kala itu dia memilih sendiri siapa teman untuk dia.jadikan team satu kelompoknya, sudah pasti pilihan jatuh kepada Anya. Siapa lagi memangnya?
Mereka yang berada satu kelas pun sudah bisa menebak siapa yang akan menjadi partner Marvel dalam mengerjakan tugas kelompok.
Bukankah kesetakan keduanga, sudah bukan rahasia lagi?
Apalagi melihat Marvel yang kelihatan posesif kepada Anya membuat semua berasumsi hal serupa, kalau Marvel punya perasaan pada gadis baru disekolah mereka itu.
Apalagi ketika Marvel secara terang terangan menunjukkan banyak kasih sayang dan perhatian yang belum pernah dia curahkan kepada siapapun, membuat praduga para siswa semakin kuat.
Disinilah sekarang, untuk pertama kali nya, laki laki itu mengajak seseorang untuk masuk ke dalam rumah yang memiliki konsep minimalis tersebut. Dan itu hanya Anya.
Sebelum memulai kegiatan belajarnya, Marvel menyiapkan makan siang sebagai sumber energi agar berkonsentrasi dalam mengerjakan tugas mereka,
ada rasa kagum saat mengetahui sisi tersembunyi dari Marvel, laki laki ini sangat luwes ketika berada di dapur.
Setelah semuanya siap dan dihidangkan diatas meja makan,Marvel menyiapkan kursi untuk Anya tepat diseberang mejanya.
Sejujurnya, gadis itu tidak enak menerima perlakukan berlebihan dari Marvel, apalagi mengingat laki laki itu tipe orang yang sulit di dekati, membuatnya merasa aneh jika diperlakukan tak biasa seperti ini.
Mereka menikmati makan siang dalam keheningan,hanya terdengar suara sendok dan piring yang beradu.
"An..maaf, mungkin ini terlalu cepat buat kamu." Suara Marvel memecah keheningan diantara keduanya. Dengan segenap keberaniannya dia mulai mendorong perasaannya untuk mengungkapkan apa yang dia simpan selama kenal dengan Anya.
"Kenapa, Vel?"tm tanya Anya, perhatiannya beralih kepada Marvel yang tampak menatapnya serius.
"Hmm..jujur aja, sebenernya aku suka sama kamu dari pertama kita ketemu, eum.. kamu mau nggak jadi pacar aku?" tanya Marvel tanpa basa basi, tentu saja dia tidak bisa banyak kosa kata dalam mengungkapkan perasaannya kecuali mengatakan secara gamblang seperti ini .
Hening.
gerakan memotong ayam di piring Anya berhenti seketika, karena merasa cukup terkejut dengan ucapan laki laki di hadapannya.
Marvel sudah menduga, pasti Anya akan spechless dengan apa yang dia ucapkan barusan, jangankan Anya! Marvel juga merasa aneh karena tidak pernah mengira bahwa mulutnya akan seberani ini melontarkan kalimat suka pada lawan jenis.
Detak jantung Marvel berpacu lebih cepat ketika Anya hanya menatapnya biasa. Dia takut, bahwa sesuatu yang tidak ingin dia dengar justru meluncur dari mulut Anya.
Sedang disisi lain, batin Anya meronta, benaknya sedang berkecamuk dengan sejuta pertanyaan yang membentuk tanda tanya besar dikepalanya.
Ini serius, Marvel nembak? batin Anya bertanya tanya.
Terus terang saja, dia merasa tersanjung karna menjadi orang pertama yang pria populer itu sukai itu artinya betapa istimewanya dirinya dihadapan pria itu.
Tapi tak dapat disangkal juga jika perasaannya terasa biasa saja. Tidak seperti saat berada didekat Gaza gang berhasil membuat jantungnya dibuat seakan maraton setiap hari.
Aish, kenapa jadi ingat dia lagi sih?
'Astaga...'
"Maaf sebelumnya, mungkin ini akan melukai perasaan kamu. Tapi jujur aja, sebenernya aku lebih nyaman kita berteman. Mungkin aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri menerima kamu dakam hatiku, kamu nggak apa apa kan?" dengan ragu ragu Anya menjawab perasaan Marvel.
"Jadi, itu artinya perasaan aku nggak dibalas?"
Anya mengangguk membuat raut wajah tampan Marvel terukir kekecewaan.
"Tapi.." Marvel menggantungkan ucapannya di udara , dirinya sadar jika memaksa kan perasaannya, maka hal itu akan menjauhkannya dari gadis yang dia sukai.
"Nggak apa apa deh, just a friend!" Senyum indah itu terbit dari sudut bibir Marvel sambil mengajak Anya berjabat tangan tanda mereka tetap berteman .
Marvel membatin, meski kali ini dia gagal dia tidak akan kapok untuk suatu saat dia bertekad kembali mencobanya.
****
"Surprise." Reva membawakan makan siang ke kantor Gaza, sebagai calon istri yang baik dia harus tau bagaimana cara menyenangkan hati calon suaminya.
Tentu kedatangan Reva sangat membuat Gaza senang, sejenak dia melupakan kepenatan nya setelah berkutat pada tumpukan berkas di hadapannya.
"Aku bawain makan siang buat kamu sayang!" ujarnya.
Sambil menyiapkan makan siang, mereka mengobrol ringan sembari sesekali melemparkan candaan.
Reva dengan telaten memindahkan makanan dari rantang ke piring yang sudah tersedia. Tidak lupa juga dia menyiapkan segelas air putih disamping piring Gaza, sungguh tipe istri idaman bukan?
Sampai tak terasa makanan yang mereka santap habis tak tersisa.
"Makasih, sayang! Masakan kamu enak," puji Gaza tulus. Sedangkan Reva hanya menanggapinya dengan senyuman lebar.
"Sayang, nanti sore aku mau ke Bali, ada hal yang mau aku kerjain di sana," ujar Reva menginformasikan hal penting ini pada calon suaminya.
"Nggak, bisa diwakilkan ya sayang?" entah kenapa tiba tiba Gaza merasa ada yang tidak beres mengenai perasaannya sejak semalam tentang Reva.
"Nggak bisa gitu dong, Gaza. Kamu tau sendiri kan, aku ingin pekerjaanku membuah hasil yang maximal, belum tentu jika aku menyerahkan pada sekretarisku, hasilnya akan sesuai dengan ekspetasiku," jawab Reva sambil menangkup punggung tangan calon suaminya.
"Tapi,...."
"Sayang, dong worry, iam okay."
Akhirnya meski berat hati, akhirnya Gaza mengangguk menyetujui.
"Berapa hari?" tanya Gaza kemudian.
"Sekitar tiga hari, sayang! Udah nggak usah cemas gitu, aku akan selalu baik baik saja untukmu. Percayalah!"
"Bukan gitu, aku ngerasa nggak enak sayang, seperti akan ada sesuatu yang terjadi. Tapi, semoga itu cuma perasaan aku saja ya!" Ucapan itu hanya di angguki oleh Reva yang kemudian tersenyum tipis.
"Masalah penginapan, bagaimana?"
"Kamu nggak usah pikirin, udah di reservasi kok sama sekertaris aku",
"Ya udah kalau gitu. Kamu hati hati ya, safe flight. Pulanglah dengan keadaan selamat ya sayang!"
"Pasti calon suamiku."
.
.
.
Reva meninggalkan kota Surabaya tepat pukul setengah tiga sore menggunakan maskapai penerbangan Sriwijaya.
Semenjak kepergian Reva juga ketenangan Gaza mulai terusik entah mengapa perasaannya mendadak gelisah, seperti sesuatu akan terjadi.
Menit berganti menit ,jam terus berputar, dan siang pun berganti gulita.
sekarang, jarum jam sudah menunjukkan angka tujuh yang artinya sudah empat jam Reva sama sekali tidak membalas pesannya, bahkan nomornya tidak aktif sama sekali.
Gaza hanya mampu menunggu dan terus menunggu kabar dari Reva dalam.keadaan gusar, dia tidak ingin sesuatu menimpa calon istrinya itu. Dalam hati berdoa semoga wanitanya baik baik saja meski tak dipungkiri instingnya selalu meyakinkan diri bahwa Reva dalam kondisi buruk.
Tidak,
Gaza belum siap jika kehilangan cinta pertama dan mungkin menjadi cinta terakhirnya, karna sebentar lagi mereka terikat oleh pernikahan sakral.
*****
Anya menekan tombol remote dengan acak, tidak ada acara menarik membuat dirinya bosan, Anya kembali menyuap potongan red velvet di piring.
Awalnya mata itu tidak terlalu fokus pada televisinya, akan tetapi tiba tiba saja dirinya terpaku saat ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Gegas Anya meraih remote yang berada di sampingnya untuk menekan tombol penambah volume.
Diberita tersebut, reporter membacakan berita tentang terjadi kecelakaan pesawat rute Surabaya-Bali yang mengacu pada beberapa faktor antara lain kondisi cuaca yang buruk atau karna kelalaian kru pesawat.
Dilayar segi empat tersebut di cantumkan beberapa nama yang menjadi korban dalam kecelakaan pesawat tersebut.
Anya terperangah saat membaca satu nama dari delapan puluh empat penumpang.
Reva angelica jane 26 tahun.
Sendok yang semula digenggaman Anya terjatuh begitu saja tanpa diminta, hingga menimbulkan bunyi nyaring karna terbentur keramik. Tubuhnya menegang karna dia merasa dia sangat mengenal nama itu, tangannya sontak membekap mulut nya sendiri sambil menggeleng kepala.
Tidak mungkin,dia
"Reva? Calon istri Gaza?" gumamnya lirih.