Gaza yang mendengar berita mengejutkan itu,langsung mengambil penerbangan menuju kota Bali, karena pesawat yang melibatkan Reva, jatuh di perairan utara pulai Bali.
Wajah tampan nya tampak kuyu dan sembab. Benar dugaannya, terjadi sudah firasat yang dia rasakan waktu itu,dia merasa bodoh membiarkan Reva pergi, harusnya dia mencegahnya hal itu atau mungkin mendampingi Reva pergi, agar setelah insiden ini, mereka bisa mati bersama.
dia seperti orang ling lung sekarang setelah kenyataan pahit yang dia terima terpampang begitu nyata di depan mata.
Tanpa pikir panjang, pria nekat pergi meninggalkan keponakannya sendirian dirumah, fokusnya kali ini hanya tertuju pada Reva. Meski dia yakin hanya sepuluh persen kemungkinan bisa menemukan mayat Reva yang tenggelam. Akan tetapi, setidaknya dia bisa menyaksikan sendiri bagaimana tim SAR bekerja demi mencari para korban yang berjatuhan.
Gila?
ya, Gaza gila karna ditinggal pergi bukan hanya tiga hari tetapi justru selamanya. Seumur hidupnya.
Padahal tinggal selangkah lagi, dua sejoli yang saling mencintai itu melangkah ke jenjang pernikahan untuk kemudian merasakan kebahagiaan lalu merenda harapan memiliki anak, cucu hingga menua bersama.
Satu jam lebih mengudara, Gaza menginjakkan kaki di bandara Ngurah rai, dia bergegasmemesan taksi menuju lokasi dimana Reva telah tenggelam. Selama dalam perjalanan menuju lokasi, raut wajahnya menyiratkan ke khawatiran yang tidak bertepi.
Seperti yang Gaza duga sebelumnya tidak ada hasil apapun kecuali kesia- siaan belaka, karena kekecewaan yang mematahkan harapan menemukan jasad Reva itulah dihari yang sama pula bertolak, dia memilih kembali ke Surabaya
****
Sebulan kemudian.
Gaza duduk menopang dagu sambil memandangi ikan ikannya yang berenang sangat menggemaskan.
Disampong dimana Gaza duduk, ada Sandra mengusap bahu om tersayangnya. Meski sudah sebulan berlalu pasca kematian calon istrinya, tak menampik bahwa Gaza masih sering memikirkannya, bahkan karena hal itu pula dia kerap kali melupakan kesehatan.
Tak berhenti di situ, Sandra berusaha membuat Gaza kembali bangkit dari keterpukan yang memenjarakan Gaza. Sandra berusaha membuat Gaza kembali seperti dulu karena gadis itu tidak mau melihat om tersayangnya bersikap bagai patung terus menerus seperti ini.
Akhirnya lambat laun setelah semua kian berlalu, atas kesadaran sendiri Gaza mulai berubah kembali seperti sedia kala. Atas kemauan yang besar, dia memulihkan semua yang pernah hilang dalam dirinya, Gaza beepikir kedepan, kalau dia terus terpuruk dan hanyut dalam kesedihan bagaimana nasib Sandra? Mengingat sebentar lagi Sandra akan menghadapi ujian nasional yang pasti akan membutuhkan support dan doa dari keluarga.
Sandra bahagia melihat Gaza yang sudah mau banyak mengajaknya berinteraksi, banyak bercengkerama dibanding mengurung di kamar.
Sandra berharap, semoga kesedihan Gaza hanya berakhir sampai disini saja.
.
.
.
Bali
Suasana di sekolah Anya, tampak sangat ramai oleh sorak bahagia yang terdengar riuh dari seluruh siswa kelas dua belas. Termasuk dengan Anya, dia tampak bahagia karna mendapat nilai terbaik.
"Kita lulus...yeah!" Marvel dan Anya saling berpelukan, mereka bersorak bahagia karena menganggap usaha mereka tidak sia sia selama ini. Mereka banyak habiskan waktu demi belajar dengan tekun untuk mewujudkan kelulusan dengan nilai yang memuaskan. Dan itu membuahkan hasil sempurna.
Mereka saling memberi ucapan selamat atas pencapaian masing masing.
"Setelah ini akan melanjutkan kemana?" tanya Anya setelah mengurai pelukannya
"Aku memiliki rencana melanjutkan studi ke UNDIKNAS, bagaimana sama kamu?"
"Wah...planning yang keren Marvel, aku juga bakal kesana seperti impian masa kecilku, aku akan mengambil jurusan ilmu Hukum untuk meraih cita cita ku jadi lawyers, "imbuh Anya sambil menangkup kedua tangannya.
"Cita cita yang bagus, good luck for you!"puji Marvel sambil mengacungkan kedua jempolnya yang disambut kekehan dari bibir kecil Anya.
"Kesana, yuk!" Mereka pun bergabung membaur bersama teman teman yang lain, merayakan kelulusan bersama dengan bertukar tanda tangan pada seragam mereka.
Dua tahun kemudian...
"Anya,bagaimana kuliah kamu?" tanya Roni, ayahnya.
"Ya..seperti itulah yah, menyenangkan sekaligus membosankan," dengus Anya.
"kenapa begitu? kamu masuk kesana kan juga atas keinginan kamu sendiri, jangan sampai lah kamu mengatakan bosan!" tukas Emi mendengus.
"Entahlah, emang harus jawab apalagi selain bosan, emang gitu kenyatannya,"jawabnya sambil mengunyah ayam dalam genggamannya
Ibu dan ayah Anya,saling memandang lalu mengangguk.
"Oke kita beralih kepembahasan lain, mama mau menyampaikan sesuatu, tapi kami harap kamu nggak kaget mendengar ini."
Anya menghentikan gerakan sendok dan garpu nya, tatapan matanya mengarah tajam pada sang ibu.
"Ada apa ,ma?"tanya nya penasaran.
"Kita, akan pindah minggu depan."
"APA???lagi???"tanya Anya sambil melotot karena cukup terkejut, dia menoleh ke ibu dan ayahnya secara bergantian yang kompak mengangguk.
"Oh my god, iam so tired ma. Pindah sana, pindah sini. Bisakah kita menetap hanya disatu kota saja, tanpa perlu pindah lagi?"protesnya, pasalnya selama ini sudah kedua kali nya mereka pindah kota, pertama ke Kalimantan, kedua ke Bali.
Entah bagaimana dia menggambarkan perasaannya saat ini, akan seberapa jauh lagi dia tinggal. Mau sampai kapan dia begini, semakin jauh dari cinta pertamanya. Jujur mencintai sendirian itu rasanya sangat sulit dan tentu saja bukan hal mudah bagi Anya melalui nya. Tapi, lebih sulit ketika harus terus menjauh tanpa akhir.
"Kalau kamu keberatan ikut, kamu boleh tinggal disini, karena kami nggak akan memaksa. Kami tau kamu sudah dewasa dan punya pilihan sendiri, jadi kami memberikan kamu pilihan."Emi mencoba memberi pengertian kepada putri nya itu.
"Baiklah, tapi sebelumnya kalau boleh aku tau, alasan pindah karna apa?"tanya Anya kemudian.
"Kantor ayah disana terbengkalai, karna orang kepercayaan ayah mengalami stroke, ,ayah tidak bisa memberi tanggung jawab kepada orang lain yang belum bisa ayah percaya. Jadi ayah harus kembali mengurus semuanya."
Anya menghela nafas frustasi kemudian kembali layangkan pertanyaan.
"Kemana kita akan pindah?"
"Surabaya." Entah mengapa mendengar nama kota kelahirannya itu, detak jantung Anya berdetak semkain kencang.
Tubuh yang semula lemas kini kembali prima seketika.
"Oh jantung...ada apa dengan mu?"
****
Sandra memekik kegirangan setelah mendengar kabar sahabatnya akan kembali kesini. Sudah lama mereka tidak bertukar kabar. Terakhir kali melakukannya adalah ketika mereka sama sama lulus SMA saat itu.
Seperti apa Wajah Anya setelah dua tahun lebih berpisah?
Sandra sangat tidak sabar bertemu dan berbagi ranjang lagi dengan Anya.
"Sandra, hati hati jatuh!" ucap Gaza ,beruntung Sandra tidak sampai terpeleset akibat menari nari tidak jelas.
"Om Gaza udah pulang?"tanya nya antusias.
"Yang seperti kamu lihat bagaimana? Ngomong ngomong lagi seneng banget nih kayaknya, ada apa?"
"Coba tebak apa yang membuatku sebahagia ini?"
"Dapat gebetan baru?"
"Salah."
"Dapat hadiah dari pacar?"
"ih,mana ada? aku aja masih jomblo, gimana mau dapat hadiah?"dia mencebik.
"Sudahlah, malas menebak. Bilang aja to the point!"
"Nyerah gitu aja? Yah... payah!"
"Berhubung akh lagu seneng banget, jadi aku kasih tahu aja deh. Jadi gini om, Anya sebentar lagi balik kesini dan menetap disini. Kabar yang luar biasa bukan? Itu kabar yang paling membahagiakan untuk ku, om!"
"Anya?" Gaza terkejut,
"Iya, Kenapa om?" tanya Sandar mengerutkan kening.
"Ah..nggak apa apa, ya udah om masuk kamar dulu ya, selamat bersenang-senang."
Gaza bangkit seraya melangkah kan kaki ke kamarnya.
Selama didalam kamar, Gaza kembali berpikir tentabg bagaimana dengan tawaran orang tua Anya beberapa pekan kemarin, apakah itu akan benar benar terjadi?
antara dirinya dan Anya?....
"Gaza, maaf saya mengundang kamu kesini secara mendadak," ucap Roni.
"Tidak apa apa pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Gaza dengan sopan, inilah mengapa ayah nya Anya yakin bahwa Gaza orang yang tepat di ajak kerja sama dengan baik, karena selain sudah lama saling mengenal, Gaza juga pria sempurna dan banyak lagi nilai positifnya lainnya dimata kedua orang tua Anya.
"Ekhem..begini, sebulan lagi kami akan kembali ke Surabaya kembali. Tapi sebenarnya masih ada beberapa kendala yang harus saya selesaikan di Swiss, tentu hal yang membuat saya berat adalah saya harus tinggalkan Anya di Surabaya. Tidak mungkin saya membawa serta Anya mengingat dia harus menyelesaikan pendidikan S1 nya."
Gaza belum bisa mencerna ucapan ayah Anya, mau kemana arah pembicaraan ini?
"Kantor saya di Surabaya sedang terbengkalai karena orang kepercayaan saya sakit, terlebih lagi saya tidak bisa jika harus mengurusnya sendiri karena harus ke Swiss. Kalau berkenan apakah kamu bersedia mengurus perusahaan saya di Surabaya,?"
"Mengapa begitu, pak? saya harus mengelola perusahaan saya sendiri , apa tidak bapak serahkan kepada orang lain yang bapak percaya saja?"
"Itu dia permasalahannya ,saya belum bisa menyerahkan kepada orang sembarangan dalam waktu singkat. Jujur saja, selain saya mau titip perusahaan, saya mau sekalian titip Anya."
Gaza semakin tidak paham, arah pembicaraan pria paruh baya didepannya ini. Apa maksudnya titip?
"Begini,saya langsung pada pokoknya saja. Bersedia kah kamu menikahi anak saya, Anya ?"
Benar saja, ayah Anya tidak main main dengan ucapannya waktu itu dan bodohnya dia menyetujuinya tanpa tedeng aling aling.
Karena dia berpikir, ada beberapa alasan yang logis dari permintaan konyol tersebut.
Pertama, karna Anya adalah seorang gadis, apalagi terlahir sebagai anak tunggal yang akan tinggal sendirian tanoa pendamping. Tentu dia bnyak diincar para musuh ayahnya dalam kesempatan luas ini.
Belum lagi Anya kemungkinan dalam kehidupan Anya yang sendirian, dia akan terjangkit pergaulan bebas jika dibiarkan tanpa pengawasan.
Menikah adalah jalan satu satunya supaya Gaza dengan bebas mengawasi Anya 24 jam karna tinggal dalam satu atap, dan menurut ayah Anya, dirinya orang yang tepat karna melihat dari cara Gaza mendidik dan membesarkan Sandra dengan baik.
kepalanya mendadak nyeri, ada rasa sesal karena menyetujui permintaan Roni tanpa memikirkan konsekuensinya. Tentu saja jika Anya tau agenda sebenarnya dia akan kecewa atas keputusan ini.
.
.
.
"Apa? kamu mau pindah ?" tanya Marvel terkejut,Anya mengangguk.
"Terus kamu mau ,An?" sambungnya dengan raut wajah kecewa.
"Nggak ada pilihan lain Vel, mau nggak mau jadi aku ikut aja!" sambil mengedikkan bahu.
Marvel membuang nafas gusar, baru saja dia merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta berjuta rasa, tetapi gadis yang dicintainya justru akan pergi. Kenapa takdir Sunnah sekali mempermainkannya? Jika memang tidak bisa bersama, mengapa Anya dihadirkan dalam hidupnya?
Sungguh rumit sekali.
"Aku juga akan pindah kalau gitu!"tukas Marvel.
"Serius?"tanyanya, mata Anya membulat mendengar ucapan laki laki itu yang mengatakan akan mengikuti jejak Anya ke Surabaya.
"Sepertinya tinggal di Surabaya menyenangkan apa salahnya mencoba lingkungan baru?"Marvel menautkan jemarinya sambil bertumpu pada besi pembatas balkon.
"Itu terserah sama kamu saja, lalu masalah tempat tinggal bagaimana?"
"Aku bisa menumpang di rumahmu."
"hei..."Anya melotot, Marvel terkekeh melihat tatapan tak bersahabat itu.
"Aku bercanda, Anya. Masak iya aku mau numpang hidup di rumah seorang gadis." Anya membuang nafas lega,
"Aku akan tinggal dirumah mendiang kakak sepupuku," sambung Marvel lugas.
"Oh..kamu punya saudara di Surabaya?"
"Iya, kakak sepupu ku tinggal disana. Tapi dia sudah meninggal. Jjadi rumah itu kosong. Hanya yangbaku dengar, beberapa kali pembantu datang untuk membersihkan rumah itu."
"Kasian sekali,sakit apa?"
"Meninggal karna kecelakaan pesawat dua tahun lalu. Padahal dua bulan lagi dia akan menikah." Marvel tersenyum getir saat mengingat nasib Kaka sepupunya yang naas.
"Yaampun, bagaimana nasib keluarganya setelah kematian kakakmu itu?"
"Mereka sangat syok, terlebih lagi calon suami kakak yang sempat depresi selama sebulan."
"Pasti mereka saling mencintai," tanya Anya ikut berduka.
"Ya, seperti yang ku dengar mereka pasangan yang serasi dan saling mencintai."
Kemudian Marvel maupun Anya terdiam, hanyut dalam pikiran masing masing.