Brother Jo
"aku akan mendapatkan brother jo!" begitulah seruan jesica alguero, gadis berusia 18 tahun yang jatuh cinta akan kakaknya sendiri. bukan kakak kandung memang, hanya seorang pria yang ia anggap sebagai kakak.
"ya..ya.. yaa.." jawab arin sahabatnya dengan malas. bagaimana tidak, wanita muda itu sudah mengatakannya berulang kali. dan itu sungguh membuat muak sahabatnya itu.
"kenapa responmu seperti itu?! kau tidak percaya?" tanya jesi membesarkan matanya.
arin tertawa tak acuh menyepelekan semangat sahabatnya itu. "ya, aku sangat percaya. aku percaya bahwa kau dan brother jo tetap akan menjadi kakak dan adik selamanya!" seru arin sambil tersenyum dan mengangguk.
jesi mendengkuskan napasnya. bibirnya maju tanda bahwa ia tidak suka akan pernyataan arin. "kau lihat saja nanti! aku ini wanita dewasa. brother jo pasti akan menyukaiku. kami akan menghapus kata kakak adik sialan ini. kami akan menjadi sepasang kekasih yang tidak akan terpisahkan!" seru bibir judes jesi itu dengan cepat. seakan tidak ada jeda saat ia berbicara.
arin tersenyum mengejek menatap sahabatnya itu. "ya, aku akan mendukungmu jesi." ucapnya.
tak lama, seorang wanita masuk ke dalam kamar jesi. ia adalah lisa. sahabat jesi yang lainnya. mereka duduk di kelas yang sama. dan sudah menjadi sahabat sejak duduk di bangku sekolah menengah.
"ah, aku sangat lelah berjalan." keluhnya. menaruh bungkusan yang ia bawa di atas meja belajar jesi.
jesi dan arin langsung menghampirinya. membuka bungkusan yang lisa bawa. melihat apa isinya. "kau membeli apa yang ku pesan?" tanya jesi sambil tersenyum lebar.
lisa pun mengangguk dengan malas. "ya, ice cream cokelat tidak pakai kacang, bukan?"
"yayaya..," jawab jesi dengan antusias.
jesi pun membuka pembungkus ice creamnya. ia menyendok ice cream itu ke dalam mulutnya. "emmm.. ini enak sekali." ucapnya dengan senang. membuat kedua temannya itu langsung menatapnya dan menggelengkan kepala.
"ada apa? apa yang salah?" tanya jesi bingung sendiri di tatap seperti itu.
"lihatlah lisa, ia menyukai pria berumur 25 tahun bernama jonathan, dan kelakuannya seperti anak kecil seperti itu." komentar arin membuat jesi melototkan matanya dengan galak.
"apanya yang seperti anak kecil?!" seru jesi tidak terima. "aku hanya makan ice cream. lalu apa salahnya? orang dewasa juga makan ice cream, bukan?"
lisa mengusap kepala jesi. "sudahlah, makan saja ice creammu itu. berbicara lebih banyak membuatmu semakin terlihat seperti anak kecil." saran lisa membuat jesi menarik napas menahan sabar.
kenapa semua orang selalu mengataiku anak kecil?! akukan sudah 18 tahun! kalian lihat saja, kalian akan tahu nanti setelah aku mendapatkan brother jo! seru jesi di dalam hati.
***
jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. jesi sudah mengintai dari jendela rumahnya."dia sudah pulang! dia sudah pulang!" seru jesi. membuat kedua temannya jadi ikut mengintip dari jendela.
tetapi. alangkah terkejutnya mereka, saat melihat jonathan malah pulang bersama dengan seorang wanita. pria itu merangkul wanita itu dan masuk ke dalam rumah.
"brother jo pulang bersama wanita lain." ucap lisa memperjelas situasi itu.
"ya, aku rasa brother jo layaknya pria dewasa lain." tambah arin.
sedangkan jesi sudah cemberut disitu.
"jesi, kalau kau ingin mendapatkan brother jo, jadilah dewasa juga. jangan seperti anak kecil terus menerus." saran arin.
"aku akan mendapatkan brother jo! aku akan mengusir wanita itu!" seru jesi dengan kesal. ia pun segera beranjak dari sana. pergi menuju ke rumah jonathan.
***
jonathan marten bale, pria dewasa yang sedang ingin melampiaskan kebutuhannya. di atas sofa rumahnya, ia menindih tubuh monica wanita yang sedang ia kencani. bibir mereka saling bertautan dengan mesra dan saling bersidekap.
mereka saling berbalasan menikmati kebersamaan itu. tertawa kecil dan saling melempar senyum. rasanya begitu tentram dan puncak asmara itu pun mulai hadir di keduanya. sampai tiba-tiba..
"brother jo! brother joo!!" suara itu membuat jonathan langsung melepaskan monica seketika. keduanya langsung membereskan pakaian masing-masing dan duduk di ruang tamu itu dengan benar.
jesi dengan tidak sopannya membuka pintu rumah jonathan. ia muncul dari balik pintu dan tersenyum lebar. ia berlari kecil sambil berteriak "brother joo.. akhh-"
bug!
jonathan dan monica sampai terkaget karena wanita itu tiba-tiba jatuh dan tersungkur. kemudian ia pun menangis. "hikss.. kakiku sakiitt," rengeknya.
tanpa berpikir jonathan langsung berdiri dan menghampirinya. "apa yang kau lakukan, baby? kenapa kau lari-lari seperti ini? dan sepatu apa ini? kenapa tinggi sekali?" omel jonathan sembari membuka sepatu bertumit tinggi yang jesi kenakan.
"hiks.. jangan memarahiku. kakiku sakit sekali." rengek jesi sambil menangis.
jonathan menghelakan napasnya. ia pun menggendong wanita itu dan mendudukkannya di atas sofa. membuat kaki jesi berada di pangkuannya. "aku akan menghadiri pesta perpisahan sekolah tidak lama lagi. aku ingin tampil cantik dengan mengenakan sepatu yang kusuka," ucapnya manja. jesi melirik monica sekilas, kemudian menaikkan dagunya dengan sombong. membuat monica tercengang dan menggeleng jengah.
"aku ingin berkencan dengan seorang pria saat pesta perpisahan nanti." tambahnya membuat jonathan langsung menatap adik kesayangannya itu.
"berkencan?" tanyanya kaget. "kau masih kecil. baby! kau tidak boleh berkencan!" seru jonathan.
"mmm, brother.. tapi aku sangat ingin." ucap jesi manja.
"tidak perlu berkencan! lebih baik kau belajar yang benar."
mereka saling berbalasan.. membuat monica tampak terabaikan disana. "jo," ucapnya membuat jonathan kembali menyadari kehadirannya.
"ah, monica, ini adikku jesi. jesi.. ini temanku monica." ucap jonathan sambil mengusap tengkuknya.
"ah, hay adik kecil," ucap monica ramah sambil menjulurkan tangannya kepada jesi. tetapi. bukan membalas uluran tangan itu, jesi malah menatap wanita itu dengan sinis. membuat monica harus mengusap tangannya sendiri.
"aunty! kenapa pakaianmu seperti itu?" tanya bibir pedas jesi dengan kesal. membuat jonathan dan monica tercengang melihatnya. "kau kelihatan seperti w************n!"
"jesi!" tegur jonathan.
monica tampak menahan emosinya menatap jesi. tulang lehernya pun tampak mencuat ingin sekali menerkam wanita muda itu.
"ada apa brother?" tanya jesi balik. "bukankah kau tidak mengijinkanku memakai pakaian seperti itu? kau bilang itu seperti pakaian w************n. dan.. sekarang aku percaya setelah melihat aunty ini."
"apa katamu?!" habis sudah kesabaran monica. ingin sekali ia mencincang wanita muda itu.
"ya! kau terlihat seperti p*****r yang menjajakan dirimu di luar sana!"
"Perempuan sialan! apa orang tuamu tidak mengajarkanmu sopan santun?!" seru monica dengan nada meninggi.
jesi terdiam. kemudian ia menangis. "hiks.. hiks.. mommy.. mommy.." rengeknya membuat jonathan memejamkan matanya erat.
jesi menurunkan kedua kakinya. "aku merindukan mommy. aku akan mengadukanmu kepada mommy!" seru jesi sambil menangis.
"jesi, maafkan aku, baby. dia hanya salah berbicara." ucap jonathan memegang lengan jesi.
jesi menepis tangan jonathan. "aku tidak mau berbicara denganmu brother jo. kau berteman dengan wanita jahat!" rengeknya. dengan kaki cengklangnya itu, jesi menenteng sepatunya dan berjalan keluar dari rumah jonathan. dan membanting pintu rumah jonathan dengan kencang.
jonathan mengusap wajahnya. "akhh, apa yang kau lakukan?!" seru jonathan kepada monica yang membuat monica tercengang.
"dia yang salah, jo!"
"dia hanya anak kecil! harusnya kau bisa mengalah!"
monica tertawa tak acuh. "hah?! anak kecil? dia itu sudah dewasa. sudah seharunya dia tahu mana yang baik dan mana yang tidak." ucap monica membela dirinya sendiri.
tetapi tampaknya, jonathan begitu menyayangi adiknya. "sudahlah.. kau pergi saja!" seru jonathan malas.
"jonathan!"
"pergi! pergi sekarang juga!" seru jonathan mengusir monica.
jesi yang masih menguping dari luar tertawa penuh kemenangan. ia segera berlari ke arah rumahnya sebelum ia bertemu dengan monica yang hendak keluar.