Baikan

1019 Words
Jesi melirik sekilas saat di dengarnya suara mesin mobil datang. Setelah kejadian tadi sore, wanita itu hanya duduk diam didalam kamarnya menunggu reaksi brother jonathan nya tersebut. Ia tadi mendengar mobil jonathan pergi dan sekarang pria itu sudah pulang. Tak berapa lama, muncullah suara pria yang ia nanti tersebut. "Jesi.. my lill sist.. jesi," panggil jonathan sembari menaiki tangga menuju kamar jesi. Jesi diam saja dikamarnya. Ia duduk di kursi meja belajarnya dan memakai headset nya, mempersiapkan diri. Jonathan membuka pintu kamar jesi dan ia tersenyum. Ia dapat melihat lirikan jesi yang sinis terhadapnya dan mengabaikan kedatangannya. "Ayo kita berbaikan." ucap jonathan membujuk jesi dan menawarkan jari kelingkingnya. Namun bukannya menjawab, jesi malah mengangkat kepalanya acuh. Melihat hal ini membuat jonathan menghelakan nafasnya. "Aku membawa donat kesukaanmu." Ucap jonathan menaruh kotak persegi panjang tepat di depan jesi. Biasanya, ini adalah sogokan yang paling ampuh. Penawar perasaan suram wanita itu. Senyuman jesi seketika mengembang mentap box donat yang dibawa jonathan. "Waaahh.. banyak sekali." ucapnya dengan mata berbinar dan melipat jari jemarinya. Jonathan tertawa kecil melihat reaksi jesi. "Kalau begitu, apa kita baikan?" Tanya jonathan menatapnya dengan membungkuk. Tanpa ragu jesi langsung mengangguk. "Baiklah.. baiklah." ucapnya antusias. Dia sungguh tak sabar untuk melahap donat-donat itu. Jonathan tertawa kecil mendengarnya. Adik kecilnya ini sungguh mudah di rayu dan di luluhkan. Jika ia marah, berikan saja makanan kesukaannya dan ia akan luluh. "Kalau begitu, cium aku sekarang. Agar aku tahu bahwa kau tidak marah lagi." ucap jonathan menyodorkan pipinya. Jesi malah menatap bibir pria itu dan membayangkan bagaimana rasanya jika bibir bertemu dengan bibir. Apa sama rasanya dengan seperti saat ia mencium bibir seorang bayi? Pikirnya bertanya dalam hati. Jesi pun memajukan bibirnya perlahan dan menempel pelan di pipi jonathan. Jonathan sampai mengangkat alisnya, karna biasanya jesi akan mengecup pipinya dengan cepat dan tanpa ragu. "Terimakasih brother." ucap jesi kemudian membuka kotak donat tersebut. Mata jesi langsung berbinar menatap isinya. Donat dengan berbagai rasa tertata cantik disana. Dan jesi sungguh tak sabar untuk segera melahap semuanya. "Makanlah yang banyak!" ucap jonathan tertawa kecil sembali mengusap puncak kepala jesi. Jesi mengunyah makanannya sambil menganggukkan kepala berulang kali. "Ini enak sekali. Kau memang yang terbaik brother!" Seru jesi tersenyum senang. Ia memang paling bisa di luluhkan oleh jonathan. Dengan sogokan ice cream atau cokelat, mood wanita ini pasti akan membaik seketika. Dan jonathan sangat mengerti itu. *** Minggu depan adalah waktu dimana jesi dan teman-temannya akan melaksanakan ujian. Namun suasana di kelas jesi tampak riuh dan tak ada penampakan orang yang belajar sama sekali. Semua sibuk dengan kelompoknya masing-masing. Saling berbicara, bercanda, tertawa, bergosip dan lain-lain. Begitu juga dengan jesi dan teman-temannya yang tampak santai memakan snack mereka sambil berceloteh ria. "Jadi kau sudah berbaikan dengan brother jo?" Tanya lisa sambil mengunyah makanannya. Menatap jesi yang juga sedang asik memakan makanan ringan yang ada di tangannya. Jesi pun menganggung "dia membawa sekotak donat dan mengajakku baikan!" ucap jesi dengan riang. "Wah, kau beruntung sekali." puji arin sambil menjilati jemarinya yang penuh bumbu snack yang ia makan. Memang, bumbu snack yang menempel di jari memang terasa sangat nikmat untuk dijilat. Jesi hanya mengangguk setujuh. "Lalu, kapan kau akan melepas keperawananmu?" tanya lisa asal. Jesi pun seketika terbatuk mendengarnya. Sementara kedua sahabatnya itu terkekeh geli. "Kenapa sih kau terus menyebutkan tentang keperawanan?! Dan kenapa kau mendesakku untuk melepaskan keperawananku?! Kau suruh saja yang lain dulu untuk melakukan hal itu!" seru jesi kesal. Kedua temannya itu pun diam sambil mendelik jesi. Jesi mengedarkan pandangnya kesekitar dan terpekik tertahan. "Ya Tuhan!" Ucapnya menutup mulutnya sendiri. Kedua temannya itu terkekeh geli melihat ekspresi jesi. "Kenapa? Kau baru menyadari bahwa kau satu-satunya perawan suci di kelas ini?!" tanya lisa dan mereka berdua kembali menertawai jesi. Jesi membungkukkan tubuhnya kearah kedua temannya itu. "Aku tidak percaya, ternyata aku masuk ke kelas yang penuh dengan p*****r!" Ucapnya berbisik. Arin pun langsung menepuk jidat jesi membuat wanita itu mengaduh. "Kau saja yang kampungan!" ejek arin. Jesi membulatkan tekadnya. "Baiklah, karna kalian semua sudah maka aku akan mencobanya. Tapi aku akan mencobanya dengan brother jo seorang!" Tegas jesi. Kedua temannya saling menepuk tangan karna sudah berhasil mempengaruhi si polos ini. "Good! Mari kita bicarakan siasat untuk menggodanya sekarang!" Ucap lisa semangat. Mereka bertiga pun berbicara dan mengatur strategi. Dan misi mereka adalah, menggoda brother jo. *** "Brother jooo.." suara panggilan itu diiringi dengan gedoran pintu rumah jonathan yang terkunci. Jonathan yang sedang asik dengan film panasnya pun mengusap wajahnya yang bertetesan peluh dan menghelakan nafasnya. Ia menutup laptopnya dan beranjak dari kursi kerjanya. Ia membuka pintu rumahnya dan seketika mata jonathan terbelalak menatap jesi. Jesi berdiri disana sambil memeluk bukunya dan menggenggam pulpennya sambil tersenyum nyengir tanpa dosa. Ia menggunakan hotpants dan kaos putih yang hanya sampai di batas pinggang. Jonathan menggelengkan kepalanya cepat karna sudah berani berfikir yang tidak-tidak terhadap adiknya itu. Mungkin ini efek film barusan batin jonathan menetralisir ketegangannya. "brother jo, minggu depan aku akan ujian negara. Tolong ajari aku." pintanya dengan wajah memelas. Jonathan mengusap tengkuknya canggung. Adegan film panas itu masih berterbangan di otaknya. "Yasudah masuk." ucapnya. Entah mengapa kegugupan melanda dirinya. Jesi belajar di ruang tamu keluarga jonathan. Disampingnya ada jonatham yang pikirannya melayang-layang entah kemana. Ia kalut setelah video panasnya berhenti begitu saja, dan sekarang matanya malah selalu jatuh kepaha dan punggung jesi yang terekspos mulus. Jonathan sekali lagi menghelakan nafasnya menerima tekanan ini. Sesekali jesi memintanya untuk diajari dan jonathan perlu menetralisir otaknya untuk membagi ilmu. "Brother joo," panggilnya dengan manja membuat jonathan tertegun dan langsung menoleh kearahnya. "Aku ingin menanyakan hal yang lain sekarang!" ucap jesi menjatuhkan pulpennya diatas buku. Jonathan melirik pulpen itu dan mengangkat alisnya. Ia menengadahkan tubuhnya kearah jesi yang sudah memutar posisi menghadapnya, dengan kedua kaki terlipat di atas sofa. Sebisa mungkin jonathan mengatur ekspresi wajahnya agar tidak terlihat tegang. "Hal lain apa yang ingin kau tanyakan?" tanya jonathan bersender mengaharapkan ia bisa relaks. Jesi menatap lekat jonathan. Sesungguhnya ia ragu, namun ia harus membulatkan tekadnya sekarang. "Brother joo," "Hmm?" gumam jo menjawab. "Bisakah kau mengajariku tentang, seks education?" mata jesi menelisik menatap jonathan yang tampak kaget. Ya Tuhan.. batin jonathan. Ia sampai mengacak rambutnya karna pertanyaan jesi malah mengundang hasratnya kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD