Mengikuti Brother Jo

1021 Words
Malam mulai menyelimuti dunia. Cahaya temaram sang bulan menghias di langit yang gelap. Namun, tiga orang wanita yang katanya minggu depan akan melaksanakan ujian sekolah, malah disibukkan dengan misi yang tak senonoh mereka. entah apa yang ketiga gadis itu pikirkan. bukannya belajar di rumah, tetapi mereka sibuk dengan misi yang katanya begitu penting. misi.. mendapatkan jonathan. Jesi, lisa dan arin duduk di teras rumah jesi sembari menunggu target yang mereka intai keluar. target mereka, yaitu jonathan marten bale. kakak kesayangan jesi. Mereka memang selalu kompak dalam membantu sesama teman. Sama seperti saat arin yang mengejar seorang pria pemain basket di sekolahnya dan lisa yang mengejar seorang bartender di sebuah cafe di dekat rumahnya, mereka menyusun strategi untuk mendapatkan apa yang menjadi tujuan mereka. persahabatan yang terlalu kompak. "Lama sekali dia. Apa jangan-jangan dia tidak keluar hari ini." ucap lisa yang mulai jengah karna menunggu terlalu lama. Pasalnya, sudah 1 jam mereka duduk disana, namun target mereka tidak juga keluar. bahkan tidak ada terlihat tanda-tanda bahwa akan keluar. hanya nyamuk malam yang mulai berterbangan, mulai menyerang ketiga wanita itu. Jesi juga sudah mengucek matanya karna sudah mengantuk. Bahkan ia sudah mulai menggaruk-garuk tubuhnya secara abstrak. Biasanya, di jam yang sudah menunjukkan pukul 10 malam seperti ini, anak kecil itu sudah bergelung dibawah selimutnya dan tertidur pulas. "Aku yakin brother jo akan keluar." Ucapnya dengan suara manjanya itu. Kemudian ia menguap karna jujur, jesi sangat mengantuk. Tak lama, mereka bertiga langsung tersentak karna orang yang mereka incar telah keluar dari rumahnya dan masuk kedalam mobil. Dialah jonathan marten bale, pria yang jadi target pengintaian mereka hari ini. entah apa yang akan mereka lakukan dengan mengintai jonathan malam ini. tidak ada persiapan, tidak ada rencana, hanya mengikuti tanpa perkiraan. "Ayo cepat masuk!" Seru arin. Mereka bertiga pun langsung berlari kedalam mobil milik arin yang terparkir di halaman rumah jesi. Mereka memastikan bahwa jonathan telah pergi dan mereka mengikuti jonathan dari belakang. Mereka bertiga mendelik saat mendapati jonathan masuk kedalam sebuah club malam. Kemudian memarkirkan mobil di pelataran club tersebut. "Apa kita bisa masuk kesini?" tanya jesi menerawang jauh kesana. Tempat itu terlihat gelap dan berbahaya. Dan dari pintu masuknya terlihat lampu warna-warni yang berkelap kelip. Dan terlihat wanita-wanita dengan pakaian minim yang jesi katakan seperti p*****r masuk kedalam tempat itu. "Aku pernah ke tempat yang seperti ini!" jawab lisa santai yang langsung mendapat tatapan tajam dari jesi. Temannya yang satu ini memang benar-benar gila. Walau tubuhnya gempal, namun dia terlihat cantik dan seksi. "Lagi pula kita sudah dewasa! Umur kita sudah di perbolehkan masuk! Ayo kita masuk!" seru arin mulai keluar dari mobil. Jesi pun keluar dari mobil dengan enggan. Ini untuk pertama kalinya ia memasuki tempat yang gelap, ramai dan berisik seperti ini. Rasanya sangat tidak nyaman dan kepala, serta telinganya benar-benar sakit. Ini bukan tempat yang nyaman untuk anak kecil seperti dirinya. Ini, sarang penyamun. Gila ini gila! Aku bisa mati jika brother jo tahu aku masuk kedalam sarang penyamun ini. Batin jesi Mereka menerawang kesana kemari mencari keberadaan jonathan. Tempat itu cukup gelap dan mereka perlu memicingkan mata untuk mencari keberadaan jonathan. "Ah, itu brother jo!" seru lisa. Jesi mendelik kearah yang di tunjuk lisa. Dan betapa terkejutnya ia saat mendapati kakak kesayangannya itu, sedang duduk di sebuah sofa bersama beberapa pria dan wanita sambil menghisap rokoknya dengan santai. Ia bukan seperti jonathan yang ia kenal. Ia seperti pria dewasa yang sangat sensual dan nakal. "What?! Sejak kapan brother jo menghisap benda yang menjijikkan itu?!" seru jesi tak habis pikir. Mereka bertiga duduk di kursi bar. Mereka memesan minuman cola, yang membuat bartender pria yang sedang bertugas menertawai mereka. Namun kettiga wanita itu tidak peduli. Mereka ada di posisi dimana tak punya waktu untuk menanggapi ejekan pria itu. "Ayolah jes, merokok itu hal yang lumrah untuk seorang pria." ucap lisa memberi pengertian. Jesi mendegus kesal. "Tapi tidak dengan brother jo! Dia tidak pernah merokok! Pasti karna teman-temannya itu yang membuat dia jadi salah pergaulan!" jesi benar-benar tidak menyukai hal ini. Tanpa ia sadari, dirinya sendiri juga telah salah pergaulan. Arin berdecak lidah. "Sudah kubilang, brother jo itu pria dewasa. Harusnya kau bisa lebih paham. Kau hanya bisa mendapatkannya dengan menjadi dewasa juga. Rubah images anak kecilmu itu, agar dia tidak menganggapmu adik terus!" Seru arin santai. "Aduh, melihat orang yang sedang b******u disana aku jadi ingin pipis." ucap lisa. Kedua temannya pun mengalihkan pandangan ke arah yang dimaksud lisa. Arin tertawa geli, sementara jesi tercengang. Mereka melihat seorang pria dan wanita di pojokan yang sedang asik berciuman dan saling meraba. Sang pria pun tampak meremas b****g wanitanya. "Entah apa yang kau lihat!" ucap jesi ketus. Lisa memutar bola matanya malas mendengar ucapan jesi. "Ayo temani aku!" serunya menarik lengan arin. Jesi ternganga menatap kedua temannya. "lalu aku?" tanyanya bingung. "Kalau kita semua pergi, nanti brother jo bisa menghilang! Kau diam saja disini dan pantau brother jo!" setelah mengatakan itu mereka berdua pun meninggalkan jesi disana sendirian. Jesi kembali mendegus kesal. Ia seketika menyipitkan matanya saat mendapati brother jo nya itu malah tampak mesra dengan seorang wanita. Dan hati jesi berdenyut nyeri saat jonathan mengendus-endus leher wanita itu. Ia sampai menggebrak meja bar yang ada di depannya. Membuat bartender tadi mengangkat alisnya bingung. "Hay lady," seorang pria bertubuh besar dengan brewok yang ada di dagunya menutup pandangan jesi seketika. Jesi menatapnya dengan tatapan melongo kearah pria itu. Dan seketika jesi meringis jijik menatap wajahnya. "Kau sendirian saja. Apa kau mau aku temani?" tanya pria itu. Dan dengan tidak sopannya, ia malah memegang bahu jesi. Membuat jesi merasa ngeri. Jesi menepis tangan pria itu dan ia ketakutan. "Aku bersama temanku! Jangan mengganggu ku! Kau itu pria yang sangat menjijikkan dan jelek! Menyingkirlah! Kau sangat mengganggu." ucap jesi ketus. Walau ketakutan, ia masih memberanikan diri menyemprot pria itu dengan kata-kata pedasnya. Pria itu menyeringai nakal dan membuat jesi semakin takut. Bahkan jesi sudah mengepalkan tangannya yang bergetar. "Dimana temanmu? Aku tidak melihatnya." tangannya kini malah meraba pinggang jesi, membuat jesi terpekik ketakutan setengah mati. "Aaaa brother jooo!!" Teriaknya histeris dengan air matanya yang mulai mendobrak keluar dari balik bulu mata lentiknya. Jonathan tiba-tiba tersentak dan hatinya seketika mencelos. Akhir-akhir ini jesi memang membuat aktifitas seksualitasnya jadi terganggu. Dan sekarang ia malah merasa mendengar suara adik kecilnya itu disaat dia sedang bermesraan dengan seorang wanita. Jonathan tidak suka ini. Ia pun mengajak wanita yang sedang berkencan dengannya untuk pergi dari sana.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD