Pagi hari yang baik bagi jesi. Pagi ini ia bisa sarapan bersama kedua orang tuanya. Ini merupakan moment yang langka dirumah ini mengingat kesibukan kedua orang tuanya. Sejak kecil, orang tuanya sering berpergian keluar negeri guna menangani pekerjaan mereka. Dan intensitas kepergian mereka semakin banyak kala jesi beranjak dewasa. Jesi sering merasa sendiri, tapi dia tidak mau menyalahkan kedua orang tuanya. Mereka juga bekerja untuk memenuhi apa saja yang jesi butuhkan. Dan lagi, jesi memiliki jonathan yang sudah menganggapnya sebagai adik dan mengusir kesendiriannya.
Lusiana terus melirik kearah anak semata wayangnya itu. Walau jarang bertemu, tapi sebagai seorang ibu ia tahu dan mengenal baik karakter anaknya. Dan ia bisa menangkap hal berbeda dari ekspresi gadis kecil itu.
lusiana meneguk air putih dengan gelasnya. kemudian ia berderham kecil. "Baby, sepertinya kita melewatkan sesuatu disini." ucap lusiana kepada sang suami fernando. Lusina mengerlingkan sebelah matanya memberi kode kepada suaminya itu. Ia melirik jesi, menandakan bahwa mereka sedang membicarakan tentang putri semata wayang mereka itu.
Fernando mengangkat alisnya dan melirik jesi sejenak. "Oh ya? Apa itu, sayang?" Tanya fernando membalas ucapan lusiana. Ia melirik sekilas kearah jesi yang tetap tenang. Kemudian diam-diam menggulum senyumnya dan memakan rotinya.
"Kau tidak akan mengatakannya jesi?" Tanya lusiana mendelik putrinya itu. Ia tersenyum hangat, mengetahui bahwa putri kecilnya sudah beranjak dewasa kini. Sudah mengerti akan rasa tertarik pada lawan jenis. itu merupakan suatu kemajuan. Mengingat betapa tidak dewasanya jesi dalam bersikap dan berprilaku selama ini.
walau lusiana dan fernando sering meninggalkannya sendiri karena berpergian untuk urusan bisnis mereka, tetapi tetap saja jesi itu anak semata wayang mereka. di manjakan dan selalu di turuti apapun yang ia inginkan. membuat jesi menjadi tidak dewasa dan lebih kekanakan. apa lagi, saat kedua orang tuanya jauh, ada jonathan yang sangat memanjakannya.
Jesi tertegun saat namanya di panggil. Kunyahannya pun berubah pelan dan matanya menatap kedua orang tuanya bergantian. Ia menelan makanannya dengan susah payah. "Apa?" tanyanya polos. Ia tidak merasa ada yang perlu dikatakan sepertinya. Wajahnya tetap datar dan polos. belun mengerti maksud dari perkataan orang tuanya.
Lusian meletakkan sendoknya dan kemudian menatap jesi dengan selembar senyum tipis melengkung di bibirnya. "Anak kecil, ada apa? Apa yang terjadi selama kami tidak disini?" tanya lusiana halus. Ya, di usianya yang sudah menginjak 18 tahun jesi masih saja di anggap anak kecil. Baik bagi orang tuanya, bagi jonathan, bagi teman-temannya bahkan orang tua jonathan pun masih menganggap dirinya masih balita.
Jesi mengernyit bingung. Dahinya mengkerut dan bibirnya menekuk. Jesi menatap ibunya dengan heran. "Apa? Memangnya apa yang terjadi, mommy?" Tanyanya polos. Otak dangkal jesi tidak bisa mengerti apa yang ibunya maksud. Baginya, segalanya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di ceritakan, atau di permasalahkan sepertinya.
"Antara kau dan jo?" tembak lusiana.
Jesi tersentak dan terbatuk seketika. Ia terkejut akan pembahasan sang ibu. Apa mommy tau batinnya. Wajahnya langsung bersemu merah dan ia gelagapan sendiri. Untuk meminum susunya pun rasanya membuat tenggorokannya sakit.
"Kau jangan berbohong padaku, baby!" ucap lusiana menunjuk wajah jesi. Membuat wanita itu mematung seperti maling yang tertangkap basah. "Aku yang melahirkanmu! Dan aku tahu isi hati dan pikiranmu!" tegasnya. Membuat putri kesayangannya itu tidak dapat mengelak atau berkutik sedikit pun. siapa juga yang bisa berbohong pada lusiana.
Jesi terdiam seribu bahasa. Ia menarik napasnya dalam. Ia sudah ketahuan oleh ibunya. Dan percuma juga ia berbohong. Karena kepintaran lusiana adalah hal yang mutlak dan kebodohan jesi adalah fakta. Jesi membulatkan tekadnya. Apa gunanya berbohong pikirnya. Ia meletakkan sendok dan garpunya kemudian menghelakan napasnya. "Baiklah, aku akan jujur pada kalian." ucapnya penuh tekad.
Jesi memutuskan untuk jujur pada perasaannya sendiri. Mengemukakan apa yang sedang ia rasakan, mengakui bagaimana isi hatinya, mungkin akan terasa sedikit melegakan bagi jesi.
jesi menarik napasnya dalam. ia membenarkan posisi duduknya dan menegapkan tubuhnya. Ia melirik kedua orang tuanya yang menatapnya penuh arti. wajah jesi tetap tenang, walau di dalam dadanya terus bergemuruh cepat.
"Aku.. kurasa aku, jatuh cinta dengan brother jo!" aku jesi tertunduk malu. Ia sampai mengigit bibir dan menghelakan napasnya. Wajahnya bersemu merah dan ia sangat malu.
Namun dahi jesi seketika mengkerut saat mendengar tawa kedua orang tuanya. Ia menatap keduanya kemudian mendengkus kesal. Padahal jantung jesi sudah tak karuan saat ia mengakui perasaannya. Bahkan ia menahan rasa malunya mati-matian. Tetapi kedua orang tuanya malah menertawakan dirinya.
lusiana tak mampu menahan tawanya. Ia bahkan menepuk bahu fernando suaminya yang juga tertawa hebat. Ia merasa lucu, putri kecilnya, jatuh cinta dengan pria dewasa seperti jonathan. "Anak kita sudah besar, baby." ucap lusiana.
Ayahnya pun menampakkan wajah sumringahnya. "Tentu saja. Sebentar lagi dia bahkan akan memasuki perkuliahan." tukas fernando setuju dengan apa yang di ucapkan istrinya.
"Jadi, bagaimana menurut kalian? Sepertinya brother jo hanya menganggapku adik." ucap jesi lemas. Ia menyadari hal itu dan tak menyangkalnya. Tapi tetap saja, ia masih ingin berjuang. Jesi tidak akan menyerah sebelum ia mendapatkan brother jo. Dari dulu, brother jo adalah kakak kepunyaan jesi seorang. Dan akan jadi satu-satunya milik jesi sampai kapan pun.
Kedua orang tuanya saling melempar pandang dan menaikkan alis. Mereka ternyata sudah sampai di fase mendengar curhatan anak, yang sedang gundah gulana memikirkan percintaan. "Kalau kau suka, ya kejar saja! Apa masalahnya? Kalian juga bukan saudara sekandung bukan." jawab lusiana santai dan tersenyum penuh arti.
Seketika jesi langsung tersenyum senang. Ia merasa mendapat dukungan setelah mendengar jawaban lusiana. "Benarkah?" Tanyanya senang. Ia tak menyangka mommy nya akan berkata demikian. Ternyata ibunya itu mendukung jesi.
Wajah jesi tampaik berbinar senang. Perasaan di dalam dadanya pun semakin menggebu. "Apa kau bisa membantuku, mommy?" tanyanya dengan wajah memelas. Ia menggerdipkan matanya berulang kali dan tersenyum semanis mungkin. Berusaha untuk merayu lusiana.
Lusiana langsung menggerakkan tangannya. "Tidak, baby! Kau urus sendiri masalah percintaanmu. Aku sudah sangat sibuk dengan pekerjaanku, jadi aku tidak mau kau menambahi lagi isi kepalaku!" seru lusiana menolak permintaan putrinya itu mentah-mentah.
Jesi langsung memanyunkan bibirnya. Kemudian jesi menoleh ke arah sang ayah. "Daddy?" ucapnya. Ia menatap sang ayah dengan wajah memohon.
Fernando menghelakan napasnya. "I'm sorry darling. Aku tidak bisa campur tangan." ucapnya menyesal sembari mengusap kepala jesi dengan lembut.
Jesi memutar bola matanya. Namun ia cukup senang karena kedua orang tuanya telah memberi lampu hijau kepada dirinya. Dan kini, tinggal dirinya lah yang memantapkan langkah dan menyusun strategi terbaik, untuk merebut hati brother jo nya yang terkasih.
Brother jo adalah milikku. Dan akan selamanya begitu. Selamanya, menjadi milik jesi! Tegas jesi dalam hati.
Jesi menggembangkan senyum lebarnya, sementara kedua orang tuanya hanya menggelengkan kepalanya. tidak habis pikir akan anak perempuannya yang sudah menjadi dewasa.