hampir satu minggu Shally dirawat dirumah sakit karena di awal kehamilan nya ini Shally begitu lemah.
di sore hari setiap pulang kerja, Aldy pasti menemui Shally dan menemaninya setiap malam. dan di pagi harinya ibu Shally yang menjaganya karena Aldy harus bekerja, sedangkan ayahnya juga bekerja, hanya saja ayah nya selalu menyempatkan menjenguk Shally di pagi hari sembari mengantar ibunya. dan di sore hari ketika menjemput ibu nya.
ketika Shally di rumah sakit, David sempat beberapa kali datang ke rumah nya untuk mencari Shally, dan hp nya juga tidak bisa di hubungi.
David menanyakan kepada keluarganya sebenarnya dimana Shally berada. namun tidak ada yang bisa menjelaskan nya. keluarganya hanya dapat berkata bahwa Shally sedang bekerja ke luar kota. karena ada event dari toko tempat Shally bekerja.
untuk saat ini David masih bisa percaya dengan alasan tersebut.
satu minggu berlalu, dan akhirnya sore itu Shally di bolehkan pulang dari rumah sakit oleh dokter yang menanganinya.
"pak , bu, hari ini Shally boleh pulang. semua administrasi sudah saya urus. jika di perbolehkan saya ingin mengantar Shally ke rumah." dan mungkin besok saya akan membawa orang tua saya untuk menemui bapak dan ibu."
"iya nak Aldy, bapak dan ibu sangat berterima kasih karena kebaikan nak Aldy. sebenarnya bapak khawatir bagaimana harus menghadapi David.
takutnya, dia mencelakai Shally."
" bapak dan ibu tenang ya, semua akan baik baik saja. yang penting sekarang bapak dan ibu percaya kepada Shally, apa yang Shally katakan itu adalah kenyataan pahit yang Shally alami selama ini. saya sangat prihatin dengan semua yang pernah Shally alami, terlebih lagi saat Shally berkata yang sesungguhnya ternyata tidak ada satu orangpun yang mempercayai perkataan Shally."
penjelasan Aldy membuat ayah Shally mengerutkan dahi, dan bertanya dengan penuh ke khawatiran.
"perkataan yang mana Shally?" ayah bertanya.
"iya pa, waktu itu aku pernah ditanyai oleh semua keluarga di rumah, kenapa aku mau berhubungan dengan David, padahal David berumur jauh lebih tua dariku, David juga sudah memiliki istri dan seorang anak. apa David sudah merenggut kesucian dariku?, dan aku menjawab ya, aku sudah tak suci, tapi bukan oleh David, tapi oleh orang yang tak aku kenal. itu jawaban yang sebenarnya, tapi semua orang menuduhku berbohong hanya untuk melindungi David. hingga akhirnya aku mengiyakan bahwa David yang telah merenggut kesucian ku, karena itu adalah hal yang ingin semua keluarga dengar.
dan hal itu membuatku merasa sangat terikat dengan David."
penjelasan Shally sambil menangis memeluk Aldy, mengingatkan kedua orangtuanya pada masa lalu, yang ternyata Shally telah menanggung beban yang begitu berat.
ibu meraih jemari Shally, dan Shally ditarik kedalam pelukan ibu nya,
"ibu minta maaf nak, ibu tidak bisa menjadi ibu yang baik, bahkan kamu harus menanggung semua ini sendiri karena ketidak percayaan kami kepada mu nak," pinta maaf ibu tersedu sambil memeluk Shally.
"iya nak, maafkan ayah juga, ayah tidak tahu kebenaran yang telah terjadi kepadamu?"
ibu menyeka air mata Shally yang terus bercucuran.
dan kembali memeluk menenangkan Shally. mereka bergegas pulang ,ayah ,ibu, Shally, dan juga Aldy menaiki mobil yang di bawa Aldy.
"maaf pa, sebaiknya Shally jangan pulang ke rumah ibu dan bapak dulu, saya sudah menyiapkan rumah, untuk di tempati, biar nanti adik perempuan saya yang menemani Shally disana.karena saya mengkhawatirkan kesehatan Shally, takutnya terganggu lagi"
"iya nak Aldy, bapak setuju dengan rencana nak Aldy.
bapak juga khawatir jika Shally pulang ke rumah, takutnya nanti Shally berubah pikiran saat bertemu David. entah apa yang dilakukan David pada Shally, karena Shally selalu saja menuruti perkataan David."
"iya pak, inshaALLOH saya akan menjaga Shally sebaik baiknya..
dan besok saya akan menjemput orangtua saya untuk menemui bapak dan ibu di rumah yang di tempati Shally nanti."
"iya nak, bapak sama ibu akan mempersiapkan untuk pertemuan besok."
setelah perbincangan di dalam mobil, akhirnya mereka sampai di rumah kontrakan yang di sewa Aldy untuk sementara waktu.
Aldy dan ayah Shally keluar dari mobil bersamaan.
kemudian Aldy membukakan pintu untuk Shally, sedangkan ayah Shally membukakan pintu untuk istrinya.
"lho kita kok enggak pulang ke rumah Dy?" tanya Shally bingung.
"iya sayang, mulai hari ini kamu akan tinggal disini, nanti biar adik perempuan ku yang menemani kamu disini. aku tidak mau kesehatan kamu terganggu lagi".
"tapi Dy aku nggak mau tinggal dirumah ini kalo nggak ada kamu disini"
"iya nanti aku juga disini"
tiba tiba satu sosok menghampiri mereka dan menarik tangan Shally hingga terlepas dari genggaman tangan Aldy yang kuat.
"akhh,, brukk" suara Shally menjerit dan terhempas ke tubuh orang yang menarik nya itu.
"da .. David" Shally bicara lemas,
ternyata David mengikuti orangtua Shally sejak dari keluar rumah, ke rumah sakit ,dan saat melihat Shally, David berpikir kenapa tidak di beritahu jika Shally sakit..
maka dari itulah David begitu marah.. namun David juga tidak tahu kondisi tentang kehamilan Shally.
kemudian David menyerang Aldy, kerah baju Aldy ditarik dan hampir d hajar David. namun Shally menghadangnya dan tak sengaja David mendorong Shally hingga tersungkur.
Shally terjatuh dan kesakitan, Aldy langsung menghampiri Shally.
"Shally,,,," kamu tidak apa apa?
"ahh,, saakiit!"
terlihat darah menetes di kaki nya..
"sial,, ayo cepat kita ke rumah sakit"
dengan sigap Aldy mengangkat tubuh Shally, yang kemudian pingsan. Shally di temani Aldy di bangku belakang, dan kali ini ayah nya Shally yang menyetir dan di dampingi ibunya.
David merasa tak menyangka dirinya telah menyakiti Shally hingga terluka seperti itu.
namun David juga tidak mengerti apa yang terjadi pada Shally sebenarnya . David sempat termenung memikirkan kejadian ini . beberapa saat kemudian dia tersadar dan ia pergi menyusul Shally ke rumah sakit, dan dia ingin meminta penjelasan kepada Shally atau ayah dan ibunya.