Episode 14 - hamil

976 Words
""brrrraaaak...." Shally membuka toko dengan rasa kesal memenuhi hati nya. "kenapa dia selalu bersikap seperti itu padaku ,jika dia tidak ingin aku menjadi kekasih nya, pake panggil aku sayang segala lagi!.. aku kan jadi baper sama dia.. huft.." batin shally terus berkemelut. sambil menghela nafas shally menyandarkan badannya di kursi belakang meja kasir.. "deg..deg... jantung shally berdegup kencang, juga kepala shally yang mulai terasa berat.. "" bruuk.." tiba tiba shally pingsan. ia terkapar di dalam toko, untunglah teman kerjanya langsung membawa shally ke rumah sakit. shilvia adalah teman kerja shallly. shilvia merasa panik dan mencoba mencari kontak keluarga shally di dalam telepon genggam milik shally. terlihat panggilan terakhir bertuliskan sayangku. maka dari itu shally langsung menghubungi nomor kontak tersebut dan menceritakan kejadian shally yang ambruk saat di tempat kerja. dan sekarang sedang berada di rumah sakit dan sedang di tangani oleh dokter. shilvia segera meminta orang yang diberi nama sayangku di kontak hp shally itu untuk segera datang ke rumah sakit karena shilvia harus segera kembali ke toko. tak lama kemudian orang itu datang dan menemui shilvia. "kamu pacarnya shally kan?yang tadi aku hubungi?" tanya shilvia pada orang tersebut. "iya, aku pacarnya!." bagaimana keadaan shally saat ini.? "kata dokter shally sebentar lagi sadar, katanya shally hanya kelelahan dan selamat ya,, kamu akan segera menjadi seorang ayah.." ucap shilvia bagaikan petir bagi pria itu. "oh iya makasih, administrasi nya sudah saya urus. jadi kamu boleh langsung kembali ke toko." "ok,saya pamit ya,sampaikan ucapan selamat saya bagi shally ya" shilvia pergi dari rumah sakit, meninggalkan shally dan pria itu "emhh.." shally tersadar, ia memegangi kepalanya dan mulai membuka matanya.. terkejut ia melihat seseorang di samping nya "aldy,, kenapa kamu disini? trus aku kenapa?" "sttt.. udah jangan banyak bicara dulu ya! kamu harus istirahat, jangan banyak gerak dulu!" "tapi aku kenapa?" tanya shally mendesak "tadi kamu pingsan, shilvia temen kamu telepon aku, dia panik jadi dia kira aku calon suami kamu." "oh,, maaf ya jadi repotin kamu dy." "enggak,, udah ya istirahat aja," jawab aldy sambil mengelus kepala shally juga mencium keningnya. saat ini aldy belum memberitahu tentang kehamilan shally padanya, karena aldy bingung bagaimana cara mengatakannya, dan dia tidak tahu harus bahagia atau bersedih. karena aldy pun tidak tahu secara pasti siapa ayah dari anak yang sedang di kandung oleh shally saat ini. "sayang, aku sudah menghubungi orang tua mu, sebentar lagi mereka akan datang." shally menjawab dengan anggukan beberapa saat kemudian orang tua shally sampai di ruangan shally. "assalamualaikum,. " ucap salam kedua orang tua shally, "waalaikumsalam," jawab aldy lembut "pa, bu, perkenalkan saya aldy, saya yang sudah menghubungi bapak dan ibu tadi." "oh, yaa. anda ini siapanya anak saya ya?" teman kerja atau? tanya ayah nya shally ragu "saya pacar nya shally pa, bu," aldy berbohong kepada kedua orang tua shally. membuat jantung shally berdegup kencang. ada rasa senang karena aldy mengatakan hal yang dia inginkan, ada juga rasa takut, karena aldy mengatakan nya kepada orang tuanya yang tahu bahwa david berjanji akan memperistri shally. "ah... begitu ya, apa yang dikatakan pria ini benar shally?"tanya ayah shally merengut shally hanya diam. "maaf pa, tapi shally harus beristirahat, belum bisa berbicara banyak. karena kepala nya masih pusing. "oh,, memang apa yang terjadi pada shally, sampai dia masuk rumah sakit seperti ini?" tanya ayah shally pada aldy membuatnya bingung. "emhh,, begini pak, sebenarnya.." "sebenarnya apa dy,, kenapa kamu terhenti? apa aku sakit parah? apa umurku sudah tidak lama lagi? dy, ayo ngomong dy!" terus menerus shally menghujani pertanyaan pada aldy, membuat aldy berterus-terang. sambil meletakan jari telunjuknya ke bibir mungil shally yang merah jambu. "sttt, jangan ngomong gitu ya, kamu baik baik aja kok.aku janji" jawab aldy menenangkan. "begini pak, bu, sebenarnya shally saat ini sedang hamil,, tapi saya siap untuk bertanggungjawab. saya tidak akan lari pak, bu. kedua orang tua shally terkejut dengan apa yang telah aldy katakan kepada mereka. ayah shally kemudian memeluk aldy dan menepuk-nepuk punggung nya. kemudian ayah shally menjelaskan bahwa shally memiliki calon suami. dan hanya shally yang tau bayi yang ia kandung itu adalah anak siapa. kemudian ayah nya bertanya pada shally tentang kebenaran nya. "nak, kamu ya g jujur ya sama kita, sebenar nya siapa ayah dari anak yang sedang kamu kandung?" shally tidak menjawab, namun shally menoleh kepada aldy, seolah memohon kepada aldy. kemudian aldy menjawab pertanyaan ayah nya shally. "sebenarnya shally sudah menceritakan kepada saya semua tentang hubungannya bersama david. dan shally tidak pernah merasa bahagia bersamanya. dan sudah satu bulan ini, kami sangat sering berhubungan. bahkan semalam shally menginap di tempat saya. itu karena shally tidak ingin menemui david. shally sangat ingin bisa melepaskan diri dari david." penjelasan aldy kepada ayah shally, membuat shally mencucurkan air mata, "aldy, ternyata kamu begitu memahami perasaan ku, walau pun aku tidak pernah mengutarakan isi hati ku, keinginanku, dan harapan harapan aku terhadap mu, ternyata kamu mengerti dan memahami itu. tapi kenapa kamu tidak pernah berbicara padaku". batin shally rasanya ingin memeluknya. ayah shally menyandarkan tubuhnya ke kursi disana. "ya ampun shally,, kenapa kamu tidak pernah bilang kepada kami, kenapa kamu tanggung derita ini sendirian nak? kami pikir kamu merasa bahagia menjalin hubungan bersama david. karena kamu tidak pernah mengeluh nak ,kenapa kamu selalu bersikap ceria di hadapan kami?" "lalu apa yang harus kita lakukan saat ini pak?" tanya ibu nya shally lirih, sambil mengusap kepala shally. "begini saja pak, bu, saya akan segera membawa orangtua saya untuk menemui bapak dan ibu, untuk melamar shally, sebaiknya pernikahan kami dilakukan diam diam. dan jangan sampai david tau. karrna saya takut dia berbuat nekat menggagalkan pernikahan kami jika dia mengetahuinya, karena sepertinya david memiliki ambisi yang sangat besar untuk dapat menguasai kehidupan shally." "baiklah, kalo bapak sih terserah shally saja, shally mau ambil keputusan seperti apa,apa yang akan shally lakukan nantinya semua bapak serahkan kepada shally saja, bapak hanya bisa mendukung.yang penting shally bisa bahagia, itu saja yang bapak titip ya nak ." #bersambung#
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD