Bella menyajikan pesanan di meja pria itu.
“Apakah, kau akan ikut?”
“Aku tidak cukup cantik untuk ikut,” jawab Bella merendah.
“Begitu? Ah, tapi menurutku Tuan Barry juga tidak tampan.”
“Benarkah???” Lily cepat-cepat mendekati pria itu dan duduk di depannya.
“Benar begitu? Dia buruk rupa??” tanyanya gaduh.
Pria itu terkekeh.
“Apa masalahnya? Yang terpenting adalah dia kaya, bukan begitu, Rains?”
Bella masih berdiri di dekatnya, dia hanya tersenyum dan kembali ke belakang bar.
“Jadi benar rumor yang tersebar belakangan ini? Si pangeran modern itu ternyata buruk rupa? Seburuk apa? Apakah, dia bermata satu atau semacamnya?” tanya Lily dengan wajah lucu.
“Cher, hentikan. Tidak ada hal semacam itu di luar buku dongeng.”
“Diamlah!” tukasnya.
Pria itu terkekeh.
“Tidak seburuk itu, tapi bisa kukatakan bahwa dia tak setampan aku.” Dia tergelak karena merasa dirinya humoris.
Pria itu akhirnya pamit setelah berkata bahwa dia akan membantu mereka jika ingin mengikuti sayembara yang memiliki kriteria tertentu itu.
***
Sementara itu, di kediaman keluarga Giant.
Seorang pemuda dengan neck turtle shirt berwarna cokelat tua tengah duduk di kursi rodanya,setiap pukul sepuluh pagi dia baru membuka kunci pintu kamarnya. Kemudian pelayan masuk membawakan sarapan yang tak pernah dia sentuh selama dua hari ini. Semua pelayan merasa aneh, biasanya dia akan melahap kudapan paginya hingga habis tak tersisa.
“Barry, apa yang terjadi dengan makan pagimu? Semuanya utuh!” Tegur seorang wanita tua yang rambutnya terlihat memutih karena cat rambut cokelatnya pudar.
“Aku hanya sedang tidak berselera.” Jawabnya sambil membalik buku yang dia baca.
“Akan kupinta pelayan mempelajari menu baru.”
“Akan lebih baik jika mulai sekarang hapus saja jadwal makan pagiku,” balas Barry.
“Hhhh, bicara melantur lagi.” Wanita tadi keluar dan berteriak pada pelayan agar cepat mempersiapkan cat rambut instan untuknya.
***
Poster tentang sayembara itu sudah tersebar hingga ke sudut kota, semua orang membacanya dengan seksama. Mencoba mencari tahu apakah mereka masuk kriteria atau tidak. Tidak ada syarat khusus di sana, hanya tertulis bahwa mereka mencari wanita setia untuk dijadikan pengantin wanita Barry Giant. Setia? Itu saja? Agak aneh!
“Hei Bella, kenapa kau mengaku menjadi hujan?”
“Hujan? Aku tak membawa payungku!”
“Aish, jawab dengan benar!” omel Lily.
“Aku hanya asal sebut saja, aku tak ingin dia tahu namaku.”
“Itu saja?”
“Iya, itu saja!”
“Kenapa?”
“Hanya tak ingin dia tahu namaku, itu saja!”
“Baiklah, aku mencoba percaya.”
“Apa maksudmu?”
“Aku pikir pria tadi pagi sangat tampan, jadi kamu berusaha menggodanya dengan nama semanis itu.”
“Apa yang kau sebut manis? Hujan?”
“Yah, setidaknya tidak ada gadis bernama Rains di kota ini. Dibandingkan nama Bella yang dimiliki oleh kebanyakan gadis. Hahahaha.”
“Bicaralah sesuka hatimu, aku akan ke binatu membawa karpet ini. Jagalah kafe dengan benar.”
“Huh, seolah kau pemilik kafe ini!” cibir Lily.
***
Barry Giant, seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun yang hampir sepanjang hidupnya menghabiskan waktu di dalam rumah megah bak istana kerjaan, begitulah rumor yang tersebar dikalangan penduduk kota kecil itu.
Kedua orang tua Barry yang kolot percaya bahwa keturunan keluarga Giant yang ke dua puluh mendapat kutukan serius, yang membuatnya harus melakukan sesuatu pada Barry agar kutukan tersebut tidak berlaku. Karena Barry Giant adalah keturunan ke dua puluh dari nama besar Giant.
Dua puluh lima tahun yang lalu. Seorang bayi laki-laki lahir di keluarga Giant. Kelurga menamainya Barry, Barry Giant. Dia adalah keturunan ke dua puluh keluarga yang tersohor sejak dulu kala. Konon katanya, jika keturunan ke dua puluh yang pertama itu adalah laki-laki maka akan mendapat kutukan, kutukan tentang kehancuran keluarga Giant yang berjaya selama puluhan tahun itu. Pada saat itu, seorang cenayang yang dipercaya oleh Robert Giant mengatakan ada satu hal yang dapat mereka lakukan untuk menangkal kutukan itu.
“Ada satu hal yang dapat mencengah malapetaka itu terjadi pada keluargamu, Tuan Robert Giant!”
“Apa itu? katakan saja!” Robert yang kolot benar-benar takut kalau kejayaan keluarga Giant akan terhenti pada dirinya.
“Putera pertamamu tidak boleh menyentuh gadis manapun.”
“A-apa maksudnya?”
“Puteramu yang baru saja lahir, kelak tidak boleh berhubungan dengan seorang wanita.”
“Berhubungan dalam hal apa?”
“Hubungan sepasang manusia, seperti yang kau lakukan bersama istrimu!”
“Apa?? Mustahil itu bisa dilakukan!”
“Tidak ada hal yang mustahil!”
“Tapi, lantas bagaimana kami akan memiliki pewaris kalau Barry tidak bisa menikah?”
“Kalian akan dikaruniai anak laki-laki kedua, dan akan dapat cucu darinya.”
“Gila, ini gila!”
“Akan lebih gila kalau nama keluarga Giant lenyap begitu saja. Aku rasa kau sangat takut, kalau hal itu sampai terjadi. Apa aku salah?” Cenayang wanita itu mengerlingkan matanya.
“Tapi bagaimana mungkin Barry tidak melakukan hal itu? Dia sudah pasti normal sepertiku!”
“Pilihan ada padamu, Tuan Robert! Aku hanya perantara antara kau dan leluhurmu.”
“Ssshhh!”
“Jangan mengumpat atau kau akan dapat kesialan!”
“Tapi ini terlalu gila! Apa yang akan aku katakan saat dia dewasa nanti? Dia pasti akan keluar rumah dan bertemu dengan banyak gadis!”
“Karena itu, cegah dia untuk bertemu para gadis!”
“Apa maksudnya? Bagaimana aku bisa? Bagaimana caranya?”
“Kurung dia! Jangan biarkan makhluk bernama wanita mendatangi kamarnya kecuali ibunya sendiri.”
“Bagaimana jika dia berbuat dengan ibunya sendiri?”
Cenayang itu terkekeh dengan suara melengking.
“Rupanya imajinasimu lebih gila dari penangkal kutukan ini.”
“Aku serius!”
“Aku lebih serius, saat Barry menginjak masa puber mungkin istrimu sudah menua. Apa bisa Barry memiliki hasrat pada wanita tua?”
“Bisa saja kalau hanya ada satu wanita di dunia ini!”
“Diamlah!!! Sekarang kau ingin kutukan ini sirna atau tidak? Kalau iya, turuti perkataan aku. Kurung dia dalam kamar, cari pelayan pria untuk mengurusnya.
“Ba-bagaimana kalau dia pada akhirnya menyukai pria??” Suara Robert gemetar.
“Setidaknya kutukan itu tetap tak akan menghancurkan keluargamu!”
“Apa??? Sial!!”
“Jangan mengumpat di depanku!” Bentak wanita berparas seram itu.
“Baiklah aku mengerti!”
“Ini adalah kunjungan terakhirku ke istana megahmu ini. Ingat semua perkataanku dan lakukan saat puteramu telah dewasa nanti! Camkan itu!”
“Kau akan menghilang?”
“Tidak menghilang, aku hanya muak terus melihatmu dan mendengar umpatan menyebalkan darin mulutmu!” tukasnya.
Robert merenung sepanjang malam usai kepergian cenayang itu dari kediamannya yang bak istana. Dia harus segera mendatangi dan mengabari sang istri soal penangkal kutukan itu. Mau tak mau mereka harus melakukan titah wanita yang penampilannya bak penyihir yang datang dari negeri dongeng itu. Ya, Robert dan istrinya harus melakukan semua itu.
“Hhh, lagipula aku masih akan memiliki satu orang putera lagi.” Ucapnya meski dengan nada putus asa.