Part 3

1165 Words
Liam benar-benar dikurung di dalam rumah. Tak menunggu dewasa, dia sudah disembunyikan di dalam rumah sejak masih belia. Robert Giant begitu takut, baginya semua perkataan cenayang itu harus dia percaya dan harus dilakukan segala hal yang bisa menangkal kutukan itu. Seiring berjalannya waktu,usia Liam bertambah. Setiap detik yang dia punya dihabiskan di dalam rumah. Tiga orang pelayan yang biasa menyiapkan makanan dan keperluan lain semuanya berjenis kelamin laki-laki. Liam luar biasa menahan diri, Daddynya sungguh orang dengan otoritas tinggi yang melakukan berbagai cara agar sang putera mau menuruti titahnya. Biasanya, Liam akan memandang ke bawah dari jendela yang terkunci. Dia menyibak gordyn dan mengamati semua orang di sekitarnya. Kamarnya tepat dibagian atas di sisi belakang, sedangkan sisi belakang rumah megah itu berbatasan langsung dengan jalan utama kota kecil tersebut. Laki-laki yang terus beranjak dewasa itu, melihat ke bawah sana dan menemukan berbagai macam manusia yang dia pikir seperti ibunya. Memiliki lekuk tubuh yang sama dengan ibunya dan berbeda dengan dirinya. Juga, mereka semua kebanyakan memiliki rambut panjang. Lambat laun dia mengerti bahwa mereka itu adalah kaum wanita, seperti sang ibu. Dan dirinya adalah dari jenis yang berbeda, laki-laki. Liam memiliki seorang pelayan yang sebaya dengan dirinya. Saat dia menginjak usia tujuh belas tahun, pelayan itu lebih muda darinya satu tahun. Sang Ayah sengaja memperkerjakan pemuda itu agar Liam memiliki teman sebaya. Itu saja. Tapi, Liam sama sekali tidak bodoh dan benar-benar menuruti semua perkataan Robert Giant. Liam cerdas dengan kapasitas dan kualitas perkembangan otak yang pesat sesuai dengan usianya, dia tak dapat pendidikan apapun namun pelayan muda bernama Erick itu membantunya membaca dan pada akhirnya Liam mengoleksi banyak buku, berbagai jenis buku. Sampai pada suatu hari saat usianya dua puluh tahun, Liam mencoba kabur dari lantai atas menggunakan selimut yang dia ikat memanjang bersama semua benda berbahan kain yang dia temukan di kamarnya. Semuanya dia ikat memanjang namun tetap tak menyentuh dasar tanah dibawah sana, Liam tetap nekat turun dengan tali buatan itu. Tapi, Robert mengetahuinya dan berteriak dari jendela yang terbuka. Liam terkejut dan tubuhnya terlempar ke bawah dan menghantam tanah dengan suara gedebuk keras. Kali ini, dia gagal melarikan diri meski mendapat cedera cukup serius pada kakinya. Dia tak bisa berjalan karena patah tulang dibagian kaki dan lengannya. Berbulan-bulan dia duduk di kursi roda, beraktifitas menggunakan benda dengan remote kontrol modern itu. Kemudian ide gila mendadak muncul dalam benaknya. Dikatannya pada kedua orang tuanya bahwa dia sama sekali tidak bisa jalan, berdiri saja sulit. “Tidak mungkin, Liam! Kau sudah mendapatkan perawatan dan pengobatan terbaik, mustahil kau tetap tak bisa berjalan!” jerit sang Ibu kala itu. Liam hanya mengedikkan bahu dan berkata dengan santai. “Apa bedanya aku bisa berjalan atau tidak? Toh aku akan selamanya berada di kamar ini,” Ucapnya enteng. Ibunya menghela nafas dan sangat prihatin dengan kondisi sulungnya yang bak terpenjara. Sedangkan si bungsu yang berusia lebih muda tiga tahun darinya bebas berkeliaran, bahkan sudah gencar memacari begitu banyak gadis. Entah apa saja yang sudah dia lakukan bersama para gadis yang mengincar hartanya itu, tentu saja mereka mengincar hartanya karena pemuda bernama Mark Giant itu tak setampan Liam. Dia gendut dan pendek seperti Robert. Sedangkan Liam mewarisi kemolekan sang Ibu, berpostur tinggi dengan bulu mata lentik yang indah. “Liam, ketahuilah bahwa kalimatmu tadi sangat menyakiti hati ibu.” Lirih wanita bernama Jessi itu. Liam tersenyum getir. “Hanya mendengar itu saja sudah tersakiti, bagaimana jika ibu jadi aku?” tanyanya dengan nada ketus. “Maafkan Ibu, semua ini adalah titah Ayahmu.” “Sudahlah, aku ingin sendiri.” “Ibu akan carikan dokter terbaik di kota ini untuk mengobati kamu.” “Sudahlah, Bu! Untuk apa? Lumpuh atau normal bukankah sama saja?” “Tapi, Liam...” “Katakan pada suamimu, bahwa aku tidak ingin sembuh! Mungkin dia akan senang karena aku takkan pernah mencoba kabur lagi. Apa aku benar?” “Liam, bagaimanapun dia tetap ayahmu!” “Benar, Ayahku. Sial, aku mulai membencinya sekarang.” “Liam, jangan mengumpat. Jika dia dengar maka dia akan..” “Akan apa? Membunuhku? Sebaiknya lakukan saja itu, pasti lebih baik daripada terkurung di sini selama puluhan tahun.” Ujarnya sambil menggertakkan rahang. “Sudahlah, sebaiknya pikirkan apa yang ingin kamu miliki. Ibu akan mengabulkannya, semahal apapun itu.” “Penuhi kamarku dengan buku, itu saja. Kemudian, beri Erick upah dua kali lipat, oh tidak.. tiga kali lipat!” “Itu saja?” “Ya, itu saja. Sudah, sebaiknya Ibu keluar. Aku ingin tidur.” Ibunya hendak menyentuh kepala Liam tapi pemuda itu menghindari jemari lentik ibunya. Wanita bernama Jessi Giant itu mendesah dan keluar dari kamar puteranya dengan langkah lunglai. Liam menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. “Hei, kau menaikan gajiku? Sungguh malaikat dari langit kau, Liam!” Erick meninju lengan Liam. “Dengar, aku sudah baik padamu jadi kau harus sedikit membantu aku!’ “Apa itu?” “Pertama, beri aku sedikit uang dari gajimu. Kedua, cari jalan agar aku bisa berjalan-jalan setiap pagi di bawah sana!” Liam menunjuk ke arah jendela. “Jalan-jalan? Apa kau sudah tak waras? Bagaimana cara aku membawa kau dan kursi rodamu turun??” “Kursi roda? Hei, Man!” Liam tiba-tiba saja berdiri dengan konyolnya. “Ya, berandal! Sejak kapan kau bisa ber...” “Pelankan suaramu!!” tegur Liam. “Yaish, b******n! Kau sudah bisa berjalan!” “Tentu saja.” “Lalu untuk apa aku membantumu setiap kali kau buang air besar! Sial!” umpat Erick. “Hahha, itu adalah bagian dari sandiwara, agar sempurna!” “Sandiwara?” “Yup, dengar! Hanya kau, aku dan Tuhan yang tahu bahwa aku bisa berjalan.” Bisik Liam. “Kau gila?” “Benar! Aku gila! Hahahaha! Jaga rahasia ini, atau kau akan aku lempar kebawah sana tanpa uang pesangon!” “Cih, terserah kau saja!” “Jadi kau akan bungkam kan?” “Baiklah, baiklah! Entah semua ini demi siapa.” “Demi uang! Hahahaha.” Liam terkekeh. “Pelankan suaramu, Berandal! Pelayan di depan akan mendengar suara tawamu. Dimana ada orang lumpuh dengan tawa senyaring itu. Mereka pasti akan segera menyadari semuanya dan melapor pada Ayahmu.” “Baiklah, aku akan menyimpan tawaku dan mengeluarkannya saat aku di luar nanti.” “Tapi, bagaimana kau akan keluar?” “Pikirkanlah! Itu tugasmu! Aku sudah memberimu kenaikan gaji yang sangat banyak!” “Uhm..” “Hei Liam, kau tahu kamar mandi itu?” “Kamar mandi pribadiku? Ada apa dengan ruangan itu?” “Disana atapnya dapat terbuka.” “Atap? Hei b******k gila! Aku ingin kebawah bukan ke atas!” umpat Liam. “Kau b******k bodoh!!! Putar otakmu, dari atap kau bisa pakai tangga besi yang terhubung dengan bagian belakang rumah! Tangga itu sudah tak pernah digunakan karena sedikit rapuh.” “Rapuh? Kau berencana membunuhku?” “Ah, seandainya aku bisa.” “Sial!” “Hahaha, aku akan mengecek tangga itu untukmu.” Lanjut Erick memberi jalan keluar. “Kau yakin tak ada seorangpun disana?” Erick mengangguk mantap. “Baiklah, cepat periksa!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD