First Night

3030 Words
Honolulu, Hawaii 7.45 PM Malam kini telah kembali menggantikan sang raja siang yang sedang berkelana di belahan bumi yang lain. Kini, sepasang pengantin yang baru saja mengikat janji suci di hadapan Tuhan itu telah berada di Negera Aloha, Hawaii. Ya, setelah acara resepsi besar-besaran yang diadakan Alex sehari selepas mengikat janji suci, pria itu memang langsung memboyong sang isteri ke Hawaii untuk “bermulan madu”. Meski pernikahan mereka hanya sandiwara, namun Alex tak ingin melewatkan formalitas yang satu ini. Bukankah akan terlihat sangat aneh jika mereka tidak pergi bermulan madu, di saat semua orang mengetahui status barunya? Dan demi menghindari spekulasi publik yang dapat menyebabkan skandal, Alex akhirnya memutuskan untuk pergi “bermulan madu” bersama Anna. Dan di sinilah mereka sekarang. Duduk, di atas ranjang sebuah ranjang berukuran kingsize sembari menikmati semilir angin pantai yang masuk ke celah-celah jendela hingga mampu membuat gorden putih yang menjuntai itu bergoyang lembut, seakan ikut menikmati sejuknya udara yang masuk. Anna yang sejak tadi diam pun, perlahan menatap Alex yang tengah memejamkan mata. "Alex, sebenarnya ini tempat apa?" tanya Anna sembari melihat ke sekeliling kamar yang didominasi oleh warna putih. Anna kemudian bangkit dan mulai berjalan ke arah jendela besar yang langsung menampilkan pemandangan pantai di malam hari yang begitu indah. Suara deburan ombak, semilir angin yang menerpa lembut dan lampu-lampu kecil yang menerangi area di sekitarnya benar-benar membuat Anna merasa sangat tenang. Ah, Hawaii memang sangat indah…  Alex yang mendengar pertanyaan Anna pun, sontak membuka matanya dan menatap tubuh gadis itu dari belakang. Pria itu nampak menghembuskan napan pelan sebelum menjawab pertanyaan Anna. "Ini villa pribadi yang aku beli saat aku berumur 25 tahun,” ujar Alex sembari melepaskan jas yang melekat di tubuh atletisnya. Sedangkan Anna yang mendengar jawaban singkat itu pun hanya mampu ber-”oh” ria dengan kepala yang mengangguk—tanda jika dia mengerti. Alexander McKenzie memang kaya raya!  Di mana ia berpijak, maka di situlah ia memiliki proprerti yang tak terduga. Begitu tak terduganya hingga terkadang membuat Anna tidak percaya jika saat ini dia telah menikah dengan pria yang paling diidam-idamkan oleh seluruh wanita di dunia. Allianna Estelle McKenzie, ah namanya terdengar begitu indah, bukan? "Apa kau tidak ingin melepas pakaianmu Anna?" Deg! Sontak saja pertanyaan itu langsung membuat Anna tersadar dari lamunannya. Gadis itu pun berbalik dan menatap Alex dengan pandangan yang menyiratkan keterkejutan yang teramat sangat. Me-melepas pakaian? Astaga, apa dia tadi tidak salah dengar? Melihat reaksi Anna yang begitu shock dengan pertanyaan yang ia ajukan, Alex pun mengerti apa yang ada di pikiran gadis itu. "Maksudku, kau tidak mungkin tidur mengenakan mantel yang berat itu, bukan?" ujar Alex meluruskan maksud dari pertanyaannya. "Aahhh iya tentu saja,” ujar Anna menanggapi. "Oh iya, aku sudah membelikanmu beberapa pakaian wanita. Semuanya ada di dalam lemari, jika kau ingin mengenakannya," ujar Alex sambil tersenyum manis ke arah Anna. Anna langsung salah tingkah ketika Alex memberikan senyuman malaikatnya. "Oh Anna jangan sampai kau jatuh cinta dengan suami-mu sendiri."batin Anna memperingatkan. "Eum...baiklah,kalau begitu."ujar Anna lalu berjalan ke arah meja rias. "Kau mandilah duluan Alex."ujar Anna sambil membersihkan make up yang ada di wajahnya. "Baiklah,kalau kau butuh sesuatu,bilang saja padaku ya."ujar Alex yang kini sudah berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.Anna hanya menganggukkan kepalanya mengerti.Lalu Alex pun masuk ke dalam kamar mandi. "Huh...setidaknya Alex bukanlah suami yang dingin seperti yang ada di novel,dia pria yang cukup hangat menurutku.Ku harap pernikahan ini berjalan dengan baik selama satu tahun,aku akan melakukan tugasku sebagai seorang istri yang semestinya."gumam Anna pada dirinya sendiri. Jika kalian berfikir akan ada sebuah surat kontrak yang di dalamnya berisi perjanjian-perjanjian konyol dan aneh yang akan ditanda tangani oleh kedua belah pihak,maka itu SALAH BESAR karena Alex bukanlah tipikal pria yang suka merumitkan suatu masalah. Menikah hanya untuk satu tahun dengan Anna demi mencapai tujuannya dan Matthew,setelah itu ia akan berpisah lalu menikah dengan Matt dan berakhir bahagia,itulah yang ada di fikiran Alex. Simple?Tentu saja Tapi apakah kehidupan,waktu,dan keadaan dapat se-simple fikiran Alex? Who knows? _______________________ Ceklek Bunyi pintu kamar mandi yang terbuka menandakan jika Alex sudah keluar dari kamar mandi.Anna pun sontak menatap Alex dari cerminnya. "Astaga!!!Kenapa dia hanya memakai handuk di pinggangnya?Apakah dia tidak malu jika ada seorang gadis yang melihatnya disini!"gerutu batin Anna yang terpesona sekaligus kesal dengan penampilan Alex yang terbilang sangat seksi dan....eumm menggoda. "Sudah puas memandangiku Mrs.McKenzie?"ujar Alex sambil terkekeh pelan.Anna yang mendengarnya pun segera mengalihkan pandangannya ke arah lain lalu ia berpura-pura membersihkan wajahnya lagi. "Aku rasa wajahmu sudah tidak ada make up nya lagi."ujar Alex yang melihat tingkah Anna.Alex memang sengaja berniat membuat wanita ini kesal. "I-ini be-belum bersih sepenuhnya,kau lihat masih banyak foundation yang belum menghilang dari wajahku."ujar Anna dengan gugup sekaligus menahan malu yang teramat sangat. Alex yang mendengarnya terkekeh pelan,lalu suatu ide jahil muncul difikirannya. "Ah benarkah Mrs.McKenzie?Coba aku buktikan perkataanmu".ujar Alex lalu mulai berjalan mendekati Anna.Anna meneguk kasar salivanya,jujur ia bingung apa maksud dari perkataan Alex,tapi walaupun begitu ia tetap saja gugup ketika Alex dengan seksinya berjalan menghampiri dirinya. "A-apa yang ingin kau lakukan?"tanya Anna yang kini sudah melihat Alex berdiri tepat di belakangnya. "Ayo kemarilah!"ujar Alex lalu menarik pergelangan tangan Anna hingga membuat wanita itu berdiri. Alex kemudian meletakkan satu tangannya ke pinggang Anna dan merapatkan tubuhnya ke tubuh Anna. "A-apa yang kau lakukan?Ka-kau jangan macam-macam ya!"ujar Anna dengan kegugupan yang tinggi.Bagaimana tidak?Pria yang ia ketahui GAY saat ini sedang memeluk pinggangnya. "Memangnya kenapa jika aku akan macam-macam?Kau itu kan istriku."ujar Alex memancing Anna. "Tapi kau itu kan.....kau....Gay kan?"ujar Anna sambil berusaha melepaskan tubuhnya.Sedangkan Alex hanya menampilkan smirk menyebalkannya. "Biar bagaimanapun seorang GAY itu tetap seorang pria,dan seorang pria memiliki hasrat kepada wanita bukan?"tanya Alex lalu membelai wajah Anna dengan gerakan seringan bulu. Anna mematung mendapat sentuhan lembut seperti itu.Jangan kira Anna menikmati sentuhan itu,ia kini justru ketakutan setengah mati.Alex pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Anna.Jantung Anna semakin berdetak dengan kencang dan ketika Alex semakin dekat Anna segera menutup matanya. Alex yang melihat mimik wajah Anna pun tidak bisa menahan tawanya lagi. "Hahahaha!!!Anna kau percaya pada kata-kataku?Hahahaha mana mungkin aku tertarik pada wanita,hahaha dan lagi kenapa kau memejamkan matamu?Tenanglah aku tidak akan menciumu jika itu yang kau harapakan hahaha."ujar Alex tertawa lepas sambil memegangi perutnya.Anna pun segera mendorong tubuh Alex. "Kau menyebalkan!!Aku tidak akan menyanyikan lullaby tidur untukmu malam ini!"ujar Anna dengan kesal lalu berjalan ke kamar mandi,dan perkataan itu sukses membuat Alex menghentikan tawanya. Baru saja Alex ingin mengejar Anna,tapi wanita itu sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi sambil membanting pintu. Brak!!! "Aku tidak akan bisa tidur jika dia tidak menyanyikan lullaby untuku,aku memang bodoh."ujar Alex memarahi dirinya sendiri. _______________________ Di dalam kamar mandi.... "Dasar menyebalkan!!!Dasar GAY gila!!!Dia pria GAY yang telah mencuri ciuman pertamaku tadi pagi!!!Akhhhh......Aku tidak akan bicara lagi padanya!!!"ujar Anna memaki Alex di dalam kamar mandi. Setelah selesai menumpahkan kekesalannya pada Alex,Anna pun memilih untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena keringat. _______________________ 8.18 Malam kian larut dan Alex masih setia menunggu Anna keluar dari kamar mandi. Kegelisahan yang saat ini melandanya, benar-benar membuat Alex ingin segera meminta maaf kepada isterinya. Ceklek Dan begitu pintu kamar mandi terbuka, Alex langsung mendekati Anna yang baru saja keluar dengan lilitan bathrobe putih yang membungkus tubuhnya. "Anna kumohon maafkan aku,” gumam Alex sambil menggenggam erat tangan isterinya. Anna yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat sikap Alex pun hanya bisa diam. Dia telah memantapkan hati bahwa kali ini, ia tidak akan lagi tertipu dengan candaan konyol Alex. “Menyingkir!” gumam Anna sembari menghempaskan genggaman tangan Alex dan melanjutkan langkahnya. Alex begitu terkejut melihat sikap Anna yang berubah drastis. Apa Anna membencinya? Apa Anna akan meninggalkannya? Benarkah? Ketakutan memikirkan hal itu, Alex langsung mengejar Anna. "Anna, aku minta maaf. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," ujar Alex masih berusaha mengejar Anna yang kini berjalan menuju lemari pakaian. Anna terus berjalan hingga akhirnya Alex berdiri tepat di depannya—menghadang pintu lemari yang akan ia buka. "Menyingkirlah Alex, aku ingin mengambil pakaianku," gumam Anna tanpa mau menatap wajah suaminya. Namun Alex menggeleng keras. "Aku tidak akan menyingkir! Tidak sebelum kau memaafkanku," ujar Alex bersikeras. Anna menghembuskan napas kasar dan memilih untuk mengalah. Alih-alih memaafkan Alex, Anna lebih memilih untuk pergi menjauh dari lemari pakaian dan membaringkan tubuh terbalut bathrobe nya di kasur. Alex yang melihat sikap Anna semakin merasa bersalah dibuatnya. "Kau benar-benar marah ya?" gumam Alex sebelum ia kembali berjalan mendekati Anna—berjongkok di hadapan gadis itu sambil memegang tangannya.  "Hey,aku ‘kan hanya bercanda tadi, jadi jangan marah ya?" rengek Alex sambil menggoyang-goyangkan tangan Anna—persis seperti seorang anak yang tengah merengek kepada ibunya. Melihat eskpresi Alex yang begitu menggemaskan, Anna pun diam-diam mengulum senyum. "Melewati malam pertama dengan seorang gay ternyata tidak seburuk apa yang aku pikirkan. Ya, setidaknya aku bisa menjahilinya," batin Anna bersorak senang. Sebenarnya, Anna sudah memaafkan Alex sejak pria itu meminta maaf ketika ia keluar dari kamar mandi. Ekspresi lucu dengan mata biru yang menatapnya dengan penuh rasa bersalah tadi, berhasil membuat Anna luluh. Tapi meskipun begitu, Anna tidak mau langsung menunjukkannya, Anna ingin memberi sedikit “pelajaran” kepada suaminya. "Alex menyingkirlah, aku ingin memakai pakaianku," ujar Anna. Dan dngan terpaksa, Alex pun menyingkir dan membiarkan Anna pergi untuk mengganti pakaiannya. Setelah Alex memberi jalan, Anna dengan segera mengambil piyama tidur yang ada di dalam lemari dan memakainya di ruang ganti. Sebenarnya Anna tahu jika tak masalah bagi Alex jika ia mengganti pakaiannya di sini. Karena sampai kapan pun pria itu tidak akan pernah tertarik melihat tubuh seorang wanita—seindah apapun itu. Namun karena Anna masih merasa canggung dan malu, Anna pun lebih memilih untuk memakai pakaian di ruang ganti. Biar bagaimanapun Alex adalah seorang pria bukan? _____________________ Tak butuh waktu lama bagi Anna untuk mengganti pakainnya. Sekitar lima menit, Anna sudah keluar dengan piyama tidur yang melekat di tubuhnya yang ramping. Ketika keluar, pandangan Anna langsung terarah kepada Alex yang sedang menyender lesu di ranjang dengan kepala yang tertunduk. Melihat sikap Alex, seulas senyum tipis terbit di wajah Anna. Ah, suaminya memang menggemaskan! Tak perlu mengulur waktu lebih lama, Anna pun berjalan mendekati Alex—dan duduk di sisi ranjang yang berseberangan dengan sang suami. Sedangkan Alex yang baru menyadari kedatangan Anna pun langsung kembali menegakkan kepala, menatap wajah cantik itu dan beringsut mendekatinya. "Anna, apa kau masih marah?" tanya Alex dengan tatapan penuh harap. Anna hanya diam sambil mengerjapkan matanya mendengar pertanyaan itu, hingga tanpa diduga, Alex berlutut di depannya dengan kepala tertunduk—tanda jika ia benar-benar menyesali perbuatannya. "Kumohon maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi. Jangan hanya diam dan mengabaikanku seperti ini. Dan-… dan tolong jangan berkata tidak akan menyanyikan lullaby tidur untukku. Kumohon Anna," gumam Alex dengan ekpresi wajah yang begitu menyiratkan rasa bersalahnya. Anna yang melihatnya pun jadi merasa tidak tega. Ia tahu jika pria ini memiliki hati yang sensitif dan sangat lembut. Sikapnya juga sangat manja dan protektif terhadap sesuatu yang sudah menjadi miliknya. Tanpa bisa dicegah, tangan Anna perlahan terangkat—menyusuri wajah tegas yang kini sedang menatap sedih ke arahnya. Alex menikmati sentuhan Anna tanpa menutup kedua matanya.Kemudian Anna tersenyum lembut ke arahnya dan itu membuat Alex sangat senang. Apa itu artinya Anna sudah memaafkannya? "Aku tidak marah lagi padamu,aku tadi hanya menghukumu sebentar karena kau sudah membuatku kesal tadi."ujar Anna. Boom!Perkataan Anna membuat Alex mengulum senyumannya namun sebisa mungkin Alex menahan senyuman yang mulai merekah di sudut bibirnya. "Maafkan aku."sesal Alex sekali lagi dengan wajah sedih yang dibuat-buat. Dan Anna pun mengangguk. "Ayo kita istirahat,kau lelah bukan?"ajak Anna yang langsung dijawab anggukan oleh Alex.Kini Alex tidak lagi menyembunyikan senyumannya. Mereka berdua akhirnya naik ke atas ranjang putih itu. "Kau mau langsung tidur atau mau bercerita dulu?"tanya Anna yang sudah menjadi kebiasaan bagi keduanya untuk menceritakan aktivitas masing-masing satu minggu terakhir ini. "Aku tidak mau tidur sekarang,tapi aku juga tidak mau bercerita.Kau saja ya yang cerita."ujar Alex lalu mendaratkan kepalanya di perut Anna. "Aku mau bercerita apa?Tidak ada yang menarik."ujar Anna lalu mengusap lembut kepala Alex. "Ceritakan tentang apa saja,kehidupanmu,keluargamu,atau apapun itu yang penting kau bercerita."ujar Alex. "Baiklah,akan aku mulai dari diriku sendiri,namaku Allianna Estelle,aku lahir di New York,Amerika Serikat.Ayahku bekerja sebagai dosen saat aku kecil dan ibuku bekerja sebagai seorang chef,ketika aku berumur 8 tahun keluarga besar kami ingin mengadakan acara tahunan di Swis,tapi saat itu aku sedang ada ujian,jadi aku dan ibuku tetap dirumah sedangkan ayahku ikut bersama mereka."ujar Anna memberi jeda sebentar,Anna takut jika air matanya akan kembali menetes mengingat kejadian tragis itu. "Kau tahu?Semua keluargaku berangkat menaiki pesawat pertama yang akan terbang ke Swis pada  pukul tujuh pagi.Tapi setelah mereka berangkat,beberapa jam kemudian dikabarkan bahwa pesawat itu jatuh dan semua penumpang yang ada di dalamnya meninggal dunia termasuk ayahku dan kedua keluarga besar kami.Ibuku sangat shock saat itu,ia menangis dengan sangat histeris,dia....."Anna menghentikan ceritanya tatkala air matanya jatuh membasahi dahi Alex tanpa bisa di cegah. Hidup Anna sungguh kelam di masa lalu hingga setiap ia mengingatnya,ia akan selalu menangis dan menangis. Alex segera bangkit dan menatap mata coklat yang kini sedang menahan air matanya. "Hey jangan menangis,tidak usah di lanjutkan jika itu hanya akan membuatmu menangis,aku tidak suka melihatmu menangis."ujar Alex lalu mengelap air mata Anna dengan ibu jarinya. "Tak apa,aku hanya teringat sedikit dan aku menangis, aku akan melanjutkan ceritaku."ujar Anna berusaha tersenyum. "Kau yakin?"tanya Alex ragu,Anna pun menganggukkan kepalanya. "Ayo sini biar aku peluk lagi."ujar Anna lalu merentangkan kedua tangannya,Alex pun sangat senang dan langsung bergelut manja di pinggang Anna. "Setelah kejadian itu,ibuku dan aku memutuskan untuk pindah ke lingkungan yang baru karena  ekonomi kami saat itu.Dan akhirnya kami berdua memulai hidup baru.Hingga suatu hari ketika aku berusia 11 tahun,ibuku mengajakku ke suatu tempat yang tidak ku kenali.Dia bilang dia akan kembali setelah ia membelikan ice cream coklat untukku,namun nyatanya ia tidak pernah kembali ke tempat ia meninggalkanku.Dia berbohong padaku,dia meninggalkanku di panti asuhan seorang diri.Hingga ketika usiaku 15 tahun aku mendengar kabar jika dia meninggal dunia karena sakit."ujar Anna yang berusaha menahan air matanya yang akan jatuh.Alex yang mendengar kata berbohong menjadi gusar. "Aku datang ke pemakamannya dengan perasaan kecewa dan sedih yang mendalam.Tetapi biar bagaimanapun dia tetaplah ibuku,ibu yang ku sayangi walau ia telah berbohong dab meninggalkan ku."ujar Anna. "Hanya saja sejak saat itu,aku menjadi anak yang pendiam dan membenci sebuah kebohongan walau sekecil apapun,aku berprinsip bahwa aku ingin menjalani kehidupan dengan kejujuran dan tidak ada yang di sembunyikan,aku lebih baik di khianati secara terang-terangan dibandingkan harus di bohongi secara halus tapi berakhir dengan menyedihkan."ujar Anna dengan santai tapi terkesan mengerikan di telinga Alex. Alex menjadi gusar,jantungnya berdegub kencang ketika ia mengetahui jika Anna membenci sebuah kebohongan,fikirannya sudah tertuju dengan apa yang ia lakukan pada Anna saat ini. "Hey kau tak apa?"tanya Anna yang menyadari kegusaran Alex. "A-apa?" "Ah ya aku tak apa."ujar Akex dengan ketakutan. Hening untuk beberapa saat setelah percakapan itu. "Anna aku ingin menanyakan suatu hal padamu."ujar Alex. "Hmm....tanyakan saja."ujar Anna masih mengelus lembut rambut coklat Alex. "Jika seandainya ada seseorang yang membuat kebohongan yang sangat besar demi mendapatkan kehidupan bahagia bersama orang yang dicintainya,tapi ia tahu jika ada seseorang yang akan tersakiti saat itu,apa yang sebaiknya ia lakukan Anna?"tanya Alex dengan ketakutan yang teramat sangat. "Yang harus seseorang itu lakukan adalah melepaskan,biar bagaimana pun, tidak ada kebohongan yang baik di dunia ini,walaupun itu ia lakukan demi orang yang ia cintai,tapi tetap saja yang ia lakukan itu salah,dan ku rasa ia harus MELEPASKAN orang yang ia bohongi itu,karena orang itu tidak bersalah,ia berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik bukan?"jawab Anna yang membuat hati Alex mencelos mendengarnya. "Melepaskan?Melepaskan apa? Anna?Kehidupan lain?Yang lebih baik?Apa Anna akan meninggalkanku jika ia tahu segalanya?"tanya batin Alex yang seakan tidak terima dengan jawaban itu.Alex tidak bisa terima jika Anna memiliki kehidupan yang lain dan tak lagi bersamanya,ia sangat takut dengan hal itu. "No!!!"tiba-tiba saja Alex berteriak keras.Anna sangat terkejut melihat respon Alex yang seperti itu. "Ada apa Alex?"tanya Anna lalu menangkup kedua pipi Alex. "Di satu sisi orang itu tidak akan melepaskan nya Anna,dia tidak ingin jika orang itu meninggalkannya,tapi di sisi lain ia ingin hidup bersama kekasihnya."ujar Alex yang membuat Anna mengerutkan keningnya. "Alex dengar,hidup adalah pilihan,jika ia memilih hidup bersama orang yang ia bohongi itu juga percuma,karena dari awal ia sudah membangun sebuah kebohongan dan jika aku yang menjadi orang itu aku pasti akan memilih untuk mengalah dan memulai hidup baru walaupun akan sangat sulit tentunya."ujar Anna yang semakin membuat Alex ketakutan. "No!!!You can't do it!Yo will stay with me Anna!"ujar Alex lalu memeluk erat tubuh Anna. "Hey kau ini kenapa?Aku itu hanya berandai Alex,lagipula kenapa kau bertanya seperti itu?"ujar Anna sambil menepuk pelan punggung Alex.Anna bingung melihat reaksi suaminya sekarang. "Aku hanya ingin tahu saja,tapi ku mohon jangan berandai seolah kau akan meninggalkanku."ujar Alex di sela lekukan leher Anna. "Aku tidak akan meningglakanmu untuk satu tahun ke depan,tapi ketika nanti kita berpisah,tentu saja aku akan pergi meninggalkanmu,karena pada saat itu tiba,kau dan aku tidak akan lagi menjadi kita bukan?"ujar Anna dengan sedih mengingat usia pernikahannya. Alex yang mendengar kenyataan itu semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Anna. "Kenapa kau malah membicarakan itu di malam pertama kita?"ujar Alex yang seketika membuat Anna tersenyum simpul. "Alex look at me!"ujar Anna sambil melepas pelukan Alex dari tubuhnya. "Kita akan menjalani pernikahan ini dengan semestinya,aku tidak akan keberatan dengan hubunganmu dan Matt,tapi ku mohon jangan lupakan tentang perpisahan itu, karena jika kita melupakan tentang hal itu sedikit saja,aku takut jika nantinya kita...ah bukan, aku lebih tepatnya.Aku takut akan sulit untuk melepaskan mu,kau mengertikan?"ujar Anna menatap lekat kedua manik biru itu. Alex hanya diam tidak menjawab,ia lebih memilih untuk kembali bergelut manja dengan pinggang Anna. "Nyanyikan aku lullaby tidur Anna,aku sudah mengantuk"ujar Alex,dan Anna pun hanya bisa menghembuskan pelan nafasnya dan mulai mengusap lagi kepala Alex sambil bernyanyi hingga Alex tertidur. "Kau seperti anak kecil jika malam sudah tiba,aku tidak pernah menyangka akan mengalami progress kehidupan secepat ini,tapi aku berjanji akan berusaha sebaik mungkin untuk waktu satu tahun kita.Good Night My GAY Husband."ujar Anna lalu mencium kening Alex dan mematikan lampu tidur yang ada di atas nakasnya.Setelah itu ia pun menyusul sang suami ke alam tidur. Disaat pengantin lain sedang memadu kasih di malam pertama,maka kedua pasangan ini malah memilih bercerita tentang perpisahaan mereka sendiri. Bukankah ini malam pertama yang sangat LANGKA?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD