The Plaza Hotel, 5th Avenue New York, Amerika Serikat8.25 AM
Hari terlihat begitu indah hari ini. Matahari pagi yang menyinari kota metropolitan dunia itu terasa begitu menawan di awal musim panas. Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Alex dan Anna yang akan segera melangsungkan pengucapan janji suci di hadapan dua ribu tamu undangan dengan puluhan sorotan lensa kamera dari berbagai media.
Pernikahan yang diadakan di salah satu hotel termewah di New York itu, tentu telah menarik perhatian banyak orang. Meski diadakan secara privat, namun para awak media tentu saja akan berusaha meliput berita dari luar gedung hotel yang telah Alex pesan khusus hanya untuk acara pernikahannya dengan Anna.
Pagi ini, Anna terlihat begitu sibuk dengan segala aktivitasnya sebagai mempelai wanita dari seorang Alexander Grey McKenzie. Dari mulai bangun tidur hingga mandi, para pelayan tak henti-hentinya mengikuti Anna yang belum terbiasa dengan perubahan drastis hidupnya. Setiap apa yang ia lakukan pasti dibantu oleh para pelayan—termasuk memakai pakaian dan mengeringkan rambut.
“Nona, ini saatnya Anda memakai make up,” ujar salah seorang pelayan dengan begitu sopan kepada Anna yang saat itu tengah menjalani treatment wajah sebelum ia dirias.
“Hm,” gumam Anna yang masih setia menutup mata—menikmati masker dingin dan sentuhan lembut tangan seorang wanita yang tengah membersihkan wajahnya. Tak lama dari itu, Anna pun mulai bersiap untuk acara pengucapan janji suci yang akan diadakan pukul sepuluh pagi ini.
Tak jauh berbeda dengan Anna yang sibuk, Alex yang sedang duduk santai sambil menyeruput kopi hitamnya pun sebenarnya tengah mengapal janji suci yang akan ia ucapkan di hadapan pendeta nanti.
“Apa kau gugup?”
Pertanyaan yang keluar dari mulut Matthew yang baru saja masuk ke dalam kamar Alex, sontak saja membuat pria itu menoleh—menatap kekasihnya dengan senyuman.
“Tidak terlalu,” ujar Alex. Mendengar itu, Matthew pun tersenyum dan berjalan mendekatinya. Max ikut duduk di samping Alex dan menatap ke arah balkon.
“Kita harus bisa menjanlankan rencana ini dengan sukses, Alex. Aku tidak mau pernikahan ini sia-sia,” ujar Matthew dengan raut yang serius. Alex tersenyum.
“Tenang saja, aku pasti akan mendapatkan apa yang menjadi tujuan pernikahan ini, aku berjanji,” ujar Alex dan hanya ditanggapi dengan sebuah senyuman oleh Matthew.
“Apa Tuan Antonio datang hari ini?”
Deg!
Pertanyaan itu langsung membuat senyum Alex memudar. Pertanyaan Matthew yang tertuju untuk kakeknya membuat Alex terdiam sejenak.
“Aku mengundanganya, tapi aku rasa dia tak akan hadir di pernikahanku. Kau tahu sendiri bagaimana dia menentang keras hal ini, bukan?” tanya Alex dengan kekehan ironinya. Matthew yang mendengarnya hanya bisa diam dan tak lama seorang pelayan wanita masuk ke dalam kamar Alex dengan membawajan jas hitamnya.
“Tuan, saatnya Anda bersiap,” ujar pelayan itu hingga membuat Alex dan Matthew bangkit.
“Aku akan menemui Anna dulu,” ujar Matthew yang hanya mendapat anggukan kepala dari Alex sebagai jawabannya. Setelah itu Matthew pun keluar dan Alex pun segera bersiap.
________________________
10.00 AM
Waktu yang ditunggu oleh semua orang yang menghadiri pernikahan megah sang billionaire pun tiba. Dekorasi bernuansa klasik khas Eropa dengan batu marmer putih yang menjadi daya tarik dari Fifth Avenue Hotel, semakin membuat kesan mewah dan elegan melekat di hari pernikahan bujangan kaya raya dari klan McKenzie.
Tamu undangan sudah hadir dan duduk di tempatnya masing-masing. Alex pun juga sudah berdiri di depan altar pernikahan—menunggu gadis yang beberapa saat lagi akan menjadi istri sahnya di atas kertas dan juga di depan publik karena jika bukan karena suatu ”hal” Alex pasti akan menikah dengan Matthew, kekasihnya.
Para awak media juga sudah berkumpul di luar gereja demi mendapat info serta melihat secara langsung prosesi pengucapan janji suci dari pewaris McKenzie Group. Well, siapa yang tidak ingin melihat pernikahan dari seorang bujangan tampan dan kaya raya yang didambakan oleh seluruh wanita di dunia?
Cukup lama mereka menunggu, hingga bunyi lonceng yang menandakan jika mempelai wanita akan segera memasuki area inti pun, langsung membuat para tamu undangan berdiri dan menoleh ke arah belakang—menanti dengan tidak sabar untuk melihat bagaimana rupa sang mempelai wanita.
Ya, mereka semua memang sudah melihat Anna di televisi, tapi mereka belum pernah melihat Anna secara langsung. Dan kini mereka akan melihat siapa gadis beruntung yang akan memiliki gelar Mrs.McKenzie untuk pertama kalinya itu.
Tak jauh berbeda dengan para tamu undangan yang menanti, Alex yang sejak tadi menunggu di depan altar bersama seorang pendeta pun sontak menolehkan pandangannya ke arah pintu masuk ballroom hotel yang kokoh. Tidak bisa Alex pungkiri, jika ia merasa sangat gugup sekarang. Karena biar bagaimanapun, ini adalah pernikahan pertamanya. Walaupun itu bukan bersama Matthew, namun hal yang satu itu tidak bisa diubah sampai kapanpun kecuali jika pernikahan ini batal.
Dan tak lama setelah itu, pintu besar berwana emas kecokelatan itu pun terbuka hingga menampilkan sosok wanita yang terlihat begitu cantik dengan balutan gaun putih pernikahan yang melekat sempurna di tubuh rampingnya, dan veil brokat berwarna senada yang menyamarkan wajah cantiknya.
Suara alunan musik Bridal Chorus pun terdengar, dan itu artinya Anna akan melangkah masuk sebentar lagi. Setelah dipersilakan masuk oleh seorang pendeta yang menyambutnya, Anna pun mulai melangkahkan kakinya memasuki area ballroom yang akan menjadi saksi pernikahannya dengan Alex. Semua orang terdiam—seolah merasakan kesakralan pernikahan Alex dan Anna.
Dengan menggandeng tangan Matthew sebagai walinya, Anna melangkah dengan senyuman manis yang begitu indah. Matthew yang saat ini menjadi wali Anna pun ikut menampilkan senyuman. Ya, mengingat Anna yang tidak memiliki siapa-siapa lagi, Alex pun memutuskan Matthew sebagai wali Anna di pernikahannya atas kehendak Matthew sendiri.
Anna terus melangkah, diikuti oleh beberapa pengantin kecil yang menaburkan bunga di sepanjang perjalanannya.
Bersamaan dengan musik selesai, Anna pun akhirnya sampai di depan Alex—ah, maksudnya di depan altar. Matthew pun dengan perlahan memberikan tangan Anna kepada Alex. Matt menatap Alex dengan pandangan yang menyiratkan sesuatu, dan ya! Alex mengerti apa arti tatapan itu.
Setelah tangan Anna dipindahkan ke tangan Alex, Matthew pun pergi dan duduk di salah satu bangku yang sudah disediakan—diikuti oleh para tamu undangan yang lain.
"Baiklah, apa kita bisa memulai acara pemberkatannya?" ujar pendeta paruh baya itu kepada Alex dan Anna. Keduanya pun mengangguk pelan.
"Alexander Grey Louis McKenzie, in the presence of The God today, did you accept Allianna Kristen Marry Estelle as your lifelong friend? Would you promise to make her a wife, accompany her when good and bad, rich or poor, healthy or sick, happy and sad, forever?"
"Yes, today in the presence of The God, I'am Alexander Grey Louis McKenzie accepts Alianna Kristen Marry Estelle as my lifelong partner. I promise that I’ll make her as my wife and I promise to accompany her when good or bad, rich or poor, healthy or sick, happy and sad, forever," jawab Alex dengan lantang sembari menatap lekat wajah Anna yang terlihat samar dari balik veil itu.
Sedangkan Anna yang mendengar pengucapan janji suci itu, kini malah dilanda rasa bingung.
Dia harus merasa sedih atau bahagia?
Karena di satu sisi Anna ingin merasa bahagia karena Alex yang notabennya adalah pria yang ia kagumi akan sah menjadi suaminya ketika ia nanti mengucapkan janji yang sama seperti yang Alex ucapkan barusan.
Tapi di sisi lain, ia juga merasa sedih karena pernikahan ini bukanlah pernikahan yang didasari oleh rasa cinta. Ini semua terjadi hanya karena ibu Alex yang memintanya untuk menikahi seorang wanita.
Dan anehnya Anna bahkan belum pernah bertemu sekali pun dengan ibu mertuanya itu hingga sekarang. Bahkan sejak satu minggu yang lalu, Anna tidak pernah bertemu dengan kerabat Alex.
Bukankah itu sangat aneh?
Meskipun sulit, namun Anna mencoba mengabaikan keanehan yang setiap harinya selalu muncul di pikirannya.
Setelah Alex mengucapkan janji suci itu,kini saatnya sang pendeta menanyakan hal yang sama kepada Anna.
"Allianna Kristen Marry Estelle, in the prensence of The GOD today, did you accept Alexander Grey Louis McKenzie as your lifelong friend? Would you promise to make his your husband, accompany his when good or bad, rich or poor, healty or sick, happy and sad, forever?" tanya pendeta itu sama seperti yang ia tanyakan kepada Alex.
Anna terdiam sejenak. Dia menatap lekat ke arah manik biru Alex yang menatapnya dengan penuh harapan. Dengan menghembuskan napas pelan, Anna pun menerima Alex sebagai suaminya
"Yes, today in the presence of The God I am Allianna Kristen Marry Estelle accepts Alexander Grey McKenzie as my lifelong friend. I promise, that I’ll make his as my husband and I promise, I’ll accompany his when good or bad, rich or poor, healty or sick, happy and sad,forever," jawab Anna dengan pasti. Alex langsung menghembuskan napas lega setelah mendengar Anna mengucapkan 'Ya' untuk dirinya.
"With the blessing of God and His power and the approval of the bride and groom, you are now legitimately become a married couple before the Lord Jesus, and may this marriage be a happy marriage, where the wife submits to her husband as a people who are subservient to God, and where Husbands like God who always loving his people. Now the bride and groom is invited to pair the ring on the each finger," ujar pendeta itu memberikan doa pemberkatan kepada Alex dan Anna.
Tak lama seorang bridesmaid membawakan dua kotak beludru berwarna merah kehadapan kedua mempelai itu. Alex dan Anna kemudian membuka kotak yang berisi cincin pernikahan mereka. Anna nampak terkejut melihat sebuah cincin emas murni yang berukirkan namanya yang baru yaitu Allianna E.McKenzie, kesan indah, mewah, glamor dan anggun sangat identik dengan cincin ini. Dan ya, ini adalah kali pertama Anna melihat cincin pernikahannya. Karena yang mengurus semua ini adalah Alex.
Atau lebih tepatnya Matthew? Entahlah.
Sedangkan Alex nampak biasa saja melihat cincin rancangan Matthew dan segera memasangkan cincin yang bertuliskan namanya sendiri yaitu Alexander G.McKenzie ke jari manis Anna. Cincin itu sangat pas dengan jari manis Anna.
Setelah itu, Anna pun melakukan hal yang sama. Suara riuh tepuk tangan dari para tamu undangan dan awak media yang menyaksikan pernikahan sakral itu pun bergema di dalam ballrom hotel. Tapi satu hal yang Anna tidak mengerti yaitu kenapa Matthew terlihat sangat bahagia melihat Alex menikah dengannya.
Bukankah harusnya pria itu merasa sedih karena kekasihnya menikah dengan orang lain?
Meskipun ini pernikahan pura-pura, tapi tetap saja! Melihat orang yang kau cintai menikah dengan orang lain bukanlah suatu hal yang patut untuk dibanggakan.
“Sekarang kau boleh membuka veil itu dan mencium isterimu," ujar sang pendeta hinggamembuat kedua mempelai yang baru mengenal selama dua minggu itu pun tercengang.
Be-berciuman?!
Alex yang belum pernah sama sekali menyentuh apalagi sampai mencium seorang wanita pun hanya bisa terdiam dengan tatapan tidak percaya. Tak jauh berbeda dengan Alex, Anna yang bahkan belum pernah berciuman dengan seseorang pun terlihat begitu terkejut mendengar perkataan sang pendeta.
Namun, demi membuat pernikahan ini terlihat nyata, akhirnya Alex memberanikan diri untuk melangkah maju menuju Anna. Anna pun semakin gugup ketika melihat Alex mulai melangkah maju dan membuka perlahan veilnya.
"Dia sangat cantik," batin Alex bergumam secara refleks ketika ia melihat wajah Anna yang dipoles dengan sedikit make up natural yang tidak terlalu tebal. Alex terpaku pada mata coklat itu—mata coklat yang indah, yang satu minggu ini menjadi pemandangannya ketika Alex terbangun.
Entah dorongan dari mana Alex langsung menangkup wajah Anna, dan menyambar bibir merah muda yang mungil itu. Anna langsung membulatkan matanya ketika bibir Alex menyentuh bibirnya. Alex memang tidak melumatnya, ia hanya menempelkan bibirnya ke bibir Anna, tapi, begitu saja Anna sudah merasa akan pingsan.
Lalu bagaimana jika lebih?
Oh, astaga!
Mereka berdua sama-sama mematung, hingga riuh tepuk tangan dari para tamu undangan menyadarkan mereka berdua.
Pipi Anna terlihat sangat memerah sekarang, ia tidak sanggup menahan malu yang kini mendera dirinya. Keadaan Alex pun tidak jauh berbeda dengan Anna, tapi bedanya, Alex lebih pintar menyembunyikan emosinya ketimbang Anna. Alex hanya tersenyum sedikit. Dan setelah itu ia kembali memasang ekspresi datar dan dingin.
Setelah ritual yang “memalukan” itu, Alex dan Anna pun bersiap melakukan ritual pelepasan burung merpati di area luar hotel. Alex mengulurkan tangannya ke arah Anna, dan Anna pun dengan sigap menerima uluran tangan itu. Jika dilihat, mereka memang sangat serasi dengan sang mempelai pria yang sangat gagah dan tampan dan mempelai wanita yang sangat cantik nan anggun dengan tubuh langsingnya yang semampai.
Alex dan Anna berjalan perlahan meninggalkan keluar, diikuti oleh beberapa bridesmaid dan para tamu undangan dari belakang.
Ketika mereka sampai di area luar hotel, para awak media yang sudah berkumpul mengambil posisi dari segala sudut pun dengan sigap memotret pasangan baru penerus klan McKenzie itu.
"Tersenyumlah dengan bahagia, buatlah pernikahan ini nyata di depan publik Anna,” bisik Alex hingga membuat Anna tersenyum manis.
"Hm,” gumam Anna lalu menuruti perintah Alex.
Ritual pelepasan burung merpati sebagai tanda kesetiaan dan keabadian pun telah dimulai, riuh tepuk tangan dan sorak sorai bahagia dari para tamu undangan, menutup acara upacara pernikahan mereka.
"Sekarang di belakang namamu ada namaku Anna, aku harap kau bisa menjaga nama baikku untuk satu tahun ke depan," bisik Alex dengan dingin namun terkesan menakutkan. Anna yang mendengarnya pun hanya bisa tersenyum—menyembunyikan rasa tak enaknya di dalam hati.
"Baiklah," cicit Anna.
Ya Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi di dalam hidupnya sekarang?